Hanya ciuman di pipi, tapi darah Jerome berdesir seperti ingin berhenti mengalir. Namun pandangan mata yang semula secerah mentari pagi tidak lagi ada. Latisha menatapnya nanar. Pandangan berlumur salah yang kental. Dan itu membuatnya semakin hancur berkeping-keping. Jerome menarik napas. Seiring detak jantungnya yang semula tak terkendali, menjadi lebih rileks dan tenang. Dia harus berpikir. Bagaimana caranya agar membawa band ini sukses. Dan bukan memikirkan masalah cinta yang tiada habis. *** Latisha mengerang dalam lamunan. Berbaring sejak satu jam yang lalu, menjadi manusia pecinta rebahan selepas makan malam, nyatanya tidak berhasil membuahkan apa-apa selain rasa kesal dan sakit bersamaan. Mata teduhnya memandang datar pada jendela yang menghubungkan pemandangan kolam renang be

