Aku menjerit menahan sakit pada tubuh bagian bawah. Terasa ada tangan dingin mencubit bokongku. Kulihat wajah mas Yudi yang samar terlihat menyeringai membuatku semakin takut. Tiba-tiba aku merasakan gelap tidak melihat dan mendengar apapun.
Merasakan ada yang menggoncang bahu dengan keras, aku membuka mata. Mas Rudi sudah berdiri di samping ranjang dengan berkacak pinggang. Bau alkokol masih terasa di tubuhnya yang telanjang d**a. Kusibakkan selimut untuk bangun dari tempat tidur. Betapa terkejutnya aku, melihat tubuhku hanya menggunkan pakaian dalam saja. Kulihat bibir mas Rudi tertawa dengan keras hingga menggema seluruh kamar, membuatku bertambah takut.
Tubuhku terasa remuk redam, segera aku mencari baju yang berserakan di lantai. Teringat kejadian tadi malam, apakah mimpi atau nyata yang terjadi kepadaku? Kulirik mas Rudi bergerak duduk di kursi plastik matanya terus menagasi gerak gerikku.
“Kamu kenapa tidur di luar semalam? Nggak mau tidur sama suami kamu?”
“T-tidur di luar bagaimana?” tanyaku berdiri melihat ke arah mas Rudi.
“Sudahlah, ini masih malam. Kamu sebaiknya istirahat, mungkin tubuhmu terlalu capek menerima nutrisi dariku. Istirahatlah, nanti kita lanjut lagi hahaha …”
Segera aku memakai baju dan berjalan ke luar untuk mengambil minum. Haus sekali tenggokanku, dan aku juga penasaran dengan kejadian yang katanya aku tidur luar, apa mungkin aku mimpi? Tapi tidak … itu nyata, mas Yudi yang bersamaku semalam di ruang tamu.
Kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul empat pagi, sudah waktunya persiapan untuk memasak dan berangkat sekolah. Segera aku guyur tubuhku yang sudah penuh dengan bercak merah stempel dari bibir mas Rudi. Rasa perih masih aku rasakan, sakit dan kutahan. Aku tidak ingin ada yang marah, pasti hanya ejekan dan umpatan yang akan aku terima nantinya jika aku tetap mengeluh. Aku bisa, dan aku kuat melewati semua ini.
“Kamu jangan enak-enakkan ya, tinggal di sini! Tetap pada pekerjaan yang kamu lakukan, dan sekarang tugas tambahan melayani Rudi, suami kamu. Ingat Khusna, kamu harus nurut sama dia, jika tidak lebih baik keluar dari rumah ini dan pulang ke kampung saja,” suara keras dari mulut mbak Surti tepat di depanku saat aku membuka pintu kamar mandi.
Semenjak kejadian itu, aku lebih banyak diam dan merenung. Bahkan di sekolah aku tidak banyak bicara dengan teman-teman yang biasa ngobrol denganku. Aku merasa tidak sebanding dengan mereka yang bebas, melakukan apa saja tanpa paksaan dan tekanan. Teman-teman merasa heran, dan sering bertanya mengapa aku jadi pendiam dan tidak seperti dulu lagi. Semua pertanyaan mereka tidak aku hiraukan.
Pernikahanku di bawah tangan juga tidak ada yang mengetahui. Aku menutup rapat-rapat jika ketahuan pihak sekolah maka aku dikeluarkan dari sekolah. Apalagi aku bukan berasal dari kalangan berduit yang bisa menutup mulut orang-orang yang usil dan menertawakan keadaanku.
Hingga suatu hari saat aku berada di dalam kamar mandi sekolah, perutku terasa mual. Aku memuntahkan semua yang ada di dalam perut. Bahkan setelah keluar semua masih terasa mual, sampai aku lemas dan terduduk di pinggir kloset. Beruntung ada siswa perempuan yang masuk ke kamar mandi dan menolongku membawa ke UKS sekolah. Dan hari itu juga aku diperiksa dan ketahuan hamil. Seluruh pihak sekolah langsung menghubungi mbak Surti kakakku.
Mbak Surti marah dan membawaku pulang dengan kasar. Hingga aku berkali-kali terjatuh di jalanan saat perjalanan menuju arah parkir.
“Benar-benar memalukan!! Mau di mana taruh mukaku, hah …!!”mbak Surti mengomel sepanjang perjalanan menuju rumah.
Apa yang salah jika aku hamil? Toh aku punya suami yang setiap hari bersamaku. Dan dia juga memberikan mbak Surti uang belanja yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Selama satu bulan aku tinggal bersama mereka tidak kesulitan dalam hal ekonomi. Semakin hari mbak Surti juga semakin terlihat cantik karena sering ke salon, beda denganku yang hanya memakai bedak tabur setiap hari.
“Apa kamu tidak memakai alat kontrasepsi? Bodoh sekali kamu ini Khusna!! Setidaknya kamu tunda sampai lulus sekolah, tidak mempermalukan aku dengan panggilan ke sekolah. Emangnya Rudi tidak bilang, kamu tidak boleh hamil?!”
Terkejut, aku hanya menatap mbak Surti yang menatap tajam ke arahku. Mengapa mereka tidak membicarakan hal ini kepadaku. Apakah ini hanya jebakan buatku, tapi buat apa? Kalau memang mas Rudi menginginkan aku sebagai isterinya harusnya menerima kondisiku jika hamil. Mengapa tidak bilang sebelumnya? Jika aku tidak boleh mengandung anaknya.
Sampai di rumah, tubuhku di dorong hingga jatuh di atas kursi tamu. Mbak Surti yang gelap mata memakiku dengan sumpah serapahnya, semua binatang yang ada di kebun raya keluar semua. Aku hanya diam tidak menimpali semua yang dia katakan, percuma karena bagaimanapun apa yang aku katakan tetap salah di matanya.
Terdengar suara derit pintu ruang tamu dibuka. Terlihat mas Rudi dan juga mas Yudi datang bersamaan. Mereka menatap ke arah kami bergantian. Kemudian mas Yudi melangkah menghampiri mbak Surti, sambil melirik ke arahku. Hal itu tentau dilihat oleh mas Rudi, dan menatap tajam ke arahku. Dia menyeretku masuk ke dalam kamar dan melemparku ke atas ranjang yang tidak empuk lagi.
Sakit yang kurasakan pada tulang akibat benturan dengan ranjang tidak aku hiraukan. Tetapi sakit diperlakukan buruk oleh seorang suami sangat menyakitkan. Dengan napas membuatku, dan buang baju yang melekat di tubuhnya dan juga seragam sekolahku dia robek, membuatku menutup mulut melihat kain warna abu-abu teronggok di lantai dalam keadaan sobek.
“Hahaha … kamu lihat, jangan main main denganku. Kamu mau main belakang dengan Yudi? Tidak bisa, dia hanya seorang parasit,” ucapnya tanpa aba-aba meraih tubuhku dan menggagahinya dengan rakus. Sangat kasar, menjerit berteriak sakitpun percuma, dia sudah dikuasai napsu yang membabi buta, dan aku adalah korbannya.
Hal ini tidak hanya kali saja dia lakukan. Pada saat moodnya buruk karena kalah judi, mas Rudi pasti meluapkan amarahnya seperti ini. Aku hanya beruntung, masih bisa bertahan dan kuat menghadapi napsunya yang besar. Bahkan hampir saja aku pingsan, karena kelelahan.
Hingga sore hari aku tidak dapat menggerakkan tubuh, hanya air mata yang mengalir membasahi sprei yang baru saja aku ganti tadi pagi. Kudengar dengkuran keras dari bibir suamiku yang hitam karena rokok. Semoga aku kuat untuk hari-hari selanjutnya.
Tanganku merasakan basah pada bagian bawah. Berhubung aku tidak bangun, aku raih cermin kecil yang ada di atas meja dekat dengan ranjang. Berusaha beringsut sedikit demi sedikit sampai cermin berhasil aku pegang. Lega rasanya, kemudian aku arahkan cermin ke bagian tubuhku. Terlihat warna merah di bawah lampu yang tepat berada di bawahku. Darah … apakah itu darah? Tanganku berusaha merabanya dan kucium, ternyata benar bau anyir darah. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?