Bertemu Teman Lama

1815 Kata
Ibu menampar pipiku hingga membuat semua orang yang ada di ruangan terkejut. Tidak pernah beliau kasar selama ini dengan anak-anaknya. Tatapan mata tajam tak berkedip, membuatku merinding ketakutan. Seandainya saja aku tidak hamil, pasti akan keluar dan pergi dari rumah ini. Mencari pekerjaan dan tinggal di mana saja, yang bisa menjadi tempatku berlindung. Namun kenyataannya berbeda, aku lemah dan saat ini dalam kondisi sakit. “Kamu bikin malu orang tua, mengapa aku punya anak seperti kamu?” kata ibu dengan napas memburu menatap ke rahku. “Buk, tenang … jangan marah-marah. Nanti jantung ibu kumat lagi,” kata mbak Minah yang ada di dekatnya. “Kamu nggak usah ikut campur! Ini urusan ibuk dengan Khusna. Susah payah aku membesarkannya, hanya membuat aib keluarga.” “Bagaimanapun juga ini musibah, Buk,” kata mbak Minah sambil mengelus pundak ibu, “Khusna, kamu jangan dengerin kata-kata ibuk. Jangan diambil hati,” bisik mbak Minah kepadaku, aku hanya mengangguk. Baik mbak Surti maupun mas Yudi, tidak ada yang membela aku sama sekali. Mereka bahkan langsung pulang dengan menggunakan jasa trevel. Suasana berubah tegang saat ibu menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Beliau malu, aku hamil tanpa suami. Lebih parahnya lagi, beliau mengungkit masa lalu hidupnya membesarkan anak tanpa di dampingi seorang suami. Aku hanya diam, tidak menimpali perkataan ibu. Demikian juga dengan kakakku yang sejak tadi berada di dekat ibu. Mbak Minah menyuruhku masuk ke dalam kamar, dengan menggunakan isyarat matanya. Aku hanya mengangguk dan berdiri melangkah masuk kamar dengan perasaan campur aduk. Hidup baru diawali di sini, di kampung yang hampir tiga tahun aku tinggalkan. Mimpi masa kecil ingin sukses dan menjadi kebanggaan orang tua, sudah sirna. Bahkan aku seperti seorang yang tidak berguna, dengan membawa aib seorang anak yang akan lahir tanpa seorang ayah di sisinya. Dengan berat segera kubereskan barang-barang yang masih ada di dalam tas dan koper. Semua masih penuh sesak di alamari kecil. Pakaian mas Rudi bahkan belum masuk sama sekali, ku biarkan tetap berada di dalam kopernya. Mungkin jika anak ini nanti lahir ke dunia, dia akan tahu jika punya ayah. “Khusna, kamu mandi dulu! Udah sore, nggak baik orang hamil mandi malam,” suara mbak Minah yang usianya 3 tahun diatasku menyadarkan dari lamunan. Aku tersenyum ternyata dia masih peduli dengan adiknya. “Iya, mbak. Terima kasih, aku mau masak air panas dulu. Badanku tidak enak. Meriang rasanya,” kataku sambil berdiri mencari pakaian ganti. “Nanti, setelah selesai, Mbak mau bicara empat mata. Jangan sampai ibu marah lagi,” ucapnya sampil berlalu dari kamarku. Aku berjalan ke kamar mandi yang letaknya ada di dapur, dekat dengan tempat memasak. Satu-satunya kamar mandi yang ada di dalam rumah ini. Perutku masih sakit, bahkan sekarang kram. Aku meringis, rasanya sakit sekali. Kuraba perut yang masih datar, “Berapa umur kamu, Nak? Baik-baik di dalam perut ibu ya, sayang. Ibu janji akan membesarkan kamu dengan baik,” ucapku dengan air mata mengalir deras membasahi pipi. Keluar dari kamar mandi, kudapati mbak Minah sudah duduk di meja makan dekat dapur. Meja kayu panjang dan besar, yang hanya ada dua mangkuk mie di atasnya. Kulihat mbak Minah melambaikan tangan dan menyuruhku duduk di dekatnya. “Makan dulu, sejak datang kamu belum makan sama sekali.” “Makasih, Mbak. Aku jadi merepotkan,” ucapku tersenyum kepada mbak Minah, tetapi tidak dia balas, bahkan wajahnya terlihat murung. Aku makan dengan setengah hati, melihat ekspresi kakakku tidak ada senyum sama sekali berada di dekatku. Setelah selesai aku berdiri untuk mencuci piring, namun ditahan oleh mbak Minah. “Nggak usah, biarkan saja di situ. Mbak mau ngomong,” ucapnya setelah beberapa menit terdiam. “Ada apa, Mbak?” Mbak Minah kemudian mengajakku ke kamarnya. Kamarnya lebih besar dari kamarku. Perabotan juga lebih banyak dan paling mewah dari ketiga kamar yang ada di rumah ini. Mbak Minah buruh harian lepas di pabrik mie di desa kami. Gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ibu dan dia. Dulu ketika aku belum ikut dengan mbak Surti, aku selalu ikut mencari uang tambahan untuk biaya sekolahku dengan jual gorengan keliling kampung sepulang sekolah. Hidup kami yang susah, menyebabkan mbak Minah putus sekolah, dan memilih mencari pekerjaan demi tetap ngepul dapur rumah kami. Dan sekarang, aku pulang dengan membawa beban dan aib. Wajar jika ibu marah dan menyuruh untuk menggugurkan kandunganku. Beliau pasti bingung, bagaimana nasib hidup kami selanjutnya dengan adanya anak yang akan lahir nanti. “Khus, kamu tahu hidup kita seperti apa? Mengapa ini kamu lakukan? Sudah kamu pikirkan, apa yang akan kamu lekukan untuk menghidupi nanak kamu nanti?” suara mbak Minah terdengar berat dan tanpa ekspresi wajah yang menyenangkan. “Belum, Mbak. Apa mbak Minah ada ide pekerjaan untuk aku? Aku belum lulus sekolah, bagaimana akan melamar kerja? Tidak mungkin aku kerja di pabrik, Mbak.” “Kalau seandainya kamu tidak kerja, lantas bagaimana ngasih makan anak kamu? Mbak rencana mau nikah, sekarang lagi ngumpulin uang buat biaya pernikahan mbak. Aku nggak mau, uangku habis untuk biaya kamu,” ucapnya dengan sorot mata tajam. “Iya, mbak aku ngerti. Besuk biar kupikirkan mencari pekerjaan yang cocok untukku. Tapi malam ini biarkan aku istirahat sebentar, perutku masih sakit.” Mbak Mina mengangguk dan menyuhku segera keluar dari kamar, takut ketahuan oleh ibu. Benar juga, kulihat ibu keluar dari kamar tepat saat aku membuka pintu kamarku. Mbak Mina cerita, jika ibu tidak akan membiarkan aku mendapatkan perlakuan istimewa. Aku bingung, mengapa ibu melakukan ini kepadaku, dulu beliau sangat lembut dan perhatian kepadaku. Sikapnya sudah berubah 180 derajat, saat mengetahui aku hamil tanpa suami. Beliau tidak melihatku atau menyapa, sampai menutup pintu kamar. Derai air mata mengucur deras tidak terbendung. Kupejamkan mata, sambil mengingat kenangan bersama ibu waktu kita masih saling menguatkan untuk mencari sesuap nasi setiap hari. Ibu sosok pikir bijaksana dalam menyikapi masalahku, apa yang sebenarnya terjadi dengan beliau, sehingga menjadi berubah seperti ini? Hingga aku terlelap dengan buliran air mata yang tidak berhenti mengalir, sesak rasanya. Keesokan harinya, aku terbangun dengan gedoran di pintu kamar yang yang sangat keras. Suara Mbak Minah memanggil namaku untuk membuka pintu. Kulihta jam di meja ssudah menunjukkan pukul 06.00 pagi, “Sudah siang rupanya,” kuraba perutku dan berdoa, semoga hari ini dapat pencerahan untuk langkahku selanjutnya. “Khusna, mbak belum masak. Kamu masak ya! Ini uang 25 ribu, belanja secukupnya di warung depan. Jangan sampai kurang, trus ngutang!” kata mbak Minah mengulurkan dua lembar uang kertas, dan pergi berangkat kerja. Setelah membersihkan diri, dengan jalan pelan aku menuju warung yang letaknya beberapa ratus meter dari rumahku, dengan menggunakan sepeda ontel. Sambil mengenang memori sepanjang jalan, aku tarik napas berulang kali untuk menguatkan diriku sendiri. Warung terlihat sangat ramai, setelah memarkirkan sepeda aku masuk menyibak kerumunan orang yang memilih bahan makanan. “Eee … ini Khusna bukan? Tambah cantik saja tinggal di kota, pasti hidupnya enak sekarang,” sapa seorang ibu yang aku kenal sebagai temannya ibuku. “Iya, saya Khusna,” jawabku pendek. Banyak pasang mata menyorot kepadaku, membuatku kikuk dan risih. Kemudian kami saling bejabat tangan, dengan saling mengenal lebih dekat. Hatiku merasa bahagia, sejenak melupakan rasa sakit dengan perubahan sikap ibu terhadapku. Setelah mengambil beberapa sayuran serta tempe dan tahu, aku pulang dengan menyisakan uang 5 ribu rupiah. Belanja di kampung, tidak semahal di kota, aku jadi punya ide untuk membuka warung kecil-kecilan. Tapi … aku tidak punya modal, tidak mungkin itu lakukan. Kukayuh sepeda tua, yang dulu menemani saat sekolah. Sangat awet aku bilang, punya orang lain mungkin sudah dijual karena umurnya terlalu tua. Tetapi mbak Minah tetap menyimpan dan merawatnya. Terasa ada orang yang membututi aku, dan menepuk bahuku dari belakang. Sepedanya sejajar dengan sepedaku. “Khusna? Ini bener kamu?” tanya seorang laki-laki gagah, dengan memakai topi hitam. Sepertinya aku mengenalnya, dari fisik yang tidak asing. Laki-laki yang menggunakan sepeda sport mahal, dengan memakai pakaian olah raga. Kelihatan jika dia sedang melakukan aktifitas olah raga pagi. Cuasa sangat cerah dan segar, sangat mendukung jika kita untuk melakukannya. “Iya, siapa ya? Kayak tidak asing untukku,” kataku sambil mengayuh sepeda pelan mengimbangi sepedanya. “Aku Jupri, masak lupa?” katanya membuatku mengerem sepeda mendadak. Dia ikut berhenti dan menoleh ke arahku. “Jupri?! Yang pacarnya …” kalimatku terhenti, dia menutupnya dengan menggunakan tangan kanannya. Jupri kakak kelasku waktu SMP yang terkenal dengan banyak pacar waktu itu. Tidak hanya dengan teman satu sekolah, dengan sekolah lainpun dia tetap terkenal. Prestasi belajanya juga terbilang bagus, selalu juara dan mendapat ranking teratas di sekolah. Hal ini yang dia manfaatkan untuk menggaet cewek, terlebih dengan tampangnya yang lumayan tampan. Kami dekat, karena acara event sekolah dan menjadi panitia. Waktu yang sangat singkat membuat kami menjadi akrab, hingga dia memintaku untuk menjadi pacar yang ke sekian kalinya. Aku tertawa waktu itu, mana mungkin aku mau jadi pacarnya. Mending jomlo daripada jadi selir seorang playboy. Dan semenjak itu, dia menjauh dariku sampi lulus sekolah tidak pernah mendengar kabar beritanya. Aku melihat Jupri yang sekarang berdiri di depanku jauh berbeda dengan yang dulu. Terlihat lebih maco dan berkelas. Mungkin waktu yang membuatnya jadi seorang cowok keren dan terlihat berkelas. Aku sampai tak berkedip melihatnya tertawa dengan giginya yang putih berbaris dengan rapi. “Oiii … bengong aja. Ini akuuu … Jupriii …” ucapnya sambil melambaikan tangan di depan mataku. Karena malu, aku menunduk dan memainkan rambut yang aku kuncir ke belakang. Seperti cewek yang ketahuan mengagumi laki-laki dan seperti itulah sikapku sekarang ini. Beberap saat lamanya aku diam, memikirkan bagaimana aku bisa bertemu dengan cowok setampan ini. Tetapi ketika melihat tas plastik yang menggatung di sepeda buru-buru aku putuskan untuk pulang. “Waduh, aku lupa mau masak. Nanti kita ketemu lagi ya, sory ibuk suadh menunggu di rumah,” kataku mengambil sepeda kembali. Tetapi tangan Jupri segera menahan, membuatku melihat kea rah wajahnya yang tersenyum ke arahku. “Ye elah … kamu ini nggak kangen ama aku. Oke aku ikut ke rumahmu, sekalian ikut masak,” ucapnya sambil melepaskan tanganku dan mengambil sepedanya. “Eh … ngomong apa itu, enggaklah. Buat apa aku kangen ama kamu, nggak ada hubungan juga,” “Kalau gitu mulai sekarang coba ada-in, biar bisa ketemuan setiap hari,” ucapnya tetap saja ngeyel. Jupri tetap saja bersikeras ingin tahu rumahku. Aku tidak mengiyakan atau menolak, karena dia juga tetap kekeh ingin mengikutiku sampai rumah. Karena pada dasarnya aku juga suka mempunyai teman baru lagi. Tetapi aku jadi bingung, dengan kondisiku sekarang ini. Apakah mungkin dia tetap mau berteman jika mengetahui aku sedang hamil saat ini. Perjalan menuju rumah tiba-tiba berubah menjadi menyenangkan dengan hadirnya Jupri. Dai terlalu kocak dan penuh rayuan maut di setiap ucapannya. Tetapi aku sadar, siapa aku sekarang ini. Tidak akan mudah larut pada rayuan seoarang pria, karena hatiku sudah mati. Sesampainya di rumah, suasanya masih sepi. Ibu yang biasanya duduk di teras tidak aku lihat. Mungkin masih berkutat di belakang. Jupri ikut masuk dan duduk di kursi, tiba-tiba ada tangan yang menamparku sangat kuat, “Ibukkk ….!!” Hanya itu kalimat yang keluar dari bibirku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN