Sepeda yang kutumpangi tiba-tiba oleng dan aku terjatuh ke tanah. Bokongku sakit akibat benturan, beruntung tidak terlalu keras. Kuelus perut memastikan kandunganku baik-baik saja. Sedangkan mobil yang menyerempet berhenti agak jauh dari tempatku terjatuh. Seoarang pengemudi cowok datang dan berdiri tepat di depanku. Terkejut, apakah ini hanya sebuah kebetulan. Jupri mengulurkan tangan kepadaku. “Ya Tuhan, Khusna. Kamu nggak pa-pa? Mana yang sakit?” “Aku nggak pa-pa,” ucapku sambil meringis. Jupri membantuku untuk berdiri, dia melihat ke arah sekujur tubuh dengan sorot mata tak berkedip. Sejenak tatapannya berhenti melihat ke tanganku yang kotor, dan menariknya. Dia cium dan membuang ludah. Matanya memicing, dan tetap memegang tanganku. “Khusna, kamu dari mana? Dekil kayak gini? Bau

