Baru saja menapaki beberapa anak tangga untuk menuju ke kebawah altar, aku teringat akan suatu hal yang harusnya aku lakukan terlebih dahulu. Aku kembali ke atas altar dan berjalan menuju pemimpin organisasi yang masih dalam keadaan duduk sambil menatap kepala adam yang tergeletak di depannya saat ini. Aku berjalan ke bagian belakang tubuhnya dengan jarak sekitar lima meter. Sambil mengarahkan tangan ku ke bagian punggung si pemimpin organisasi, aku membayangkan sebuah kurungan tanah yang kokoh terbentuk dan mengurung pemimpin organisasi. Aku melakukan itu dengan tujuan agar dia tak lari atau pun mengganggu ku saat mencari jiwa manusia yang akan di gunakan sebagai persembahan Dewa Camazot. Aku juga mengalirkan api hitam di seluruh bagian jeruji agar dia tak bisa menyentuh dan menghancurkan nya.
“Jika kau tak ingin mati maka ku sarankan agar kau tak menyentuh api hitam itu,” ucap ku pada pemimpin organisasi yang terheran-heran saat kurungan itu mulai memenjarakan dirinya.
“Tunggulah di sini dengan tenang sampai aku kembali,” tambah ku, namun sepertinya dia tak akan menunggu ku dengan tenang dilihat dari ekspresi wajahnya yang penuh kekesalan dan kebencian namun aku menghiraukan nya.
Saat sudah selesai membangun kurungan dengan sihir tanah dan api, aku ter sadar saat melihat tangan ku yang tadinya berlubang akibat lembing tanah yang yang di keluarkan oleh Adam saat aku berduel dengannya tadi sudah tertutup dan sembuh, hanya meninggalkan bekas lubang di sarung tangan yang aku pakai. Aku terkejut dengan kemampuan ini karena sebelumnya aku tak memiliki kemampuan seperti ini. Namun aku kembali fokus kepada alasan mengapa aku di sini sebenarnya, oleh karena itu aku kembali berjalan menuruni beberapa tangga agar sampai di tempat para anggota penyembah Dewa Camazot ini bersujud.
Belum sampai di tempat yang ku tuju, pemimpin organisasi yang sekarang sedang dalam kurungan berteriak dengan sekuat tenaga.
“Semuanya! Bunuh bocah ini” teriaknya sampai-sampai urat di lehernya terlihat dengan jelas, muka yang memerah dan mata yang melotot seakan ingin melompat dari tempatnya. Aku menghiraukan teriakan nya dan tetap berjalan ke tengah-tengah ruangan
Orang-orang yang sebelumnya bersujud mulai berdiri dan menatap ke arah ku. Dengan pandangan yang menunjukkan kebencian yang dalam dan hawa membunuh yang menerpa seperti angin hangat di musim panas. Semua tatapan dan hawa membunuh di tujukan kepada ku saat namun aku menyambutnya dengan pandangan merendahkan ke arah mereka agar mereka tau jarak antara kekuatan ku dengan mereka.
“Majulah kalian semut sekalian!” ucap ku pada orang-orang yang mulai mengelilingi diri ku dengan tujuan mengepung ku.
Orang-orang ini mulai berteriak dan berlarian ke arah ku secara bersamaan, aku yang sedari tadi hanya berdiri dan menggertak emosi dari mereka juga berlari ke arah depan karena di sanalah yang berisi orang-orang dengan jumlah yang banyak. Aku berlari sambil menggunakan sihir angin ku untuk mempercepat laju dan menambah daya hantaman ketika mengenai mereka, dengan sekejap aku sampai di salah satu anggota organisasi dan menggunakan tubuhnya layaknya sebuah batu yang di lemparkan ke kumpulan semut. Aku mencengkeram perut dari dia dan melemparkannya ke kerumunan orang yang berlari pada ku hingga menyebabkan mereka terpental ketika mengenai tubuh orang yang aku lempar.
“Ha ha ha ayo hibur aku!” ucap ku sambil melihat orang-orang yang terhempas akibat tubuh teman mereka sendiri.
Aku berlarian ke arah tengah dari mereka dan menebaskan pedang yang berada di tangan kanan ku saat ini. Satu persatu dari mereka terjatuh dengan bagian tubuh yang tak lagi menyatu dengan tubuh aslinya. Aku hanya menargetkan titik-titik vital dari mereka agar lebih efisien dalam membunuh mereka semua. Salah seorang dari mereka mencoba menyerang ku dari belakang ketika aku sedang sibuk menebaskan pedang ku ke orang yang ada di depan ku, namun dia meleset kita akan menusuk punggung atas bagian kiri karena aku menyadari pergerakannya. Aku menendang kakinya sampai akhirnya dia terjatuh lalu di lanjutkan dengan menginjak lehernya ketika dia masih terbaring di tanah, karena injakan ku terlalu kuat leher dari orang itu terputus dari tubuhnya dengan bentuk yang tak rapi dan mengotori celana yang aku pakai.
Orang-orang yang berada di depan ku saat ini melihat langsung apa yang aku lakukan terhadap salah satu temannya yang menyebabkan mereka terlihat ragu untuk mendekati ku. Aku tersenyum saat melihat tingkah mereka dan langsung melompat ke arah mereka dengan menebaskan pedang ku kesana kemari. Beberapa dari mereka mencoba menyerang ku dengan sihir yang langsung mengarah ke arah ku namun aku dapat menghindari sihir mereka dengan sedikit gerakan dan berakhir pada sihir mereka mengenai teman mereka sendiri. Aku menendang kepala orang yang berdiri di samping ku sampai kepala dari orang itu terlihat berputar beberapa kali hingga akhirnya mati karena patah tulang leher. Tiba-tiba
Dhuuaaaarrr...
Brak... brak
Seseorang mengeluarkan sihir apinya dan mengenai tubuh ku secara langsung hingga menyebabkan aku terhempas den menabrak dinding dari ruangan ini. Aku tak sadar akan lintasan sihir itu karena terlalu asik terhadap orang yang aku patahkan lehernya hanya dengan menendang kepalanya.
“Urghh... aku terlalu ceroboh!” ucap ku sambil bangkit. Melihat ku yang masih bangkit meskipun telah terkena sihir api dan terhempas dengan kuat, mereka tercengang dan mulai berlarian ke arah ku kembali.
Meskipun barusan aku sudah terkena sihir dari mereka namun tubuh ku hanya sedikit merasakan sakit akibat terbentur dengan dinding ruangan tadi, namun semua rasa sakit itu seakan menghilang ketika aku berdiri dengan tegap dan memandang mereka yang dengan naifnya mencoba membunuh ku meskipun tau akan kekuatan ku. Aku berlari ke arah salah satu orang yang berada di paling depan dan menusuk lurus lehernya kemudian ketika pedang ku masih tertanam di leher orang itu, aku menebaskan nya ke arah samping hingga menyebabkan separuh dari lehernya tertebas. Aku menggunakan pundak orang itu sebagai tumpuan untuk melompat ke tengah-tengah perkumpulan orang-orang.
“ Ayo kita buat ini lebih meriah” ucap ku saat masih ada di udara.
Aku mendarat dengan keras hingga menyebabkan seperti efek ledakan dari sebuah granat yang mengakibatkan orang-orang di sekitar tempat ku mendarat terlempar berceceran ke segala arah. Sekitar empat orang mendekati ku dan menyerang ku secara bersamaan dari arah depan, samping dan belakang. Aku menendang kepala orang di samping kiri ku hingga orang itu mati seketika dan menghindar dari serangan orang yang ada di belakang ku kemudian menarik tangannya dan melemparkannya dengan kuat ke tubuh orang yang ada di depan ku sehingga menyebabkan mereka berdua terlempar secara bersamaan, sedangkan orang terakhir di samping kanan ku, aku menebas nya dengan pedang di tangan kanan ku hingga menyebabkan kepala dari orang itu terbelah menjadi dua namun masih menyatu dengan lehernya sendiri. Semua itu ku lakukan dalam jangka waktu yang hampir bersamaan.
Mungkin jika di hitung jumlah orang-orang disini yang telah ku bunuh melalui pedang ku hampir mencapai jumlah lima ratus korban, namun jumlah ini masih terbilang sedikit dari pada jumlah keseluruhan mereka yang mungkin mencapai tiga ribu orang lebih yang ada di sini. Orang-orang di sini tetap saja berusaha menyerang ku dengan berbagai cara, ada yang menggunakan sihir, senjata, seni bela diri bahkan mencoba menyerang ku dengan bersamaan namun semua bisa ku atasi hanya dengan menghindar sambil mencoba mengganggu keseimbangan mereka dan di lanjuti dengan pedang ku yang sudah terangkat sebagai tanda bahwa leher dari mereka sudah terlepas dan terpisah dari tubuh aslinya. Aku mungkin bisa saja menggunakan sihir untuk mengalahkan mereka hanya dengan beberapa serangan namun yang sebenarnya ingin aku lihat adalah kolam darah yang di akibatkan oleh darah mereka sendiri sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan selama ini.
Saat ini ada sekitar 7 orang yang mencoba menyerang ku dengan bersamaan sambil mengelilingi ku. Mereka mengangkat dan menurunkan pedang ke arah ku dengan ritme yang hampir bersamaan. Aku membungkuk kan badan dan mulai menebaskan pedang ku dengan melingkar sekuat tenaga. Tak sampai pedang mereka mengenai ku, tubuh ke tujuh orang tersebut sudah terpotong dengan potongan horizontal yang rapi. Satu persatu tubuh dari mereka berjatuhan mengeluarkan organ tubuh dan darah segar yang tumpah kemana-mana. Aku melompat ke kerumunan yang masih melihat pemandangan itu. Orang-orang yang tak siap dengan kedatangan ku kepada mereka hanya bisa memandang ku dengan tatapan sayu seakan meminta ampun. Aku tak menggubris pandangan mereka dan mulai memotong titik vital mereka satu persatu bahkan aku memotong leher dari dua orang secara bersamaan yang menyebabkan kepala dari keduanya juga melayang secara bersamaan.
Seluruh pakaian yang aku pakai saat ini berubah warna dari asalnya adalah hitam putih berubah menjadi merah karena noda darah yang banyak mengenai ku. Bahkan pedang ku yang biasanya selalu bersih, saat ini sudah tak terlihat pantulan cahayanya, hanya terlihat seperti sebuah bilah besi tajam berwarna merah darah segar. Lantai di ruangan ini pun seperti berubah menjadi kolam darah dengan potongan-potongan tubuh manusia di atasnya.
Pemimpin organisasi hanya bisa melihat ku membantai para anggotanya dengan sesuka hati, terlihat kekesalan dan kemarahan mendalam yang dia rasakan saat ini namun dia tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa memukul tanah dengan kedua tangannya tanda putus asa karena tak bisa melakukan apapun. Sedangkan aku membunuh orang-orang di sini dengan pedang ku.
ROKU POV.
Setelah mendengar perintah dari Clay aku berlari menaiki tangga bersama para tahanan yang baru saja aku bebaskan dari kurungan. Kami berusaha keluar dari ruangan bawah tanah ini dengan secepat yang kami. Dari sinyal yang di berikan Clay saat aku masih ada di sana, dia tak ingin aku mengkhawatirkan nya dan memimpin para tahanan ini sampai dia menyelesaikan urusannya dan pergi keluar dari ruangan bawah tanah itu.
“Kakak apa kau yakin meninggalkan bocah itu sendirian di sana? Bukankah itu terlalu berbahaya?” ucap Gram adikku.
“Kenapa kau sangat mempercayainya dan mendengarkan apa yang dia katakan,” tambahnya dengan ekspresi bingung.
“Meski dia seorang bocah tapi dia jauh lebih kuat dari aku! Bahkan jika kita berdua menyerangnya, kita tak akan memiliki kesempatan menang sedikit pun!” jawab ku pada adikku yang sedang berlari di samping ku.
“SEMUANYA DENGARKAN AKU!! KITA AKAN KELUAR DARI TEMPAT INI DAN MENUNGGU TEMAN KU YANG MENYELAMATKAN KALIAN KELUAR DARI SINI JUGA” teriak ku pada semua tahanan, kebanyakan dari mereka mengangguk dan menatap ku balik sebagai tanda bahwa mereka mengerti apa hal yang harus mereka lakukan.
“MESKIPUN INI HUTAN GROOL TAPI KALIAN TAK PERLU KHAWATIR KARENA AKU DAN ADIKKU AKAN MENJAGA KEAMANAN KALIAN!!” tambah ku untuk menenangkan mereka semua.
Sesampainya kami semua di luar gereja, dari dalam tanah terdengar sebuah ledakan dan getaran yang terasa cukup kuat. Aku menduga bahwa Clay sedang melakukan urusannya di bawah sana saat ini dan seperti instruksi nya barusan maka aku tak akan kebawah sana untuk mengganggunya, aku akan tetap di sini untuk memastikan keamanan semua tahanan dan menunggu dia keluar dari sana.
ARVIN POV
Aku sama sekali tak merasakan lelah saat ini karena energi mana di tubuh ku yang ter salurkan dengan tepat dan menyebar ke seluruh bagian tubuh ku hingga menyebabkan aku dapat mengontrol tubuh ku dengan sangat baik hingga tak melakukan gerakan yang tak di perlukan.
Serangan demi serangan aku lancarkan pada setiap orang dengan tingkat keefektivitasan tinggi. Bahkan mereka tak mampu memegang senjata mereka dengan benar saat aku menuju ke arah mereka sambil menunjukkan senyum terpuaskan. Orang-orang yang tadinya berjumlah banyak, sedikit demi sedikit menyisakan setengah dari anggota organisasi yang masih berdiri dengan ekspresi ketakutan. Sisa dari mereka telah terpotong dan mati meninggalkan potongan tubuh dan darah yang memenuhi lantai ruangan. Pemimpin organisasi melihat hal ini dengan pandangan ketakutan.
“TOLONG BERHENTI TUAN!!” teriak pemimpin organisasi yang di tujukan kepada ku.
Aku segera memberhentikan langkah ku dan menatap ke arah nya yang memandang ku dengan ekspresi ketakutan.
“Apa alasan mu? Ini baru setengahnya dari anggota organisasi mu!” ucap ku padanya.
“Jumlahnya sudah lebih dari cukup tuan, tolong biarkan anggota organisasi ku yang tersisa untuk hidup” ucapnya sambil bersujud ke arah ku.
“Hmm baiklah tapi jumlah mereka saat ini masih terlalu banyak,” ucap ku sambil mencipratkan darah yang ada di pedang ku.
“Aku akan membunuh setengah dari anggota mu yang masih tersisa dan kau tak bisa mencegah ku untuk melakukan itu kan?” tambah ku sambil menatap tajam ke arahnya.
Tanpa meminta persetujuan dari pemimpin organisasi, aku mengalirkan petir hitam ke pedang ku saat ini, sisa-sisa noda darah yang masih menempel di pedang ku saat ini menguap dan menghilang sehingga mengembalikan penampilan pedang ku yang semula namun dengan beberapa goresan di tubuhnya. Aku menyerang mereka dari jarak jauh menggunakan tebasan pedang yang menuju ke arah kumpulan anggota organisasi ini. Tebasan pedang yang berbentuk gelombang petir menyebabkan orang-orang yang di kenai nya langsung terbakar dengan api hitam yang membara. Sekitar lima ratus orang yang berada di sekitar jarak empat tiga puluh meter dari saat ini sedang terbakar oleh api hitam yang membara. Pemandangan ini seperti saat seseorang menyiram bensin kepada kumpulan semut dan membakarnya dengan api kecil, api langsing menyambar ketika jumlah semut yang berkumpul semakin banyak.