Dimas pulang dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Hatinya berdenyut pedih memikirkan apa yang baru saja ia terima. Cinta pertamanya kandas begitu saja tanpa ia memulainya. Tiga tahun menanti hari tepat untuk menyatakan rasa sudah dimusnahkan dalam satu kali waktu. Dihempas, dihancurkan hingga dasar. Dimas mendesah. Ia bersama Rolls Royce berhenti di parkiran rumah orangtuanya. “Baru pulang?” tanya sang Mama yang sedang menatap malam. Dimas mengangguk. Sudah jelas ia baru datang berarti baru pulang. Dimas tetap mengangguk karena pertanyaan seperti itu adalah bentuk perhatian. “Dari rumah Arafan,”jawabnya. Sudah tiga hari ia tinggal di kafe. “Arafan lagi? Sampai kapan gaul sama dia, Dim? Mau nasibnya jelek lagi?” Langkah Dimas terhenti. Tidak hanya orang dari kalangan bisnis saja

