Amarah Daffa

1066 Kata
Kania duduk di depan meja belajarnya, sambil mengetik sesuatu. Saking fokusnya ia tak sadar kalau Daffa berada tepat di belakangnya. "Pak Daffa sudah pulang." Kania berbasa-basi agar tidak canggung dengan kehadiran Daffa. "Hmmm," jawab Daffa seadanya. Kania melihat Daffa merapikan beberapa bajunya yang ada di dalam tas dan di susun rapi di dalam lemari Kania. Kania heran kenapa Daffa melakukan itu. Daffa juga memasukkan beberapa bahan masakan ke dalam kulkas sehingga kulkas Kania terisi penuh. "Bapak ngapain?" tanya Kania serius. "Kamu tidak lihat saya sedang memasukkan sayuran ke dalam kulkas kamu yang gersang ini," balas Daffa dengan nada jengkelnya. Sudah tau ia sedang menyusun bahan makanan, masih ditanya lagi. "Bukan itu Pak, maksud saya kenapa bapak ke sini lagi, saya juga sudah lumayan sembuh Pak," kata Kania menjelaskan maksudnya kepada Daffa. "Sepertinya pertanyaan itu tak perlu saya jawab," kata Daffa lagi, sambil mencari di mana letak pisau di dapur Kania. Karena ia berencana untuk memasak makan malam untuk mereka. "Di mana pisau?" tanya Daffa. "Pak, saya sudah bilang saya bisa hidup sendiri," kata Kania dengan sabar agar tidak menyulut amarah Daffa. "Apa perlu saya mengulang perkataan saya yang tadi pagi." Kali ini Daffa berusaha sabar menanggapi pertanyaan Kania. Ia terlalu lelah untuk berdebat dengan Kania. "Pak, bukannya pernikahan kita hanya sementara saja, jadi saya rasa kita tidak perlu menjalani hubungan suami istri pada umumnya," kata Kania, tanpa sadar menyulut amarah Daffa. Sepertinya, Daffa salah memberi kesempatan kepada Kania untuk menang. "Siapa yang bilang gitu?" Daffa masih sabar menanggapi Kania. Walaupun, sebentar lagi ia akan mengeluarkan amarahnya. "Ya, kan memang begitu, buktinya Pak Daffa ninggalin saya setelah ijab kabul kita," jawab Kania lagi dengan wajah polosnya. Sungguh Kania hanya mengeluarkan pendapatnya, tidak bermaksud lain. "Saya punya alasan melakukan itu Kania, jangan jadikan itu alasan untuk menjalani hubungan dengan pacar kamu," kata Daffa dengan nada tegas seperti biasa. Bahkan ia berhenti dari aktifitasnya untuk fokus berdebat dengan Kania. "Bukannya bapak yang punya pacar? Saya mana ada waktu untuk pacaran Pak, waktu untuk makan saja tidak ada Pak, apalagi pacaran," kata Kania mendekat ke arah Daffa, rencananya ia ingin membantu Daffa memasak. "Kamu tidak punya pacar?" Sebisa mungkin Daffa bertanya dengan nada biasa agar Kania tidak mengetahui bahwa ia sedang bahagia mendengar informasi yang sangat penting itu dari Kania. Kania mengelengkan kepala menjawab pertanyaan Daffa. "Pak, saya bukan wanita yang tidak tau diri dengan berpacaran dengan laki-laki lain sedangkan saya sudah bersuami. Walaupun, pernikahan kita terkesan aneh tetap saja bapak suami saya," jelas Kania panjang lebar. Sambil mengambil alih sayur di tangan Daffa. Daffa merasa bahagia mendengar penuturan Kania. Entahlah Daffa tidak tau, apa yang ia rasakan sekarang. Entah itu cinta atau apa, Daffa tidak menutup diri dari Kania ataupun membatasi Kania untuk masuk di hidupnya. Sedari awal Daffa percaya pilihan neneknya tidak lah salah. Ada yang istimewa dari Kania sehingga neneknya menikahkan Kania dengannya. "Kenapa diam pak?" tanya Kania, setelah beberapa detik berlalu, Daffa juga tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Tidak ada," jawab Daffa. Seketika amarah Daffa hilang saat Kania ada di dekatnya. *** "Besok kita pindah." Tiba-tiba saja Daffa mengatakan itu saat mereka sarapan. "Hah? Saya juga ikut Pak?" tanya Kania dengan wajah polosnya. "Iya," jawab Daffa, menghabiskan sisa nasi goreng yang dimasak Kania. Sepertinya Daffa terbiasa hidup bersama Kania dan memakan masakan Kania. Walaupun mereka cuma tinggal beberapa hari tapi rasanya sudah berbulan-bulan. "Saya di sini saja Pak, nanti kalau pacar bapak ke rumah gimana, saya tidak mau menjadi penyebab bapak bertengkar dengan pacar bapak," kata Kania dengan jujur. Ia tak mau menjadi orang ketiga lebih baik ia saja yang mengalah. Daffa menghempas garpu dan sendok yang ada di tangannya, bunyi kaca beradu kaca terdengar nyaring di telingga siapa saja yang ada di ruangan ini. "Pak Daf-daffa?" tanya Kania takut-takut setelah melihat wajah tak bersahabat dari Daffa. "Kamu! Saya sudah berusaha bersikap baik padamu, menahan amarah saya dengan perkataan bodoh yang kamu ucapkan." Daffa berbicara dengan nada dingin dan datarnya. Terlihat wajah Daffa memerah menahan amarah. Kania menunduk takut melihat perubahan wajah Daffa. "Sepertinya kebaikan saya tidak ada gunanya dihadapan kamu," kata Daffa lagi masih dengan nada yang sama. "Ma-maaf." Isak tangis terdengar saat Kania mengatakan itu. Daffa menendang meja saat ingin berdiri dari kursinya bahkan beberapa gelas jatuh berserakan di lantai. Ia melangkah menuju pintu keluar tak lupa menutup pintu dengan sangat keras. “Ya tuhan kenapa jadi begini, padahal aku cuma ingin memberi kebebasan untuk Pak Daffa aku tau pak Daffa tidak menginginkanku,” batin Kania. *** Kania sedang bersantai ria di kantin, terlihat ia termenung sedang memikirkan sesuatu. “Woi, mikirin apa sih?” tanya Aldi sambil duduk di hadapan Kania. “Hah? nggak ada,” balas Kania kembali fokus memakan bakso yang baru saja ia pesan. “Kemaren gue ke tempat kerja lo, kata Dimas lo udah berhenti kerja. Kenapa?” tanya Aldi Dari kejauhan terlihat beberapa dosen termasuk Daffa sedang berjalan memasuki kantin, mereka mencari tempat untuk duduk. Tak ada bangku yang tersisa, atas usulan Bu Serina akhirnya mereka bergabung di meja Kania dan juga Aldi hanya meja itu yang bisa menampung mereka. “Boleh kami duduk di sini, tidak ada meja yang tersisa,” kata Pak Alan dan di belakangnya diikuti beberapa orang termasuk Daffa, Bu Serina dan juga Bu Rina. “Iya Pak, Bu Silakan,” kata Aldi dengan ramah. Ia mempersilakan mereka duduk. Mereka semua diam memakan makanannya masing-masing. “Jangan sungkan kalian mau berbicara, bicara saja,” ucap Bu Rina. Bu Rina terkenal dengan dosen paling baik, ramah dan juga tak banyak menyiksa mahasiswa. “Hehehe iya, Bu,” balas Aldi. Sedari tadi Kania hanya diam sambil memakan baksonya, ia sedang memikirkan masalahnya dan Daffa. Di satu sisi ia ingin meminta maaf sedangkan di lain sisi ia kesal melihat Daffa tampaknya baik-baik saja setelah pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu. “Kenapa Pak Daffa terlihat baik-baik saja? apakah aku harus bersyukur Pak daffa menjauhiku atau sebaliknya?” batin Kania “Kania lo kenapa sih? Dari tadi gue manggil nggak nyahut-nyahut,” kesal Aldi. Kania hanya melihat sekilas ke arah Aldi lalu melanjutkan memakan makanannya. Aldi menghela napas. “Gini nih, sipat lo yang gue benci. Lo masih punya gue untuk berkeluh kesah,” kata Aldi menatap dalam ke arah Kania. Bahkan ia tak peduli Kania tak meresponnya. “Gue selalu ada buat lo,” lanjut Aldi lagi masih membujuk Kania untuk menceritakan masalahnya. Kania melihat sebentar ke arah Aldi dan mengatakan. “Gue nggak apa-apa,” balas Kania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN