Waktu melesat pasti. Dua minggu pasca kepulangan Andara, Hanania masih sibuk seperti biasa. Ia berusaha menghilangkan segala pikiran buruk tentang hasil yang diambil Andara. Adiknya itu memutuskan tidak melanjutkan kuliah. Mantap kembali ke desa untuk janji lain yang harus ditepati. Meski sejatinya mungkin ada sedikit hal tersisa di Jakarta. “Kalau sudah tentuin tanggal pernikahan kabarin Mbak, ya,” ucap Hanania sambil memeluk Andara. Berat tapi ia harus melakukannya. “Iya, Mbak. Makasih udah nampung aku selama ini.” Hanania menggeleng. Andara bukan sebuah barang.Mana ada tampung menampung begitu. Ia mengeratkan pelukan lagi. “Tolong, kalau kamu tidak suka dengan pilihan itu bilang. Jangan diterima tapi kamu sendiri tersiksa.” Andara mengulas senyum kecil. Kakaknya mencoba mengalihka

