5. Fakta tentang Diaz

1759 Kata
Pagi ini Kiana bangun dengan perasaan yang begitu baik. Ditambah lagi tidak adanya Dedi di rumah membuat gadis itu benar-benar merdeka. Entah ke mana laki-laki itu pergi, Kiana sungguh-sungguh tidak ingin tahu. "Om Dedi lagi ke luar kota selama tiga hari." Info yang Kiana dapat dari ibunya saat baru saja duduk di meja makan. Hari ini ibunya tidak masak, tetapi sudah ada beberapa lauk di atas meja. Jika Dedi tidak ada, maka Kiana akan dengan senang hati menikmati sarapan di rumah. "Maaf, ya, Ibu kesiangan, jadi nggak bisa masak buat kamu." Namira menarik satu kursi di depan Kiana dan ikut menikmati sarapan sederhana bersama putrinya. "Nggak papa, Bu, lagian kalau Ibu capek, nggak usah masak tiap hari juga nggak papa, kok." Kiana sering tidak tega melihat ibunya yang masih repot memasak padahal jarang termakan. "Itu kan tugas Ibu, lagian Om Dedi kan seneng dimasakin, dia nggak mau kalau beli makanan di luar." Namira mengucapkan itu sembari menyendok nasi dan mengambil beberapa lauk ke piringnya. Kiana yang enggan menanggapi kalimat tersebut hanya diam. Tidak terlalu percaya dengan info yang ibunya bagi. Di sini, bukan ibunya yang berbohong, tetapi Kiana yakin itu hanya akal-akalan Dedi. Buktinya sekarang laki-laki itu pergi tiga hari ke luar kota dan masih hidup tanpa makanan ibunya. Namun, semua pemikiran itu tentu saja hanya tertahan di kepala, tidak akan Kiana lontarkan karena hanya akan berakhir didebat oleh ibunya. Bahkan Kiana yakin kepergian Dedi ini adalah untuk sesuatu yang tidak baik. Gadis itu memilih untuk membalas pesan yang masuk ke ponselnya dari pada harus terus membahas Dedi yang menyebalkan itu. Senyum ceria Kiana terbit, dan itu semua tertangkap jelas di mata ibunya. "Itu yang kamu tanyain kemarin sama Ibu?" Namira ikut tersenyum saat melihat anaknya yang terus menyunggingkan senyum. Kiana mengangkat alis karena tidak paham dengan kalimat yang ibunya tanyakan. "Maksudnya yang kemarin?" "Kemarin, kan, kamu nanya sama Ibu, kalau mau deketin cowok dulu masalah apa enggak." Kiana yang langsung mengingat momen itu meringis malu. Ingatannya langsung tertuju pada sosok Alfa yang ternyata adalah laki-laki beristri. "Enggak, orang ini cuman temen." Gadis itu menggaruk pelipisnya yang mendadak gatal. Namira tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan dengan gesture malu-malu itu. "Ya siapa juga yang bilang kalau itu dari pacar kamu." "Ah udah, Ibu, ah." Kiana meletakkan ponselnya setelah membalas pesan singkat yang Diaz kirim. Sejak semalam laki-laki itu memang terus mengiriminya pesan, di mana barisan kata sederhana itu berhasil menyunggingkan senyum di bibir Kiana. "Anak Ibu udah gede beneran, ya, kayaknya. Ibu juga bentar lagi bakalan dapat mantu." "Ih, Ibu," ujar Kiana malu-malu sembari menahan senyum. "Udah ah, aku mau berangkat." "Hati-hati, ya." Namira mengusap pelan rambut anaknya yang kini tengah mencium punggung tangannya. Hal yang akan terlewat jika suami barunya ada di rumah. Entah bagaimana caranya menyatukan dua orang yang terus terlihat bersitegang itu. "Assalamualaikum," ujar gadis itu sembari melangkah ke luar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok Adi yang kini berdiri di depan pagar rumahnya. "Mas Adi?" Kiana mempercepat langkahnya saat yakin laki-laki itu ingin menemuinya. "Ki, udah mau jalan?" Kiana mengangguk sembari menebak-nebak apa kiranya tujuan laki-laki ini bisa berdiri di depan pagar rumahnya. "Nyariin aku, Mas? Apa ibu?" "Ada perlu sama kamu," jelas laki-laki itu. "Ada apa, ya?" Kiana sedikit waswas, takut ada kesalahan yang dirinya perbuat tanpa sengaja. "Jangan tegang gitu, cuman mau minta bantuan doang kok." Adi tertawa kecil saat melihat gadis di depannya mengembus napas lega. "Oh, bantuan apa, ni?" "Kamu suka banget, kan, ya, sama yang namanya bakso?" Kiana segera mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Jadi temen bos aku ada yang mau buka restoran yang menunya khusus bakso gitu." Adi mulai penjelesannya, sementara Kiana hanya mengangguk sebagai tanda jika gadis itu mendengarkan dengan begitu serius penjabaran yang Adi lakukan. "Nah, sebelum buka, dia mau survey ke beberapa pedagang bakso yang ada di Temanggung." Kiana mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terus, yang bisa aku tolong?" "Kamu bisa nggak kalau temenin orang ini buat keliling Temanggung?" "Keliling Temanggung?" Adi mengangguk cepat. "Kamu tunjukin aja beberapa warung bakso yang menurut kamu enak dan unik. Dia orang Jakarta soalnya, nggak paham daerah sini." Kiana tampak berpikir, sebenarnya bukan pekerjaan yang berat. Akan tetapi— "Nanti dibayar kok, Ki, jadi kayak system freelance gitu." Penjelasan itu tentu saja langsung membuat mata Kiana berbinar. Dan gadis itu langsung mengangguk tanda setuju. "Kapan mulainya, Mas?" Adi tertawa geli saat mendengar pertanyaan penuh antusias itu. "Nanti kalau orangnya udah dateng, sekarang masih di Jakarta." "Loh, kirain udah ada." "Aku disuruh nyari orang dulu, yang penting kamu siap kapan pun, ya." "Oke!" Kiana mengangguk dengan wajah ceria. Namun, gadis itu tampak berpikir saat satu pertanyaan melintas. "Eh tunggu, deh, Mas." Adi yang sudah niat pamit pun urung. "Orangnya ini cowok apa cewek?" Adi menjawab sembari tersenyum. "Cowok, Ki. Seumuran aku gini, temennya Pak Alfa." Setelah menjelaskan itu Adi langsung pamit pergi tanpa mengindahkam reaksi terkejut yang kini gadis di depannya tunjukkan. Laki-laki itu sudah telat harus segera mengecek masalah ke cabang One Mart di luar kota. "Makasih sebelumnya, ya, Ki!" teriak laki-laki itu yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Kiana. Lalu gadis itu mencoba untuk berpikir positif, ini pekerjaan yang berhubungan dengan bakso. Maka tidak boleh disia-siakannya. Lagi pula, tidak semua orang kota itu b******k, bukan? * "Jadi gimana sama Diaz?" tanya Fira dengan raut penasaran saat akhirnya berhasil menemui Kiana. Gadis itu masuk shif malam, dan seharusnya masih bisa datang dua jam lagi, tetapi karena terlalu kepo dengan kelanjutan cerita Kiana dan juga Diaz, Fira rela datang ke pabrik lebih awal. Menemui Kiana sebelum gadis itu pulang. "Dia orangnya asik ternyata, dari malem bales-balesan pesan. Barusan aja abis WA." Kiana menunjukkan barisan pesannya bersama dengan Diaz. "Yah, semoga aja yang ini cocok, ya. Aku juga nanya-nanya ibuku semalam, kata ibu kalau keluarga Diaz itu orangnya baik-baik, nggak sombong." Diaz memang orang yang bisa dikatakan cukup berada. Bahkan menurut info yang Fira dapat, selain memiliki usaha sendiri, laki-laki itu juga sudah memiliki rumah sendiri untuk ditempati jika menikah nanti. "Udah punya rumah juga?" Kiana tidak sedang bersikap matrealistis. Gadis itu memang mengkriteriakan calon suami yang memiliki rumah sendiri agar lebih nyaman saat sudah berumah tangga nanti. Tidak luntang-lantung tinggal di mana-mana menggunakan giliran seperti yang yang dialaminya sekarang. Nyatanya memang banyak orang yang sudah berumah tangga dan belum memiliki rumah, alhasil mereka bergantian tinggal di rumah orang tua wanita dan orang tua laki-laki. "Iya, rumahnya daerah Secang lagi, kan nggak jauh banget kalau ke sini." Mata Kiana makin berbinar saat harapan indah tentang masa depannya mulai terlihat terang. Mungkinkah Diaz memanglah jodoh yang Tuhan kirim untuknya? Jika bukan, tolong jadikanlah laki-laki itu jodohnya Tuhan. "Jangan ngayal kejauhan dulu." Fira mengetuk kepala Kiana pelan menggunakan telunjuknya. "Baru juga kenal sehari." Kiana mendesis sebal, tetapi selanjutnya kembali tersenyum dengan lebarnya saat masa depannya akan sangat cerah jika hidup dengan seorang Diaz. "Nggak papa lah aku ngayal, siapa tahu kali ini beneran terjadi, kan." "Aamiin!" ujar Fira sedikit berteriak. Lalu keduanya menertawakan kekonyolan gadis itu. "Siapa tahu kita nanti bisa nikah bareng, Sultan gimana? Jadi pulang bulan depan?" Fira mengedikkan bahu dengan bibir mengerucut. "Dia udah punya gebetan kali di sana, mulai jarang hubungin aku." "Huss, nggak boleh ngomong gitu, mungkin dia lagi sibuk." Meski kadang pemikiran seperti itu juga muncul di kepala Kiana, tetapi gadis itu tidak akan menyuarakan kecurigaannya atau Fira akan bertambah sedih. "Tapi biasanya dia selalu hubungin aku, Ki." "Mungkin dia sibuk?" Fira menggelengkan kepalanya dengan embusan napas lirih. "Bulan depan aku mau nantang dia, kalau memang mau serius harus beneran lamar aku." Kiana mengerjap, lalu melongo takjub saat mendengar kalimat itu. "Serius?" "Mau dibawa ke Kalimantan juga nggak papa kata ibu." "Ih, Fira." Kiana langsung ketakutan mendengar jika apa yang sahabatnya itu katakan bisa saja terjadi karena memang Sultan sudah menjadi karyawan tetap di pengolahan kelapa sawit itu. "Kalau kamu ke sana aku sama siapa?" Fira malah tertawa geli mendengar kalimat itu. "Kan baru omong-omongan, doang, Ki, belum tentu kejadian." "Kalau kejadian gimana?" Kiana sudah ingin menangis. Fira adalah satu-satunya orang yang peduli padanya. Jika sahabatnya ini pergi lalu bagaimana hidupnya akan berlangsung nanti? "Udah ah, nggak usah dibahas, orang belum tentu juga ceritanya bakalan kayak gitu." Fira pun mulai mengalihkna topik agar pembicaraan yang bisa memancing mood buruk itu menghilang di hati Kaiana. * Selepas pulang dari tempat kerja, Kiana memutuskan untuk menonton film di bioskop. Beruntung di kota kecil ini sekarang sudah ada bioskop, meskipun tidak ada mall. Setidaknya ada tempat untuk membunuh waktu yang terkadang berjalan terlalu lama. Malam hari adalah waktu yang paling tidak gadis itu sukai karena dirinya harus pulang ke rumah, tempat yang selalu saja menyajikan hal menyebalkan. Memilih film random yang terputar di jam itu, Kiana mendapat film horror. Tidak menjadi masalah karena dia tipe orang yang bisa menonton film jenis apa pun. Meskipun yakin malam nanti akan sulit tidur karena terbayang-bayang adegan seram yang tersaji. "Kia!" Panggilan dari seseorang membuat gadis itu menolah dan mendapati seorang gadis berambut panjang kini tengah berjalan ke arahnya. "Kiana, kan?" Kiana mengangguk sembari mencoba mengenali wajah yang terasa familier ini. "Ninggar, bukan, ya?" tanya gadis itu takut salah mengenali orang. Karena nama yang disebutkannya tadi adalah sosok gadis yang dulu memiliki postur tubuh mungil. Dan gadis yang kini berdiri di depannya memiliki wajah Ninggar, tetapi dengan ponstur tubuh yang sama tingginya dengan dirinya. "Iya, ini Ninggar." Keduanya pun langsung berpelukan. Meski dulu tidak terlalu dekat, bertemu kembali dengan teman masa sekolah dulu tentu hal yang menyenangkan. Keduanya dulu duduk di bangku SMP yang sama.  Obrolan pun dimulai, kebetulan film yang akan Kiana tonton masih menunggu setengah jam lagi. Jadi setidaknya mereka bisa menghabiskan sedikit waktu untuk bertanya kabar dan menceritakan masa lalu. "Kamu udah nikah, Ki?" Pertanyaan yang akan selalu terlontar jika bertemu dengan teman lama. "Belum," jawab Kiana dengan senyuman. "Lagi deket doang, kalau kamu?" "Belum juga, tapi insyaAllah bulan depan mau tunangan." Gadis itu tampak tersipu saat mengucapkannya. "Wah, selamat ya, dapat orang mana, nih?" "Magelang. Deket aja." "Wah iya, kah? Cowok yang lagi deket aku juga orang Magelang loh." "Jangan-jangan mereka kenal lagi, nama cowok aku Diaz." "Aku ju—" Kiana tertegun mendengar nama yang Ninggar sebutkan. "Diaz?" Ninggar mengangguk bingung saat aura yang Kiana berikan berubah. "Nama cowok yang lagi dekat sama aku juga kebetulan Diaz." "Oh, ya?" Wajah Ninggar kini juga tampak syok seperti Kiana. Isi pikiran mereka juga kini sama. "Tunggu dulu, nama Diaz kan banyak , ya?" Ninggar mencoba berpikir positif, begitupun Kiana. Lalu gadis itu memilih untuk mengambill ponsel guna menunjukkan foto pacar yang disebutkanya tadi. "Ini Mas Diaz pacar aku." Senyum Kiana lenyap seutuhnya saat foto yang Ninggar tunjukkan adalah foto Diaz yang dirinya kenal saat ini.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN