Mbak Surti dengan santainya bicara soal Jupri. Aku tidak habis pikir, apa yang sedang dipikirkan kakak perempuanku itu. Jupri saja tidak pernah berniat menjadikanku wanitanya. Harusnya mbak Minah sadar, kalau adiknya sudah bekas orang, hamil lagi. Mana mungkin ada orang yang mau menikah denganku. Kalaupun ada, pasti sudah miring otaknya ingin menikahi perempuan buruk sepertiku. Jupri datang menghampiri kami, dia menatapku dan mbak Minah bergantian. Kemudian memberikan obat yang baru saja ditebus. Kulihat struk pembayaran obat tertera 300 ribu rupiah. Kuambil dompet dan memberi Jupri uang 3 lembar warna merah. Jupri tersenyum, menolak dengan halus uang yang aku sodorkan. “Kenapa? Aku masih punya uang. Jangan sampai aku punya hutang ama kamu, Jupri.” Jupri tertawa, “Siapa yang ngutangin

