Rahasia Kania

1102 Kata
“Muka lo nggak bilang gitu Kania. Lo bisa bohongin orang lain, tapi nggak berlaku di gue,”ucap Aldi dengan nada ejekannya. Aldi terlalu lelah menghadapi sipat Kania yang selalu menyimpan semuanya sendiri padahal, Kania punya ia dan Alvina tempat berbagi masalah tapi Kania tidak melakukan itu, katanya ia tak ingin merepotkan Aldi maupun Alvina. “Claudia ganggu lo lagi? atau nenek lo nyiksa lo lagi?” Aldi lupa berada di mana, ini sama saja membuka rahasia Kania yang ia sembunyikan dari semua orang. Sedari tadi mereka menyimak pembicaraan Aldi dan Kania, mereka tertarik dengan apa yang dikatakan Aldi. Temasuk Daffa menajamkan telinganya saat nama Nenek dan Claudia di sebut. “Nggak semua hal bisa diceritakan Aldi, kadang ada sesuatu yang harus dipendam demi ketenangan diri,” balas Kania, kali ini ia menatap dalam ke arah Aldi. Satu kalimat dari Kania berhasil membumkang mulut Aldi. Itu tandanya Kania tidak ingin orang tau masalahnya. “Kania gue minta maaf kalau maksa lo buat cerita,” lirih Aldi ia memegang erat tangan Kania. “Tidak ada yang peduli rasa sedihku termasuk dia yang kuanggap bahagiaku ternyata sama saja ia hanya luka dalam bentuk baru,” batin Kania menatap dalam ke arah Daffa. Daffa sadar Kania menatap ke arahnya, ia berusaha membaca raut wajah Kania. Hanya ada tatapan sendu dari Kania yang ia dapatkan. “Apa yang terjadi padamu Kania, kenapa Mas ngerasa banyak sekali yang kamu sembunyikan dari mas,” batin Daffa setelah mendengar nama Claudia disebut tadi. “Nggak apa-apa, ini hal biasa bagiku,” kata Kania lagi kali ini Kania tersenyum cerah ke arah Aldi. “Aku tau itu senyum palsu Kania,” batin Aldi. Ia berusaha terlihat tak peduli lagi dengan apa yang dikatakan Kania tadi. Karena ia tau Kania benci dikasihani, lebih baik ia bersikap seperti biasa saja. Aldi dengan sengaja memakan bakso Kania, agar perhatian semua orang teralihkan dan melupakan apa yang dikatakan Kania tadi tentang hidupnya yang siapupun tau Kania menyimpan banyak luka. “Bakso gue Aldi!” teriak Kania terdengar ke penjuru kantin. Bahkan Daffa kaget mendengarnya. “Pelit amat lo,” balas Aldi lagi. “Anjir lu,” balas Kania lagi, dengan tingkah Aldi sedikit membuat ia bahagia. “Gitu dong, jadilah Kania yang suka marah-marah,” tambah Aldi lagi semakin membuat Kania emosi. “Serah lo!” Kania melanjutkan memakan baksonya. “Eh? Maaf Pak, Bu,” Aldi baru sadar ada orang lain di meja mereka. “Kalian romantis sekali ya, kenapa tidak pacaran saja,” kata Bu Rina menambahi. “Iya benar Bu, Aldi dan Kania cocok sekali,” tambah Pak Alan lagi, ia senang melihat kedekatan Aldi dan Kania. persahabatan yang sangat unik. “Saya sudah berkali-kali menembak Kania, Bu, Pak. Tapi di tolak oleh Kania.” Aldi memasang wajah sendu yang di buat-buatnya. Kania dengan sengaja menginjak kaki Aldi yang ada di bawah meja saat mendengar perkataan Aldi yang sangat tak masuk akal. “k*****t lu, gue bisa di bunuh Pak Daffa, Aldi,” batin Kania berteriak mengatakan itu. tidak mungkin Kania mengatakan langsung. “Awas aja lo,” bisik Kania sambil melotot ke arah Aldi. “Lihat-lihat Buk, calon pacar saya marah matanya melotot,” kelakar Aldi sambil mencubit pipi Kania. “k*****t lu, lu mau bunuh gue hah!” bentak Kania, lalu ia berdiri ingin menjambak rambut Aldi. Tapi tertahan oleh perkataan seseorang. “Tidak sopan sekali ya, berbicara kasar di depan dosen,” kata Bu Serina dengan nada juteknya. “Bu, Saya min—“ Belum sempat Kania meminta maaf, mereka semua dikejutkan dengan suara bass dari Daffa yang sedari tadi diam tapi perhatikan setiap gerak gerik Kania. “Saya permisi,” ucap Daffa dengan nada dingin dan datarnya. “Kenapa Daffa seperti orang yang menahan amarahnya,” kata Alan, yang tau pasti perubahan raut wajah Daffa. Alan memikirkan lagi kenapa Daffa terlihat marah, setelah lama berpikir ia baru sadar siapa Kania sebenarnya. Alan hampir lupa wajah Kania istri Daffa. “Ya, ini Kania istri Daffa,” batin Alan. Ia merasa bersalah telah bercanda dengan Kania seperti tadi dan membuat Daffa marah padanya. “Kania maafkan saya,” ucap Alan berlari mengejar Daffa. “Apa yang terjadi? Pak Daffa kenapa?” Batin Kania merasa ada yang janggal dengan kepergian Daffa. *** Kania dan Aldi sedang berjalan di trotoar, mereka menikmati udara sore yang sangat menyejukkan. Rencananya mereka ingin menghabiskan waktu di taman. Mereka sering melakukan itu, termasuk Alvina juga. Kebetulan Alvina ada matkul sore ini, terpaksa mereka berdua saja dulu. “Andaikan gue orang kaya, pasti gue bahagia banget,” kata Kania sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang di depannya. “Tidak juga,” balas Aldi. “Tapi seti—“ “Pak Daffa kenapa di depan kos lo?” tanya Aldi langsung, melihat ada Daffa di depan kos Kania. Kania terkejut dan melihat ke arah yang di pandang Aldi. Yap benar saja Daffa ada di depan kosnya. “Bagaimana ini, bisa bahaya kalau Aldi tau hubunganku dan Pak Daffa,” batin Kania takut-takut. Ia belum siap memberitahu orang-orang bahwa ia sudah bersuami termasuk Aldi sahabatnya sendiri, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini kepada Aldi. “Aldi, kita ke tempat mie ayam aja, ya.” Kania berusaha bernegosiasi dengan Aldi. Agar mereka tak bertemu Daffa, sepertinya untuk sementara waktu ia harus menghindari Daffa. “Kita sapa Pak Daffa dulu,” kata Aldi berjalan menuju ke arah Daffa. Tanpa tau Kania sudah bergetar hebat di belakangnya. “Aldi, nggak usah,” kata Kania lagi, tapi sepertinya terlambat. Daffa sudah melihat ke arah mereka, sedangkan Aldi dengan ramah tersenyum ke arah Daffa. “Pak Daffa,” Aldi menyalami tangan Daffa. “Bapak kenapa ke sini?” tanya Aldi berbasa-basi. “Mau ketemu istri saya,” jawab Daffa sambil menatap ke arah Kania. “Sepertinya Pak Daffa punya dendam sama aku,” Batin Kania “Istri bapak tinggal di sini?” tanya Aldi lagi. “Kania, kamu tidak ingin mengenalkan saya?” tanya Daffa. Sepertinya, ia sengaja ingin menjebak Kania. “Kania kenal dengan istri Bapak? Kenapa nggak bilang Kania,” kelakar Aldi lagi berusaha mencairkan suasana. Ia tak tau kenapa Daffa terlihat menahan amarahnya. “Bukan, Kania istri saya,” jawab Daffa. Daffa menunggu respon Aldi, ia penasaran bagaimana respon Aldi setelah mengetahui fakta orang yang dicintai sudah bersuami. Aldi memudarkan senyumnya dan mengatakan, “Kania istri bapak?” tanya Aldi sekali lagi, ia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. “Iya,” balas Daffa. Aldi menatap datar ke arah Kania, ia tak menyangka orang yang ia anggap sahabat berbohong padanya, Aldi merasa tak berguna di hidup Kania. “Kania lo … gue …” Aldi menghentikan ucapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN