Cari saja ke dalam hatimu tentang kita
Entah apa aku mampu menahan derita
Rasa yang indah tercipta
Inginkan lebih dari sekedar bertahta
Teruntuk kamu sang pemilik areta
Aku mengagumimu hingga terbentuk cinta
.
Kala fajar mengetuk cakrawala
Izinkan aku memulai rasa yang menyala
Tapi rasa ini begitu merajalela
Aku tetap harus kembali seperti sediakala
.
***
Varen memandang Cyra dengan rasa penasaran, sedang wanita itu hanya mencari jawaban kebenaran.
"Katakan siapa kau sebenarnya." Varen menekankan kalimatnya itu.
"Kau mau aku sebagai apa?" Kali ini Cyra membalas pertanyaan Varen dengan penuh kekuatan.
"Kau ..." Varen kembali terdiam.
"Baik aku akan kembali memperkenalkan diriku lagi Varen. Aku Cyra Ghania Eshal, dua puluh sembilan tahun pemilik nama pena Ileana, nama yang kuambil dari nama mendiang kakakku dan saat ini aku adalah pengangguran kareka kau membuatnya menjadi demikian. Aku hanya ingin menulis, mencurahkan semua isi hatiku dalam catatan, mengabadikannya dengan baik dan sayangnya itupun kau dengan sengaja menghancurkan mimpiku. Saat ini aku bahkan memiliki hutang karena tulisanku sendiri. Ketika ceritaku dihapus dari platform itu dan mereka menuntut ganti rugi pada penulisnya agar sang penulis mengembalikan semua yang didapatkan dari sana." Cyra berkata panjang lebar lalu menarik nafasnya, mengatakan hal itu juga membutuhkan pengaturan emosi yang stabil karena dia harus mengatakannya dengan sangat elegan artinya intonasi suara harus tetap sama.
"Dan, saat ini aku hanya menginginkan satu hal dari pembuat onar itu. Pembuktian bahwa aku tak bersalah! Saat semuanya terungkap kau harus siap dengan hidup yang tak akan pernah bahagia!" Sambung Cyra lagi.
Setelah mendengarkan hal itu Varen hanya tersenyum sinis, kalau kemarin dia sangat yakin wanita ini adalah penjiplaknya, entah kenapa sekarang dia menjadi sangat ragu dengan keyakinannya sendiri.
"Aku ... tak pernah menyebarkan identitasmu itu yang harus kau catat." Tunjuknya tepat didepan wajah Cyra.
"Buktikan saja, seteguh aku ingin membuktikan aku bukan penjiplaknya." Cyra juga membalas Varen dengan kata-kata yang penuh dengan penekanan.
Suara ketukan dari luar membuat mereka akhirnya menghentikan "perang" adu kata ini.
Kembali terdengar dari luar, dan ini jelas bukan Farras.
"Masuk!" Teriak Varen dari dalam.
Kemudian pintu terbuka, disana sudah ada Malken dan dua orang lain salah satunya seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut pendeknya dengan menggunakan pakaian wanita karir pada umumnya, untuk sesaat entah kenapa tiba-tiba Cyra menjadi insecure terhadap penampilannya sendiri.
"Duduk!" Varen memerintah orang tersebut, mereka lalu duduk di sofa yang lumayan empuk itu, Malken mengambil kursi lain karena disana tak akan muat jika mereka semua duduk di sofa.
Varen melihat ke arah Cyra dan memberinya kode anggukan agar dia juga duduk disana, dengan malas-malasan Cyra berjalan kesana dan duduk disalah satu tempat yang masih kosong.
"Maaf Nona, apa kau terluka?" Kali ini Malken berkata secara spontan saat dia melihat ada bekas darah yang sudah mengering di kening Cyra.
"Ah ... tak terlalu berbahaya." Jawabnya singkat, tapi kemudian Malken langsung keluar tempat ini.
Varen mengambil tempat di sebelah Cyra yang masih kosong, saat laki-laki itu meletakkan badannya disana otomatis membuat Cyra sedikit bergoyang dan membuat tak nyaman, rasanya dia ingin sekali mengatakan pada Varen untuk pelan-pelan saja!
"Kita mulai saja ya Tuan dan Nona." Wanita yang terlihat sangat cantik ini berkata dengan sangat lembut.
"Bacakan dengan jelas agar wanita ini bisa mengerti." Ucap Varen lagi.
Lalu wanita itu mulai membacakan perjanjian mereka, ini sebenarnya tak terlalu formal tapi beberapa bagian membuat Cyra tersenyum sendiri. Tiba-tiba dia merasakan seperti seorang tersangka padahal dia tak bersalah.
"Sampai disini apa ada yang ingin di tanyakan Nona Cyra?" Tanya wanita itu dengan sangat sopan sekali.
"Hapus pasal tentang tinggal bersama, apa aku harus menjadi budakmu?" Cyra berkata sinis.
"Kalau kau ingin membuktikannya aku harus melihatmu dan tingkahmu itu harus diawasi dua puluh empat jam." Ucap Varen lagi.
"Apa kau bilang? Aku sedang tak mengikuti acara reality show yang harus diawasi dan ditiap sudut rumah dipasang cctv dan juga aku tak mau privasiku terganggu apalagi tentang penggunaan handphone!" Cyra berkata dengan sangat kesal.
Malken kemudian terlihat masuk ke ruangan ini lagi dengan membawa kotak P3K lalu meletakkannya diatas meja makan didekatnya berdiri sekarang dia memandang Cyra yang wajahnya mulai merah karena marah.
"Kau harus mematuhinya, lagipula ini hanya tiga puluh hari Cyra. Jika dalam waktu itu kau tak bisa membuktikannya maka pasal tentang tuntutan akan kami layangkan padamu!" Ucapnya lagi.
"Apa kau bilang??? Aku hanya perlu satu jam membuktikannya!" Ucap Cyra dengan sangat kesal.
"Jangan mimpi!" Varen mulai berkata dengan nada yang tinggi.
"Aku sudah memberikan buku tulisanku padamu dan bukti apalagi? Sedangkan di jurnal yang ditulis oleh si Rany itu semuanya ada didalam bukuku. Lantas bukti apa lagi yang kau inginkan?" Kali ini Cyra benar-benar marah!
"Kita tak pernah tahu siapa penulis pertamanya dan itu yang harus kau buktikan bahwa kau adalah penulis pertamanya." Varen berkata dengan suara dingin, terdengar sangat menyeramkan dan itu dirasa oleh anak buahnya yang ada disini tapi Cyra dia tak demikian baginya ucapan Varen barusan sama saja dia ingin mencari celah tentang semuanya.
"Baik, aku akan membuktikannya! Tambahkan disana pasal bahwa laki-laki gila ini tidak boleh jatuh cinta padaku saat tinggal bersama dan jika dia terbukti jatuh cinta padaku maka dia tak boleh menikah dengan wanita manapun!" Ucap Cyra pada wanita itu dan ini membuatnya terkejut.
"Maaf Nona tapi ini ..." dia merasa sepertinya masalah pribadi bosnya dan wanita ini sangat serius sekali.
"Apa kau bilang barusan? Kau jangan mimpi Cyra!" Kali ini Varen melihat ke arah Cyra dengan sangat kesal. Dia kesal karena Cyra berkata tentang kata cinta! Yang benar saja, mana mungkin dia melakukan hal itu dan untuk jatuh cinta dengan wanita itu? Bahkan tim legalnya jauh lebih menarik daripada Cyra!
"Aku tak mimpi, bisa saja hal itu terjadi karena aku akan membuatnya menjadi demikian! Karena kau tahu Varen? Hukuman orang lain agar dia menderita seumur hidupnya adalah saat cintanya tak berbalas!" Ucap Cyra lagi.
"Ini bukan kisah romantismu itu Cyra! Kau jangan terlalu banyak bermimpi, sangat tidak rasional sekali." Varen menggelengkan kepalanya tak habis pikir akan ada kalimat seperti itu dalam sebuah nota kesepahaman yang akan dia tandatangani.
"Kita lihat saja nanti Varen! Tambahkan kata-kata itu kalau tidak aku tak akan mau tanda tangan. Aku akan menyetujui konsekuensi lain-lainnya aku akan memenuhi semua syaratnya tapi kalimat itu harus ada! Kenapa? Kau takut? Kita harus adil, kau memasukkan banyak syarat tak masuk akal maka aku juga harus menambahkan satu syarat yang diluar nalarmu. Begitu baru adil." Cyra berkata dengan senyum simpulnya.
"Baiklah. Linda tambahkan klausula itu dan cepat print ulang sekarang." Perintahnya.
"Ba-ik Tuan." Jawabnya dengan sedikit ragu.
"Tambahkan dengan jelas Nona, pihak pertama tidak boleh jatuh cinta dengan pihak kedua. Jika pihak pertama jatuh cinta dengan pihak kedua maka pihak pertama tak boleh menikah dengan wanita manapun!" Tegas Cyra.
"Bagaimana kalau ternyata pihak kedua jatuh cinta dengan pihak pertama? Apa dia tak boleh menikah dengan laki-laki manapun?" Kali ini pertanyaan Varen yang dengan jelas ditujukan padanya membuat Cyra tersenyum manis.
"Maka bersiaplah kau ke neraka!" Jawab Cyra tegas.
"Kenapa harus aku ke neraka?" Varen berkata dengan nada mulai meninggi.
"Karna kau harus kubuat mencintaiku Varen! Dan ingat ... aku bukan orang yang mudah menyerah!"
"Apa kau mulai menyukaiku sekarang ini?" Varen menjawab langsung membuat Cyra makin kesal.
"Tidak akan pernah!" Jawab Cyra kesal.
"Baik kalau begitu tambah lagi klausulanya. Jika pihak kedua jatuh cinta pada pihak pertama maka dia juga tak boleh menikah dengan laki-laki lain dan dia juga tak boleh mengganggu hubungan pihak pertama dengan wanita lain." Varen berkata pada wanita bernama Linda itu.
"Baik Pak. Bagaimana kalau ternyata pihak pertama dan kedua saling jatuh cinta?" Entah kenapa tiba-tiba Linda tanpa sadar mempertanyakan hal itu.
"Menikah!" Jawab Varen langsung dan membuat Cyra ternganga.
"Apa kau bilang?!" Cyra menatap Varen dengan mata yang membulat.
"Tenang saja penjiplak! Itu tak akan pernah terjadi." Varen berkata dengan santainya.
"Lagipula aku teguh dengan pendirianku maka kau juga teguh dengan pendirianmu jadi jangan bicarakan hal yang mustahil." Ucapnya lagi.
"Baik. Itu adalah klausula yang mustahil. Tulis saja." Cyra berkata pada wanita itu dan dia hanya mencatatnya sedangkan laki-laki yang ada disamping wanita itu sedikit kebingungan.
***
"Aku harus ke Kuala Lumpur besok. Siapkan semua keperluanmu, kita harus kesana pagi sekali." Ucap Varen pada Cyra yang saat ini sedang sibuk didepan televisi setelah mereka menandatangi kesepakatan itu.
"Malaysia? Aku tak punya paspor." Jawab Cyra singkat.
"Apa kau bilang?! Masa kau tak punya paspor?" Varen mengerutkan keningnya.
"Hoi Varen! Aku ini bukan orang kaya. Lagipula aku ini hanya penjaga toko dan juga penulis biasa, sekarang aku pengangguran. Lantas uang darimana aku harus pergi jalan-jalan ke luar negeri?" Cyra dengan santai menjawab tanpa melepas pandang dari televisi besar itu.
"Buat sekarang!" Ucapnya dengan nada memerintah.
"Jelas tak akan cukup satu hari dan aku juga harus pergi ke kantor imigrasi dan kau juga tahu disini mana ada kantor imigrasi." Cyra berkata lagi dengan santainya.
Kemudian Varen yang kesal ini akhirnya menghubungi Malken, Cyra mendengar sayup dia memerintahkan kepada Malken untuk mengurus segala tentang dirinya.
Kali ini Cyra tersenyum geli, bukan apa-apa karena dia merasa memulai hidup dalam drama yang sering dia lihat.
“Mudah-mudahan saja, hidup ini semanis kisah romantis.” Gumamnya.
“Hentikan pikiran konyolmu itu!” Cyra yang merasa saat ini dia sedang diruangan sendirian terkejut saat mendengar suara Varen.
“Kuulangi sekali lagi, jangan pernah bermimpi Cyra! Kau fokus saja bagaimana caranya membuat pembenaran terhadap sajak itu dengan orang yang sudah mati!” Kali ini ucapan pedas Varen itu membuat mood Cyra kembali menjadi tak baik.
“Mana sini aku liat jurnal punya si Rany!” Dia menengadahkan tangan kanannya pada Varen meminta buku itu.
“Kau mau apa?” Tanya Varen lagi memandang curiga pada gadis ini.
“Sini! Biar aku buktiin lagi sajak yang lainnya! Cepetan sini!” Paksa Cyra.
Sedikit terpaksa Varen berjalan ke arah kamarnya lima menit kemudian dia keluar lagi dengan membawa buku itu ditangannya lalu menyerahkannya pada Cyra, dengan cepat Cyra menariknya lalu membuka asal.
“Baik! Ini dia, judulnya Cerita Kita.” Ucapnya pada Varen, lalu laki-laki itu duduk di seberang Cyra.
“Jelas disana judulnya menahan rasa!” Bantah Varen sambil melihat ke arah sajak itu.
“Baik … baik … baik … Lihat disini.” Cyra menunjuk ke tulisan miliknya dengan judul Cerita Kita.
“Kau lihat? Ini tulisanku, disini jelas sekali, aku tak menambahkan apapun dan kau lihat tulisannya sama persis dengan judul yang berbeda. Kau tahu Varen, aku selalu menuliskan judul ini sama persis dengan awal kalimatnya! Dulu, saat kita mengisi buku kenangan teman, aku selalu diminta bantuan oleh teman-temanku untuk membuatkan sajak dari nama mereka, lalu mereka menentukan judulnya sendiri, dan ini, kau lihat ini?” Varen lalu mengamati tulisan itu.
“Kau lihat disana itu jelas cerita kita! Saat itu, Ileana berkata padaku, dia memintaku untuk membuat kisah tentangnya yang hanya bisa mengagumi orang itu, dia mencoba sadar kalau seharusnya rasa itu tak boleh terus tumbuh. Itu makna dari tulisan ini, sekarang aku memang tak bisa menanyai orang mati seperti yang kau katakan, tapi setidaknya kau bisa menilainya.” Cyra menarik nafas panjang.
“Kau mencoba menarik simpati agar penilaianku menjadi kabur, kan?” Tanya Varen lagi.
Cyra memandang Varen dengan tatapan yang hampir putus asa, dia bingung bagaimana lagi dia harus membuktikannya.
Pintu terdengar kembali diketuk dengan sangat kencang.
Cyra segera berlari ke arah pintu itu dan membukanya, disana jelas sudah ada Farras.
“Hai Cyra! Ini aku bawakan kau pakaian dan juga hal yang bisa membuktikan kalau kau ini tidak bersalah.” Ucapnya sambil melenggang masuk.
“Kenapa lagi kau ada disini?!” Sekarang Varen benar-benar kesal dengan adiknya ini.
“Aku membawa ini.” Dia memperlihatkan sesuatu ditangannya.
"Apa itu?" Tanya Cyra sekenanya, malas untuk penasaran barang sedetikpun.
"Ini adalah sajak yang wanita ini buat. Kupikir pengarangnya sudah tiada apa salahnya sajaknya kupakai dalam tulisanku, dan pada penulis aslinya aku mohon maaf yang sebesar-besarnya, tolong jangan tuntut aku." Dia berkata pada Cyra dengan memohon.
"Apa kau bilang?!" Cyra kali ini bertanya dengan mata membulat. Dia tak menduga bahwa Alkhilendra itu benar-benar Farras, wajar saja gosip yang beredar bahwa dia adalah konglomerat itu benar. Hal yang membuatnya tak habis pikir adalah dia menyatakannya dengan sangat enteng! Padahal selama ini sudah banyak yang mencari tahu siapa sebenarnya orang dibalik nama pena ini sayangnya mereka sepertinya salah sasaran semua.
"Cyra ... maafkan aku karena menjiplak karyamu. Ini aku temukan di gudang saat aku mencari barang disana dan ini adalah milik Rany tapi kupikir wanita itu juga sudah mati jadi aku tak perlu minta izin dan aku tak tahu kalau ternyata kau adalah penulisnya." Dia berkata sambil mengatupkan kedua tangannya didepan wajah kinclong itu. Jujur saja jika laki-laki ini tak memiliki wajah tampan jelas Cyra akan menuntutnya! Tapi dia wanita biasa yang kagum atas keindahan pahatan ciptaan Tuhan.
"Varen, kau bisa lihat ini. Kemarin sajaknya kuubah susunan, dan ini adalah aslinya seperti yang dibilang oleh Vlogger kurang ajar itu! Dia memang selalu mencari kelemahanku. Awas saja dia, aku akan membuat akun tube-tubenya di banned!" Dia memperlihatkan wajah innocent-nya walaupun disana ada beberapa lebam dan memar tak serta merta menghilangkan pesonanya!
Varen mengambil kertas itu dengan paksa dari tangan Farras.
"Katakan padaku ini ditulis kapan dan apa kejadian yanga mengikutinya? Kau tak boleh asal mengarang indah! Ceritakan sedetailnya tentang puisi ini." Varen meletakkan kertas itu diatas meja dan menyuruh Cyra segera menjelaskannya.
Entah kenapa Cyra membayangkan kalau saat ini dia sedang menjalani ujian praktek! Karena dia tak pernah mengenyam sekolah sampai kuliah jelas dia hanya bisa membayangkan saja bagaimana rasanya berdiri dihadapan dosen dengan memaparkan makala yang disusunnya.
Cyra lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya seakan mengingat kisah dibalik cerita itu.
"Aku tak memerintahmu untuk tertawa tapi aku memintamu untuk mengartikannya!" Varen selalu saja bernada tinggi jika sudah bicara pada Cyra.
"Sabar! Aku hanya mengingat hal ini. Ini adalah kisah dari tiga temanku yang berbentuk cinta segitiga. baiklah aku mulai membaca. Untukmu Sang Penjaga Mimpi, dibawah langit tanpa Tepi, dalam sebuah cawan utopi, dan dunia menjadi sangat sepi. Aku menggambarkan temanku si Agung berkesah kepada sahabatku Mia." Cyra memulai penjelasannya lalu kembali tersenyum, Varen mengamati wajah Cyra dan dia tak menemukan ekspresi memikirkan banyak hal disana.
"Lalu ... untukmu yang selalu bersenda gurau, yang akhirnya membuatnya menjadi kacau, lalu membuat hati menjadi risau, dan tetap jantung selalu berdesau. Ini si Agung masih berkesah kepada Mia, karena kita adalah teman maka dia menganggap candaan Mia membuat hatinya merasa sangat tak biasa. Ya ini bisa dikatakan cinta tapi diam-diam tanpa diucapkan." Jelas Cyra lagi. Sekali lagi, Varen memerhatikan riak wajah Cyra dan sama seperti sebelumnya tak ada tanda berdusta disana. Semuanya seakan nyata, entah kenapa sekarang dia mulai gugup.
"Wahai kau pemilik Hati, aku bahkan mulai tersugesti, akan suatu untuk mengobati, Sebuah luka akibat patah hati. Bait ini menyatakan bahwa Agung tahu bahwa dia hanya sebagai teman cerita saja tentang seseorang yang Mia suka. Jelas ini Agung sangat patah hati karenanya." Cyra berkata lalu tersenyum simpul lalu, dia melirik ke arah Varen yang menatapnya seperti seorang juri yang sedang menilai dirinya.
"Wahai kau penikmat diri, yang mencoba untuk pergi menyendiri, lalu menikmati suasana yang asri, Bersama para bidadari. Ini aku mengambil dari sudut pandang Mia yang akhirnya dia menyadari bahwa Agung menyukainya tapi sayangnya saat itu Agung mencoba mengatakan kalau dia tak memiliki rasa apapun lagi padahal jelas aku tahu kalau itu bohong. Kemudian setelah tamat Agung pergi ke luar kota karena orang tuanya pindah tugas lagi." Cyra lalu tersenyum mengakhiri kisahnya.
"Dan apa kalian tahu, saat ini mereka adalah sepasang suami isteri. Kalau jodoh ternyata memang tak akan pergi kemana." Dia kemudian terkekeh.
Varen menatapnya dengan sangat intens entah bagian mana yang dia tak paham sampai wanita ini merasa kalau ini lucu.
"Wow! Kau memang luar biasa Cyra! Kau memang bukan penulis amatir! Aku tahu kau akan sukses dibidang ini. Cyra bagaimana kalau kau menjadi penulis di platform kami saja, kau ubah nama penamu, dan kau tak perlu mengungkap identitasmu, kau pasti bisa sangat sukses sekali!" Ucap Farras dengan menggebu.
"Oh, iya?" Cyra berkata singkat.
"SIAPA SURUH KAU REKRUT PENULIS SEKARANG?! KAU HARUS BERTANGGUNGJAWAB DENGAN CERITAMU!" Varen membentak Farras dengan kesal.
"Aku ini masih CEO Your Novel! Kau belum membuat surat putusan untuk menghentikanku Kak Varen." Dia senyum-senyum penuh makna.
"Mulai saat ini kau dipecat!" Ucap Varen seperti tanpa ampun.
"Apa kau bilang?! Tak ada yang cinta dengan Your Novel selain aku, kau tak bisa sembarangan!" Bantahnya.
"Itu milikku, suka-suka pemilik harus diapakan. Termasuk mengurusi manajerialnya dengan menggantikan CEO bodoh seperti kamu!" Ucapnya lalu menyandarkan punggungnya ke senderan sofa, sedangkan Cyra menyaksikan sebuah jabatan di lempar sana-sini seperti sedang menawar kacang goreng di arena permainan anak.
"Wah mainan orang kaya ternyata hebat ya ... saat orang-orang memperebutkan baju mana miliknya maka kalian memperebutkan perusahaan itu sebenarnya milik siapa?" Cyra menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan pemandangan yang dia lihat.
"Aku tak ingin menjadi penulis di Your Novel, jadikan aku CEO nya saja." Ucap Cyra dengan santainya dan tanpa beban.
"APA KAU BILANG?!" Dua saudara ini untuk pertama kalinya terlihat sangat kompak dihadapan Cyra.
Kali ini Cyra tersenyum penuh makna.
***