Keluar dari rumah mbak Surti, yang sudah menjadikan statusku sebagai isteri mas Rudi. Status baru yang kusandang, meski belum resmi di daftarkan di KUA. Rasa sakit di perut kutahan demi bisa berjalan ke mobil mas Rudi yang terparkir di ujung gang rumah yang jaraknya 100 meter. Letak rumah mbak Surti yang berada di gang sempit hanya selebar 2 meter, mobil tidak bisa masuk, hanya roda dua yang bisa masuk ke sana. Aku masuk ke mobil sedan lawas keluaran 90 an, tetapi masih terlihat bagus dan terawat.
“Mas Rudi, boleh aku tanya? Kemarin aku sakit apa?” tanyaku memberanikan diri saat sudah ada di dalam mobil. Posisiku yang berada di sampingnya membuat leluasa untuk memulai perbincangan, apalagi sejak tadi mas Rudi sangat lunak, dan tidak marah-marah lagi denganku.
“Kandungan kamu lemah, hampir saja keguguran. Kita cari tempat untuk istirahat dulu, supaya kamu cepat pulih,” katanya dengan nada pelan, “Oh ya lupa, aku cari makan dulu, kamu tunggu di mobil sebentar,” ucapnya memegang gagang pintu mobil.
Tetapi kemudian dia urungkan dan kembali menatapku. Tatapan mata yang tidak dapat aku artikan, mata mas Rudi terlihat mengembun kedua tangan menangkupkan wajahku. Dia mencium kening hingga lama kemudian memelukku dengan erat.
“Khusna, maafkan aku belum bisa menjadi suami yang baik. Kata-kata yang aku ucapkan kemarin dan yang dulu kasar, tolong kamu maafkan. Kita cari kontrakan atau tempat kos sementara, rumahku belum selesai di renovasi,” katanya sambil menatap kedua bola mataku.
“Mas Rudi kenapa? Mas Rudi nggak sakit kan?” ucapku dengan nada bergetar. Ini terdengar aneh, kata-kata yang membuat hatiku lilih. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini.
“Enggak, aku nggak sakit, maafin aku Khusna. Jaga baik-baik anak kita!” ucapnya mencium keningku sekali lagi. Nah, aneh lagi kan? Mengapa dia cepat sekali berubah hanya dalam waktu semalam.
Aku hanya diam tidak mampu berkata-kata. Hanya anggukan kepala dan mencium pipi mas Rudi yang aku lakukan. Dia tersenyum dan selanjutnya pamit mencari makanan yang letaknya agak jauh dari mobil. Semoga dia terus bersikap baik seperti ini, dan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak kami.
Aku menunggu sambil mendengarkan lagu dari you tube. Kepala aku senderkan pada jok mobil, dan untungnya ada bantal yang bisa aku gunakan untuk menahannya. Suara merdu membuatku mengantuk dan tertidir lelap.
Sudah hampir satu jam lamanya aku diam sampai tertidur di dalam mobil. Kulihat arloji di pergelangan tangan sudah berkeringat, kerena AC mobil tidak dinyalakan. Terlihat seseorang berjalan mendekati mobil. Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca jendelanya.
“Khusna, turun!!” suara mbak Surti sudah berdiri di samping badan mobil bersama dengan tatapan tajam.
“Ada apa, Mbak?” suaraku serak karena terlalu kaget dan baru saja bangun dari tidur.
Tanpa berkata apapun mbak Surti menarik tanganku untuk ikut dengannya. Aku berontak, karena sedang menunggu suamiku dan kita akan pergi di rumah mbak Surti. Ini mengapa aku dibawa kembali masuk ke rumahnya? Aku tidak ingin mas Rudi kecewa dengan sikapku yang mengikuti kembali kakakku untuk tinggal di rumahnya. Perutku terasa masih sakit, karena mbak Surti terlalu kencang menarikku keluar dari mobil tadi.
“Mbak, aku lagi nungguin mas Rudi, kenapa mbak bawa ke sini? Peritku juga masih sakit, jangan Tarik-tarik aku!” tanyaku mulai membuka suara. Lama berseteru dengan kakak kandung, membuatku menjadi canggung.
“Udah, kamu diem. Nanti pasti tidak akan sakit setelah kamu melihatnya, liat tuh!” mbak Suri menghempaskan tanganku dan menujuk kerumunan orang yang ada di rumahnya. Ada apa ini? Aku menoleh ke arah mbak Surti, tetapi tidak ada penjelasan.
Dengan tertatih, aku mendekati kerumunan orang yang ada di ruang tamu. Mereka mengelilingi sebuah benda yang tertutup kain jarik. Jenasah … apakah itu jenasah seseorang? Lantas jenasah siapa? Jantungku bergemuruh, tubuhku bergetar rasa takut dan cemas mulai menyelimuti pikiranku. Mengapa mbak Surti menyuruhku melihat jenasah ini.
“Permisi, ini s-siapa? J-jenasah siapa?” tanyaku tersendat kepada orang-orang yang mengerumuninya.
Dari arah dalam rumah, terlihat mas Yudi berjalan ke tengah kerumunan. Kulihat sorot mata tanpa kedip ke arahku. Kalau mas Yudi di sana, lantas siapa yang terbaring di tengah mereka? Jangan-jangan … aku tidak mau berpikiran buruk. Pasti ini orang terdekat dengan mbak Surti atau mas Yudi yang menumpang untuk di lakukan perawatan jenasah.
Aku melamun, terasa ada yang menepuk bahuku dari belakang. Mbak Surti yang mengenakan kerudung hitam, dan berpakaian panjang. Aneh, karena tidak biasanya dia memakai pakaian itu, malah akunyang sering karena mewakilinya ke tetangga jika ada yang berkabung.
“Itu Rudi, suami kamu,” ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
“Ah, yang benar mbak? Mana mungkin aku tidak percaya. Dia tadi beli makan untuk kita, itu bukan suami aku kan?”
“Lihat aja sendiri, kamu pastikan! Mungkin mata mbak yang salah,” ucapnya pergi meninggalkan aku yang bengong tidak percaya.
Mana mungkin dia suamiku, dia segar bugar saat membeli makan. Ada-ada saja mbak Surti kalau mau nge-prank adiknya. Tubuhku menerobos kerumunan dan segera beringsut ke tengah orang-orang yang berdoa. Akan kubuktikan jika itu bukan jenasah suamiku, mas Rudi. Setelah dekat, perlahan aku buka bagian atas yang menutupi wajahnya.
Deg … jantungku rasanya berhenti berdetak itu … itu wajah mas Rudi. Kemudian pelan kututup lagi dengan jarit. Aku masih tidak percaya jika itu adalah mas Rudi, kemudian kubuka lagi. Ini pasti mimpi, tidak mungkin … tidak mungkin … tidak mungkin ini suamiku. Dia baik-baik saja, tidak meninggal.
Aku terduduk diam di samping jenasah. Rasanya tidak percaya jika yang terbujur kaku itu adalah mas Rudi. “Tidak … ini bukan kamu kan, Mas? Pasti ini bohong, dia bukan mas Rudi … tidak … tidaaakkkk …!!” teriakku seketika dan mata mendadak gelap.
Aku mendengar ada yang memanggil nama dan mengguncang bahuku. Wajahku terasa dingin, hidung membau minyak kayu putih begitu menyengat dan terasa panas. Kubuka mata, terlihat mas Yudi dan mbak Surti ada di samping ranjang kamar yang biasa kugunakan. Mereka masih mengenakan pakaian berkabung yang tadi dikenakan.
“Bangun, Khusna!! Suami kamu sudah di makamkan. Istirahatlah sebentar, nanti kami antar kamu pulang ke kampung,” tegas mbak Surti mengamit lengan mas Yudi keluar dari kamar.
Mas Yudi sekilas melirik ke arahku. Duniaku hancur sekarang, gara-gara dia aku menjadi seorang janda. Belum punya buku nikah resmi, dan sekarang sedang mengandung. Bagaimana aku menjalani hari-hariku selanjutnya. Atau gugurkan saja anak ini? Pikiranku kalut, bagaimana nanti tanggapan ibu saat aku pulang kampung nantinya.
Keesokan harinya, aku diantar mas Yudi dan juga mbak Surti pulang ke kampung menggunakan mobil milik mas Rudi. Harta ini peninggalan satu-satunya milik mas Rudi yang diberikan kepadaku. Aku sendiri tidak tahu, berapa uang atau harta lain milik suamiku. Kemarin dia bilang punya rumah yang masih direnovasi, tapi aku tidak tahu ujudnya. Apalagi statusku masih belum resmi menjadi istrinya. Tidak berani menuntut, apalagi sampai bermusuhan dengan kakak kandung sendiri.
Selama perjalanan aku tidak henti-hentinya berpikir. Apa yang akan aku lakukan nanti di kampung. Tidak mungkin memberatkan ibuku yang sudah tua. Pasti beliau syok saat melihat aku hamil tidak bersuami. Maafkan anakmu, ibu.
Mobil disopiri mas Yudi berjalan dengan pelan. Perjalanan Panjang sejauh ratusan kilometer ditempuh selama 5 jam perjalanan. Berhenti hanya sekali untuk mencari kopi dan mengisi bahan bakar. Selama perjalanan mas Yudi hanya terdiam, memperhatikan mbak Surti yang tidak henti-hentinya mendikte aku saat nanti tiba di rumah ibu. Kemungkinan besar dia juga ketakutan karena tidak bisa membiayai aku hingga lulus sekolah.
Semua perkataan mbak Surti tidak ada yang aku timpali. Semua lolos, entah nanti ingat atau tidak aku tidak perduli. Bayangan masa depan yang lebih suram sudah terpampang di depan mata. Semoga aku bisa melewatinya dengan mudah, bersama dengan anak di dalam kandunganku. Kuelus perutku yang masih rata, dia tidak bersalah. Hampir saja aku ingin melenyapkan benih mas Rudi.
Sampai di halaman rumah ibu. Bangunan lama yang belum ada luluran semen, hanya nampak bata merah yang terlihat dari kejauhan. Rumah ibu, adalah rumah yang paling sederhana dibandingkan dengan rumah tetangga. Karena sebagai wanita single yang hanya mempunyai anak perempuan.
Aku dilahirkan sebagai anak bungsu tiga bersaudara dari keluarga sederhana di kampung Durian. Tidak seperti saudaraku yang lain yang tidak mau sekolah dan mencari uang saja. Aku ingin mempunyai pendidikan lebih baik daripada saudara yang lain. Kedua orang tua hanya seorang petani kecil. Dan sekarang kami menjadi anak yatim. Bapak sudah meninggal beberapa tahun yang lalu sejak aku duduk di bangku Sekolah Dasar.
Perekonomian kami tergolong paling sulit diantara semua tetangga. Ibu sendirian mencukupi kebutuhan kami sekeluarga, apalagi pada masa pendemi kemarin. Bantuan pemerintah terkadang tidak dapat, entah bagaimana cara perangakat desa itu mengaturnya. Kami hanya orang kecil yang hanya manut, diberi diterima, tidak diberi juga diam saja.
Ibu sudah ada di depan pintu saat mendengar deru mobil. Beliau tinggal bersama dengan kakakku, Minah, yang kerja sebagai buruh di pabrik mie dekat dengan rumah.
“Eh, anak-anak ibu pulang. Pakai mobil lagi, pasti sudah dapat uang banyak ini di kota,” sambutnya dengan senyum di bibirnya yang pucat.
“I-ya buk, ibuk sehatkah?” ucapku sambil mengulukan tangan, dan mencium tangan beliau.
“Alhamdulillah, sehat. Ayo masuk, Surti, itu suami kamu ajak masuk. Buatkan minuman sana!” perintah ibu melihat mbak Surti duduk dengan santai tanpa mencium tangan ibu.
Mas Yudi membawa barang-barangku masuk ke kamar. Demikian juga dengan barang mas Rudi yang sudah ada di mobil kemarin. Semua dimasukkan tanpa ada yang tertinggal di mobil. Aku bingung, karena kamar yang kugunakan kecil, sedangkan barangku banyak. Almari juga berukuran kecil hanya satu meter tingginya.
“Itu barang siapa? Kalian mau nginep lama di sini?” suara ibu tiba-tiba mengagetkan aku, muncul di kamar.
“Barangku, Buk. Nanti biar mbak Surti yang menjelaskan.”
“Emangnya ada apa? Ibuk jadi curiga, kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh kan? Atau merugikan mbak kamu di sana?”
Aku bingung, harus berkata apa. Yang pasti aku tidak ingin antara ibu dan mbak Surti nanti terjadi salah paham. Bagaimana menjelaskan kondisiku sekarang ini. Sulit dan tidak bisa memilih.
“Khusna aku pulangkan ke rumah, Buk,” suara mbak Surti dari belakang ibu.
Kami berdua menoleh kea rah mbak Surti yang sudah berdiri di tengan pintu kamar. Di belakangnya ada mas Yudi dengan tatapan tajam ke arahku. Kemudian kami semua keluar dari kamarku dan duduk bersama di ruang tamu.
“Khusna sudah keluar dari sekolahnya, Buk. Dan sekarang lagi hamil, suaminya sudah meninggal kemarin,” ucap mbak Surti dengan mimik datar tanpa ekspresi.
Terlihat raut wajah ibu merah, menatap ke arahku. Dengan cepat beliau berdiri dan menampar wajahku sekuat tenaga. Sakit … itu yang kurasakan. Tetapi lebih sakit saat aku menyakiti hati ibuku.