Pria itu segera menarik tas Laras ke kebelakang punggungnya sehingga sangat kecil kemungkinan terlihat oleh Ryan dan Pak Sapta. “Permisi, Tuan. Sejak kapan Anda berada di sini?” tanya Ryan. “Oh, belum lama, Tuan. Teh dan roti yang kupesan saja belum datang,” sahut pria itu sambil menunjukkan mejanya yang masih kosong. “O, begitu, ya,” sahut Ryan sambil berkacak pinggang mengamati situasi sekitar tempat itu. Berjalan beberapa langkah hampir mendekati pohon. “Ada apa, Tuan?” tanya pria itu cepat, untuk memecah konsentrasi Ryan. “Kami sedang menanti seseorang, Tuan,” sahut Ryan dengan masih berdiri di dekat pohon. “Kalau boleh tahu, siapa dia?” Pria itu menatap Ryan dengan serius. Ryan menoleh pada Pak Sapta sebentar seakan memberi kode. Lalu menggelengkan kepala. “Oh, hanya teman lam

