Kania Sakit

1052 Kata
Fauzan sudah pergi beberapa menit yang lalu, Sedangkan Daffa masih menatap wajah Kania yang terbaring dengan wajah pucatnya dengan selang infus terpasang di tangannya. Daffa mengingat apa saja yang dikatakan om nya tadi. Di mulai dari pekerjaan Kania, sampai dengan alasan Kania bekerja, termasuk uang yang Daffa kirim untuk Kania di ambil alih oleh papanya. "Kania kamu punya mas untuk berkeluh kesah, jangan jadikan mas orang jahat dengan tidak tau masalah kamu Kania," beo Daffa sambil mengusap kepala Kania. Yang tertidur lelap efek dari obat yang diminumnya. Tak lama kemudian Daffa juga ikut tertidur di samping Kania. *** Jam menunjukkan jam 6 pagi, Daffa tiba-tiba terbangun dan meraba di sekitarnya. Tidak menemukan Kania di sampingnya. "Kania! Kania!" teriak Daffa. "Iya Pak, saya di sini," jawab Kania dengan nada lemahnya. "Kamu ngapain di bawah sana, kamu masih sakit Kania," kata Daffa melihat Kania masih mengetik sesuatu di laptopnya. "Ngerjain tugas dari bapak," jawab Kania dengan nada santainnya. "Tidak usah di kerjain, kamu masih sakit istirahat saja," kata Daffa turun dari ranjang melangkah menuju Kania yang duduk di lantai. "Terimakasih tawarannya tapi saya tidak butuh rasa kasian dari bapak," balas Kania lagi dengan senyuman andalannya. "Bukan begitu Kania, Ka--" Belum sempat Daffa berbicara Kania langsung menyela. "Tugas sudah saya kirimkan Pak, nilai saya aman kan? Saya butuh nilai tinggi dari bapak agar tidak mengulang di semester depan," kata Kania lagi, lebih ke arah memohon agar Daffa tidak memberikan nilai rendah padanya. "Cuma karena nilai kamu berusaha sekeras ini," kesal Daffa sambil menarik laptop di atas pangkuan Kania, lalu Daffa mematikan laptopnya. Kania kesal atas perlakuan Daffa, sebisa mungkin ia menahan amarahnya agar tidak meledak di Depan Daffa. "Istirahat dan jangan ke mana-mana, saya sudah mengirimkan surat izin untuk kamu," titah Daffa, mau tidak mau harus dituruti Kania. Ia tidak ingin menjadi istri durhaka karena melanggar perintah suaminya. "Saya harus berusaha keras untuk hidup saya Pak, karena saya tau tidak ada orang yang bisa menyelamatkan saya, kecuali diri saya sendiri Pak. Saya juga tidak mau selalu mengangtungkan diri saya ke laki-laki, karena saya tidak tau kapan mereka akan meninggalkan saya atau sebaliknya mereka memilih menetap, jangankan orang lain Pak, bayangan saya saja meninggalkan saya di kala gelap. Apalagi orang lain Pak," kata Kania panjang lebar. Perkataan Kania menyentil hati Daffa. Selama ini ia selalu menganggap perempuan itu makhluk lemah yang selalu mengharap apapun dari laki-laki. Daffa ternyata salah masih ada wanita mandiri seperti Kania. Daffa menghela napas mendengar perkataan Kania, "Jangan membantah perkataan saya." “Aku tidak tau apa yang kamu lalui di masa lalu sehingga tidak mempercayai laki-laki lagi. Jangan lupa Kania akan ada satu laki-laki yang ingin mengorbankan segalanya demi perempuan yang ia cintai, tidak semua laki-laki jahat, Kania,” batin Daffa menatap dalam kea rah Kania yang juga sedang menatapnya. Daffa selesai membersihkan diri. Entah dari mana Daffa mendapat setelan kemejanya itu, waktu keluar kamar mandi Daffa sudah berpakaian rapi. "Aku ke kampus dulu, kamu istirahat saja, untuk pekerjaan kamu, tidak usah bekerja lagi," kata Daffa sambil menyisir rambutnya. "Pak, sudah saya bilang jangan mengasihani saya, saya bisa urus hidup saya sendiri. Buktinya saya baik-baik saja sebelum bapak datang," bantah Kania, ia tak ingin hidupnya di atur oleh Daffa. Ia sangat membutuhkannya pekerjaannya, bagaimana ia akan hidup jika tidak bekerja menghasilkan uang. "Maksud kamu, kamu sakit gini itu yang baik-baik saja hah!" tegas Daffa membantah omongan Kania yang merusak pendengarannya. "Pak, saya juga sering sakit begini, tapi saya tidak mati, kan," balas Kania lagi. Entah mendapat keberanian dari mana Kania bisa membalas perkataan Daffa. "Kania dengar saya, saya cuma mau ngomong ini sekali saja. Saya SUAMI kamu, kamu boleh tidak menerima bantuan dari ayah bunda atau om, tapi tidak dengan saya. Kita berdua mempunyai ikatan yang sangat sakral yang membuat saya bertanggung jawab atas hidup kamu. Jadi percuma saja kamu menolak karena saya akan tetap pada pendirian saya," jelas Daffa panjang lebar, menekankan kata suami, ia kesal dengan perkataan Kania yang tak menghargai Daffa dalam hidupnya. Kania benar-benar membuat Daffa frustasi. “Tidak ada gunanya berdebat dengan pak Daffa,” batin Kania lelah. "Baiklah," kata Kania pada akhirnya, ia tak ingin melawan perkataan Daffa dan memperpanjang masalah. "Bagus, saya berangkat dulu," pamit Daffa dan benar-benar hilang di balik pintu. Kania masih memikirkan kejadian yang terjadi baru-baru ini. Kenapa menjadi serumit ini? Kenapa Daffa harus datang di saat Kania tidak baik-baik saja. Kania tidak tau apakah Daffa benar-benar baik padanya atau ini semua paksaan dari Bunda Anella, yang menyuruh Daffa merawat Kania. “Sepertinya pilihan kedua yang tepat, tidak mungkin Pak Daffa peduli padaku. Memangnya aku siapanya Pak Daffa? Istri? Sepertinya Pak Daffa tidak menganggap aku istrinya,” batin Kania miris akan hidupnya. Banyak sekali penderitaan yang di alami Kania, sehingga ia terbiasa hidup sendiri dan tak membutuhkan siapapun. Percuma minta bantuan orang lain, orang itu pasti akan mencari beribu alasan untuk tidak membantu Kania. Larut dalam pikirannya, tak senggaja Kania melihat ada notif masuk dari ponselnya. "Siapa yang mengirimkan uang padaku?" Kania bertanya-tanya ada notif dari Rekeningnya. Entah siapa yang mengirim uang padanya, pikirannya hanya tertuju pada satu orang. "Pak Daffa," beo Kania. *** Daffa berjalan di koridor kampus, ia sesekali mengecek ponselnya, mana tau ada panggilan dari seseorang. Ia sangat berharap orang itu menghubunginya hanya sekedar berterimakasih atau memarahinya karena telah mengiriminya uang. Ya, orang itu Kania. "Pak Daffa," sapa Bu Serina dengan nada anggunnya. "Ya," balas Daffa seadanya, mata Daffa masih terfokus dengan ponselnya. "Nunggu panggilan dari siapa Pak, fokus sekali," ucap Bu Serina mengikuti langkah Daffa. "Istri saya Buk," jawab Daffa lagi, ia senggaja mengatakan itu agar Serina menjauhinya. Daffa tidak buta melihat bagaimana tingkah Bu Serina yang selalu menarik perhatiannya. "Owh jadi benar Pak Daffa sudah punya istri, saya kira itu hanya gosip saja," ucap Bu Serina lagi, yang sedikit berkecil hati mendengar ini dari Daffa langsung. "Iya," balas Daffa. Daffa tak senggaja mendengarkan nama Kania di sebut, ia penasaran apakah yang dibicarakan itu Kania istrinya atau bukan. "Kania lo serius sakit, tumben lo, biasanya hidung lo berdarah aja. Lo masih tetap ke kampus," kelakar Langit Dirgantara—Teman Kania— Langit sedang melakukan panggilan dengan Kania. Dan itu semua disaksikan oleh Daffa yang sangat hapal dengan suara Kania. Kania tidak menghubuginya tapi menghubungi langit, mengetahui itu membuat ia kesal saja. “Awas kamu Kania,” batin Daffa marah karena Kania lebih peduli dengan orang lain daripada Daffa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN