Chapter 2 :
The Merchant’s Offer (2)
******
KIKYO mengikuti Tuan Dae yang berjalan menjauhi hiruk-pikuk suara para manusia di pertandingan gulat itu. Tuan Dae terus menjauhi keramaian hingga akhirnya mereka berdua sampai di samping sebuah rumah yang terbuat dari kayu berwarna coklat tua. Suara orang-orang dari pertandingan gulat itu sudah tidak lagi terdengar. Setahu Kikyo, rumah tempat mereka menepi saat ini adalah rumah yang tak berpenghuni.
Tatkala sudah benar-benar berdiri dengan tenang di samping rumah tersebut, Kikyo pun langsung menatap Tuan Dae dan bertanya, “Ada apa, Tuan?”
Tuan Dae kini berdiri menghadap ke arah Kikyo dan dia menatap Kikyo lurus-lurus. Dia kemudian menghela napas dan bertanya, “Apa kau baik-baik saja setelah kematian ibumu?”
Dahi Kikyo berkerut. Ia agak heran dengan pertanyaan itu karena ia belum pernah berbicara dengan Tuan Dae sebelumnya. Akan tetapi, mencoba untuk menenangkan dirinya, Kikyo pun menunduk sejenak, menghela napas, lalu melihat ke arah Tuan Dae kembali.
Kikyo mengedikkan bahu. “Aku masih berusaha, Tuan.”
Mendengar jawaban dari Kikyo itu, Tuan Dae pun mengangguk mengerti.
“Begini,” ujar Tuan Dae. “Sebenarnya, ibumu berutang padaku.”
Ah, soal ini.
Bisa dibilang Kikyo sudah menduganya sejak tadi. Sebenarnya, Kikyo tahu bahwa ibunya memiliki utang pada Tuan Dae. Kalau bukan karena itu, lantas karena apa lagi Tuan Dae menemuinya, ‘kan?
Dahulu, ibunya Kikyo bekerja sebagai seorang wanita penghibur. Ayah Kikyo meninggal dunia saat Kikyo masih berusia enam belas tahun. Selama empat tahun lamanya, ibunyalah yang banting tulang agar bisa menghidupi Kikyo seorang diri.
Hingga akhirnya…sekitar satu tahun yang lalu, ibunya Kikyo meninggal dunia.
Kikyo tahu bahwa ibunya memiliki utang pada Tuan Dae. Ibunya pernah bercerita padanya waktu itu. Dikarenakan suatu urgensi, ibunya harus meminjam uang pada Tuan Dae. Total utangnya adalah 400.000 Hye.
Jadi, karena Kikyo tahu soal eksistensi utang ini, maka diam-diam Kikyo sebetulnya sedang berusaha untuk mengumpulkan uang agar bisa membayar utang itu. Jam 4 pagi, Kikyo akan pergi ke pasar yang dekat dengan Desa Heizhou untuk menjadi asisten dari seorang penjual buah yang bernama Ibu Jinyi. Desa Heizhou berada di barat lautnya Istana Hanju.
Kikyo pun menunduk. Tatapan matanya terlihat sedikit sendu untuk sejenak, kemudian Kikyo menghela napas.
Tatkala Kikyo menatap Tuan Dae lagi, Kikyo pun mulai menjawab.
“Uangnya belum cukup, Tuan. Aku sedang mengumpulkannya.”
Kikyo sudah siap dengan apa pun yang akan dikatakan oleh Tuan Dae. Kikyo siap menghadapi apa pun reaksi Tuan Dae terhadap jawabannya. Mau bagaimana lagi? Begitulah kenyataannya.
Akan tetapi, alih-alih bereaksi buruk, Tuan Dae justru tersenyum. Pria paruh baya itu seakan bernapas lega, matanya menatap Kikyo seakan ia sudah benar-benar tak sabar ingin memberitahukan sesuatu.
Meski Kikyo merasa heran bukan main—sampai menyatukan alisnya secara terang-terangan di depan Tuan Dae—Kikyo tetap diam. Dia menunggu Tuan Dae berbicara.
Apa yang dikatakan oleh Tuan Dae selanjutnya sangatlah mengejutkan.
“Aku punya tawaran untukmu,” ujar Tuan Dae. “Satu hal saja. Jika kau setuju untuk melakukannya, maka semua utang ibumu akan kuanggap telah lunas.”
Kikyo kontan menaikkan alisnya. Dia lantas menatap Tuan Dae dengan penuh selidik. Jangan sampai Tuan Dae bermaksud untuk menyuruhnya melakukan hal yang tidak-tidak, misalnya menyuruhnya untuk menjadi gundik atau semacamnya.
Meskipun curiga, Kikyo akhirnya tetap bertanya, “Tawaran apa, Tuan?”
Tuan Dae tersenyum simpul. “Kau tahu bahwa aku adalah suruhan Menteri Perpajakan, bukan?”
Kikyo mengangguk. “Iya, aku tahu.”
Mendengar jawaban dari Kikyo itu, Tuan Dae pun mengangguk. Mereka saling mengonfirmasi. “Nah, karena aku adalah suruhan Menteri Perpajakan, Bapak Menteri menyuruhku untuk mencari seorang perempuan yang akan ditugaskan untuk menyusup ke Istana Kerajaan Seiju.”
Kikyo kontan melebarkan mata. Kerutan di dahinya masih terlihat. Dia masih kurang yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. “Eh? Kerajaan Seiju?”
Tuan Dae mengangguk satu kali. “Iya. Kabarnya, raja yang memimpin Seiju saat ini sangatlah kuat. Dia baru bertakhta selama empat tahun, tetapi sudah berhasil membuat Seiju menjadi daerah yang sangat makmur. Seiju mengalami kemajuan yang pesat, padahal Seiju tidak memiliki begitu banyak lahan pertanian seperti Hanju. Mereka juga tidak memiliki laut; mereka hanya mengandalkan Hutan Cheongdae. Kerajaan Seiju unggul di bagian militernya. Pasukan militernya kuat, persenjataan mereka juga banyak dan lengkap.”
Kikyo memiringkan kepalanya, alisnya menyatu. “Jadi?”
“Jadi, Kerajaan Hanju perlu tahu rahasianya. Kerajaan kita perlu tahu apa rahasia dari Raja Seiju agar bisa meruntuhkan kekuasaannya.”
Kikyo jelas saja menganga, Matanya melebar penuh. “Ap—”
“Dia, Raja Seiju, dikabarkan akan mampu menjadi…atau mampu membuat sebuah kekaisaran. Kekaisaran yang akan menguasai seluruh kerajaan yang ada di Haewa. Jadi, dia berkuasa atas Haewa, sama seperti raja-raja Kerajaan Haewa dahulu kala.”
Ah, ini seperti legenda yang diceritakan oleh neneknya Kikyo dahulu.
Kikyo menggeleng tak habis pikir, wajah Kikyo sama sekali tidak terlihat santai. Matanya masih melebar. Dahinya berkerut. Mendengar kabar soal Raja Seiju ini jelas sangat mengejutkan baginya yang selama ini tidak begitu peduli soal pemerintahan. Namun, dibandingkan karena kabar itu, Kikyo lebih merasa tak tenang karena memikirkan bahwa kemungkinan besar Tuan Dae akan menyarankannya untuk menjadi ‘perempuan yang akan menyusup ke Istana Kerajaan Seiju’ itu.
Gila. Bisa-bisa dia mati kalau ketahuan! Seiju adalah daerah yang memiliki militer terkuat. Kalau suatu hari nanti dia ketahuan sedang memata-matai Seiju, maka tamatlah riwayatnya! Lagi pula, mencari informasi tentang seorang raja tentulah tidak mudah. Orang yang sedang kita bicarakan ini adalah seorang raja! Apalagi, Raja Seiju yang sekarang dikabarkan sangatlah kuat. Mustahil bagi Kikyo untuk memata-matainya, bukan? Kalaupun Kikyo menyusup ke Istana Kerajaan Seiju, kemungkinan dia bisa bertemu dengan Raja Seiju itu tetaplah kecil, kecuali kalau dia adalah dayang yang bekerja di kediaman raja atau di kediaman keluarga inti raja.
Tuan Dae pun menatap Kikyo lurus-lurus. Mimik wajahnya terlihat begitu serius.
“Apakah kau mau menyusup ke Istana Kerajaan Seiju, Kikyo?”
Nah. Pertanyaan ini ternyata benar-benar keluar dari mulut Tuan Dae.
Napas Kikyo seolah terhenti sejenak. Rasanya seperti ada yang memukul bagian d**a Kikyo hingga Kikyo jadi berhenti bernapas untuk beberapa detik lamanya.
Setelah menemukan napasnya kembali, Kikyo pun menggeleng tak percaya. Ekspresi wajahnya blank. “Tuan Dae, apakah kau serius? Lagi pula, bagaimana caraku menyusup ke sana?”
Tuan Dae menjawab, “Begini. Dua bulan kedepan akan diadakan pemilihan dayang-dayang di Istana Kerajaan Seiju. Kau harus ikut pemilihan itu dan masuk ke Kerajaan Seiju sebagai seorang dayang.”
“Dayang?” Kikyo ingin memastikan pendengarannya. “Tapi aku tidak terlatih sebagai seorang dayang. Dayang istana harus memiliki keterampilan yang luar biasa. Mereka harus mengetahui banyak hal agar bisa diterima. Aku bahkan tidak bisa baca tulis!”
Tuan Dae tersenyum. “Jangan khawatir. Bapak Menteri sudah menduga hal ini; dia memiliki seorang kenalan. Seorang tutor. Tutor itulah yang akan mengajarkanmu tentang sejarah Seiju, mengajarkanmu menjahit, menyulam, baca tulis, kosakata Seiju, membaca buku klasik, dan tata krama.”
Kikyo tertegun.
Ini…seriusan? Semuanya sudah disiapkan.
“Perihal tesnya itu…” lanjut Tuan Dae. “kira-kira begini. Peringkat seorang dayang akan ditentukan dari seberapa tinggi hasil tesnya. Semakin tinggi hasil tesnya, maka peringkatnya akan semakin tinggi. Jika peringkatnya tinggi, maka dayang tersebut akan ditempatkan di kediaman raja, ratu, ibu suri, putri, pangeran, atau anggota-anggota kerajaan lainnya yang ada di istana tersebut.”
Kikyo masih mendengarkan penjelasan dari Tuan Dae.
“Dayang-dayang yang menunggu di kediaman keluarga kerajaan itu…hampir mirip seperti di Kerajaan Eropa. Kau tahu ladies in waiting?”
Kikyo mengangguk perlahan.
Tuan Dae juga ikut mengangguk. “Hm. Kira-kira seperti itu. Akan tetapi, ladies in waiting yang melayani keluarga inti kerajaan itu diambil dari anak-anak bangsawan. Maka dari itu, Bapak Menteri bilang, incar saja posisi dayang yang tugasnya bersih-bersih di kediaman keluarga kerajaan yang bukan keluarga inti. Begitu saja tidak apa-apa. Biasanya skor dayang yang bersih-bersih itu lebih rendah daripada dayang yang menjadi ladies in waiting. Jadi, kau tidak akan merasa terlalu berat saat tesnya nanti, soalnya kau hanya punya waktu untuk belajar selama dua bulan. Kalau kau setuju, maka percantik dirimu juga, ya. Kau sudah cantik, tetapi kau tidak berdandan sama sekali. Untuk menjadi dayang yang disukai, kau harus berparas cantik.”
Hah? Apa-apaan?
Meski telah diiming-imingi dengan banyak kemudahan seperti itu, Kikyo pada akhirnya tetap menggeleng. Dia mengerutkan dahinya sepanjang waktu; banyak sekali hal yang mampir di kepalanya. Seakan memperingatinya, memberinya gambaran, dan memaksanya untuk berhati-hati. Banyak hal yang harus dia pikirkan di sini, terutama keselamatannya sendiri.
Akhirnya, setelah beberapa detik terdiam, Kikyo pun mulai bersuara, “Tuan Dae. Aku bisa mati kalau ketahuan oleh orang-orang Seiju. Aku ingin melunasi utang Ibu, tetapi kalau begini caranya aku juga akan ikut-ikutan meninggal.”
Tuan Dae terkekeh, kepalanya tertunduk sejenak tatkala melakukan itu. Setelahnya, Tuan Dae menatap Kikyo lagi. Kali ini dengan ekspresi wajah yang terlihat lebih santai. “Selagi kau tidak menunjukkan gerak-gerik yang aneh; selagi kau tutup mulut, maka kau akan aman. Bapak Menteri berpesan padaku untuk menyampaikan hal ini kepadamu: kau tidak akan disuruh untuk melakukan banyak hal. Kau tidak disuruh ini itu, melainkan hanya memberikan informasi kepada kami, pihak Kerajaan Hanju. Berikan informasi apa pun yang kau dapat kepada kami saat kau pulang ke sini setiap tahunnya atau beberapa bulan sekali. Kerajaan Hanju akan melindungimu.”
Kedua mata Kikyo semakin melebar. Dia benar-benar sudah dipilih untuk menyusup ke Kerajaan Seiju. Apakah Tuan Dae telah merekomendasikan Kikyo kepada Menteri Perpajakan karena ibunya Kikyo punya utang padanya?
Namun, mendengar pesan dari Menteri Perpajakan, Kikyo pun jadi berpikir. Sebenarnya, apabila ia berhati-hati, ini adalah tugas yang sangat simpel. Dia tidak disuruh banyak hal. Informasi yang didapat pun boleh diberitahu satu tahun sekali atau beberapa bulan sekali ketika pulang ke Hanju.
Bagaimana ini? Dia mulai goyah. Tawaran ini semakin lama semakin terdengar simpel. Kehidupan Kikyo juga akan terjamin jika ia tinggal di Istana Seiju. Dia bisa makan tiga kali sehari. Gajinya juga pasti besar.
Kalau ia memilih untuk tetap melunasi utang ibunya dengan cara mencari uang, butuh dua tahun penuh baginya untuk benar-benar bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, terutama ia hanya bekerja sebagai asisten dari seorang penjual buah di pasar. Dia belum mendapat pekerjaan tetap. Selama ini Ibu selalu melarangnya untuk bekerja, Ibu selalu berencana untuk menikahkannya dengan seorang laki-laki yang mapan agar ia tak perlu banting tulang seperti Ibu. Jika dia masih bekerja sebagai asisten penjual buah, uang untuk membayar utang itu memang akan terkumpul selama dua tahun lamanya, tetapi itu dengan catatan bahwa ia hanya bisa makan satu kali sehari. Hidupnya akan sangat sulit. Pertandingan-pertandingan gulat tidaklah memberikan hadiah yang banyak, terutama pertandingan itu dilaksanakan dua minggu sekali. Itu hanya bisa dijadikan sebagai hobi.
Maka dari itu, tawaran ini…terdengar…
Bagus.
Akan tetapi, tetap saja. Kikyo harus memastikan sumber kegelisahannya ini sekali lagi.
Menatap Tuan Dae dengan bersungguh-sungguh, Kikyo pun mengepalkan kedua tangannya yang ada di kedua sisi tubuhnya.
Gadis itu pun mulai bersuara. Dia berbicara dengan serius; dia memusatkan segala atensinya kepada Tuan Dae.
“Aku benar-benar akan dijaga, ‘kan, Tuan?”
Tuan Dae, yang mendengarkan pertanyaan dari Kikyo itu, lantas mengembangkan senyumnya.
“Benar, Kikyo. Kalau kau setuju, besok pagi kau akan dijemput dan langsung pergi ke Istana Kerajaan Hanju untuk menemui Menteri Perpajakan dan juga Raja Zyran.”
Kontan saja mata Kikyo terbelalak.
Dia akan dibawa ke Istana Kerajaan Hanju besok pagi?!
Demi Tuhan, itu akan menjadi pertama kalinya dia masuk ke Istana Kerajaan daerahnya sendiri. Dia pun akan bertemu dengan Menteri Perpajakan…dan juga Raja Zyran! Raja dari kerajaan mereka.
Jantung Kikyo berdegup kencang. Siapa sangka jalan hidup Kikyo akan menjadi seperti ini? Siapa sangka hidup Kikyo malah berjalan ke arah yang tidak disangka-sangka seperti ini? Tergantung apa jawaban Kikyo kelak, hidupnya mungkin akan berubah 180 derajat.
“Bagaimana, Kikyo?” tanya Tuan Dae setelah mereka diam selama beberapa detik. “Apa kau setuju?”
Kikyo pun menundukkan kepalanya sejenak. Dia menatap tanah tempatnya berpijak itu selama beberapa detik. Pandangan matanya lama-lama jadi agak berbayang karena tidak fokus. Ia sedang tidak fokus melihat, melainkan sedang fokus meninjau segala hal yang mampir ke kepalanya.
Setelah itu, Kikyo pun semakin mengepalkan kedua tangannya.
Pada akhirnya, enam detik kemudian…Kikyo pun mengangkat kepalanya kembali. Gadis itu kini menatap Tuan Dae dengan yakin. Ada kilatan tekad di iris mata jernih milik gadis itu yang berwarna hitam kecoklatan.
“Baiklah, Tuan. Aku akan melakukannya.” []