02 : REGAN ADITYA ATMAJA

1077 Kata
Seorang pria berjalan dengan dengan langkah lebarannya memasuki ruangan tempatnya bekerja. Selama berjalan menuju ruangannya para karyawan membungkukkan badan memberi hormat kepada sang atasan. Tetapi sang atasan hanya berlalu tanpa membalas ataupun mengucapkan sesuatu kepada seluruh karyawannya tersebut. Setelah sang atasan sudah masuk ke ruangannya para karyawan akan kembali bekerja agar mereka tidak terkena marah atasannya jika bermalas-malasan. "Astaga kenapa CEO kita selalu bersikap dingin seperti itu sih, padahal dia sangat tampan." Ucap salah satu karyawan. "Iya benar aku juga merasa heran tampan-tampan tapi sikapnya seperti es kutub Utara saja yang sangat dingin." Sahut karyawan lainnya. "Hei sudahlah kalian jangan terus bergosip seperti itu pekerjaan kita masih banyak, jangan sampai bos tau dan memecat kalian nanti karena hanya asik bergosip tentang dirinya." Ucap karyawan lain. "Baiklah." Ucap kedua karyawan tersebut bersamaan. Sedangkan pria bernama Regan Aditya Atmaja yang tidak lain adalah seorang CEO perusahaan Atmaja Crop yang berusia 26 tahun dan sifatnya terkenal dingin kepada semua orang, kecuali beberapa orang tertentu yang ia sayang. Saat ini ia sedang berkutat dengan berkas-berkasnya yang harus ia selesaikan. Regan bisa menghabiskan waktu seharian untuk bekerja di kantor dengan tumpukan kertas yang akan menghasilkan uang untuknya. Padahal nenek dan ibunya sering menyuruh Regan agar tidak terlalu sibuk bekerja dan juga harus memikirkan urusan percintaannya. Tapi Regan tidak pernah mendengarkan ucapan mereka karena bagi Regan hanyalah pekerjaan yang membuatnya senang. Sedangkan maslah cinta Regan tidak terlalu berfikir karena ia bisa dengan mudah mendapatkan wanita yang ia mau hanya dengan segepok uang yang akan ia berikan dan wanita itu akan bertekuk lutut pada Regan. Karena selama ini yang ia tau wanita yang selalu mendekatinya hanyalah wanita yang memerlukan harta Regan saja, bukan dirinya. Maka dari itu Regan tidak terlalu ambil pusing dengan masalah percintaannya. Wanita sendiri lah yang akan menghampiri dirinya, sedangkan ia hanya perlu memberikan uang saja. Sebuah ketukan dari arah luar membuyarkan fokus Regan kepada berkas-berkasnya. Tok tok tok "Masuk!" Ucap Regan. "Pak Regan, nenek anda ingin bertemu dengan anda." Ucap sekretaris Regan bernama Tio. "Baiklah suruh nenek masuk kemari saja." Ucap Regan. "Baik Pak." Ucap Tio lalu menunduk memberi hormat sebelum pergi. Cklek "Astaga, cucu nenek yang paling tampan ini, sepertinya sedang sangat sibuk bekerja sampai tidak menyambut kedatangan neneknya." Ucap Almera melihat cucunya masih fokus dengan berkas-berkasnya. "Memang aku harus menyambut nenek dengan memberikan sebuah kalung bunga begitu?" Ucap Regan dengan sikap dinginnya. "Astaga, Regan jangan marah. Nenek hanya bercanda, kamu itu sensian sekali seperti wanita datang bulan." Ucap Almera. "Ada perlu apa sampai nenek datang kemari?" Tanya Regan to the point. "Nenek hanya ingin melihat keadaan cucu nenek saja dan apa kau sudah berkencan dengan seorang gadis?" Tanya Almera kepada Regan. "Aku sangat sibuk jadi tidak punya waktu untuk pergi berkencan." Jawab Regan sambil masih berkutat dengan berkas-berkas dihadapannya. "Regan, nenek hanya ingin mengatakan kalau sebaiknya kau juga memikirkan mengenai pendampingmu jangan hanya memikirkan tentang pekerjaanmu saja. Lekaslah cari kekasih jika kau belum mendapatkannya nenek yang akan mencarikanya untuk mu. Buatkan nenek cicit setelah menikah nanti." Ucap Almera. "Nenek tidak perlu mencarikan wanita untuku, suatu saat nanti aku akan membawa seorang gadis dihadapkan nenek. Tapi bukan sekarang." Jawab Regan dengan entengnya. "Regan, nenek ingin wanita yang baik untukmu. Bukan wanita sewaan yang kau ambil dari tempat hiburan seperti sebelumnya. Nenek sudah tua nenek hanya ingin memiliki menantu dan segera menimang cicit di usia nenek yang sudah tua ini. Tolong pikirkan perkataan nenekmu ini." Ucap Almera mendramatisir, siapa tahu kali ini cucunya luluh. Almera lalu memilih pergi dari ruangan Regan. Tetapi sebelum benar-benar pergi Almera berbalik dan mengatakan sesuatu. "Dan iya untuk perusahaan ini kau tidak perlu bersusah payah untuk bekerja terlalu keras, masih banyak orang yang bisa nenek percaya untuk mengurus perusahaan ini jadi carilah pendamping hidupmu jika kau ingin terus bekerja di sini." Ucap Almera lalu benar-benar pergi meninggalkan ruangan Regan. Regan masih berusaha mencerna ucapan neneknya. Regan hanya bisa menghela nafas kasar setelah berhasil mengerti apa yang neneknya katakan. Neneknya sudah mulai mengancam dirinya. Ia tidak habis fikir kalau neneknya mengancam dirinya hanya karena ingin ia punya istri dan segera memberikan cicit. *** Di dalam mobilnya, Almera jadi mengingat kunjungannya ke rumah Kanaya sebelum pulang ke Jakarta tadi. FLASHBACK Ting tong "Kanaya tolong bukakan pintunya biarkan Ibu yang meneruskan memasaknya." Ucap Anita menyuruh Kanaya membukakan pintu. "Baik Ibu." Ucap Kanaya lalu pergi membuka pintu. Cklek Kanaya terkejut saat membukakan pintu karena orang yang ada dihadapannya adalah nenek yang ia tolong. "Nenek, silakan masuk nek." Ucap Kanaya mempersilakan Almera masuk. "Kanaya siapa yang datang?" Tanya Anita yang menghampiri Kanaya. "Dia adalah nenek yang tadi aku tolong Ibu." Ucap Kanaya, Anita lalu mengangguk. "Silakan duduk nyonya, saya akan mengambilkan minuman." Ucap Anita mempersilahkan Almera untuk duduk. "Tidak perlu repot-repot, duduklah ada yang perlu saya bicarakan dengan anda. Perkenalkan, nama saya Almera Atmaja." Ucap Almera memperkenalkan diri kepada Anita. "Nama saya Anita, dan disamping saya putri saya, Kanaya. Kalau boleh tahu hal apa yang ingin nyonya katakan kepada saya?" Tanya ibu Kanaya yang masih merasa bingung. "Kedatangan saya kemari ingin membicarakan perihal lamaran saya kepada putri anda." Ucap Almera yang membuat Kanaya dan Anita terkejut. "Lamaran untuk putri saya? Kanaya?" Tanya Anita masih tidak percaya. "Benar saya ingin melamar Kanaya untuk cucu saya." Ucap Almera sambil tersenyum. "T-tapi kenapa harus putri saya?" Tanya Anita. "Karena putri anda sangat cocok untuk cucu saya, dia mungkin bisa membahagiakan cucu saya." Jawab Almera. "Tapi saya harus membicarakan ini kepada suami saya terlebih dahulu nyonya." Ucap Anita. "Baiklah tolong bicarakan ini dengan suami anda, saya akan kembali lagi besok lusa untuk mendapatkan jawaban dari kalian. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Almera berpamitan. "Biar saya antar nek." Ucap Kanaya. Yein lalu mengantarkan kepergian Almera sampai halaman rumahnya. "Nak Kanaya, tolong fikirkan perkataan nenek mengenai lamaran ini, nenek berharap kau mau menerima dan bisa mengubah sikap cucu nenek. Saat ini nenek sangat berharap padamu nak." Ucap Almera kepada Kanaya. "Aku akan mencoba untuk memikirkannya terlebih dahulu nek." Ucap Kanaya sambil tersenyum. "Terimakasih Kanaya, kalau begitu nenek pulang dulu jaga dirimu baik-baik." Ucap Almera. "Baik nek hati-hati di jalan." Ucap Kanaya sambil tersenyum kepada Almera. Setelah kepergian Almera, Kanaya masuk ke rumahnya. Ia langsung menuju kamarnya untuk memikirkan ucapan Almera tadi. Kanaya merasa bingung apakah dia harus menerima lamaran itu atau menolaknya. Kanaya saja tidak mengenal cucu nenek Almera, tetapi jika Kanaya menolaknya pasti Almera akan sangat sedih dan kecewa padanya. Kanya berharap keputusan yang ia ambil adalah sesuatu yang terbaik untuknya. Jika orang tuanya menyetujui lamaran ini maka Kanaya juga akan berusaha untuk menerimanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN