Penyakit Kania Kambuh

1006 Kata
"Akhirnya sampai juga," kata Kania sambil mengatur napasnya. Kania berlari dari lantai satu ke lantai tiga, ia mengumpat dalam hati kenapa kelasnya harus lantai tiga, menyusahkan saja. "Lo kemana aja beb? Untung Pak Daffa nunda kelasnya satu jam. Kalau tidak habis lo, dua kali tanpa keterangan," kata Alvina, sesaat setelah Kania mendudukan dirinya di bangku. "Pak Daffa nunda kelas?" Napas Kania masih tidak teratur mengatakan itu. "Iya, tumben banget tu dosen killer baik hati," balas Alvina. "Lo udah ngerjain tu--" "Pagi semuanya," ucap Daffa menghentikan aktifitas siapapun yang ada di ruangan ini. "Baiklah, yang punya tugas istimewa dari saya, silakan kumpulkan," ucap Daffa dengan nada datarnya. "Mampus gue lupa," batin Kania panik. Daffa terlihat maskulin dengan gayanya, dengan lengan kemeja yang digulung setengah dan juga kacamata yang bertengker di hidung manjungnya, menambah aura maskulin seorang Daffa Parid Akbar. "Kenapa hanya segini? Siapa yang tidak mengumpulkan?" tanya Daffa menghitung tugas hukuman mahasiswanya. Beberapa mahasiswa menunjuk tangan, termasuk Kania "Lo nggak ngerjain tugas?" tanya Alvina. "Lupa gue," bisik Kania. "Baiklah, tugas kalian saya tambah. Ke ruangan saya nanti. Saya akan bagikan tugasnya," putus Daffa, dan melanjutkan pembelajarannya. *** Seperti yang dibilang Daffa tadi, beberapa mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas akan diberi tugas tambahan. Ada empat mahasiswa yang tidak mengerjakan tugas termasuk Kania. Mereka sedang berdiskusi di sopa ruangan Daffa. "Anet bisa tidak baju kamu dikancingkan. Saya risih melihatnya. Godaan kamu tidak berarti di mata saya, cari laki-laki lain saja," kata Daffa risih dengan Anet yang ingin dekat-dekat dengannya. "Kania pindah sini sebelah saya dan Anet di tempat Kania," perintah Daffa membuat mereka terheran-heran kenapa tidak menyuruh Agus ataupun Vino saja yang duduk di sebelah Daffa. Kania mengikuti perintah Daffa dan duduk di sebelah Daffa. Kania tidak sadar bahwa Anet menatap Kania dengan tatapan benci. "Awas lo Kania,” batin Anet marah karena Daffa lebih memperhatikan Kania daripadanya. *** Daffa sedang menunggu Kania pulang, ia sedang duduk bersandar di atas ranjang Kania, sambil membaca buku astronomi yang ia temukan di meja belajar Kania. Ia baru tau Kania menyukai sesuatu yang berbaur angkasa. Ia juga menemukan beberapa figura kecil milik Kania Daffa melihat keadaan sekitar, kos Kania bisa dikatakan kecil. Ia tak menemukan perabotan lain selain meja belajar yang ada di ujung ruangan. Bahkan dapur hanya berjarak lima langkah dari tempat tidur. Daffa membuka kulkas, tidak menemukan apa-apa di sana. "Seperti tidak pernah terpakai saja," beo Daffa melihat isi kulkas Kania. Daffa menelusuri di rak-rak dapur Kania. Hanya beberapa bungkus mi instan yang ditemukan Daffa. "Apa Kania selalu mengkomsumsi mi instan," beo Daffa lagi sambil melihat di tong sampah, banyak menemukan kemasan mi instan. "Kania! Awas saja kamu nanti." Jika ada yang bertanya bagaimana Daffa masuk ke kamar Kania, caranya mudah ia meminta kunci cadangan ke ibu kos, dan menunjukkan buku nikahnya bersama Kania kepada Ibu Kos. Siapa yang melarang seorang suami untuk masuk ke dalam kamar istrinya. Beberapa menit kemudian Kania pulang. Terlihat Kania tergesa-gesa membuka pintu kamarnya. Beberapa kali kunci pintu kamarnya jatuh akibat tangannya yang gemetar. "Bagus ya, seorang istri pulang jam 11 malam," kata Daffa dengan nada ejekannya. "Pak Daffa, anda di sini, maaf saya tidak tau," kata Kania setelah melihat siapa yang ada di kamarnya. Ia berusaha menyembunyikan tangannya yang gemetaran. Bisa gawat kalau Daffa tau penyakitnya. "Buatkan saya kopi," kata Daffa dengan nada datarnya. Sambil menatap lekat ke arah Kania. "Iya Pak, tunggu sebentar." Kania melangkah menuju laci di nakas tepat Tepat di sebelah Daffa. "Sekarang!" Daffa menekankan di setiap perkataanya. "I-iya." Kania berusah menormalkan suaranya agar tidak bergetar dan membuat Daffa tau penyakitnya. Daffa terus memperhatikan Kania, terlihat beberapa barang yang di pegang Kania jatuh berserakan di lantai, bahkan gelas yang ia pegang pun jatuh ke lantai. "Kamu bisa hati-hati tidak! Ceroboh sekali," bentak Daffa yang kesal melihat kegaduhan yang diciptakan Kania. "Ma-maaf Pak, sa-saya ti-tidak sengaja," balas Kania lagi. "Sini saya aja yang bikin." Daffa menuju ke arah Kania, bahkan Daffa dengan sengaja menabrak bahu Kania dengan keras karena kesal melihat Kania yang lambat dalam mengerjakan sesuatu. “Oh tuhan! Ini sakit sekali,” batin Kania saat Daffa menabrak bahunya. Sedari tadi Kania berusaha memalingkan wajahnya dari Daffa agar Daffa tidak melihat wajahnya yang pucat seperti mayat hidup. Daffa akhirnya sadar perubahan raut wajah Kania dan juga Daffa sempat melihat tangan Kania bergetar saat memberikan gelas kepadanya. "Kamu kenapa? Kamu sakit, ayo ke rumah sakit," ajak Daffa sambil menarik tangan Kania. "Saya tidak apa-apa Pak," balas Kania, yang mendudukkan diri di pingiran ranjang. "Sebentar saya panggilkan dokter," kata Daffa menghubungi seseorang. “Kamu yang menambah penyakitku, jadi tidak usah sok baik di depanku,” batin Kania marah dengan Daffa. Kania tidak bisa mengungkapkan itu langsung di hadapan Daffa, nyalinya tidak sebesar itu sehingga bisa melawan Daffa. *** "Gimana Kania om?" tanya Daffa cemas akan keadaan Kania. "Sudah tidak apa-apa nak, maag dan asam lambung Kania kambuh secara bersamaan makannya begitu," kata Fauzan—om Daffa sekaligus dokter yang menangani Kania. Daffa mengghela napas, bersyukur Kania baik-baik saja. "Kania Kania, padahal om udah wanti-wanti dia jangan telat makan, anak ini memang keras kepala." Fauzan mengatakan itu sambil mengelengkan kepala. "Kania sering begini om?" tanya Daffa memastikan Fauzan menggangukkan kepala menjawab pertanyaan Daffa. "Kamu jaga Kania ya, om maupun orangtua kamu sudah sering memperingatkan Kania agar tidak kerja terlalu keras. Tapi memang dasarnya Kania keras kepala, mau apalagi. Kania juga sering menolak bantuan dari kami," jelas Fauzan panjang lebar. Ia Menerawang ke belakang. Sudah sering sekali dia memperingatkan Kania agar tidak bekerja terlalu keras. Mereka bisa menanggung biaya hidup Kania, jika Kania mau. Karena Kania orang yang keras kepala dan tidak mau di kasihani siapapun, jadilah begini maag nya sering kambuh karena terlena dengan pekerjaannya. Fauzan tau pasti Kania selalu mengkomsumsi mie instan untuk menghemat pengeluarannya. “Om permisi dulu,” pamit Fauzan, setelah memastikan keadaan Kania baik-baik saja. “Ini obatnya, jangan lupa atur pola makan Kania agar penyakitnya tidak kambuh lagi,” kata Daffa sebelum pergi dari kamar Kania. “Iya, Om, Daffa akan menjaga Kania,” kata Daffa dengan tulus. “Om percaya padamu,” kata Fauzan sambil menepuk punggung Daffa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN