Kiana seperti orang yang baru saja lepas dari penjara jika sedang berada di luar rumah. Apalagi jika sedang tinggal di rumah ibunya, gadis itu terlihat begitu tertekan. Dan cara untuk memperbaiki hatinya yang kacau, maka dia akan menghabiskan hari liburnya di luar rumah seperti sekarang. Sesuai dengan apa yang dikatakannya pada ibunya kemarin, gadis itu hari ini pergi bersama Fira ke kota sebelah.
Sementara Fira yang tahu bagaimana perasaan Kiana tanpa harus sahabatnya bercerita, selalu mengajak gadis itu pergi jika hari libur tiba seperti sekarang ini. Kiana bukan gadis yang pintar menyembunyikan perasaannya. Meski kini tengah tertawa dan terus melompat ke sana ke mari untuk memilah baju, tetapi dari sorot mata yang terpancar pada gadis itu, Fira tahu harga diri seorang Kiana sedang terluka. Dan yang harus dilakukannya sebagai sahabat adalah berlaku segila Kiana. Hanya untuk menunjukkan pada gadis itu jika dia tidak sendiri, Kia masih memilikinya sebagai seorang sahabat.
"Kamu besok mau ngebakso pake apa beli baju sebanyak itu, Ki?" Fira memandang ngeri tumpukan baju yang Kiana bawa di tangannya untuk dicoba.
"Siapa yang bilang mau beli? Orang aku cuman mau nyoba doang." Kiana melenggang santai ke kamar pas dan Fira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Siap menerima tatapan sengit dari pegawai toko tempat mereka mengacak-acak dagangan karena tidak satu pun akan dibeli oleh Kiana.
"Bagus, nggak?" tanya Kia sembari mencoba satu kemeja dengan detail simple berwarna merah. Karena kulit Kiana putih, maka warna apa pun seolah pas saat dikenakan. Apalagi potongan tubuh gadis itu yang kurus tinggi, selalu saja pas mengenakan pakaian kecil atau besar.
"Bagus, mau beli?"
"Kayaknya mau, aku perlu baju baru buat kerja." Kiana memutar tubuhnya di depan cermin. "Fir, kamu pilih juga, ya, aku beliin."
"Engg—"
"Bukan duit aku kok, kamu tenang aja," potong Kiana cepat sembari masuk kembali ke kamar pas untuk mencoba baju yang lain. Setidaknya hari ini tidak berakhir memalukan karena mereka keluar toko dengan menenteng dua baju.
*
"Dia kasih kamu duit?" tanya Fira sembari melahap baksonya. Jangan heran jika menu makan kedua gadis ini selalu diselingi dengan bakso. Di mana pun, kapan pun, bakso adalah menjadi menu utama makanan mereka. Tiada hari tanpa menyantap semangkuk bakso.
Kiana mengangguk, dirinya baru saja menceritakan dari mana mendapat uang untuk mentraktir Fira makan dan juga membeli pakaian. "Mau aku habisin aja, gatel tangan aku megang duit dia."
Fira hanya terkikik geli mendengar penuturan itu. Tidak lagi heran jika Kiana begitu tidak menyukai ayah sambungnya. Fira sering menempatkan diri jika berada di posisi Kiana, mungkin malah sudah kabur dari rumah sejak dulu.
"Dia pencitraan terus kalau di depan Ibu, kesel banget aku." Sebenarnya Kiana enggan menggunakan uang yang diberikan Dedi padanya, tetapi memegang uang itu lama-lama juga rasanya risi. Untuk berjaga-jaga, gadis itu sudah menotal berapa uang yang Dedi berikan kepadanya, termasuk tanggal dan jam pemberiannya. Dan jika nanti uang itu diungkit, Kiana akan menggantinya dengan uang tabungannya yang jarang terpakai.
Tidak menanggapi dengan kata-kata, Fira hanya mengusap punggung tangan sahabatnya untuk memberikan ketenangan.
"Safiira!"
Fokus keduanya teralih saat seseorang memanggil nama panjang Fira. Dan seorang laki-laki dengan penampilan rapi kini tengah berjalan ke arah meja tempat kedua gadis itu sudah menandaskan dua mangkuk bakso untuk masing-masing, serta dua gelas es jeruk dan es teh. Tidak usah heran melihat porsi makan yang terkesan pemborosan itu.
"Eh, Mas Diaz, ngapain?" Dari cara Fira menyapa laki-laki yang sudah berdiri di samping meja itu terlihat jika keduanya sudah saling mengenal.
"Beli ini buat Ibu." Terlihat bungkusan bakso yang kini ditenteng laki-laki dengan mata sedikit sipit itu. "Kamu sendiri ngapain?" katanya lagi sembari mengangguk sopan pada Kiana yang juga melakukan hal sama.
"Dari rumah Mbah Uti aku, nanti mau ke sana lagi belum ketemu sama Bulek Citra soalnya, ada perlu," jelas Fira yang segera dibalas anggukan oleh Diaz, dan laki-laki itu mengedik ke arah Kiana.
"Temen kamu?"
"Eh iya kenalin," ujar Fira cepat saat sadar jika dua orang lain di sana tidak saling mengenal. "Ini Kia temen aku, Mas. Ini Mas Diaz, tetangga Mbah Uti."
Kedua orang itu pun segera bersalaman dan menyebutkan nama masing-masing. Lalu terjadi obrolan singkat yang berujung pada Diaz yang pada akhirnya menawarkan tumpangan untuk ke rumah nenek Fira karena kebetulan laki-laki itu membawa mobil.
*
"Setahu aku dia itu guru SMA, baru beberapa bulan juga kok pulang ke Magelang, kemarin-kemarin merantau ke Jakarta apa Bandung, ya, kurang ngerti juga akunya."
Kiana mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Fira soal laki-laki bernama Diaz itu.
"Masih single, nggak?" tanya Kiana dengan wajah cerah. Fira yang tahu maksud dari pertanyaan sahabatnya itu, berdecap malas, tetapi tetap menanggapi dengan serius. Gadis itu juga ingin Kiana segera menikah dan mendapatkan laki-laki baik. Setidaknya dengan begitu hidup Kiana yang penuh tekanan tidak lagi akan terasa.
"Kayaknya si masih single, coba nanti kutanyain sama sodaraku, ya." Fira bersungguh-sungguh saat mengatakan itu. Dan Kiana pun tersenyum lebar penuh antusias.
"Anaknya baik kan keliatannya," ujar Kia lagi sembari membayangkan sosok Diaz yang ramah dan begitu mudah berbaur dengan orang asing.
"Emang baik si orangnya, sopan juga kok. Dia punya usaha juga selain jadi guru."
"Oh, ya? Harap-harap masih jomlo, ya." Kiana meringis malu saat teringat kembali kejadian lalu tentang Alfa, laki-laki yang pernah dirinya coba dekati, tetapi malah berujung kekecewaan.
"Kalau setahuku di jomlo, tapi nanti si aku tanyain biar lebih jelas."
Kiana yang mendengar itu semkin antuasias dan berharap kali ini apa yang diharapkannya berhasil, tidak berakhir mengecewakan lagi.
*
Kiana merasa kecewa saat harus menolak niat Diaz untuk mengantarkannya dan Fira pulang ke Temanggung karena memang mereka menggunakan sepeda motor yang tadi sengaja ditinggal di rumah nenek Fira. Padahal itu kesempatan bagus, apalagi saat informasi tentang laki-laki itu sudah Kiana dapat dan hasilnya memuaskan.
"Oh, Diaz itu belum punya pacar kayaknya, dari kemarin ibunya nyariin calon istri malah." Jawaban yang didapat Kiana saat Fira menanyakan status Diaz pada saudara sahabatnya itu.
"Beneran Bulek? Single, ya?" Fira hanya memastikan sekali lagi karena tidak mau Kiana dibuat kecewa lagi dan lagi.
"Beneran, orang malah kemarin ibunya nanyain kamu."
Kedua gadis itu melongo sembari saling melempar pandang. "Ih, nggak mau, Mas Sultan mau dikemanain coba?" Fira memang sudah memiliki kekasih yang kini merantau ke Kalimantan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.
"Memangnya dia serius? Orangnya aja nggak pernah pulang gitu kok," sahut wanita setengah baya di depan Fira yang tidak lain adalah adik dari ibu gadis itu.
"Seriuslah, orang bulan depan mau pulang, rencana mau ngelamar aku" ujar Fira bangga karena memang itulah rencana yang sudah disusunnya dengan sang kekasih hati.
Kiana yang mendengar kabar itu sering merasa iri karena Fira berhasil di hubungannya yang pertama kali. Gadis itu dan Sultan memang sudah berpacaran sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Dan Sultan adalah kakak kelas mereka dulu.
"Buat Kia aja Diaznya, kayaknya Mas Diaz juga naksir Kia tadi." Fira melempar senyum pada Kiana yang langsung malu karena perhatian saudara gadis itu juga kini tertuju padanya.
"Nanti deh, ya, Bulek pesenin ke ibunya si Diaz." Dan begitulah obrolan berakhir dengan Fira dan Kiana yang pamit pulang karena cuaca sudah sangat mendung. Takut hujan turun sebelum mereka sampai di Temanggung.
*
Kiana pulang ke salon karena Fira memiliki urusan lain dengan keluarganya. Sahabatnya itu memang sering memiliki acara keluarga setiap kali hari libur datang. Hal yang sesekali membuat Kiana iri, karena sahabatnya itu begitu beruntung mendapat keluarga yang begitu harmonis, dengan dua adik yang begitu lucu. Meski Fira tidak jarang juga sering mengeluh karena adik-adiknya yang begitu nakal. Sering iseng merusak barang-barangnya. Mungkin untuk Fira itu menyebalkan, tetapi dalam posisi Kiana yang tidak memiliki adik sepertinya itu hal yang menyenangkan.
"Udah makan belum, Sayang?" Pertanyaan yang menyambut Kiana saat masuk ke salon ibunya. Terlihat beberapa pengunjung tengah melakukan perawatan. Semua pegawai ibunya yang terdiri dari dua orang kini juga terlihat sibuk dengan masing-masing orang di depan mereka.
"Udah, aku tidur di sini, ya, Bu." Kiana menunjuk ruangan istirahat yang biasa dipakai oleh ibunya atau pegawai salon merebahkan diri jika salon sedang sepi.
"Iya, di dalem aja tadi udah dibersihin." Namira menjawab sembari tetap fokus pada pekerjaannya yang tengah memotong rambut.
Kiana pun segera masuk ke ruangan pribadi itu setelah menyapa sekilas dua pegawai ibunya melalui senyuman sopan. Memang tidak terlalu akrab karena Kiana yang sedikit membatasi diri. Bukannya sombong, tetapi dirinya tidak pernah nyambung jika harus mengobrol panjang lebar dengan wanita yang memiliki usia di atasnya itu.
Kiana memilih merebahkan diri pada sofa panjang yang sudah koyak di sudut bawahnya itu. Memasang kipas angin kecil yang berada di sudut ruangan karena tempat yang tidak mendapatkan celah udara ini memang terasa sedikit panas dan juga pengap. Namun, setidaknya lebih aman dibanding harus pulang ke rumah dan bertemu dengan Dedi yajg bisa saja sedang berada di sana.
Gadis yang mengenakan kaos putih itu mengutak-atik ponselnya untuk mencari film guna membunuh kebosanan yang merajai. Namun, satu pesan dari Fira masuk, mengabarkan sesuatu yang membuat mata Kiana melebar saat itu juga.
Fira : Jangan kaget kalau ada nomor asing yang ngechat, tadi Mas Diaz minta nomor kamu ke aku.
Kiana bahkan langsung duduk demi memeriksa dengan teliti pesan tersebut. Takut jika matanya salah menafsirkan barisan kata yang Fira tulis tersebut. Baru juga jarinya ingin membalas pesan dari sahabatnya itu, pesan dari nomor asing masuk. Bibir Kiana kian melebarkan senyum saat meyakini itu adalah pesan dari Diaz.
+6285771xxxxxx : Bener nomor Kiana bukan, ya? Ini Diaz, temennya Fira.
Gadis dengan bentuk wajah oval itu pun langsung melompat senang saat membaca pesan tersebut. Dengan jantung yang berdebar-debar, jemari lentik itu segera membalas pesan dari laki-laki yang dia harap adalah calon imam pilihan Tuhan untuknya itu.
Me : Bener, Mas, ini Kiana. Ada perlu apa, ya, Mas?
Menyimpan nomor laki-laki itu, Kiana merasakan hatinya berbunga-bunga. Rasa yang selalu muncul setiap kali ada seorang laki-laki yang dekat dengannya. Berharap kali ini tidak berakhir begitu saja seperti yang sudah terlewat.