Arafan terus memikirkan ucapan Abraham terkait kelanjutan pekerjaannya di kantor. Ia yang tentu tak bisa menerima tawaran itu sedikit gusar. Baru melangkah ke ruang kerja tatapan para rekan sudah berbeda. "Dipanggil Pak Bos," ujar Marvin yang juga satu tim dengannya. "Sekarang?" "Iya. Pak Bos datang jam tujuh tadi." Arafan menelan ludah. Jam tujuh tergolong pagi bagi seorang atasan. Gegas Arafan mengambil langkah untuk sampai di ruang paling atas. "Silakan masuk!" seru Pak Samad. Beliau sengaja melalukan lebih awal. Setelah menutup pintu Arafan bersiap menghadapi semuanya termasuk berhenti dari perusahaan ini. Ia berjalan mendekat ke meja atasannya. "Sudah tahu kenapa saya panggil?" tanya Samad tetap duduk dalam posisinya. Arafan menggeleng. Sepagi ini atasan memimtanya datang man

