12-Harus Minta Maaf?

863 Kata
Tak.... Sebotol cola dan gelas panjang diletakkan di hadapan Lendra. Sagra duduk di depan temannya dengan satu tangan membawa cangkir dengan cairan berwarna hitam. Setelah itu memperhatikan tamunya. "Kenapa nggak langsung balik?" Lendra mengangkat bahu. "Gue juga bingung ngapain ke apartemen lo lagi," jawabnya sambil berbaring di sofa. Matanya terpejam kemudian terbayang saat Dina dan Jenni keluar sambil menangis. Lendra benar-benar mengikuti mereka. Bahkan dia memilih ruangan di samping ruangan dua wanita itu. Ketika mendengar teriakan Jenni, dia langsung keluar. Sayangnya, Sagra menariknya kembali. Hingga berakhir mengintip dari celah pintu. Barulah ketika dua karyawannya pergi, mereka masuk ke ruang sebelah. "Bayangin kalau kita nggak ngikutin mereka." Lendra membuka mata dan menatap Sagra. "Kekepoan gue ada manfaatnya." Sagra menyeruput kopinya tanpa menjawab. Memang benar, tindakan Lendra kali ini menyelamatkan Dina dan Jenni. Yah, meski mereka tidak banyak berbuat. "Kayaknya mereka dijebak, deh," ujar Lendra. "Bisa jadi, kan?" "Menurut gue mereka udah tahu." "Hmm... Tapi, kenapa Jenninya marah-marah kalau udah tahu?" "Dia pengen punya pacar." "Ha?" Lendra seketika bangkit duduk. "Lo tahu dari mana dia pengen punya pacar?" Sagra meletakkan cangkir di meja kemudian mengeluarkan ponsel. "Dia sendiri yang bilang gitu." Mata Lendra memicing. "Gue bosnya aja nggak tahu." "Ya berarti lo bukan bos yang pengertian." "Enak aja!" Lendra tidak terima. "Seriusan Jenni pengen punya pacar? Kenapa nggak tanya gue? Kan, bisa kenalin ke temen-temen gue." Sagra mengangkat wajah mendengar kalimat terakhir Lendra. "Temen lo yang mana?" "Temen SMA gue dulu," jawab Lendra tanpa pikir panjang. "Gue nggak mungkinlah biarin Jenni pacaran sama cowok nggak bener. Dia sekretaris gue." "Oh...." Sagra kembali menghadap ponsel. Lendra memiringkan kepala melihat ekspresi Sagra yang cepat berubah itu. "Lo barusan jawab apa?" "Jawab, 'oh'," jawab Sagra begitu saja. "Waktu telepon Jenni." Lendra memajukan tubuh. "Lo ngomong sesuatu kayaknya. Terus, lo bengong bentar." Di pikiran Sagra langsung terbayang kejadian memalukan itu. "Nggak ngomong apa-apa." "Masa?" "Nggak percaya?" Sagra menunjukkan ekspresi seriusnya. "Terserah lo!" Setelah mengucapkan itu dia beranjak menuju kamar. Lendra terbengong melihat Sagra yang tiba-tiba pergi. "Hari ini gue kebanyakan buang-buang waktu, deh!" Dia mengambil cola dan menuangkan ke gelas. Setelah menegak minuman berwarna gelap itu dia pergi tanpa pamit. *** Weekend berlalu cukup cepat. Namun, kejadian yang menimpa Dina dan Jenni belum bisa mereka lupakan secepat itu. Dina bahkan masih sering melamun kemudian ekspresinya berubah sedih. Berbeda dengan Jenni yang lebih sering menunjukkan ekspresi marah. "Gimana nih, Jen?" Dina menghentikan langkah dan memegangi lengan Jenni. "Kalau ketemu Pak Lendra gimana? Gue malu." Dina baru mendengar jika Pak Lendra juga ada di tempat karaoke. Bahkan, Lendra dan Sagra ikut membantu memberi perhitungan ke Jeromi dan Aven. Fakta itu membuat Dina menjadi malu. Dia seperti perempuan yang sangat lugu dan baru pertama kali berkencan. "Ya udah, sih," jawab Jenni sambil berjalan lalu menarik bibir ke dalam. Sebenarnya dia juga malu jika bertemu Lendra. Namun, menghindar juga percuma. "Jen...." Jenni berbalik dan mendapati Dina masih berdiri di tempat. "Duh!" Dia kembali dan menarik Dina ikut serta. "Santai aja, deh. Tunjukin kalau nggak terjadi apa-apa." "Ya mana bisa? Ekspresi gue nggak bisa boong." "Inilah saat lo belajar boong." "Mana ada belajar kayak gitu!" Dina memukul lengan Jenni. "Bentar, deh! Gue siapin mental dulu." Dia memegang d**a lalu menarik napas panjang. Jenni berbalik, menghadap Dina dengan wajah lelah. Sayangnya ekor matanya menangkap sosok yang berjalan dari arah lobi. Jenni refleks menutup sisi wajahnya. Dina yang melihat tindakan itu langsung menoleh. Dia terkejut melihat Lendra yang berjalan mendekat. "Gimana, nih?" "Ya udah, biasa aja," bisik Jenni. "Ya lo juga biasa aja." Dina heran karena Jenni terus menasihati, tapi justru gelisah lebih dulu. Dari kejauhan, Lendra melihat dua wanita yang mengantre di depan lift. Dia melihat interaksi keduanya yang tampak aneh. "Ngapain kayak gitu?" tanyanya setelah beberapa langkah. "Pak...." Jenni dan Dina segera membungkuk. Siku mereka saling bergerak mendorong. Entah, mengode apa. Lendra menahan tawa melihat ekspresi dua karyawannya. "Kalian masih inget Sabtu lalu?" "Pak...." Jenni langsung menggerakkan tangan ke depan. "Please, jangan bahas itu lagi." "Hahaha...." Lendra membuang muka dengan ekspresi geli. "Jadi, kalian belum lupain? Oke, santai aja." Dina tersenyum canggung. "Terima kasih sudah menolong saya, Pak." "Gue yang nolongin lo," bisik Jenni lalu melirik Lendra. Khawatir lelaki itu mendengarkan. "Ish...." Dina menyenggol lengan Jenni. Lendra ternyata memperhatikan tindakan kecil itu. "Sebenernya yang bantu Pak Sagra. Dia yang ingin lapor polisi," jawabnya. "Kalau saya satu bogem mentah aja udah cukup." "Ah, gitu?" Jenni tidak tahu harus merespons apa lagi. "Harusnya kalian ngucapin terima kasih ke Sagra," saran Lendra. Setelah itu dia berjalan menuju pintu lift yang terbuka. Dina dan Jenni kembali berpandangan. "Gimana, nih?" tanya Jenni. "Ya harus ngucapin makasihlah," jawab Dina. "Gimanapun juga mereka ada niatan nolongin kita." "Tapi, masalahnya...." Jenni memegang kening sedangkan satu tangannya berada di pinggang. Kakinya lalu bergerak tidak sabaran. Dina mencari tahu keanehan tingkah Jenni. "Jangan bilang lo marah...." "... ssst...." Jenni meminta Dina tidak melanjutkan kalimatnya. "Emang gue marahin, habisnya nyebelin." "Wah! Kita harus cepet-cepet ngucapin makasih, terus lo minta maaf. Gue nggak mau tahu lo harus lakuin itu." Jenni terdiam penuh pertimbangan. Ya dia memang salah karena telah memarahi Sagra, padahal telah membantunya. Namun, dia tetap merasa Sagra menyebalkan dan ikut campur. "Awas lo nggak minta maaf!" ancam Dina membuat Jenni kicep.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN