Niat tersembunyi

1692 Kata
Terlihat dari kepala Adam menetes keringat dingin ketika aku meletakkan pedang ku di lehernya. Sinyal ketakutan yang jelas terasa dari tubuhnya yang bergetar hebat sampai terasa di pedang ku. Semua orang di sini yang tadinya bersorak untuk kemenangan Adam, mulai menunjukkan wajah pucat pasi ketika pedang ku berada tepat di samping leher Adam. Pemimpin organisasi terlihat mengertak kan giginya seakan kesal dengan perbuatan ku sekarang, terlihat dari wajahnya yang menunjukkan ekspresi marah dengan urat-urat di dahinya yang terlihat jelas. “Bocaaaaah!!” teriak pemimpin organisasi dari altar. “Lepaskan Adam dan bawa tahanan ini keluar,” tambahnya dengan menunjukkan ekspresi yang menyeramkan. Aku tersenyum kecil saat pemimpin organisasi mengatakan itu. Dari perkataannya dia pasti sangat peduli pada Adam sampai-sampai ingin merelakan semua tahanan hanya agar aku melepaskan Adam. “Aku akan melakukannya hanya jika kau bersujud pada ku,” ucap ku sambil tersenyum padanya. Seluruh orang di sini terkejut akan hal yang ku katakan termasuk Roku dan para tahanan tentunya, mereka menatap ku dengan tatapan heran dan kebingungan. Sedangkan para anggota organisasi ini banyak yang mulai kehilangan kesabaran dan berdiri untuk menyerang ku terutama yang memakai jubah kuning keemasan, mereka sangat agresif dengan berlari menuju ke arah ku sambil menyiapkan sihir mereka. Namun mereka langsung berhenti saat pemimpin organisasi mengangkat tangannya sambil berteriak. “BERHENTI!!” Semua orang yang tadinya berlarian ke arah ku pun langsung berhenti dan kembali bersujud kepada pemimpin organisasi itu. Mereka bersujud tanpa mengeluarkan kata-kata atau pun melakukan gerakan lain. “Bocah kau sudah berlebihan, ku beri kau kesempatan 1 kali lagi untuk melepaskan Adam dan membawa pergi semua tahanan yang ada di sini,” ucap pemimpin organisasi itu pada ku. Aku berpikir cara untuk membuatnya semakin kesal dan marah agar dia tau sebab akibat akan hal yang dia lakukan. “Apa kau bodoh?” jawab ku pada pemimpin organisasi. “Apa?” ucapnya dengan kebingungan dan marah. “Ku bilang apa kau bodoh? Apa hak mu untuk mengancam ku? Aku di sini yang memegang kendali! Bahkan jika aku melakukan ini kau tak berhak mengancamku setelah apa yang kau lakukan bodoh!” ucap ku sambil memotong tangan kanan dari Adam. “Aaaarghhhhh....” Adam berteriak sekuat tenaga saat aku memotong tangannya yang masih tersisa, ekspresi kesakitan yang di keluarkan nya sama sekali tak membuat ku kasihan terhadapnya. Pemimpin organisasi yang melihat apa yang ku lakukan terlihat semakin kesal dan marah. Dia melihat ku dengan tatapan penuh kebencian seakan-akan ingin membunuh ku hanya dengan menatap ku. Aku terhibur saat pemimpin organisasi melihat ku seperti itu. “Apa yang kau bisa lakukan hah?” ucap ku pada pemimpin organisasi sembari meletakkan kembali pedang ku di samping leher Adam. “Kau bocah b******n!” jawab pemimpin organisasi dengan wajah yang kesal. “Roku! Bunuhlah salah satu orang yang memakai jubah keemasan” perintah ku pada Roku. Roku menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah orang yang sedang bersujud yang memakai jubah keemasan yang berada di depannya. Roku memotong leher orang itu hingga kepala dan tubuhnya tak lagi bersatu. Setelah membunuhnya, Roku kembali ke tempat semula dia berdiri. “Apa yang bisa kau lakukan saat teman ku membunuh pengikut mu hah?” teriak ku pada pemimpin organisasi yang semakin kepanasan oleh kemarahan yang di alaminya sekarang. Pemimpin organisasi secara perlahan mengangkat tangannya dan mulai berlutut ke arah ku. Dia sudah menyatakan menyerah kepada ku dan mulai melakukan apa yang aku pinta dari tadi. “Ku mohon lepaskanlah kami, kami berjanji akan pergi dari sini dan tak melakukan hal ini lagi,” ucap pemimpin organisasi sambil berlutut dengan kepala yang ada di tanah. Aku tersenyum saat melihat kejadian ini, dimana melihat musuh yang tadinya penuh dengan kepercayaan diri mulai menyerah dengan putus asa kepada ku. “Baiklah karena kau sudah melakukan hal yang ku ingin kan maka kau akan ku lepaskan kali ini,” ucap ku pada pemimpin organisasi. Saat dia mendengar perkataan ku ini, terlihat ekspresi yang bisa ku tebak keinginannya dari wajahnya saat ini. “Tetaplah dalam posisi seperti itu selama beberapa saat sampai teman ku selesai melepaskan para tahanan,” tambah ku. Roku mengerti akan hal yang akan aku lakukan pada mereka, dengan cepat dia menuju ke kurungan dan melepaskan semua tahanan yang ada. Terlihat dia berpelukan dengan seseorang yang tak jauh berbeda umurnya dengannya, aku berpikir itu adalah adiknya. “Roku! Bawalah semua tahanan keluar dari sini dan tunggu instruksi ku di luar sana” ucap ku pada Roku. “Aku akan menyelesaikan urusan ku dengan orang yang ada di sini dan menemui mu di luar sana, jadi tunggulah aku!” tambah ku pada Roku. Roku mengangguk tanda mengerti dan berlari kecil keluar dari sini sambil membawa para tahanan. Semua tahanan yang baru di bebaskan mengikuti Roku tanpa ada gangguan dari organisasi ini. Jika ku jumlahkan mungkin para tahanan ini sekitar seribu lebih, mungkin jumlah yang di perlukan untuk ritual darah adalah jumlah ini. Setelah semua tahanan berhasil keluar, aku melakukan tugas ku yang sebenarnya. “Astaga kau terlalu banyak bergerak, ini biar kau lebih baikan,” ucap ku pada Adam yang sedari tadi bergerak karena kesakitan. Aku memenggal leher Adam dan membawa kepalanya ke arah pemimpin organisasi. Aku bergerak dengan kecepatan kedipan mata sehingga dengan sekejap aku sudah berada di hadapan pemimpin organisasi yang sedang berlutut. “Angkat kepala mu dan ini untuk mu!” ucap ku sambil melemparkan kepala Adam kepadanya. Dia sangat terkejut bahkan sampai mengeluarkan air mata dari matanya yang menunjukkan kebencian pada ku. “Adaaaam... kenapa kau membunuhnya!?” teriak sambil memeluk kepala Adam sampai darahnya mengenai jubah yang di pakai nya. “Berisik pak tua, kau memang suka berteriak ya!” ucap ku sambil memenggal kepala dari orang yang memakai jubah keemasan di bawah altar saat ini. “Kenapa?? Kenapa kau masih melakukan itu? Bukankah kau sudah mengampuni kami?” ucap pemimpin organisasi pada ku. Aku tersenyum saat dia mengatakan itu dan mengatakan niat ku yang sesungguhnya pada dia. “Bukankah kau ingin membangkitkan Dewa agung mu? Aku di sini untuk membantu mu melakukannya kawan” ucap ku sambil tersenyum ke arahnya. “Benarkah? Tapi kenapa kau membunuh mereka? Kenapa?” tanya pemimpin organisasi dengan ekspresi yang kebingungan dan kesal. “Aku melakukannya karena kau yang menyuruh mereka untuk membunuh ku, bukan begitu?” jawab ku dengan santai. “Para penjaga di atas sana mereka menghalangi ku untuk masuk ke sini jadi ku bunuh mereka semua, kau menyuruh Adam untuk membunuh ku dalam duel jadi aku membunuhnya dan orang mu yang terakhir aku bunuh tadi, dia yang meluncurkan sebuah anak panah yang menyebabkan ku hampir mati. Jangan kau pikir aku tak tau tentang itu,” tambah ku sambil berjalan melihat patung besar yang ada di altar saat ini. “T-tapi kenapa kau menolak saat kau ku ajak bergabung dengan organisasi ku?” ucap pemimpin organisasi dengan gemetar. “Ck ck ck ck kau salah paham di sini. Aku ingin membantu mu dalam membangkitkan Dewa sialan mu itu bukan malah aku ingin bergabung dengan mu,” jawab ku sambil berjalan kembali ke arahnya. “K-kenapa kau ingin membantu kami?” tanya pemimpin organisasi. “Hmm kau tak akan mengerti, untuk sekarang apa saja yang kau butuhkan untuk ritual mu?” jawab ku padanya. Pemimpin organisasi itu menatap ku dengan pandangan sinis penuh kecurigaan, tapi aku tak menghiraukan nya karena meskipun dia bertindak melawan ku dia bukanlah ancaman berarti yang harus ku ladeni. “Jangan diam saja jawab aku orang tua!” ucap ku menggertak pemimpin organisasi yang masih saja menatap tajam kepada ku dengan tatapan sinis. “Sebelum itu, tolong matikan petir hitam mu yang menyelimuti mu itu, itu membuat ku merinding ketika aku melihatnya,” ucap pemimpin organisasi dengan gemetar. “Ohh ini... aku seharusnya tak bisa melakukan itu karena aku tak percaya pada mu tapi jika kau takut maka aku akan ku matikan sekarang,” jawab ku sambil mematikan petir hitam ku. Untuk saat ini aku bisa mengeluarkan petir hitam atau pun api hitam semau ku karena aku sudah menguasai teknik ini hampir dua puluh persen. Jadi meskipun mereka menyerang ku dengan tiba-tiba asalkan aku menyadarinya maka aku bisa mengalahkan mereka dalam satu serangan, dan untuk itu aku menggunakan sihir deteksi untuk memeriksa keadaan di sekitar ku agar siapapun yang mendekat ke arah ku, aku bisa mengetahuinya dan membunuhnya saat itu juga. “Sekarang katakan apa yang kau butuhkan dalam ritual bodoh mu itu!” perintah ku pada pemimpin organisasi yang sedang duduk bersimpuh pada ku. “Untuk melaksanakan ritual ini aku membutuhkan 1300 jiwa manusia sebagai persembahan untuk Dewa agung kami,” ucap nya “Seribu tiga ratus ya... jumlah yang tak sedikit lalu kenapa kau membutuhkan jumlah sebanyak itu?” tanya ku kembali. “Angka itu adalah syarat yang harus di patuhi untuk keberhasilan dari ritual ini!” jawabnya dengan menatap ku. Aku masih tak mengerti kenapa mereka membutuhkan jumlah jiwa manusia yang banyak seperti itu. Namun melihat ekspresi dari pemimpin organisasi yang sama tak tau kenapa jumlah yang di butuhkan sangat banyak. “Lalu kenapa ritual ini di nama kan ritual darah?” ucap ku. Pemimpin organisasi menunjukkan senyum yang menjijikan saat aku mengatakan ini. Tatapan yang haus darah seperti hewan buas yang siap menerkam dan menyantap mangsanya. “Dinamakan ritual darah karena kami harus membunuh manusia dengan jumlah sebanyak itu dan harus di lakukan sekaligus karena jiwa manusia hanya bertahan empat puluh satu hari di dunia ini ketika dia telah mati,” ucapnya. “Tapi untuk ritual ini, manusia yang mati tidak boleh lebih dari dua hari untuk menjaga kesegaran jiwanya!” tambahnya sambil tersenyum menjijikan. Aku mengerti apa yang coba dia katakan pada ku. Membunuh manusia dengan jumlah sebanyak itu sekaligus maka tidak aneh akan terjadi genangan darah yang di akibatkan dari pembunuhan besar-besaran seperti itu. Aku berjalan menuruni altar dan menuju orang-orang yang merupakan anggota organisasi penyembah Dewa Camazot. “Jadi begitu, kalau hanya seribu tiga ratus maka jumlah orang di sini lebih dari cukup!” ucap ku sambil mengeluarkan pedang ku. “Apa maksud mu?” tanya pemimpin organisasi pada ku. “Kau siapkan doa mu untuk membangkitkan Dewa sialan mu dan aku akan menyiapkan jumlah jiwa manusia yang di butuhkan,” jawab ku sambil mengaktifkan kembali petir hitam ku di seluruh tubuh dan pedang ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN