Benda Asing

1075 Kata
Antara bingung dan gugup aku bangkit dari ranjangnya. Pikirannya masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi kualami. Tubuh yang masih terasa remuk redam memaksakan diri berjalan ke arah pintu. Keraguan dengan sikap kakak ipar segera kutepis mengingat tubuh ringkih ini butuh nutrisi untuk diisi. Meski dengan tangan gemetar aku membuka hendel pintu. Terlihat sosok tinggi tegap berada di depanku. Tubuh yang terbalut dengan kaos ketat warna putih memperlihatkan proporsi tubuh yang perkasa. Sejenak mengagumi sosok yang sudah berdiri sambil tersenyum ke arahku. Tangannya membawa kresek kecil yang diacungkan tepat di hadapanku. Mas Yudi benar-benar terlihat sempurna di mata para wanita, terutama duriku yang masih belia. Bisa dipastiakan orang yang melihatnya akan langsung tertarik bahkan jatuh cinta kepadanya. “Hai, kog bengong? Ini makannya! Cepat makan! Mumpung mbak kamu lagi tidur, kecapekan dia,” ucapnya sambil tersenyum menatapku. “Eh ... i-ya ... i-ya Mas. Terima kasih sudah bawakan aku makan,” ucapku terbata hendak menutup pintu kamar. “Eits ... kog ditutup sih pintunya? Jangan takut, aku pastikan kamu makanan dariku. Udah capek loh belikan di warung depan.” Merasa tidak enak hati dengan perhatian mas Yudi akhirnya tanganku tidak jadi menutup pintu kamar. Kemudian keluar dan berjalan ke arah meja makan yang ada di dapur. Setelah mengambil peralatan makan aku duduk dan menikmati makanan yang berupa nasi campur dengan es jeruk yang ada di dalam cup plastik. Enak sekali rasanya hanya dalam hitungan detik makanan yang ada di dalam bungkusan kertas minyak itupun tandas tak tersisa. Demikian juga dengan jusnya. Setelah habis aku pandangi semua bekas bungkus makanan yang maih ada di meja. Kemuadian aku buka tudung saji, kosong. Tidak ada satupun makanan yang ada di sana. “Mbak Surti makan apa tadi? Masak gak dibelikan makanan oleh Mas Yudi?” gumamku sendiri. Tiba-tiba bahuku ada yang menepuk dari belakang dengan pelan. Mas Yudi sudah berada di belakangku dengan senyumnya yang menawan. Berdebar rasa jantungku saat tangannya dengan sengaja menyentuh lenganku. Kulitnya yang kasar membuat geli dan merinding. “Ada apa? Kog buka tudung saji aku perhatikan dan bengong. Mbak kamu sudah makan tadi bersamaku. Udah istirahat sana! Nanti kecapekan trus sakit bisa marah nanti dia,” ucapnya dengan menyentuh dahuku yang masih ada sisa makanan di sana. “Eh ... ma-maaf Mas. Aku tidur duluan!” ucapku sambil berlalu menepis tangan mas Yudi tanpa berani menoleh ke arah wajahnya yang terlihat menawan. Dengan cepat aku masuk kembali ke dalam kamar, suara teriakan mas Yudi yang memperingatkan untuk berhati-hati jalannya tidak kujawab. Perasaan masih berdebar dengan sentuhan kulit, sama ketika aku menggosok punggungnya waktu itu. Gelenyar aneh masih dapat aku rasakan jika mengingatnya. Kulit coklat sawomatang dengan kilatan keringat menempel ditubuhnya terlihat seksi sekali. Tanpa terasa tangan bergerak ke dagu dan mengingat sentuhan kulit mas Yudi saat mengambil sebutir nasi yang menempel. Terkesiap aku teringat dengan bentakan dari mbak Surti yang menuduhku merayu suaminya. Segera aku tepis bayangan laki-laki yang sudah meporak porandakan hatiku saat ini. Kegelisahan yang membuatku bingung apa yang sudah terjadi dengan tubuhku. Setelah mengganti baju yang sudah terasa baunya dengan baby doll baju kesayanganku, aku merebahkan diri di ranjang yang berukuran kecil. Sebuah kasur yang sudah istimewa jika dibandingkan dengan yang ada di kampung. Sekelebat bayangan suami mbak Surti masih menghiasi pikiranku sampai aku terlelap ke dalam mimpi. Hangat tubuh yang kurasakan membuat terlena dengan mimpi hingga pagi menjelang. Suara gedoran di pintu membuatku terlonjak duduk di atas pembaringan. Suara perempuan yang sangat aku kenal, mbak Surti. Kulirik jam beker kecil yang ada di atas meja kamar. Terkejut waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Pasti kakak perempuanku marah, itu yang ada di pikranku saat ini. “Khusna ...! Khusna ...! Bangun ...! Kamu gak sekolah? Dasar pemalas!” suara keras menggema masuk ke dalam kamarku. Segera bangun dan membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Melihat mbak Surti ada tepat di depanku dengan berkacak pinggang membuat bergidik. “I-iya Mbak, aku kesiangan. Sebentar aku siapkan sarapan pagi!” ucapku hendak pergi dari hadapannya. Namun langkah terhenti ketika tangan kakak perempuanku menarik dengan paksa. “KAMU! Sekali lagi Mbak bilang! Jangan godain Mas Yudi! Ingat Khusna, dia kakak ipar kamu! Awas jika Ibu sampai tahu kelakuan kamu selam tinggal di rumahku. Kamu udah numpang di sini, jangan macam-macam denganku,” bentaknya sambil menyenggol bahuku dengan keras. Hanya tarikan napas berat yang dapat kulakukan saat ini. Bagaimana bisa jelaskan padanya jika tidak ada yang bukti yang kuat. Percuma saja aku ngomong, mbak Surti sudah terlihat seperti harimau yang siap menerkam. Harapanku satu-satunya hanya mas Yudi. Tetapi agaknya hati kakakku sudah beku. Kata iparku waktu itu dan menyuruhku untukk tetap bersabar. Dengan cepat aku mandi dan menyelesaikan tugas harian setiap hari di rumah ini. Rasa sesak jika teringat posisiku saat ini. Mata mulai tergenang dan segera aku usap agar tidak ketahuan sang pemilik rumah. Tidak mungkin aku menangisi nasibku sekarang ini. Tuduhan yang tidak berdasar sama sekali dan menyudutkan posisisku. Setelah selesai barulah aku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Bekal makanan sudah aku siapkan di kotak. Terserah mereka berdua mau makan makanan yang aku buat atau tidak. Hanya membuatkan mie telor dengan sambal terasi saja pagi ini. Makanan kesukaan mas Yudi. Aku memasaknya karena hanya bahan itu yang sekarang ada di dalam kulkas. “Mau berangkat?” suara bariton cukup mengagetkanku saat hendak keluar dari dalam rumah. “Loh, Mas Yudi belum berangkat? Mbak Surti mana?” tanyaku celingukan melihat kosong teras rumah. “Mbak kamu gak mau kerja, ngambek dia. Balik tidur lagi. Ayo aku antar ke sekolah, lumayan buat irit ongkos,” ucapnya sambil berjalan ke arah motornya. Motor honda Vario warna merah milik mbak Surti sudah ada di teras dan siap menunggu penumpangnya. Aku hanya menatap mas Yudi yang sudah naik di kendaraan sambil memberikan isyarat supaya aku cepat naik. Sebenarnya aku ragu untuk ikut keinginannya. Tetapi setelah melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tanganku dan ternyata waktu sudah mepet dengan jam sekolah. Dengan terpaksa aku ikuti perintah dari mas Yudi. Bagaimanapun aku tidak boleh terlambat tiba di sekolah. “Udah, cepet naik! Keburu telat, pegangan yang kenceng biar gak jatuh,” perintahnya. Dengan cepat aku berpegangan pinggang pria yang sudah mengisi otakku semalaman. Awalnya kikuk dan gugup, namun karena mas Yudi menjalankan motor dengan kencang akhirnya terpaksa memegang tubuhnya. Kami bersentuhan kembali bahkan berhimpit. Tangan mas Yudi meraih tanganku agar lebih erat lagi. Karena getaran sepeda motor yang sangat keras tidak sengaja aku meraih sesuatu yang menurutku sangat asing dan membuat aku kaget ingin melepaskan tanganku dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN