05 : FITTING BAJU

1261 Kata
"Regan, Mama datang." Teriak Saras saat berada di apartemen Regan. "Astaga Saras, kenapa teriak-teriak seperti itu sih." Tegur Nyonya Almera yang merasa terganggu dengan teriakan ibu kandung cucunya tersebut. "Eoh, sejak kapan ibu disini?" Tanya Saras yang kebingungan. "Apa aku tidak boleh berkunjung kerumah cucuku sendiri?" Ucap Nyonya Almera ketus. "Bukan seperti itu maksudku ibu, aku hanya merasa bingung karena biasanya ibu akan mengabariku atau Mas Tiyo kan jika berkunjung ke rumah atau apartemen Regan." Ucap Saras. "Aku memang sengaja tidak mengabari kalian karena tahu Tiyo sedang sibuk dengan bisnisnya, sedangkan dirimu sibuk dengan liburanmu." Jawab Nyonya Almera. "Lalu sekarang Regab dimana, Ibu?" Tanya Saras. "Dia sedang pergi fitting baju pengantin." Jawab Nyonya Almera sambil menyesap tehnya yang baru datang. "A-apa maksud Ibu fitting baju pengantin" Ucap Sohyun yang masih merasa bingung. "Ibu sudah memutuskan kalau Regan akan menikah dengan wanita pilihanku seminggu lagi." Jelas Nyonya Almera. "Apa?! Kenapa Ibu tidak memberitahuku sih aku kan ibunya, lagipula aku sudah berencana akan menikahkan Regan dengan anak teman sosialitaku." Ucap Saras yang merasa kesal dengan ibu mertuanya itu. "Tapi aku sudah memberitahukan ini kepada Tiyo, dan dia setuju denganku, aku kira Tiyo juga sudah memberitahumu maknya Ibu sudah memutuskan langkah sejauh ini." Balas Nyonya Almera. "Tapi aku belum menyetujuinya Ibu, jadi tolong batalkan saja pernikahan ini karena aku tidak menyetujuinya." Saras meminta pada ibu mertuanya untuk membatalkan pernikahan. "Tidak bisa! Lagipula Regan juga sudah setuju. Jadi pernikahan ini akan tetap berlanjut dan kau harus memberikan restumu jika tidak maka Ibu akan menyuruh Tiyo untuk mencabut seluruh aset yang dia berikan padamu." Ancaman Nyonya Almera. Dengan terpaksa akhinya Saras menyetujui pernikahan ini. Padahal Saras sudah berencana akan menikahkan Regan dengan teman anaknya yang sangat cantik dan kaya agar bisa dibanggakan saat ada pertemuan dengan teman sosialita nya. Tapi sepertinya Saras harus memendam jauh-jauh dulu keinginannya. Saras sangat penasaran dengan calon menantunya. ia berfikir apakah ibu mertuanya itu menjodohkan Regan dengan anak pengusaha besar, atau anak direktur. "Ibu, memang bagaimana calon menantuku? Apakah dia berasal dari pengusaha sukses? Atau anak direktur utama atau bisa juga anak seorang pengusaha emas?" Saras yang penasaran mengenai calon menantunya pun bertanya kepada sang ibu mertua. "Tidak ada didaftar yang kau ucapan tadi. Dia hanya seorang gadis biasa yang berasal dari keluarga sederhana tapi mereka adalah keluarga baik-baik." Ucap Nyonya Almera. "Lagipula Ibu hanya mencari seorang wanita yang bisa membahagiakan dan bisa merubah Regan menjadi lebih baik bukan mencari wanita yang hanya memiliki uang tapi tidak bisa merawat Regan nantinya atau sibuk menghabiskan uang saja." Jawab Nyonya Almera yang membuat Saras merubah raut wajahnya menjadi kesal. 'Astaga bagaiamana ini,aku pasti akan malu kalau Regan benar-benar menikah dengan gadis itu pasti teman sosialitaku akan menghinaku nanti' Batin Saras dalam hati. "Tapi ibu, bagaimana nanti jika banyak orang yang menghina keluarga kita karena memiliki menatu yang berasal dari kalangan bawah?" Ucap Saras pada Nyonya Almera. "Tidak akan ada orang yang akan berbicara seperti itu karena keluarga kita memang tidak memikirkan kasta atas, bawah, atapun menengah karena yang terpenting adalah perilaku dari menantu keluarga. Jika ada yang berbicara buruk maka ibu tidak akan perduli yang penting menantu ibu adalah wanita baik-baik." Jelas Nyonya Almera. Sedangkan Saras yang mendengar penuturan ibu mertuanya itu hanya bisa membuang nafas kasar. "Kalau begitu aku pergi ke kamar dulu." Saras bangkit dari tempat duduknya lalu pergi menarik kopernya dan beberapa tas belanjaan yang baru ia beli saat liburan ke Paris ke dalam salah satu kamar di apartemen Regan yang memang khusus untuk orang yang datang berkunjung ke apartemennya. Nyonya Almera yang melihat kepergian menantunya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tau kenapa menantunya tersebut bertanya-tanya mengenai seluk beluk calon menantunya itu. Ia yakin kalau ia akan berusaha menggagalkan pernikahan ini sejak awal jika Nyonya Almera meberitaukannya pada Saras menantunya itu. Nyonya Almera tau kalau ia akan melakukan hal yang sama dengan seperti yang ia lakukan pada menantu pertamanya yang tidak lain adalah istri dari anak pertamanya. Ia tidak akan membiarkan Kanaya merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Megan, istri kakak Regan, Delano. Hal ini berbeda seperti kasus yang dialami Delano dan Megan. Mereka saling mencintai dan mendukung satu sam lain. Sedangkan Regan dan Kanaya mereka mungkin masih belum memiliki rasa satu sama lain atau mungkin baru salah satu dari mereka yang mencintai. Maka dari itu Nyonya Almera harus berusaha menghindarkan Kanaya dari intimidasi dari Saras agar Kanaya tidak mundur dari pernikahan ini. ••• Hari ini Regan dan Kanaya akan melaksanakan fitting baju pernikahan mereka. Selama diperjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka merasa canggung untuk memulai sebuah obrolan jadilah mereka hanya berdiam-diaman saja. "Kita sudah sampai." Ucap Regan yang menghentikan mobilnya di depan sebuah butik milik sahabat neneknya. "Baiklah." Kanaya lalu turun menyusul Regan yang sudah keluar ke butik baju tersebut lebih dulu. "Selamat datang nak Regan, tadi nenekmu sudah memberitahumu kalau kau akan segera menikah apakah itu benar?" Tanya bibi Ana pemilik butik. "Benar bi." Balas Regan dengan memaksakan senyumnya. "Selamat ya, apakah wanita dibelakangmu itu calon istrimu?" Tanya bibi Ana yang menunjuk Kanaya yang berada di belakangnya Regan. "Benar bi." Balas Regan. "Astaga, kemarilah nak bibi akan memilihkan baju yang cocok untukmu untuk acara pernikahan kalian." Ucap bibi Ana menyuruh Kanya untuk mendekat padanya. Dengan langkah ragu-ragu Kanaya mendekati bibi Ana. "Tidak usah takut bibi tidak akan mengigitmu kok." Bibi Ana tersenyum melihat Kanaya yang malu-malu, sedangkan Kanaya juga ikut tersenyum mendengar ucap bibi Ana. "Regan, kau pergilah bersamanya karyawanku itu aku akan memilihkan baju untukmu sedangkan bibi akan memilihkan baju calon istrimu." Ucap bibi Ana yang menyebut kata calon istri membuat Kanaya merasa malu. "Iya Bi." Ucap Regan lalu pergi mengikuti karyawan bibi Ana. "Ayo nak bibi akan memilihkan baju yang bagus untukmu supaya Jungkook tidak akan bisa mengalihkan pandangannya darimu nanti." Ucap bibi Ana yang diangguki oleh Kanaya. "Siapa namamu nak?" Tanya bibi Ana. "Kanaya nyonya." Balas Kanaya. "Nama yang cantik, seperti orangnya. Kamu bisa memanggilku Bibi Ana seperti Regan saja tanpa embel-embel nyonya ya." Ucap bibi Ana. Kanaya tersenyum mengangguk. "Baiklah Bibi Ana." "Nanti mungkin kau harus sedikit bersabar nanti saat menghadapi Regan karena dia itu sangat keras kepala dan angkuh. Sebenarnya dulu Regan tidak seperti itu tapi mungkin karena ada suatu hal sikapnya berubah total." Ucap bibi Ana sambil sibuk mencarikan baju dan menempelkannya pada tubuh Kanaya. "Benarkah bi?" "Benar dulu bibi sering berkunjung kerumah Regab dan setiap bertemu bibi dia selalu menyapa dan tersenyum pada bibi, dulu dia pernah membawa seorang wanita untuk diperkenalkan kepada ibunya tapi ibunya tidak menyukainya dan setelah berkunjung ke rumah Regan wanita itu tidak pernah kembali muncul dihadapkan Regan maupun keluarganya, nah baju ini cocok untukmu." Cerita bibi Ana berhenti setelah mendaptkan baju yang cocok untuk Kanaya. "Bibi apa aku boleh bertanya siapa nama wanita itu?" Tanya Kanaya yang merasa penasaran. "Namanya Na-." Ucap bibi Ana terhenti setelah Regan masuk menemui mereka. "Regan apa kau sudah selesai memilih bajumu?" Tanya bibi Ana. "Sudah bi, bi aku titip Kanaya pada bibi ya karena aku harus kembali ke kantor karena ada meeting penting hari ini." Ucap Regan. "Baiklah, tapi seharusnya kau tidak meninggalkan calon istrimu seperti ini Regan." Ucap bibi Ana sambil menatap tajam Regan. "Tidak apa bi, pergilah jika meetingnya memang penting aku akan pulang naik taksi nanti." Ucap Kanaya sambil tersenyum. "Terimakasih." Ucap Regan lalu pergi meninggalkan Kanaya di butik. "Astaga Kanaya seharusnya kau tidak mengijinkan Regan untuk pergi. Anak itu sangat keterlaluan." Ucap bibi Ana. "Tidak apa bi, Regan sepertinya memang sedang sibuk." Ucap Kanaya mencoba untuk meyakinkan Bibi Ana. "Aku salut padamu, tidak salah jika Nyonya Almera memilihmu sebagai menantunya." Puji bibi Ana yang membuat pipi Kanaya beresemu merah karena malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN