Laras berbalik dan memberanikan diri menatap pria asing itu. Ia berkacak pinggang. Kedua bibirnya menipis menahan kesal. “Apa kau tidak punya pekerjaan sampai terus membuntuti orang yang tidak kau kenal?” Pria tampan itu turut berhenti sebentar. Ia merasa kasihan menatap wajah Laras yang masih terlihat pucat dengan bibir kering mengelupas. Di dalam benaknya bertanya-tanya, kira-kira apa gerangan yang terjadi dengan wanita di hadapannya ini. Mengapa dalam kondisi yang kurang sehat seperti itu justru menangis sendirian di tepi sungai taman kota yang sepi ini. Sepertinya gadis itu sedang mengalami masalah yang cukup berat, pikirnya. “Eh... Pendengaranmu tidak terganggu, ‘kan?” tanya Laras kesal. Pria tampan itu sedikit tersentak. Tersadar dari lamunannya. Lalu berjalan mendekati Laras. “Ka

