Pekerjaan Baru

1566 Kata
Melihat ibu dengan sorot mata tajam mengarah kepada kami, tentu membuatku bingung. Demikian juga dengan Jupri, yang baru masuk ke ruang tamu. Tamparan di pipi terasa panas. Ini sudah yang kedua kalinya, ibu berlaku kasar kepadaku. Jadi bertanya-tanyan mengapa ibu menjadi berubah, bukan sosok yang dulu aku kagumi yang lembut dan penyayang. Apa yang menyebabkan beliau menjadi seperti ini? Tidak mungkin hanya faktor kondisiku yang buruk saat ini. Aku memberikan isyarat kepada Jupri supaya menyapa ibu. Tetapi aneh, uluran tangan Jupri ibu abaikan dan masuk ke kamar. Wajah ibu yang merah membuatku sadar, ada amarah dalam hatinya. Aku bukan malaikat yang bisa membaca hati orang, tetapi sikap ibu sejak kemarin membuatku sering menduga dan berprasangka buruk. “Jupri, kamu balik saja. Ibu kayaknya nggak suka dengan kamu,” kataku mendorong Jupri keluar dari rumah. “Eh, mosok to Khus. Emang ibuk kamu jutek amat ama aku. Yo wis lah, aku pulang, jangan lupa telpon aku. Aku masih pengen ngobrol ama kamu.” Sepeninggal Jupri, aku langsung masuk ke dapur. Mengolah makanan secepatmya. Mungkin ibu marah tadi karena sudah lapar dan tidak ada makanan. Tetapi di tempat cucian piring, aku lihat ada mangkok yang bekas makan mie. Padahal aku tinggal tadi sudah aku bereskan dengan bersih. Aku masak sayur bening bayam dengan tempe goreng dan tahu dengan sambal terasi yang menjadi kesukaan ibu. Tidak mungkin aku lupakan makanan favorit ibu selama hidup. Bahkan selama mengikuti mbak Surti, sering memasak makanan ini jka aku sedang rindu dengan ibu. Setelah selesai, aku intib dari luar kamar ibu yang tidak tertutup sepenuhnya. Kulihat beliau sedang duduk di tepi ranjang dengan memegang sebuah foto. Terlihat mulutnya berbicara dengan foto itu, yanga hanya terdengar samar dan tidak jelas di telingaku. Segera aku menjauh, tidak mau jika ibu melihatku dan bertambah marah lagi aku masih merasa syok dengan sikapnya tadi. Aku sarapan terlebih dulu, perut sudang memanggil minta diisi. Rasa sakit yang kemarin sudah berkurang jauh. Kubersihkan seluruh rumah, yang biasa mbak Minah kerjakan. Seperti itulah hari-hariku selama sebulan di kampung. Belum ada aktifitas yang menonjol yang kulakukan. Setiap hari berpikir, pekerjaan apa yang harus aku lakukan untuk masa depan anak nantinya. Sering kali mbak Minah menyuruhku melamar pekerjaan di pabrik, tetapi masih dalam pertimbangan. Mengingat kandunganku lemah, dan tidak ingin terlihat banyak orang mengetahuinya. “Kamu sudah satu bulan di kampung, tidak ingin punya duit sendiri?” tanya mbak Minah sambil menyeruput teh hangat yang baru saja kubuatkan. “Pengen, Mbak. Tapi aku bisa apa? Kira-kira selain ke pabrik aku harus kerja apa biar bisa dapet duit. Sepuluh ribu pun aku mau, asal bisa dapetin,” kataku sudah putus asa. “Sekolah aja nggak lulus. Nasib kamu nanti sama kayak aku akhirnya. Kecuali jika punya suami tajir,” cerocos mbak Minah. “Ya itu makanya, aku bingung padahal kan aku tidak mau putus sekolah.” “Emm … bagaimana kalau kamu jadi pemulung saja. Itu denger-denger banyak juga duitnya. Hanya itu kalau kamu tidak mau masuk ke pabrik.” Menoleh ke arah mbak Minah dengan penuh tanda tanya. Tidak pernah terbayang untuk mencari pekerjaan yang penuh kotoran seperti itu. separang pemulung pasti bergelut dengan sampah nantinya. Bagaimana mbak Minah bisa mencetuskan ide seperti itu? dia sendiri jijik melihat bayak sampah yang menumpuk di dapur, lama tidak dibuang. “Kog bisa dapet ide itu, gimana bisa?” tanyaku penasaran. “Gini, kamu kan nggak punya modal. Nah kalau jadi pemuling kagak butuh itu. cukup cari barag bekas, jual udah dapet duit. Itu kalau pas nemu emas di sampah, pasti kamu kaya hahaha …” ucap mbak Surti menepuk bahukau pelan. Sesaat kupikirkan, benar juga yang dia bilang. Aku tidak punya uang untuk menjadi penjual meskipun itu jualan keliling. Dan masih banyak lagi masalah jika ada makanan yang tidak laku dijual pasti akan rugi. Itu dulu sudah sering aku alami ketika aku menjual dagangan ibu keliling kampung. Jajan yang tidak habis akhirnya kami makan sendiri. “Bagus juga idenya mbak, bolehlah nanti aku coba. Enaknya mulai mulung dari mana?” tanyaku dengan tidak sabar ingin segera mendapatkan uang. Mbak Minah menoleh dan melongo melihatku. Sesaat dia diam tetapi lantas menggelengkan kepala dan memukulnya pelan dengan tangan. “Kamu serius?! Eh … tadi itu aku cuma bercanda. Kamu sedang hamil, Khusna … jangan main-main!” Mbak Minah menatap lurus ke arahku. Kemudian dia memelukku sambil meningis. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya kecuali isakan lirih dan tepukan di bahuku. Aku ikut larut dalam tangisnya, kami sama-sama menagis lirih di teras sore itu. Ternyata saudaraku perempuan ini masih sayang denganku berbeda dengan mbak Surti. Dia bahkan tidak pernah mengirimkan uang sepeserpun kepada ibu selama aku tinggal di sini. “Jika saja Mbak bisa nolong kamu, dan biayai hidup kamu, pasti tidak akan seperti ini Khusna. Mbak nyesel membiarkan kamu pergi dengan mbak Surti. Padahal mbak tahu persis, dia hanya cari muka di depan ibu.” “Siapa?! Siapa yang cari muka di depan ibu?!” Suara keras terdengar dari dalam rumah. Ibu sudah berdiri di samping kami yang sedang berpelukan. Tentu kami kaget, tidak biasanya beliau berteriak-teriak seperti itu. aneh, sekali. Mbak Minah melepas pelukannya dengan tiba-tiba dan berdiri meraih tubuh ibuku. “Buk, ibuk tenang ya? Jangan marah-marah, ayo masuk!” ajak mbak Mina meraih lengan ibu diajak masuk ke rumah. Sorot mata tajam itu tetap mengarah kepadaku. Aku takut, sangat takut sekali. Aku bahkan selama satu bulan jarang berbicara dengan ibuku sendiri, meski ada satu meja bersama. Sampai kapan kondisi seperti ini akan kujalani, apakah ibu tidak akan pernah memaafkan aku lagi? Keesokan harinya, sesuai saran dari mbak Minah aku pergi membawa sepeda ontel menyusuri jalan kampung. Dengan membawa bekal makanan dan air putih yang kuletakkan di keranjang depan. Cuaca pagi yang masih cerah, membuatku leluasa menelusuri jalanan. Tiba di perempatan kampung ada pasar yang hanya beraktifitas saat hari minggu saja. Biasanya jika ada rejeki waktu itu, ibu pasti mengajak kami anak-anaknya ke sini. Membeli jajanan dan makanan yang harganya terjangkau. Masa kecil yang bahagia yang tidak aku dapatkan lagi sekarang. Berpikir jika di pasar ini banyak sampah yang bisa ku pilih dan dijual agar bisa menghasilkan uang. Botol bekas atau plastik dan kardus yang sudah tidak terpakai. Karung goni 2 buah yang kubawa cukup untuk menampung benda-benda tersebut. Untuk hari pertama mungkin aku akan kesulitaan dengan kondisiku yang tidak boleh kelelahan. Menyusuri pojok pasar tempat tong sampah yang belum diambil. Bau menyengat keluar dari sampah yang bercampur. Tidak ada pemisahan antara sampah kering dan sampah basah. Sejenak aku ragu, melihat botol-botol kotor yang ada di dalam sampah. Untung aku membawa sarung tangan dan juga pengungkit dari besi bekas. Satu persatu memasukkan ke dalam karung. Ada pula kardus bekas yang kotor juga aku ambil dan masukkan ke karung yang berbeda. Satu tong sampah sudah selesai, kini aku berjalan ke tong sampah yang lain. Banyak pasang mata melihat membuat aku malu. Hanya untungnya aku memakai cadar penutup wajah dan baju panjang, sehingga mereka tidak akan mengenalku. Bahkan tidak satupun yang menegurku saat mengorek sampah. Hari ini sudah dua karung hasil pencarian barang bekas. Aku tersenyum membayangkan uang yang aku terima dari pengepul. Paling tidak bisa meringankan beban mbak Minah. Kemudian aku kembali ke sepeda ontel yang kuparkir di tempat parkiran. “Aduh … perutku.” Tiba-tiba aku merasakan sakit di perut. Duduk di pinggir pasar tepatnya di trotoar. Karung tempat barang bekas, belum selesai ditali pada sepeda. Sambil menahan rasa sakit aku mengambil minuman yang ada di keranjang sepeda. Rupanya rasa haus dan lapar tidak dapat lagi kutahan. Segera aku mengambil mekanan dan memakannya dengan lahap. “Mbak, lapar sekali kelihatannya?” tanya seorang ibu yang terlihat sepantaran dengan ibuku. Aku hanya menganggu dan melanjutkan aktifitas makan hingga semua bekal habis. Mengelus perut yang masih datar sambil berkata lirih, ”Kuat sayang, kamu pasti kuat di dalam perut ibu. Semoga hari ini rejeki kita lancar, aamiin.” Setelah beristirahat sebentar, karung kuikat lagi. Saat kesulitan mengikat, ada seorang laki-laki datang menolong dan membantu mengikatnya. Aku harus mulai belajar, meskipun dua karung yang aku bawa tidak begitu berat, namun butuh tehkik juga saat meletakkannya agar tidak terjatuh saat diperjalanan. “Mbak … mbak … melamun saja sejak tadi aku panggil,” suara wanita milik pengepul barang bekas terdengar. Dia mengguncangkan bahu dan menanyakan nama. Setoran harus dicatat sesuai dengan nama penyetor di buku tulis. Kuperhatikan wajahnya tidak cantik dan masih muda. Usia segini sudah mempunyai usaha sendiri, dia sangat pintar pastinya. Setelah berbagai proses yang panjang sesuai antrian. Aku menerima uang dari hasil mengepul yang jumlahnya 25 ribu. Mataku berair melihat hasil keringatku yang pertama kali. Tidak hentinya sujut syukur atas perolehan hari ini. “Kenapa menangis, Mbak? Uangnya kurang? Besuk cari yang lebih banyak lagi supaya dapat uang banyak,” ucap pemilik usaha. “I-iya mbak. Akan aku usahakan. Terima kasih sudah banyak membantu saya,” kataku sambil mengulurkan tangan berjabat tangan. Bergegas aku pulang, ingin memberitahukan kepada mbak Minah, aku bisa dapat duit hari ini. Dia pasti akan senang dan tidak berat lagi menampungku di rumah. Sepeda kukayuh dengan cepat, supaya cepat sampai karena hari juga sudah mulai sore. Jarak dari rumah dan tempat mengepul yang jauh membuatku melamun, membayangkan hari esok yang bertambah pendapatanku. Bersiul dan bernyanyi kecil sepanjang perjalanan. Hati bahagia, baru kali ini kurasakan setelah tiga tahun tidak merasakannya. Tiba di perempatan jalan yang jaraknya tinggal 50 meter lagi, sepedaku terasa bergoyang oleng. Mobil menyalip dengan kencang di samping sepeda hingga oleng dan terjatuh di tanah. “Agrhhh …!!!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN