Setelah mengatakan hal-hal yang mencengangkan pada Nia, Gina tampak puas. Ia kembali menyantap donat cokelat keju yang ada di piringnya. “Tapi aku tidak memaksanya. Clara memang dengan senang hati menaruh anaknya sendiri di panti asuhan,” kata Nia dengan tangan gemetar mengambil cangkir yang berisikan kopi susunya itu. Gina mengunyah donatnya sambil tersenyum simpul. “Oh begitu ...? Jadi Clara melakukannya tanpa dipengaruhi siapa pun?” sindrinya sarkas. “Apa yang aku lakukan itu demi kebaikannya. Aku tahu Clara memiliki potensi besar yang akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Masa depannya cerah. Jika awal mula merintis kariernya ada seorang bayi yang dirawat. Dia tidak akan bisa sesukses ini,” sahut Nia sambil tetap mencoba menenangkan diri. “Aku kasihan pada Clara. Tidak ada y

