"Hai, Giz." Shit. There, he was standing there. Bagaimana bisa cowok itu berdiri disana? Di depan pintu rumahku. Dengan kedua tangannya yang terselip di kantong black bomber jacketnya. Darimana ia mengetahui alamat rumahku? Aku sangat yakin cowok itu tidak pernah tahu di mana rumahku. Saat aku kabur darinya dulu sangat jelas kulihat ia pergi dengan BMW hitamnya sebelum aku pulang ke rumah. Smuggy smirk planted on his face. Ia memberi senyum khasnya yang membuat hatiku terasa benar-benar perih. Hanya dengan sebuah senyuman darinya saja ia sudah menyakiti perasaanku. Aku meneguk liurku dengan paksa. Membasahi tenggorokanku. Mengerjapkan mataku. Mengatur napasku yang tertahan sesaat. Jantungku berdetak sangat cepat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak ingin pulang ke ruma

