Suasana yang semula terasa hangat, kini menjadi dingin. Luka hati yang dikira tidak akan terulang, malah terjadi kembali. Nyonya Milea tidak menyangka, jika senyumnya sejak tadi akan menjadi air mata. Sebenarnya, ini hanya hal kecil dari sensasi rasa. Tapi Raja seperti seorang Arion, tidak ingin disakiti apalagi sampai tertindas hatinya. Egois, itulah gambaran cinta laki-laki bertubuh kekar tersebut untuk saat ini. "Milea!" teriak seseorang dari lantai dasar dengan langkah sempoyongan. "Mileaaa! Bawakan saya wiski lagi! Saya masih belum puas." "Iya, Pa." Nyonya Milea langsung berlari meniti anak tangga, walaupun sebenarnya ia sangat pusing. "Ada apa, Pa?" "Tuangkan minumannya!" teriaknya sekali lagi dalam posisi duduk di kursi sofa ruang keluarga. "Cepaaat!" "Untung saja rumah ini bes

