5-Sifat Asli Sagra

902 Kata
Pukul tujuh acara dimulai dengan penampilan dari band-band lokal. Penonton telah memadati, menanti idola mereka tampil. Panitia yang bertugas bak layang-layang yang terus bergerak tertiup angin. Ada pula yang tidak bisa beranjak sama sekali karena terus monitoring. Di backstage, Jenni berdiri sambil bersedekap. Sebenarnya kehadirannya tidak begitu diharapkan. Ah tidak. Dia tadi mendadak menjadi seksi konsumsi yang membagikan makanan. Setelah itu membantu mengangkat beberapa barang. Yah, dia sangat diperlukan. "Daripada bengong mending bantu di ruang makeup." Kalimat yang terdengar tiba-tiba itu menarik perhatian Jenni. Matanya berputar karena lagi-lagi melihat Sagra. Dan, ekspresi lelaki itu tidak sesopan ketika bertemu dengan Pak Yassar. "Saya sudah cukup membantu." Sagra melirik ke arah panggung. Dia bersedekap dan ikut menikmati lagu yang sebenarnya tidak dia ketahui. Sayangnya, ekspresi 'menikmati'-nya tampak kaku. Jenni menahan tawa. "Kayaknya Pak Sagra nggak cocok di acara ini." "Kenapa gitu?" "Mana ada orang dengerin musik ekspresinya kayak gitu? Kayak rapat pemegang saham." Kedua tangan Jenni langsung terangkat. "Cuma bercanda." Setelah itu dia memilih menatap ke panggung dan mencoba menikmati suasana. Diam-diam Sagra melirik Jenni. Rambut wanita itu yang sebelumnya berantakan, kali ini diikat kuda dengan beberapa anak rambut jatuh di depan telinga. Jenni terlihat lebih manis daripada tadi pagi. Penampilannya sederhana dan riasanya natural. Cantik. Setelah beberapa detik Sagra membuang muka sadar dengan apa yang dilakukan. Selama ini dia tidak pernah mengagumi karyawannya sendiri. Dia anti dengan hubungan romansa di perkantoran. Menurutnya terlalu mainstreem. "Pak Sagra kenapa masih di sini?" tanya Jenni. Padahal, dalam hati dia ingin mengusir. Lamunan singkat Sagra terputus. "Saya sebentar lagi ngasih sambutan." "Oh...." Sagra mengedarkan pandang dan melihat kursi yang di atasnya terdapat kardus air mineral. Dia mendekati kursi itu, memindahkan ke lantai setelah itu menyeret kursinya mendekati Jenni. Jenni masih memperhatikan Sagra. Dia melihat saat kursi itu diarahkan ke tempatnya. "Pak, nggak perlu repot-repot!" Sagra menatap kursi yang dipegang lalu menatap Jenni yang berada di depannya. "Oh...." Dia menahan tawa lalu duduk di kursi itu. Mata Jenni membulat. Dia pikir, Sagra mengambilkan kursi itu untuknya. "Tolong minggir saya nggak bisa lihat," ujar Sagra kian membuat Jenni melotot. "Hah!" Jenni mengusap kening. "Gue salah sangka." "Tolong minggir!" Jenni refleks bergeser beberapa langkah lalu memperhatikan Sagra yang fokus menatap panggung sambil duduk di kursi. "Gila!" *** Jenni mengempaskan tubuh di ranjang. Dia melepas ID card yang masih melingkar di leher lalu membuangnya begitu saja. Setelah itu dia melepas tas slempang dan mengeluarkan ponsel. 01.57. "Kerja bagai kuda banget." Jenni meletakkan ponsel di atas kepala lalu memejamkan mata. Acara berakhir pukul sebelas lebih tiga puluh menit. Sebagai panitia tentu tidak bisa pulang begitu saja. Termasuk Jenni. Dia membantu karyawan lain dan mengkomando agar meminta laporan keuangan secepat mungkin. Pak Lendra pasti akan memberondongnya karena lelaki itu sangat detail. Harusnya, Jenni membersihkan diri dulu setelah itu tidur. Namun, tubuhnya sudah tidak memiliki tenaga. Sehari sebelumnya dia bangun pagi. Sekarang dia baru tidur saat pagi. Tok... Tok... Tok.... Jenni yang hampir terlelap langsung membuka mata. Dia menoleh ke pintu kayu itu, tapi tidak kunjung bangkit. "Ini saya!" teriak seseorang dari luar. Jenni bangkit lalu menyeret kaki menuju pintu. Dia mengintip dari lubang yang tersedia, tapi tidak melihat siapapun. Akhirnya dia membuka pintu dan mendapati seorang lelaki yang berdiri bersandar. "Pak! Tahu nggak ini sudah jam berapa?" "Tahu...." Sagra menyodorkan sebuah kantung kertas. "Dari Pak Yassar buat Lendra. Karena kamu sekretarisnya, jadi saya kasih ke kamu." "Ahh, iya...." Jenni tanpa sadar menghentakkan kaki. Satu alis Sagra tertarik ke atas melihat tindakan yang seperti anak kecil itu. Jenni mengambil kantung itu kemudian menutup pintu. Dia benar-benar kehilangan sopan santun karena rasa lelahnya. Sagra refleks bergerak mundur. "Kayak anak kecil." Dia berbalik dan menuju lift. Lelaki itu baru sampai hotel setelah menemani Pak Yassar ke vilanya. Bosnya itu datang bersama keluarga dan mengundangnya untuk mampir. Ketika pulang, Pak Yassar memberinya bingkisan. Lendra juga mendapat bingkisan yang sama. Karena ada sekretaris Lendra, Sagra langsung menitipkan sekalian. Tidak tahu waktu? Sagra tidak merasa seperti itu. Dia tahu para panitia baru sampai. Dia yakin jika Jenni belum tidur. Sayangnya, sepertinya pengecualian wanita itu. Jenni bahkan tidak mencuci muka dan sepertinya langsung tidur. Beberapa saat kemudian, Sagra telah mengganti setelan kantornya dengan kaus putih dan celana selutut berwarna biru muda. Dia duduk di sofa yang menghadap jendela ditemani kopi instan. Pandangannya tampak menerawang, menatap langit malam Kota Batu yang tampak berbeda. Bintang-bintang bertaburan dan ada bulan sabit yang menerangi. Di jendela itu sedikit mengembun karena suhu udara yang mulai turun. Belum lagi suara jangkrik yang samar-samar terdengar. Berbeda dengan kondisi malam saat di perkotaan. Ketika suasana tenang seperti sekarang, pikiran Sagra tiba-tiba memutar ke serangkaian kejadian yang terjadi hari ini. Berawal dari datang ke bandara cukup pagi karena mengantar seseorang, kemudian datang seorang wanita yang membawa bekal roti. Bahkan, wanita itu tidak sadar ada noda cokelat di sudut bibirnya. "Harusnya dari situ gue sadar, tuh, cewek ceroboh," gumam Sagra setelah itu menyesap kopinya. Sagra menahan tawa ketika ingat wanita itu muntah setelah itu wajahnya penuh rasa bersalah bercampur dengan malu. Perpaduan ekspresi yang entah kenapa terlihat lucu. Dia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi ke dirinya. "Mungkin gue nggak bisa nunjukin wajah gue." Sagra tanpa sadar tersenyum. Sayangnya, beberapa detik kemudian senyumnya pudar. Rahangnya mengeras. Sebelum akhirnya perlahan melunak dan sorot matanya berubah sendu. Kamu akan baik-baik saja, kan? Sebuah pertanyaan yang kembali muncul di telinga Sagara. Sagra memejamkan mata, mencoba menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba muncul. Dia menggeleng, mengenyahkan bayangan yang terus berputar di pikirannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN