Selda geram, ia penasaran semenyeramkan apa Ryani sekarang, seperti yang diceritakan oleh Marco di restoran tadi siang. Selda masuk ke rumah Ryani tanpa sopan, atau mengetuk pintu lebih dulu. Ia melebarkan matanya yang hitam mencari-cari sosok Ryani. Dia akan memberikan perhitungan pada perempuan itu! “RYA...,” “Selamat datang,” Ryani muncul dari arah meja makan. Perempuan itu berdiri dengan kokohnya, tidak memperlihatkan ketakutan seperti dua tahun yang lalu. Mata sayu perempuan itu seperti lenyap entah ke mana, yang ada, tatapan Ryani berubah tajam, seolah tatapan itu bisa mencekik Selda sampai tidak bernapas. “Gue udah nebak lo pasti ke sini. Kangen sama gue?” Perempuan itu terkekeh geli. “Ayo, ayo. Masuk.” satu tangan Ryani merangkul bahu Selda akrab, seperti biasa, seperti du

