6-Kekanak-Kanakan

926 Kata
Ada hari di mana terasa sangat spesial di luar hari besar keagamaan dan hari nasional tentunya. Salah satunya tanggal merah di hari Jumat dan hari Senin. Makin spesial lagi, jika di tanggal itu berada di tempat yang nyaman tanpa gangguan dari pekerjaan. Surga. "Aaaa!" Jenni baru terbangun ketika waktu telah menunjukkan pukul enam. Dia menatap jendela dengan gorden yang lupa ditutup. Langit berwarna biru menyambutnya dengan ceria. Jenni tersenyum sambil merapikan rambut yang berantakan. Dia tahu sekarang hari Senin. Hari di mana dia sering terlambat bangun. Namun, sekarang dia tidak perlu khawatir karena karyawan yang mengikuti event diperbolehkan untuk bekerja setengah hari. "Hoam...." Jenni turun dari ranjang. Dia menuju kamar mandi dan terkejut dengan pantulan di cermin. Seorang wanita dengan rambut mengembang seperti singa, bekas makeup yang telah luntur dan T-zone yang mengkilat karena minyak. "Ya ampun!" Jenni segera membasuh wajah dengan air. Saat itulah dia menyadari ada yang menonjol di pipinya. Jenni segera mengangkat kepala dan melihat jerawat tumbuh dengan cepat. "Kemarin nggak ada jerawat!" teriaknya sebal. Salah sendiri nggak cuci muka. Andai jerawat bisa berbicara, pasti akan menjawab seperti itu. "Aaaa! Bego banget, sih!" Jenni melanjutkan mencuci muka, setelah itu menghilangkan bekas makeup. Salah memang, harusnya dia menghapus makeup dulu kemudian mencuci muka. Beberapa saat kemudian, Jenni turun ke lantai satu sambil membawa koper. Dia harus cepat pergi ke bandara jika tidak ingin ketinggalan pesawat. Setelah itu dia terjebak di meja penuh tumpukan pekerjaan lagi. Jangan tanyakan kondisi badannya sekarang bagaimana, sudah pasti lelah. Mood-nya juga agak buruk karena jerawat yang menyambangi kulitnya. "Kenapa, sih, nggak libur aja?" gerutu Jenni sambil berjalan menuju restoran. Dia harus menyempatkan sarapan jika tidak ingin kejadian kemarin berulang. Padahal, dia tidak terbiasa sarapan berat. Ketika masuk di ruangan bernuansa krem itu, Jenni melihat wajah-wajah suntuk yang sama seperti dirinya. Jelas itu panitia semalam. Jenni menghela napas, merasa banyak mengeluh, padahal pekerjaannya tidak banyak. "Lo tahu nggak Pak Sagra tadi ke mana?" Pertanyaan itu Jenni dengar ketika melewati meja yang ditempati tiga perempuan. "Kayaknya buru-buru gitu. Yah, padahal berharap bisa lihat dia sarapan." Jenni menahan tawa. Justru dia tidak berharap melihat Sagra ada di tempat ini. Sudah cukup kemarin berkali-kali bertemu dan dibuat sebal. "Gue denger, sih, nemuin Pak Yassar." Ternyata obrolan itu masih terdengar di telinga Jenni. "Pak Sagra kelihatan sopan banget ke Pak Yassar. Bener, deh, kata anak-anak, Pak Sagra anak emasnya." "Ssst! Tuh, kayaknya Pak Sagra." Jenni seketika berbalik mendengar kalimat itu. Dia melihat Sagra masuk restoran dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana. Ekspresi Sagra terlihat santai, tidak sekaku kemarin. "Ada hubungannya setelah ketemu Pak Yassar?" "Eh, kamu!" "Ha?" Beberapa orang merespons ucapan Sagra. Sosok yang ditunjuk justru diam saja. Jenni melirik ke orang-orang yang sekarang memperhatikannya. Setelah itu pandangannya tertuju ke Sagra yang berdiri beberapa langkah dari tempatnya. "Saya?" "Ya kamu!" "Ah, ya!" Jenni mendekat sambil menggeret koper. "Ada yang bisa saya bantu?" Sagra mengedarkan pandang karena orang-orang menatapnya. Dia lalu menghadap ke Jenni. "Cepet sarapan terus ke bandara." "Ya ini emang mau sarapan," jawab Jenni sambil berbalik. Belum sempat melangkah, dia kembali menghadap Sagra. "Kita nggak satu pesawat lagi, kan?" Sagra mengangkat bahu setelah itu melewati Jenni. Dia duduk di meja kosong lalu mengangkat tangan. Sedangkan Jenni masih berdiri sambil memperhatikan Sagra. "Gue harus satu pesawat dan duduk di samping dia lagi?" gumam Jenni tidak bersemangat. "Aaaa! Bisa nggak gue pindah tempat?" Dari ekor matanya, Sagra lagi-lagi melihat Jenni yang menggerutu. Dia menoleh dan memberi kode lewat mata. Seolah mengatakan, 'cepat makan setelah itu pergi'. Jenni menggeret kopernya lagi sambil mengedarkan pandang. Sayangnya, kursi lain penuh. Hanya tiga kursi kosong di meja yang di tempati Sagra. "Kenapa juga harus sarapan jam segini? Ya emang panitia pada nginep sini, tapi masa iya sarapannya barengan?" "Cepetan!" ujar Sagra tanpa menatap lawan bicaranya. Akhirnya Jenni terpaksa meletakkan koper di hadapan Sagra. Setelah itu dia segera mengambil makanan. Kecanggungan kembali terasa. "Bingkisan dari Pak Yassar jangan lupa." Sarga bersuara kala Jenni baru kembali mengambil makanan. "Sudah ada di koper, Pak!" jawab Jenni sambil melirik Sagra. "Saya pikir Bapak sudah kembali." "Saya habis bertemu Pak Yassar." Jenni menghadap Sagra dan memperhatikan ekspresi lelaki itu dari dekat. "Ketemu Pak Yassar lagi? Pantesan mood-nya bagus." "Maksudnya?" Sagra langsung bersedekap. "Ya gitu." "Ya gitu gimana?" Jenni menarik bibir ke dalam dan menggeleng. "Kalau saya kasih tahu nanti Bapak marah." "Saya lebih marah kalau kamu nggak ngasih tahu," jawab Sagra cepat. Jenni tampak menimbang-nimbang. Dia memiringkan kepala memperhatikan rahang Sagra yang tidak mengeras. Dia bisa menarik satu kesimpulan, sepertinya Sagra tidak akan sesakit hati itu. "Bapak selalu baik ke atasan doang." "Kamu juga termasuk karyawan yang percayai itu?" Sagra menahan tawa. "Kalian boleh bicara apapun." "Kenyataannya memang seperti itu." "Apa yang terlihat, belum tentu kenyataan." Mata Jenni melebar. Menurutnya Sagra masih mencoba mengelak. "Ah udahlah, ngapain juga bahas itu." "Kamu sendiri yang bahas itu duluan," jawab Sagra. "Dan akhirnya kamu sendiri yang marah. Aneh." "Saya nggak marah." Sagra menggerakkan dagu ke wajah Jenni. "Orang yang marah kadang nggak sadar dia marah. Kamu juga kayak gitu." "Dibilangin emang nggak marah kok." Jenni mengangkat bahu tak acuh. Dia menghela napas berat setelah itu membuang muka. "Ya udah, maaf." "Ternyata cepat mengakui kesalahan," ujar Sagra. "Oke. Bisa dimaafkan." Tangan Jenni terkepal di bawah meja. Dia mengedarkan pandang karena suasana terlalu ramai, tapi dia terus dilingkupi perasaan canggung. Selain itu, dia juga mencari kursi kosong agar terhindar dari suasana canggung. "Ah itu!" Jenni terpekik kegirangan melihat dua kursi yang telah kosong. Dia segera berdiri dan menggeret kopernya menuju tempat itu. Sedangkan Sagra, memperhatikan tingkah kekanak-kanakan itu sambil menahan tawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN