Aku Punya Senjata

542 Kata
Rei dan istrinya berdiri di ujung ruangan, mengamati dengan seksama proses pemotretan untuk kepentingan promosi. “ Dia dilahirkan untuk ini .... dari semuanya, Nayang yang sebenarnya punya bakat sedemikian besar. “ guman Rei ,” Entah dia mau melanjutkan atau tidak setelah ini ... aku yakin dia akan menerima banyak sekali tawaran.” “ Yaaah .... dia benar benar multi talenta, dan perannya di balik layar selama bertahun tahun juga memberinya banyak kesempatan untuk mengamati dan belajar. Jadi asisten paman Dan dan berlatih dengan bintang-bintang besar ... ditempa oleh standard Dan Lambert yang terkenal perfeksionis ... harusnya dia punya kesempatan besar untuk menjadi besar.” “ Tapi aku lihat dia masih Nayang yang dulu ... dia masih ketakutan dengan itu semua.” Rei menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “ Jangan mulai lagi menyalahkan dirimu.” Sergah istrinya sambil memeluk Rei. ,” Aku rasa yang dia katakan benar. Posisimu sebagai bintang saat kematian orangtua kalian, membuatnya terselamatkan dari perhatian pers. Semua hanya tertuju padamu.” “ Jangan mulai lagi .... lebih baik kita melihat mereka yang malu malu.” Potong Arganta yang diam sambil sibuk dengan kameranya. Keduanya mengguman, melihat Nayang dan Dimas terlihat kikuk saat harus foto berdua. Padahal beberapa saat sebelumnya mereka santai saja saat harus melakukan hal yang sama dengan Lody dan Lyra. “ Nay .... harusnya kamu tersipu waktu foto sama aku.” Teriak Lody ditimpali tawa yang lain ,” Jangan jangan mereka pikir Nara jadiannya sama Aneth, bukan Rory” Nayang cemberut dengan wajah memerah. Dimas mengusap tengkuknya dengan sikap kikuk ,” Yuk cepat kita selesaikan.” Diraihnya tangan Nayang dan mengikuti instruksi. Arganta tertawa sambil terus memotret dengan kameranya. Saat Nayang tersipu, cemberut, kikuk dan malu malu. Lensa kameranya menangkap bahasa tubuh keduanya yang semakin hari semakin nyata. “ Teman-temannya sudah pada tahu rupanya.” Rei tergelak saat mereka saling dorong mendekatkan Dimas dan Nayang di sesi foto bersama. “ Yess ..... aku dapat banyak foto untuk dijadikan senjata menghadapi Nayang.” Arganta menurunkan kameranya. Wajahnya dihiasi senyum puas dengan kilatan jahil di matanya. “ Coba aku lihat amunisimu.” Rei meraih kamera Arganta. Tersenyum geli melihat banyak foto yang diambil diam diam oleh Arganta dalam tiga hari terakhir. Saat mereka berdua bersama baby Kai, saat pengambilan gambar, saat mereka makan malam atau makan siang, saat mereka break bahkan saat berlatih beladiri ,” Apa mereka menyadarinya ?” gumannya sambil melihat berbagai ekspresi saat Dimas menatap Nayang atau sebaliknya bahkan Arganta sempat menangkap momen mereka bertatapan sambil tersenyum tipis dari jarak yang cukup jauh ,” Yang ini keren.” “ Iya ... bisa gitu ya mereka ngobrol dengan kelompok yang berbeda, tapi masih nyambung.” Istri Rei tertawa ... ,” seperti adegan film. Kamu keren ngambilnya, Ga.” “ Ini yang kamu bilang waktu itu, Ga ?” Rei menatap intens pada sebuah foto. Arganta mencondongkan tubuhnya, “ Hmm” sahutnya melihat Nayang yang berdiri disamping Dimas menatap matahari terbit beberapa bulan lalu ,” Itu pagi saat Nayang memutuskan mengambil peran Nara. Sebuah kebetulan atau memang dia ditakdirkan untuk itu ?” “ Kita lihat saja nanti ...” sahut Rei, mengembalikan kamera ,” kirimkan ke aku, buat jaga jaga kalau Nayang tahu dan menghapusnya.” Lanjutnya jahil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN