Terbelenggu Hasrat

1081 Kata
Selama dalam perjalanan tanganku tidak lepas dari tubuh mas Yudi. Baru hari ini aku dibonceng dengan menggunakan sepeda motornya. Biasanya aku ke sekolah naik angkot atau menggunakan jasa ojek online. Perjalan yang harusnya ditempuh dalam waktu tiga puluh menit ternyata dapat lebih cepat sepuluh menit. Beruntung tidak terjadi kemacetan selama dalam perjalanan. Dalam hati aku sangat berterimakasih dengan mas Yudi yang sudah mengantarku ke sekolah. Jika tidak mungkin aku sudah terlambat dan pintu pagar pasti sudah tertutup. Setelah tiba di pintu gerbang aku salim tangan dengannya, dia membalas dengan mencium keningku. “Hati-hati di sekolah, jangan nakal!” Hanya anggukan yang kuberikan pada iparku itu, karena aku harus cepat masuk ke dalam agar tidak terlambat sampai di dalam kelas. Benar saja, guru killer yang ditakuti sudah berjalan akan masuk ruangan dan aku mendahului masuk dengan setengah berlari. “Tidak sopan main serobot aja,” kata guruku dengan keras menatap ke arahku. Aku tidak menghiraukan perkataan melainkan langsung duduk di kursi belakang kesayanganku. “Khusna, maju ke depan!” perintah guruku yang bernama Arman. “Iya, Pak. Ada apa ya?” tanyaku tanpa dosa. Temanku yang sebangku memberikan isyarat supaya aku segera berdiri dan maju ke pak Arman. Suasana hatiku mendadak tidak enak dengan panggilan guruku. Ternyata aku mendapatkan hukuman atas ketidak sopananku tadi. Mengapa para guru selalu begitu? Aku tidak mersa bersalah, telat dikukum tidak telat juga kena kukuman. Serba salah kalau jadi murid. “Kamu kenapa? Tidak suka bapak menghukum kamu?” katanya agak keras membuatku bergidik. Dengan langkah gontai aku melangkah ke dalam toilet sekolah untuk membersihkannya. Sebenarnya hukuman ringan daripada aku harus pulang dan menerima omelan dari kakakku Surti. Ini baru pertama kalinya aku dapar hukuman. Selama ini tidak pernah aku mendapatkan hukuman. Seperti itulah hari-hariku selama sekolah, hingga aku nikmatinya selama tiga tahun. Aku punya cita-cita ingin menjadi anak yang lebih baik dari saudara-saudaraku yang lainnya. Anak bungsu harus bisa membuat keluarganya bangga, itu tekatku selama ini. Sikap mas Yudi juga tetap tidak pernah berubah. Seringkali menggodaku dan membuatku menjadi tersanjung. Mungkin karena rayuannya yang halus membuatku tidak merasa curiga sedikitpun. Bahkan dia begitu berani memujiku dibelakang Mbak Surti. Aku menganggapnya sebagai bantuan dengan melindungiku selama ini. Karena berkat Mas yudi, aku bisa berangkat sekolah tanpa terlambat dan makan makanan dari warung yang sama dengan Mbak Surti. Seperti sore hari ini saat pulang sekolah. Suasana rumah selalu masih sepi. Mbak Surti yang selalu pulang malam karena berbelanja barang untuk esok hari. Lagi-lagi aku melihat Mas Yudi tengah asyik menonton vidio di ponselnya dengan wajah tegang. Ketika mendengarku datang segera mematikannya dan memberian bungkusan makanan untukku. “Tadi Khusna udah masak. Jangan sering bawain makanan buat Khusna, nanti mbak Surti marah, Mas,” ucapku masih belum menerima makanan tersebut. “Mbak kamu belum datang. Lagian ini juga sama dengannya. Kasihan kalau kamu hanya makan makanan rumahan. Ayok makan dulu, habisin! Nanti aku kecewa kalau tidak segera kamu makan.” Dengan cepat aku ambil piring di dapur, dan makan di hadapan mas Yudi. Tidak ingin membuat orang yang sudah baik denganku kecewa. Karena selama ini hanya dia yang membantuku dengan sembunyi-sembunyi. Sedangkan Mbak Surti hanya marah-marah saja sekarang semenjak peristiwa itu. Mas Yudi lah yang membuatku kuat bertahan hingga duduk di bangku klas XII. Pintu depan terbuka, terlihat Mbak surti menatap kami berdua dengan wajah memerah. Akupun berdiri, makanan yang tinggal satu sendok urung kuurungkan masuk ke dalam mulutku. Sedangkan mas Yudi berdiri dan berjalan mendekati Mbak Surti. Dia memberikan isyarat dengan kedipan mata ke arahku setelah sampai di samping Mbak Surti. “Oh ... jadi tetap seperti ini kelakuan kamu? Tetap saja tidak tahu berterima kasih kamu ini. Orang sedang sibuk kerja, kamu malah enak-enakan berdua dengan suamiku. Kurang ajar sekali kamu, Khusna! Mau aku pulangkan ke kampung?” katanya dengan napas memburu. “Ti-tidak Mbak. Jangan salah paham, aku nggak ngapa-ngapain dengan Mas Yudi. Sumpah.” “Mana ada maling ngaku? Sudah ketangkap basah kamu merayu suamiku.” “Tidak, Mbak. Tidak! Sungguh aku tidak pernah merayu Mas Yudi,” ucapku juga setengah berteriak. Kulirik mas Yudi yang ada di belakang mbak Surti hanya terdiam tanpa membelaku sama sekali. Aku bingung bagaimana menjelaskannya kembali. Tidak ada bukti yang menguatkan aku. Tapi mengapa mas Yudi hanya diam dan tidak menanggapi sama sekali? Ini sudah dua kali semenjak kejadian waktu itu dia terbakar api cemburu. Dengan adik kandung saja seperti itu,apalagi dengan perempuan lain. Kata mas Yudi memang mbak Surti orangnya cemburuan, pernah damprat orang juga katanya. Susah jika orang sudah mempunyai sifat seperti itu. Aku hanya diam mematung sedangkan mbak Surti sudah masuk ke dalam kamar bersama dengan mas Yudi tanpa melirik ke arahku. Menarik napas panjang dan membereskan makanan yang tersisa di meja. Sekarang aku mulai bingung dengan sikap yang bertolak belakang dari mereka. Satu membela di belakang yang satu menyerang terang-terangan dari depan. Harus percaya dengan siapa sekarang. Jika bukan dengan mas Yudi lantas nasibku bagaimana kurang sedikit lagi sekolahku. Aku membuka pintu kamar dan mulai menanggalkan pakaianku satu persatu. Mematut diriku dicermin dan melihat bagian tubuhku yang belum tersentuh siapapun. Meraba dan sambil memejamkan mata hingga beberapa saat lamanya. Tiba-tiba kurasakan ada yang dingin menyentuh pundakku yang terbuka. Ingin aku membuka mata tetapi persaan takut hinggap di hatiku hingga aku mengurungkannya. Entah perasaan apa yang kurasakan, dingin dan menggigil ketakutan. Ya Tuhan, bagaimana ini mataku tidak mampu dan hatiku terasa sangat takut. Teringat akan mimpi-mimpiku kemarin yang membelenggu hasratku sampai sekarang. Rasa dingin dan hangat berkecamuk di dalam ruang yang tidak terjamah seorangpun. Keringat dingin mulai keluar dan lenket di kulitku. Aku merasa berjalan diantara rerumputan liar dan merebahkan diri. Rasa hangat kembali menyeruak di dalam pikiranku. Rasa apa ini sebenarnya, mengapa aku begitu menikmatinya. Tidak ingin membuka mata, takut rasa ini akan hilang untuk selamanya. Menikmati suasana mimpi yang bergelora dan membuat hatiku yang tercabik asa. Harapan untuk dapat menikmati indahnya dunia untuk keluargaku agar dapat sempurna. Tubuhku terasa kaku tidak dapat bergerak hanya dapat menikmatinya. Sentuhan hangat kunikmati dengan bahagia, tanpa ada ucapan kata yang terdengar di telinga. Mimpi, apakah ini mimpi yang membuatku takut untuk membuka mata melihat kenyataan yang ada. Suara gedoran di pintu menyadarkan aku untuk membuak mata. Tapi mengapa begitu berat. Bahkan tubuhku rasanya sangat pegal dan linu sekali. Aku mencoba menggerakkan tangan dan kaki. Syukurlah bisa, dan sekarang giliran mataku yang kuusap perlahan dengan menggunakan telapak tanganku. Sangat berat untuk membukanya. Tetapi karena suara gedoran semakin keras aku berusaha bangkit dari tidurku. Melihat diriku yang setengah telanjang membuatku ingin berteriak, apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku saat ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN