Hanania bergeming saat mendengarkan penuturan Rana. Akhir-akhir ini perempuan yang ia kenal sebagai seorang psikiater itu memang berjaga di rumah mewah itu untuk mengontrol kondisi Daisha. “Hamil?” Rana mengangguk. Tangan kanannya menggenggam gagang cangkir teh yang disuguhkan Hanania. “Iya. Sesuatu yang tentunya harus dipastikan ulang.” “Apa jelas sekali?” “Arika sempat memeriksa dengan alat tes kehamilan yang kami beli di apotik. Harusnya Daisha memang dibawa ke rumah sakit saja agar mendapatkan perawatan intensif.” Hanania tak bisa menebak apa yang terjadi. Jika Daisha hamil, artinya kemungkinan yang paling mungkin adalah anak Arafan. Ia menggeleng, menepis lintasan mengerikan itu dan meyakini jika bisa saja ada hal-hal yang memang belum diketahui sebabnya. “Bagaimana kondisimu?”

