Dengan mata masih belum sempurna membuka aku berjalan sempoyongan menuju pintu setelah mengenakan pakaian. Aku baru tersadar jika belum membersihkan diri setelah pulang sekolah tadi. Perduli amat, tidak ada yang tidur bersamaku jadi tidak mungkin terganggu dengan bau keringatku ini. Kata teman-teman sekolah bau keringatku berbeda dengan yang lainnya, aneh.
Kulihat mas Yudi sudah berdiri sambil tersenyum menatap ke arahku. Aku melihat di belakangnya tidak ada mbak Surti yang biasanya siap dengan senjata tajam keluar dari mulutnya.
“Nggak usah khawatir, mbak kamu udah tidur. Maklum dia capek, udah kutidurkan dengan caraku, biar tidak marah-marah lagi dengan kamu. Ngomong-ngomong kamu kog kelihatan capek sekali. Tuh, keringat masih mengalir di leher kamu.”
Aku meraba leher terasa lengket dan basah. Mengapa aku seperti ini, bahkan kipas angin masih menyala. Apakah sedemikian panasnya sampai membuat tubuhku mandi keringat?
“Waduh, mengapa jadi seperti ini ya, Mas? Khusna tidak merasakan apa-apa tapi badanku rasanya pegal semua,” ucapku jujur mengatakan kondisiku saat ini.
“Mungkin karena kegiatan sekolah kamu yang full membuat jadi seperti ini. Udah, sana mandi, sebelum Mbak kamu bangun!”ucap mas Yudi sambil mendorongku keluar dari kamar.
Suasana di dapur dan sekitarnya memang sepi. Kamar mandi yang letaknya satu ruangan terasa jauh aku tempuh akibat tubuh yang terasa letih dan berkeringat. Mas Yudi yang melihatku, segera menghampiri dan membawaku masuk ke dalam. Anehnya, aku hanya menurut pikiran terasa kosong. Pintu kamar mandi yang hanya tertutup kain tirai, membuatku melakukan mandi dengan cepat. Apalagi mas Yudi sedang membuat kopi di dapur saat ini. Hatiku masih deg-deg an setiap kali bersentuhan dengan kulit mas Yudi. Bayangan tubuh yang kekar selalu memehuhi otakku hamper setiap hari. Entah sadar atau tidak, aku mulai menyukai sikap dari iparku yang baik hati menurutku. Kakak kandungku saja tidak perduli, hanya selelu emosi yang dia tunjukkan akhir-akhir ini.
Setelah selesai aku keluar dengan balutan handuk yang sebatas betis. Aku lupa tidak membawa baju saat mandi, sedangkan pakaianku terjatuh dan basah terkena air kotor yang mengalir ke dalam pembuangan.
Kulihat mas Yudi sudah tidak berada lagi di dapur mungkin sudah masuk kembali ke dalam kamar. Hari sudah semakin malam pukul 18.00 WIB. Suasana sepi membuatku leluasa melenggang santai, tubuhku juga semakin terasa segar tidak seletih saat bangun tidur. Kubuka pintu kamar perlahan dan menguncinya. Lampu kamar yang mati, dan hanya lampu tidur yang kecil cukup menerangi langkahku untuk melangkah ke almari pakaian. Takut ada masuk tiba-tiba ke dalam kamar saat aku berganti pakaian.
Setelah melepaskan semua pakaian aku bermaksud menggunakan yang baru, tetapi batal kerena ada tangan kekar yang menarikku naik ke atas ranjang. Aku mengenal siluet pria yang sekarang menindihku, seperti mas Yudi. Tapi aku takut karena wajahnya tidak jelas terlihat. Baju yang dikenakan juga tidak sama dengan yang dipakainya tadi saat membangunkanku.
“Si-siapa … si-siapa in-?” suaraku tercekat tidak bisa keluar akibat bungkaman dari mulut pria yang sekarang berada di atas tubuhku. Belitan lidah kasar terus dari lakukan hingga aku sulit bernapas. Ya Tuhan, apakaha aku akan diperkosa? Siapa dia? Tolong aku Tuhan …!!
Pria ini kemudian berdiri membating tubuhku hingga berposisi tengkurap di atas ranjang. Dia mulai menjelajahi tubuhku bagian belakang menggunakan lidah dengan kasar. Air mataku mulai deras turun, bibirku tidak mampu untuk berteriak minta tolong. Suasana bertambah panas saat kurasakan kulit tubuh kami saling bersentuhan. Aku pasrah, aku diam, apakah ini akhir dari statusku sebagai seorang gadis?
Tiba-tiba terdengar suara gedoran di pintu. Pria yang menindihku bangkit, aku segera membalikkan tubuh yang hampir telanjang dan bergegas mencari baju. Kulihat dia masih berdiri mematung, tetapi sesaat kemudian berjalan ke arah pintu. Jari telunjuk pria itu memberikan isyarat agar aku diam.
“Mas Yudi,” aku terpekik melihat kenyataan. Orang yang akan menindihku ternyata iparku sendiri.
Pintu dibuka paksa, nampak mbak Surti dengan wajah merah menatap ke arah kami. Dengan membabi buta, dia pukul aku dengan menggunakan kemocing, hingga jatuh tersungkur di lantai. Tidak ada kata-kata keluar atau rintihan kesakitan keluar dari bibirku. Rasanya seperti di lem, tidak dapat membuka suara.
“Keterlaluan kamu, KHUSNA!! Apa yang sudah kalian lakukan, HAH …?!” gemertak gigi mbak Surti sampai terdengar.
Mas Yudi hanya diam, tidak berbuat apa-apa di samping mbak Surti. Tidak ada pembelaan untukku, aku sakit, tubuh dan hati. Mengapa orang-orang ini tega menyiksa perasaanku, aku tidak salah … aku tidak melakukannya. Keduanya kemudian pergi keluar dari kamar tanpa bicara sepatah katapun. Kemocing terakhir dia lempar hampir mengenai kepalaku. Aku diam dan terduduk menangis tersedu.
Malam ini kulewati dengan membalurkan minyak tawon pada luka memar yang ada di tangan dan tubuhku. Beruntungnya, mbak Surti seorang perempuan yang kekuatannya tidak penuh seperti laki-laki. Jika tidak mungkin sudah benjol semua tulang dan tubuhku. Perih, hanya itu yang aku rasakan sendirian memeluk guling dan kedua kaki hingga terlelap.
Mendadak aku terbangun tenggorokanku kering dan rasa haus yang tidak bisa aku tahan. Perlahan aku bangun dari tempat tidur sambil menahan rasa sakit dan ngilu di sekujur tubuhku. Lupa tidak menyediakan air minum di dalam kamar, karena insiden tadi. Dengan tertatih berjalan menuju dapur yang gelap.
Kunyalakan lampu penerang 5 watt yang tergantung tepat di sebelah kulkas. Setelah minum dan membawa satu botol air putih aku kembali masuk ke dalam kamar. Sekilas kulihat bayangan orang duduk di kursi ruang tamu yang hanya terhalang buffet. Tidak jelas, tetapi kupastikan itu pasti mas Yudi, siapa lagi kalau bukan dia, yang biasanya malam-malam duduk begadang.
“Khusna, maafin mbak Surti,” suara mas Yudi menghentiakn langkahku untuk masuk ke dalam kamar.
Aku terdiam, tidak menyahut perkataan mas Yudi. Yang ada di pikiranku saat ini adalah bertanya dan ingin tahu mengapa dia melakukan itu kepadaku. Bukankah hal ini yang menjadi penyebab mbak Surti selalu marah kepadaku. Mengapa hanya mbak Surti yang dia salahkan? Karena semua akar masalah ada pada mas Yudi.
“Mbak Surti hanya khilaf, dan tidak mungkin menghajar kamu lebih dari itu,” ucapnya datar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Karena rasa marah sudah sampai di ujung kepala, kuhampiri iparku yang sedang menghisap sebatang rokok. Kupukul dia dengan menggunakan kemoceng yang digunakan isterinya tadi sekuat tenaga. Napasku memburu, ingin segera menghabisi pria ini malam ini juga. Tapi apa daya, dia malah tertawa dan menahan pukulan kemoceng yang ada di tanganku.
“Hahaha … kamu mau apa? Kuat tanganmu mukul aku? Khusna … Khusna, kamu polos amat jadi perempuan. Dikasih kenikmatan, tapi kamu tolak. Mbak kamu aja selalu meminta, sampai memohon sama aku, hahaha ….” tawanya lirih tetapi cukup membuatku bergidik merinding. Jadi, mungkin ini yang dipertahankan oleh kakak perempuanku. Sebuah kepuasan batin yang didapat dari mas Yudi.
“Mas Yudi keterlaluan sekali, apa yang mas Yudi mau dariku? Ternyata semua yang mas lakukan itu palsu,” suaraku menekan lirih, takut mbak Surti mendengarnya.
“Aku mau kamu, Khusna. Tapi sayang, kakak kamu tidak memperbolehkan kamu untuk menjadi isteriku yang ke dua. Kamu manis sekali, Khusna,” katanya sambil mengeluarkan lidah menjilat bibirnya sindiri, menjijikkan.
“Mas Yudi JAHAT!! Lebih baik aku pergi dari sini, daripada menjadi pelakor di rumah kakakku sendiri. Udah tidak waras rupanya,” ucapku dengan napas memburu.
“Jangan kamu pikir bisa lepas dari sini dengan mudah. Kamu lihat aja, kalau tidak nurut. Akan kuhancurkan sekalian keluargamu,” kata mas Yudi sambil berlalu dari ruangan.
Aku hanya tertunduk di lantai dengan lemas. Apa maksud mereka menahanku selama ini? Mengapa mbak Surti tega sekali denganku. Sekolahku tinggal beberapa bulan lagi, apakah akan kutinggalkan kota ini dan pulang ke kampung halaman? Apa yang akan kukatakan kepada ibu, jika sekolahku putus?
Semalam aku merenung di dalam kamar hingga menjelang pagi. Aku tidak boleh menyerah, dengan niat kuat sejak awal aku ingin menjadi anak yang sukses menjadi kebanggaan keluarga. Sampai matahari hampir terbit, aku baru sadar jika kondisiku saat ini sangat berantakan.
“Aku kuat, aku bisa,” hanya itu kalimat yang keluar dari bibirku.
Seperti biasa, kegiatanku pagi selalu menyiapkan makanan dan membersihkan rumah mbak Surti. Berusaha melupakan kejadian semalam hingga membuat mata ngantuk. Semoga nanti di kelas aku tidak ketiduran karena begadang semalaman. Kulihat pintu kamar kakakku masih tertutup rapat. Mungkin belum bangun, maklum pekerjaan mbak Surti tidak membutuhkan jam yang tertib sepeti pegawai kantor. Kalau mau dapat uang banyak, berangkat pagi, kalau mau santai berangkat agak siang. Begitulah sehari-harinya akhir-akhir ini, sangat berbeda saat aku pertama kali datang ke rumah ini, sangat rajin mencari uang.
Pintu ruang tamu diketuk, jam di dinding menunjukkan pukul 06.00, siapa pagi-pagi sudah bertamu? Tidak mungkin teman mas Yudi atau mbak Surti. Mereka hanya datang ketika sore menjelang. Segera kubuka pitu kayu yang sudah pudar warna catnya itu. Nampak sosok laki-laki dengan menggunaka celana jean lobang dan kaos oblong pendek warna hitam berdiri tepat di depanku. Sorot mata tajam melihat ke tubuhku dari atas sampai kaki, membuatku bergidik merinding serasa akan diterkam.
“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” ucapku melihatnya tidak segera memberikan salam.
“Pagi, aku ingin ketemu dengan Yudi, temanku. Sekaligus Surti istrinya.”
“Silakan masuk, saya panggilkan.”
“Kamu adiknya? Pantes, Yudi tergila-gila ingin nikahi kamu. Rejekiku, dapat perawan ting-ting.”
Aku berhenti, menoleh ke arah laki-laki yang sekarang sedang duduk sambil menghisap rokoknya. Jantungku berdegup kencang, amarah sudah di ujung kepala. Rasanya ingin aku berteriak, ada apa dengan mereka? Apakah mereka akan menjualku kepada laki-laki ini? Laki- laki yang berpenampilan hampir mirib dengan mas Yudi, seperti preman jalanan.
Mengetuk kamar kakak pelan hingga terdengar suara dari dalam kamar. “Mas Yudi, Mbak Surti, ada tamu,” kataku pelan. Setelah mereka menjawab, “ya”, aku pergi dan mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Pikiranku kalut bingung dengan perkataan tamu yang baru saja datang.
Setelah selesai, aku keluar kamar dan melihat mereka bertiga duduk berbincang. Suasana masih pagi, aku tidak ingin membuat kekacauan lagi.
“Mbak, aku berangkat sekolah,” kataku sambil mengulurkan tangan hendak salim kepada mbak Surti.
“Kamu nanti pulang cepat, aku akan nikahkan kamu dengan Rudi. Jika kamu menolak, pulang ke kampung! Aku tidak sudi melihatmu di dalam rumahku. Hanya sebagai benalu rumah tanggaku saja,” ucap kak Surti tanpa menerima uluran tanganku.
“Ta-tapi mbak, sekolahku tinggal beberapa bulan lagi, aku belum mau kawin?” ucapku terbata.
“Kalau begitu, sebaiknya kamu keluar sekarang dari rumah ini, CEPAT!!” perintah kak Surti dengan mengacungkan tangan menyuruhku pergi.