Ahmad menghembuskan napasnya, mengalah menuruti Salamah untuk segera pergi ke sekolah. Mungkin memang sebaiknya dia pergi ke sekolah. Hanya berdua di rumah setelah kejadian semalam sepertinya tidak lagi membuat Ahmad bisa menahan diri seperti sebelumnya. "Ya sudah, Mas berangkat ya, tapi kalau ada apa-apa teteh langsung calling," pesannya dengan nada khawatir. Salamah mengangguk dan memperlihatkan jempol kanan menggantikan kata 'oke' merespon pesan Ahmad tanpa menengok ke arah suaminya yang berdiri di belakang sofa tempat dia bersandar. "Aku nggak antar ke depan ya, Mas." "Iya, Teteh istirahat saja nunggu tukang pijat datang, nanti mas ke rumah bu Rina sebelum berangkat. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Salamah. Ahmad memutari sofa agar memudahkan Salamah mencium tangannya

