Malam Pertama

1746 Kata
Rasanya ingin menjerit sepuasnya. Aku sekarang dalam posisi tersudut tidak bisa memilih. Jika aku pulang belum berhasil, pasti ibu akan sedih karena akan menjadi tambahan beban untuk beliau. Padahal sekolah tinggal 2 bulan lagi untuk mendapatkan ijazah. Haruskah aku putus sekolah, demi menuruti kemauan mbak Surti dan mas Yudi? “Cepet kamu bereskan barang-barang kamu, kalau tidak mau nurut sama kami!” suara mbak Surti tegas penuh tekanan. Tamu yang datang pagi ini, ternyata orang yang dijodohkan denganku. Dia bernama Rudi, dan masih seumuran dengan mas Yudi, kakak iparku. Melihat dari tampangnya, aku tidak yakin dia akan menjadi suami yang baik. Sorot mata nakal semenjak datang ke rumah ini. Bahkan sekarang berusaha mendekatiku yang masih berdiri hendak berangkat ke sekolah. Tangan kekarnya mengulur untuk berjabat tangan denganku. Dengan gemetar kuterima tanpa membalas tatapan mata yang melihat ke arah tubuhku dari atas kepala hingga kaki. “Mau sekolah? Gue anterin, sekalian pamitan. Minggu depan kita nikah,” kata mas Rudi sambil tersenyum. “Pamitan? Aku masih ingin sekolah, biarkan aku sekolah dulu. Nggak pa-pa nikah,a asal aku bisa melanjutkan sekolah yang tinggal beberap bulan lagi,” pintaku melihat ke arah mbak Surti dan mas Yudi yang hanya diam. “Hahaha … itu terserah pada Rudi, Khusna.” Kata mbak Surti menegaskan, “Gimana Rud? Kamu setuju?” tanya mbak Surti melihat ke arah mas Rudi. Mas Rudi menarik tanganku mengajakku untuk ikut duduk bersama dengan mereka. Sebelum menjawab pertanyaan mbak Surti, dia menjelaskan kepadaku, jika mas Yudi mempunyai hutang cukup banyak kepada mas Rudi. Dan hari ini dalah jatuh tempo dia harus melunasinya. Karena ms Yudi dan mbak Surti tidak mempunyai uang, maka akulah yang menjadi gantinya. Hutang mas Yudi, katanya untuk modal usaha. Tetapi buatku itu hanya alasan saja, karena yang kutahu, mas Yudi tidak pernah melakukan usaha apapun. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berjudi selama ini, dan mbak Surti tidak tahu itu. Hal itu aku ketahui dari seringnya mendengar pembicaraan lewat telpon mas Yudi dan temannya, saat berada di rumah. Ternyata aku dijadikan sebagai penebus hutang, hutang judi menurutku. Mas Yudi benar-benar licik, bisa membutakan mata mbak Surti hingga tidak mempercayai aku, adiknya sendiri. Bahkan perbuatan buruknya yang ingin selalu menyentuhku selama ini, tidak pernah terendus oleh mbak Surti. Mungkinkah dia pakai pelet, atau semacam ilmu gaib yang bisa membutakan mata hati mbak Surti, hingga berbalik menuduhku yang merayu suaminya? “Jadi kamu sudah paham sekarang?” tegas mas Rudi sambil menghisap rokoknya. “I-ya, ta-tapi Khusna mau melanjutkan sekolah sampai selesai dulu. Aku janji tidak akan kabur,” pintaku hampir tidak terdengar. Mereka yang ada di depanku semunya tertawa, dan menyetujui. Asalkan aku menikah di bawah tangan minggu depan. Mas Rudi menjanjikan akan membangun rumah mbak Surti, lebih besar dan mewah setelah aku menikah dengannya. Tentunya mereka menerima dengan senang hati dan menyuruhku untuk secepatnya memberikan persetujuan. Apalah daya diriku, yang hanya numpang dan sudah dibiayai sekolah selama tiga tahun ini. Tidak bisa menolak permintaan mereka yang jelas merugikan aku. Mas Rudi memaksa untuk menikah minggu depan, dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia tidak ada yang mengurus keperluan sehari-arinya selama ini. Aku tidak menjawab dan juga tidak menyetujui, percuma memberikan alasan, mbak Surti pasti akan marah lagi. “Kamu dengar itu Khusna. Minggu depan kalian nikahnya, biar nggak jadi benalu dan menggoda ipar kamu,” ucap mbak Surti. Pagi ini udah tercapai kata mufakat, aku menikah minggu depan. Pernikahan di bawah tangan, karena harus menyelesaikan sekolah terlebih dahulu, itu permintaanku. Selama pelajaran di sekolah, pikiranku tidak lepas dengan bayangan hari esok yang akan kulewati setelah menikah. Aku belum mengenal mas Rudi sama sekali, bagaimana aku menjalani hari-hariku selanjutnya? Bisakah dia juga menerimaku sebagai istrinya? Motif apa yang sedang mas Yudi rencanakan? Jelas ini berhubungan dengannya, bukan hanya mbak Surti. Mas yudi yang licik, siang ini menjemputku di sekolah seperti biasa. Sebenarnya ingin kutolak, namun tangan kekar itu menyeretku hingga naik ke atas motornya. Aku hanya diam, tidak mampu berteriak meskipun aku ingin. Dia membawaku ke sebuah taman kota, dan membiarkan aku duduk menikmati segelas es jeruk yang baru saja dia belikan. “Kamu jangan sampai ngomong sama, mbak Surti. Kalau aku sering masuk ke dalam kamarmu. Sebentar lagi kamu nikah, sayang sekali kita belum bersama mengarungi surga dunia,” ucapnya setelah menghabiskan segelas es jeruk. “Ini hari terakhir, mudah-mudahan kita masih ada waktu untuk melakukannya,” lanjutnya tersenyum. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirku untuk sekedar membalas atau menimpali. Hatiku sudah mati rasanya, tidak ada harapan lagi untuk masa depanku nanti. Percuma saja aku memberikan pembelaan kepada laki-laki yang ada di depanku ini, aku hanya wanita yang lemah. Seminggu berlalu, hari ini aku akan menikah dengan mas Rudi. Persiapan yang sederhana, dan itu semua aku yang menyiapkan. Miris sekali, calon pengantin mempersiapkan sendiri semua perangkat pernikahan. Mulai menyiapkan makanan sampai tempat untuk menikah yang ada di ruang tamu rumah ini. Hanya beruntungnya pernikahanku dilakukan pada hari libur Minggu, sehingga tidak mengganggu jadwal sekolahku. Mas Rudi datang hanya dengan membawa beberapa orang, yang katanya keluarga dekatnya. Tidak kulihat kedua orang tuanya yang mendampingi. Aneh, jika ini merupakan pernikahan yang pertama pasti keluarganya juga ikut bahagia. Sedangkan aku sendiri hanya di wakili kakakku, mbak Surti. Ibuku yang ada di kampung serta sudara-saudaraku tidak ada yang diberitahu, hal ini sedah menjadi keputusan mbak Surti. Pesta kecil pernikahan sudah berakhir. Dan aku sekarang sudah sah menjadi isteri mas Rudi. Untuk selanjutnya kami masih akan tinggal dan numpang di rumah mbak Surti sampai rumah yang dijanjikan mas Rudi selesai di bangun. Rasanya ada yang aneh, selama ini dia tinggal di mana? Hanya itu pertanyaanku di dalam hati. Malam ini, malam pertama menjadi isteri mas Rudi. Perasaan campur aduk sudah menghantuiku sejak kemarin. Mungkinkah dia meminta haknya malam ini? Aku tidak bisa membayangkan tubuhku berada di bawah kungkungan laki-laki yang umurnya 5 tahun lebih tua dariku. Mas Rudi sudah masuk ke dalam kamar saat aku baru selesai melepaskan baju resmi. Matanya nakal melihat seluruh tubuhku yang hanya mengenakan baby doll kesayanganku. Dia mulai mendekati tempatku berdiri yang berada di sebelah ranjang. “Kamu kenapa pakai baju seperti itu? Nggak ada yang lebih bagus lagi?” tanyanya sambil menarik bajuku hingga tubuhku ikut tertarik mendekat ke arahnya. “Aku cuma punya ini,” cicitku lirih. Suamiku tidak bicara, hanya aggota tubuhnya yang mulai bergerak aktif. Bibirnya mulai menempel dan membelit lidah. Tidak ada yang aku lakukan selain diam dan mengikuti perintahnya. Hatiku terasa mati, pikiranku buruk. Bukan sensasi bahagia yang aku dapatkan kali ini, tapi perasaan tersiksa karena terpaksa. Perlahan mas Rudi mulai aksinya dengan membuka sedikit demi sedikit benda yang menghalangi kulit kami. Bau alkohol terasa menyengat di hidungku. Air mata kutahan sekuat tenaga agar tidak jatuh. Namun aku salah prediksi, mas Rudi tahu jika aku menangis. Dia menyeringai, menatap tajam ke arahku dan kemudian menampar pipiku sekuat tenaga. “Sakit,” cicitku lirih sambil mengusap pipi. “Kamu nangis? Hahaha … itu salahmu, selama bersamaku jangan lagi kulihat air mata! Aku paling tidak suka dengan perempuan yang cengeng. Aku sudah baik, mau menikahimu dan membawamu ke surga dunia. Mengapa berpikir aku akan siksa kamu? Awas … jika ini terulang lagi, kupastikan bukan kamu saja yang menerimanya, tapi juga kakak kamu yang bodoh itu!” ancam mas Rudi. Panas rasanya pipi dan juga hatiku. Selekah mengatakan itu, mas Rudi mulai kasar dengan mendorong tubuhku hingga jatuh ke atas ranjang dengan keras. Semua yang melekat di tubuh kami sudah hilang dia lempar ke lantai. Kini yang ada hanya tubuh polos yang ada diatas ranjang. dia benar-benar kasar, aku bahkan tidak bisa menikmati yang katanya surga dunia. Hatiku hancur, pedih hanya bisa menjerit di dalam hati. Tubuhku serasa lemas tak bertenaga, setelah mas Rudi berulang kali memaksa untuk terus menyetubuhiku semalaman. Saat ini dia sudah tergolek di sampingku dengan dengkuran yang keras. Aroma alkohol, masih terasa bahkan mulutku ikut berbau. Jijik rasanya melihat pemandangan tubuhku yang berantakan di bawah selimut tipis. Bercak merah menempel hampir di sekujur tubuhku. Rasa perih pada area bawah, dan bercak darah di seprei menjadi tanda aku sudah tidak gadis lagi. Air mataku jatuh tak terbendung, mengapa aku haru kehilangan mahkota dengan cara seperti ini? Miris sekali perjalan hidup yang kujalani saat ini. Pupus cita-cita yang kubawa dari kampung, berganti dengan duka yang akan membekas seumur hidupku nanti. Beringsut dari ranjang, meraih semua baju yang yang tergeletak berserakan di lantai. Setelah merasa rapi aku keluar dari kamar hendak menuju ke kamar mandi yang letaknya di luar. Hari masih malam, kulihat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Berjalan tertatih menuju kamar mandi yang letaknya di dapur. Kubuka pintu tirai kamar mandi sebelum memastikan ada orang di dalamnya. Kamar mandi dalam kondisi basah, pasti baru ada orang yang menggunakannya, mungkin mas Yudi atau mbak Surti. Dengan cepat kubasuh area kewanitaanku dengan hati-hati. Rasa perih masih terasa dan menghantui pikiran. Teringat betapa kasarnya mas Rudi menerobos memaksa untuk memasukinya. Air mata deras mengucur tidak dapat kubendung dengan isakan lirih. Katanya surga dunia, tapi apa nyatanya, hanya rasa sakit yang aku dapatkan. Pengalaman pertama aku bersentuhan dengan laki-laki, yang tega memperlakukan aku seenaknya. “Khusna,” terdengar suara memanggilku, mas Yudi. Dia di ruang tamu yang tidak dinyalakan lampunya. Aku tidak menjawab hendak langsung masuk ke kamarku yang berada di dekat ruang tamu. Tetapi nasibku tidak beruntung, tangan kekar itu menarik tubuhku hingga terjerembab di kursi tamu. Ingin aku teriak, tetapi mulutku sudah di bungkam oleh mas Yudi dengan tangan kanannya. “Sttt … gimana malam pertamanya? Sayang sekali bukan aku yang pertama. Beruntung sekali Rudi, bisa mendapatkan yang pertama menyentuh kamu,” lirih mas Yudi bicara tepat di telingaku. “LEPASIN …!! Atau aku akan berteriak!” ancamku dengan terus berusaha melepaskan diri dari belitan tubuhnya yang kekar. “Jangan coba-coba mengancam aku. Bahkan Rudi, suami kamu tidak akan bisa melawanku. Ingat, di sini yang berkuasa aku, bukan kakakmu!!” ancamnya balik dan semakin menjepit tubuhku di kursi tamu. “Tolong … tolong jangan seperti ini, Mas. Aku sudah menuruti kalian untuk menikah dengan mams Rudi, jangan nodai aku …” tangisku mulai terdengar lirih. Mas Yudi terdengar tertawa lirih. Aku heran menapa suasana rumah ini tiba-tiba terasa menyeramkan. Tidak ada yang mendengarkan kami yang berisik di ruang tamu. Mengapa tidak ada yang bangun? Terasa dingin kulit tanganku bersentuhan dengan tangan mam Yudi. Seperti es, bahkan aku sampai terkejut terasa kasar sekali kulitnya penuh bulu. Jika saja ruangan terang mungkin bisa melihat bagaimana bentuk fisiknya. Gerakannya semakin kuat menjepit tubuhku di kursi tamu, dan tiba-tiba aku merasakan sakit di bagian bawah. “Agrhh …. ”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN