Diusir Dari Rumah

1745 Kata
Jantungku berdegup dengan kencang melihat warna merah darah, membasahi ranjang busa tempat tidurku. Melihat ke arah mas Rudi, aku tidak berani membangunkannya, karena takut dia akan marah. Akhirnya hanya bisa berdoa dalam hati, perlahan mataku berkunang-kunang dan gelap. Saat ini aku mendapati tubuhku berada di atas ranjang berwarna putih, dengan tangan terpasang infus. Melihat sekeliling tidak ada orang yang aku kenal. Mereka bahkan tidak perduli dengan kondisiku. Ini Rumah Sakit, siapa yang sudah membawaku ke sini? Seorang perawat perempuan datang dengan senyumnya. Dia segera mengeluarkan alat untuk memeriksa, tensi dan suhu tubuh. “Syukurlah, kondisi mbak Khusna sudah stabil. Hari ini jika sudah stabil bisa pulang, nunggu dokter dulu,” ucapnya setelah membereskan alat yang dipakai untuk memeriksa. Aku mengangguk dan dia tanpa menunggu jawabanku, dia berlalu kembali ke tempatnya di belakang adminstrasi. Mataku melihat lalu lalang para perawat, dan melihat tulisan besar di ruangan. Ruang IGD, ternyata aku di sini tanpa ada yang menunggu. Perutku terasa sedikit sakit rasnya nyeri waktu digerakkan. Aku haus ingin minum, tetapi meja terletak agak jauh dari tempatku berbaring. Dahiku berkeringat tersa dingin, menahan sakit di perut saat aku buat untuk bergerak. “Mbak mau apa? Minum?” tanya seorang pengunjung laki-laki yang sedang berada di sebelahku menawarkan bantuan. “Iya, Mas. Saya haus sekali, minta tolong ambilkan air di meja, perut saya sakit ketika bergerak,” pintaku sambil menunjuk botol mineral yang ada di meja. Setelah minum, aku lihat mas Rudi datang bersama dengan mbak Surti. Keduanya tanpa senyum berdiri berdampingan di samping ranjang. Tanganku mengulur kepasa mbak Surti, tetapi dia abaikan, demikan juga dengan mas Rudi. Bahkan dia sibuk dengan ponsel saat tanganku terulur. “Kamu maunya apa, Khusna. Bikin malu mbak kamu? Kemarin udah bikin malu di sekolah, sekarang bikin malu di rumah, sampai bawa ke rumah sakit segala. Mau cari perhatian?!” bentak mbak Surti lirih di telingaku. “Kenapa tidak bangunkan aku, ketika tahu ada darah? Apa kamu mau menuntutku, karena tidak becus menjadi suami? Kamu mau menjebloskan aku ke penjara? Karena ulah kamu, kami jadi sibuk waktu kami terbuang. Jangan mimpi, Khusna. Setelah ini kamu pulang aja ke kampung. Tidak ada gunanya kamu tinggal di sini, apalagi kondisi kamu yang seperti ini. Percuma kamu lanjut sekolah, nggak ada guna juga, buang-buang uangku saja,” dengus mas Rudi menatap tajam ke arahku. Aku hanya menangis, itupun dalam hati. Takut terkena marah dari mbak Surti dan mas Rudi. Membiarkan semuanya mengalir tanpa bantahan dariku. Kemudian mereka berbincang dengan perawat lama sekali. Aku bingung, bagaimana nanti ketika pulang bisa melakukan pekerjaan rumah? Untuk bergerak saja sakit. Jika kondisiku seperti ini, siapa yang akan membantu nantinya. Hampir seharian aku terbaring dan tidak boleh bergerak sama sekali. Setiap gerak terasa ada yang banjir dan keluar dari bawah sana. Mereka tidak memberitahu apa yang sudah terjadi dengan diriku semalam. Hanya saja takut jika menanyakan masalah ini kepada mereka, takut akan diungkit masalah biaya rumah sakit. Aku tahu sifat kakakku jika sudah menyangkut soal uang. Tidak ingin dia rugi sedikitpun. Aku baru menyadari hal itu setelah beberapa bulan tinggal bersamanya. “Nanti kamu bisa pulang, jangan manja!!” bentak mbak Surti di telingaku. “Kamu tidak perlu lagi sekolah, besuk aku akan urus ke sekolah. Mereka pasti tidak akan mempertahankan dirimu setelah melihat kamu hamil, tidak mungkin akan ditahan. Aku tidak mau ada ribet punya wanita yang cengeng macam kamu. Pikiranku berubah, aku baik hati akan segera mengesahkan pernikahan kita, demi anak yang ada di perutmu. Tapi jangan mimpi, aku akan baik menjadi bapaknya,” tegas mas Rudi membuat jantungku bertambah sesak. Hari sudah sore, dokter datang memeriksaku. Terdengar pembicaraan dari mereka bertiga yang membuatku syok. Ternyata aku pulang paksa karena alasan biaya kata mbak Surti, dan itu disetujui oleh mas Rudi. Duniaku serasa runtuh, kepada siapa lagi aku bersandar. Kakakku saja tidak perduli dengan nasibku, apalagi suamiku. Setelah mengurus administrasi mbak Surti dan mas Rudi segera membawa aku pulang ke rumah. Rasa sakit di perut hanya bisa kutahan, aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kandunganku. Rasa sakit yang tidak bisa aku katakan kepada siapapun. Harus kuat, dan bertahan. Jangan sampai aku menyerah dengan kondisi ini. Semua untuk Ibu, yang sayang dan menggantungkan harapannya untuk bisa hidup lebih baik. “Masuk, jangan cengeng!” bentak mbak Surti. “Udah, jangan kenceng-kenceng, nanti dia sakit kita juga yang resiko keluarin uang lagi,” kata mas Rudi memapahku masuk ke dalam kamar. Baru kali ini sikapnya baik dan tidak kasar. Setelah sampai di dalam kamar, aku membaringkan diri. Mas Rudi mengikuti dengan menbringkan tubuhnya di sampingku, dan terlelap dhanya dalam hitungan detik. Rasa haus dan juga lapar mulai menyerang setelah beberapa saat terlelap. Mas Rudi sudah terlihat mendengkur di sebelahku. Dengan nekat aku menepuk bahu mas Rudi. Dia menggeliat dan melihat ke arahku, sesaat dia melihat ke sekujur tubuhku kemudian baru bangkit dari tempat tidur. “Aku lupa, kamu belum makan. Bentar aku cari-in makanan,” ucapnya sambil menyambar jaket yang tergantung di balik pintu. “Aku haus, ingin minum dulu,” ucapku lirih. “Merepotkan saja,” keluhnya mengambilkan minum untukku. “Maaf,” hanya itu kata yang keluar dari bibirku. Kemudian mas Rudi keluar katanya mengambilkan makanan untukku. Tetapi hingga satu jam lebih lamanya dia tidak kembali, hingga suara mbak Surti berteriak memanggilku. “Khusna … Khusna … urus ini suami kamu!!” teriak mbak Surti membuka pintu kamarku, “Bisa-bisanya mabok di rumah tetangga. Aduhh … mengapa hidupku bertambah sial sejak kamu di rumah ini,” keluhnya menyeret mas Rudi masuk ke dalam kamar. Dengan masih menahan sakit aku bangkit dari ranjang, menghampiri suamiku yang terbaring di lantai dengan mata terpejam. Bau alkohol menyeruak menusuk hidung. Tidak mungkin aku mengangkat tubuhnya naik ke atas ranjang karena tubuhku sendiri lemah. Ini saja ketika aku buat gerak serasa ada yang keluar deras di bawah sana. Kulihat di tangan mas Rudi ada bungkusan kertas minyak, pasti itu tadi buatku. Dua bungkusan kecil kuambil dan meletakkan di atas meja. Mas Rudi tetap tidak bergerak bahkan terlihat tidur. Lantas kuambil bantal untuk menopang kepalanya agar tidak kedinginan di lantai. Aku baru sadar, jika wajah suamiku juga tampan seperti mas Yudi. Mas Yudi, ke mana iparku itu? Biasanya dia yang paling usil dengan kehidupanku bersama dengan mas Rudi. Setelah memastikan mas Rudi nyaman, tidur di lantai aku berjalan tertatih menuju kursi di samping ranjang. Dengan alas piring kosong di meja dan sendok plastik yang ada di dalam bungkusan, aku mulai mengunyah makanan. Nasi cambur dengan lauk ayam goreng dan telur, cukup membuat aku kenyang dan tidak perih lagi perutku. Kemudian aku kembali tertidur setelah melihat ke arah mas Rudi yang sudah membalikkan tubuhnya menghadap ke langit-langit kamar. Keesokan harinya aku terbangun akrena suara ribut di luar. Gedoran di pintu yang cukup keras membangunkan aku dan mas Rudi, yang sudah pindah ke atas ranjang. Dia melihatku kemudian memeluk. “Jangan buka, biarin saja! Kebiasaan kakak kamu yang selalu membuat ribut. Kamu tahu, seharian kemarin dia tidak menyiapkan makanan. Karena sudah terbiasa kamu yang melakukan tiap hari.” Tentu aku terkejut dengan ucapan mas Rudi. Baru kali ini dia bersikap lembut, tidak seperti hari-hari lalu. Seperti orang yang berbeda yang ada di dekatku sekarang ini. Mas Rudi meraih wajahku dan menciumnya dengan lembut. Dia merengkuh tubuhku yang berbaring dengan posisi miring, berulang kali mengecup kening dan bibirku. Tidak kurasakan hawa napsu meskipun bau alkohol masih terasa di mulutnya saat lidahnya membelit lidahku. Setelah suara mbak Surti tidak terdengar lagi. Barulah mas Rudi turun dan membimbingku untuk keluar dari kamar. Berulang kali aku melihat ke arah suamiku, rasa tidak percaya dia melakukan ini untukku. Kemarin bahkan masih marah-marah dan membentakku saat di rumah sakit. Bahkan kesan benci nampak dari ucapannya kemarin sore. Senyum juga mengembang di bibirnya yang hitam. Hati mendadak sejuk serasa mendapatkan perlindungan, semoga ini terus berlanjut hingga nanti. “Mau aku antar masuk ke kamar mandi? Apa masih sakit perutnya?” tanya mas Rudi sambil meraba perutku. “Adu-adu …kayak pengantin baru beneran. Hebat ya, kamu Khusna, manja sekali. Siang bolong baru bangun. Ingat kamu numpang di sini” nyinyir mbak Surti yang muncul dari dapur. Mas Rudi tiba-tiba melepaskanku dan berjalan ke depan mbak Surti. Satu tamparan tepat mengenai pipinya yang putih akibat sering facial ke salon. Gambar tangan mas Rudi terlihat jelas di pipi kanan mbak Surti. Aku sangat terkejut melihat situasi yang sudah tidak kondusif ini. Mas Yudi yang baru saja keluar dari kamar, langsung memukul mas Rudi hingga terjatuh. Aku bingung, harus bagaimana sedangkan menegakkan tubuh sendiri aku belum bisa. Napas memburu dari mas Rudi dan kakak iparku telihat jelas. Kaki mas Yudi menendang perut mas Rudi, hingga dia muntah di lantai. Mbak Surti tertawa melihat adegan mereka, terapi tidak denganku. aku berusaha meraih suamiku yang baru saja berubah sikapnya. Dengan tertatih aku membantu agar dia bisa berdiri dengan tegak. Meskipun dengan sempoyongan, mas Rudi bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi bersamaku. “Aku nggak pa-pa, kamu jangan khawatir. Kamu bersihkan diri dulu, nanti giliranku. Nggak perlu mandi, tubuhmu belum kuat nanti masuk angin,” ucapnya menunjukkan perhatiannya kepadaku. Dengan terpaksa aku membasuh muka dan membuang air. Tidak perduli ada mas Rudi duduk di kursi plastik yang diambilnya dari dapur sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Suamiku juga tidak perduli, apakah aku telanjang atau tidak. Toh kami sudah sama-sama mengetahui siluet polos tanpa benang masing-masing. Setelah selesai giliran mas Rudi membuka bagian atas bajunya. Aku terkejut, ternyata banyak terdapat bekas luka menghiasi punggungnya. Luka yang cukup besar yang menurutku akibat kecelakaan. “Punggung mas …” ucapanku terputus, dia bungkam bibirku hingga aku sulit bernapas. “Nggak perlu kamu tanya kenapa, cukup tahu saja. Ini bukan duniamu,” ucapnya setelah selesai membungkam bibirku dengan bibirnya beberapa detik lamanya. Kami keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam kamar. Mataku terbelalak melihat tas dan koper sudah berjejer di depan pintu, dan mbak Surti dan mas Yudi berdiri di belakangnya. Mas Rudi maju dan mencengkeram krah baju milik mas Yudi. Tidak ada perlawanan, yang ada mereka berdua mbak Surti dan mas Yudi tertawa keras. “Apa maksud semua ini?! Kalian mau usir kami? Oh … baiklah, jangan pikir kami akan jadi gembel di jalan. Kalian lah yang akan jadi gembel hahaha ….” mas Rudi tertawa balik. Aku tidak tahu apa maksud mereka dengan mengatakan itu semua. Apa sebelumnya mereka punya perjanjian atau semacamnya? “Pergi …!! Pergi dari rumahku!!” teriak mbak Surti seperti orang yang kesetanan. “Oke … lihat saja, kalian pasti akan tahu akibatnya!!” kata mas Rudi mengambil barang-barang kami dan keluar dari rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN