Jam istirahat, Jenni segera beranjak dari meja kerjanya. Ketika melewati ruang keuangan, ternyata sudah kosong. Dina meninggalkannya, padahal dia tadi meminta untuk ditunggu. Memang dasar urusan perut tidak bisa ditunda lagi.
Kejadian ini sering terjadi, Jenni baru beranjak sekitar sepuluh sampai lima belas menit dari jam istirahat. Alasannya, dia sering menyelesaikan pekerjaan agar tidak terlalu terpikirkan. Yah, setidaknya dia karyawan yang bisa dibanggakan.
Kruk.... "Duh. Perut gue udah bunyi." Jenni mengusap perut sambil menunggu lift di depannya terbuka.
Tring....
Jenni langsung masuk tanpa mengalihkan perhatian. Ternyata, di depannya ada sepasang sepatu hitam mengkilat. Barulah Jenni mengangkat wajah dan melihat si pemilik sepatu itu. "Ya ampun." Dia refleks mundur.
Sagra menarik satu alisnya, heran dengan kelakuan Jenni.
"Silakan duluan, Pak...." Jenni telah sepenuhnya keluar dari lift.
Tangan Sagra bergerak ke arah tombol. Jenni menebak lelaki itu menekan tombol tutup. Sayangnya, Sagra menurunkan tangannya kembali dan maju selangkah.
"Loh... Loh...." Jenni bergerak mundur karena tindakan itu.
Sagra terus melangkah dan menatap Jenni. Sedangkan wanita di depannya terus bergerak mundur, hingga punggungnya membentur tembok. Jenni mulai gelisah, hingga akhirnya dia berbalik ingin kembali masuk ruangan.
"Bentar...." Sagra menahan siku Jenni.
Jenni melirik tangan besar yang memegangi sikunya. Dia menggerakkan tangan dan Sagra melepaskan pegangannya. "Maaf, ada apa ya, Pak?"
Sagra menatap Jenni lamat-lamat. Wanita itu terlihat sekali menghindarinya, berbeda dengan waktu itu. Tidak ada raut menantang dan ekspresi melongo Jenni. Wanita itu tampak ketakutan sekarang. "Kamu...."
"Saya minta maaf...," potong Jenni. "Maaf Sabtu kemarin marah-marah ke Bapak."
"Hmm...."
"Saya juga mau ngucapin makasih." Jenni menunduk. "Makasih udah tolongin saya. Tapi lain kali, Bapak tidak perlu melakukan sampai sejauh itu."
Sagra menahan tawa. "Saya nggak ngelakuin itu demi kamu."
Jenni memberanikan diri menatap Sagra. Ekspresi lelaki itu tidak bisa ditebak, tapi sepersekian detik terlihat ada senyum singkat. "Lalu demi siapa?"
"Saya cuma ngikutin Lendra yang kepo. Ternyata di sana ada kejahatan ya saya lakuin apa yang sudah diajarkan orangtua. Jangan biarkan kejahatan itu begitu saja."
"Ah, gitu...." Jenni menggaruk lengannya yang tidak gatal. "Ya intinya terima kasih."
Tidak ada respons dari Sagra. Dia memperhatikan wanita yang mengikat rambutnya itu. Jenni memakai cardigan berwarna krem dengan celana panjang berwarna senada. Penampilan wanita itu sedikit kalem dari biasanya yang berpenampilan mencolok.
Jenni melirik Sagra yang terdiam dan tetap berada di depannya. Dia lalu melirik ke kiri dan ke kanan, khawatir ada karyawan lain kemudian menjadi salah paham. "Maaf, Pak, saya harus pergi."
"Tunggu."
"Maaf, Pak...." Jenni berjalan menuju lift dan menekan tombol tidak sabaran.
Sagra masih berdiri di posisinya. Kedua tangannya terkepal erat sedangkan bibirnya mengembuskan napas pelan. Perlahan, kepalan tangan itu memudar. "Kalau mau coba sama saya."
Jenni hampir masuk lift, tapi kalimat ambigu Sagra menghentikan tindakannya. "Bapak ngomong apa?" Dia berbalik, tapi Sagra memunggunginya.
"Kamu boleh coba sama saya," ulang Sagra. "Saya yakin kamu berusaha mencari pasangan. Kamu boleh coba sama saya."
"Pak...." Jenni mendekat dan menarik lengan Sagra.
Sagra akhirnya berbalik dan mendapati Jenni yang masih kebingungan. "Kamu boleh coba sama saya."
"Pak. Apaan, sih?" Jenni mendorong Sagra. Dia mulai mencerna setiap kalimat yang diucapkan lelaki itu. "Jangan bikin heboh, deh."
"Kamu nggak ngerti maksud saya?"
Jenni menatap Sagra intens. Wajah lelaki itu tampak serius, ekspresi yang sering dia lihat. Sorot matanya juga sama. Apa itu artinya Sagra tidak bercanda?
"Kenapa diam?" tanya Sagra karena Jenni hanya memperhatikannya. Diperhatikan seperti itu, ternyata cukup membuatnya gelisah.
"Saya anggap Bapak ngaco!"
"Saya nggak...."
"... permisi...." Jenni berjalan menuju ruangannya sambil menutup kedua telinga. "Gue yakin salah denger. Gue salah denger. Gue nggak boleh mikir macem-macem. Ya, gitu!"
***
Kepergian Jenni beberapa menit yang lalu ternyata tidak membuat Sagra beranjak. Dia masih menatap ke arah kepergian Jenni dengan bingung. Reaksi wanita itu sungguh di luar dugaan, hingga membuat Sagra terdiam.
"Omongan gue kurang jelas?" Sagra menggumam heran. Seingatnya, dia mengatakan secara gamblang. "Dia nggak bodoh, kan?" Sagra menggaruk kepala, mundur selangkah lalu bersandar. Kedua tangannya bertengger di pinggang. Di pikirannya masih seputar kejadian beberapa menit yang lalu.
Reaksi yang Sagra harapkan, Jenni akan mengajaknya berbicara kemudian melakukan kesepakatan. Ternyata wanita itu pergi. Haruskah Sagra mengejar dan mengulangi kalimatnya? "Enggak! Kayak nggak ada harga diri banget!" Sagra berdiri tegak sambil menarik dasinya ke bawah.
Rasa malu perlahan melingkupi Sagra. Dia seorang bos, tapi tidak diacuhkan karyawan. Terlebih, mereka membahas sesuatu di luar konteks pekerjaan. Kepala Sagra mendadak pening memikirkan hal itu.
Tring.... Pintu lift terdengar terbuka.
Dina keluar dari lift dan melihat bosnya berdiri. Kejadian Sabtu kemarin seketika muncul di kepala. "Pak Sagra."
"Ya...." Sagra menjawab sambil lalu.
"Makasih pertolongan Sabtu kemarin," ujar Dina tulus. "Maaf atas tindakan teman saya. Emosinya sedang nggak stabil. Jadinya marah-marah."
Kalimat terakhir Dina menarik perhatian Sagra. Dia menatap wanita dengan bagian bawah mata agak mengkilat itu dengan saksama dan baru mengetahui jika itu teman Jenni. "Ah, ya, soal itu?"
"Sekali lagi terima kasih, Pak." Dina membungkuk kemudian bergeser menuju ruangannya. "Saya permisi."
"Ya." Sagra segera berbalik dan menuju lift. "Dia nggak lihat keanehan gue, kan?"
"Kok dia aneh?" gumam Dina setelah masuk ruangan. "Bos juga manusia, wajar dia bersikap aneh." Dia mengangkat bahu dan melanjutkan langkah.
"Lo nggak beliin gue makanan?"
Dina berjingkat mendengar suara serak itu. Dia menoleh, melihat Jenni yang menyandarkan pipi di tiang kayu pembatas ruangan dengan ruangan manager. Baru saja dia bertemu orang aneh, sekarang bertemu temannya yang jauh lebih aneh lagi. "Gue kira lo udah cari makan sendiri."
Jenni mengerucutkan bibir. "Lo ninggalin gue."
"Biasanya juga pergi sendiri."
"Gue mau pingsan." Tubuh Jenni kemudian merosot.
"Jen!" Dina meletakkan kantung makanannya dan berlari menghampiri. Dia berjongok karena Jenni sekarang sudah duduk di lantai dengan pipi yang masih menempel di tiang kayu. "Lo kenapa, deh?" Dina menyentuh kening Jenni, tidak terasa hangat.
Jenni menatap Dina sambil menepuk d**a. "Sadarin gue."
Plak.... Dina mendorong kepala Jenni. "Udah sadar?"
"Berarti gue nggak pingsan," ujar Jenni sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Ya mukulnya jangan kenceng, dong!"
"Lo sebenernya kenapa, sih?" Dina memeluk kedua lutut, alih-alih mengajak temannya itu bangkit.
Jenni terdiam. Di matanya sekarang terbayang Sagra. Sedangkan di pikirannya, terngiang kalimat lelaki itu. Kamu boleh coba sama saya.
"Woy!" Dina menggerakkan kelima jarinya di depan Jenni. "Mau gue sadarin lagi?"
"Thanks...."
"Ya jangan gini, dong. Emang kenapa, sih? Kerjaan lo banyak?"
Mata Jenni terpejam dan bayangan Sagra semakin jelas. Wajah tampan dengan senyum manis yang menambah ketampanan Sagra. Permintaan aneh tapi terdengar menjanjikan. Semuanya masih terekam jelas di pikiran Jenni. Namun, dia segera membuka mata sebelum semakin berlarut-larut lalu menghela napas berat.
"Lo nggak kesambet, kan?" Dina mengguncang pundak Jenni. "Kebanyakan ngelamun, ya?"
"Apa yang bakal lo pilih?"
"Ya apa?"
Jenni mengusap kening. "Kalau disuruh buat nyoba, apa yang bakal lo lakuin?"
"Ya nyoba apa dulu, Neng?" geram Dina. "Udah ,deh, jangan aneh-aneh." Dia berdiri dan menarik Jenni ikut serta. Sayangnya, Jenni tetap tidak mau beranjak.
Dina bertolak pinggang. "Ya udah, terserah lo." Setelah mengucapkan itu dia kembali ke meja kerjanya. "Mending gue makan daripada ladenin."
Pipi Jenni kembali menempel di kayu yang terasa dingin. Sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ajakan Sagra beberapa menit yang lalu membuatnya seperti ini. "Gue tahu dia ngajak pacaran," gumamnya. "Ya gue mau, tapi...."
Jenni tidak bodoh. Sebenarnya tadi dia ingin meminta penjelasan lebih. Namun, dia mengurungkan itu, karena yang ada di pikirannya Sagra hanya mengerjainya saja. Ayolah, mana ada lelaki yang mengajak berpacaran dengan cara seperti itu?
Kamu boleh coba sama saya.
"Emang lo nggak bisa ngomong yang lain?" geram Jenni mengomentari ajakan Sagra. "Lo pikir gue barang cobaan?"
Dina menoleh ke Jenni dengan mulut penuh. "Aneh!" Dia tidak tertarik dengan keanehan sahabatnya.
"Duh! Gue harus apa?" Jenni membingkai kepala. "Pusing... Pusing...."