Camazot

1500 Kata
Aku memperhatikan orang-orang yang terbakar oleh api hitam selama beberapa menit, awalnya mereka berlarian dan berteriak meminta tolong kepada sesama anggota penyembah Dewa Camazot namun bukannya menolong tapi orang-orang yang tak terkena api itu justru lari menjauh dari orang-orang yang terkena api hitam ku. Selang beberapa menit, orang-orang yang tadinya menggeliat kesana-kemari meminta tolong pada siapapun yang mereka lihat mulai diam tak bergerak dengan api hitam yang masih menyala. “Kalian yang masih hidup!” ucap ku sambil menunjuk ke arah orang-orang yang masih berdiri ketakutan ketika melihat ku. Aku memadamkan api hitam ku agar tak menjalar kepada orang-orang yang masih hidup sekarang. “Kalian tak ku izinkan keluar dari sini, jika ada salah satu dari kalian yang melanggar maka akan ku bunuh kalian semua saat itu juga mengerti,” tambah ku. Orang-orang itu mengangguk sebagai tanda bahwa mereka mengerti tentang apa perintah ku pada mereka. Aku menjadikan mereka sebagai tahanan agar pemimpin organisasi mau mendengarkan apa yang aku katakan dengan nyawa mereka sebagai taruhannya. Aku berjalan menuju altar tempat aku mengurung pemimpin organisasi ini dengan kurungan tanah yang di lapisi dengan api hitam. Terlihat dia meratapi kematian dari Adam dan anggota organisasi nya saat ini, dia hanya meringkuk dalam kurungan seakan tak mau melihat hari esok lagi. Aku berjalan ke arah nya dan menghancurkan kurungan yang aku buat sendiri. “Hey pak tua, lebih baik kau mulai sekarang ritual nya” ucap ku saat telah selesai menghancurkan kurungan itu. “Siapa kau? Kenapa kau bertindak kejam pada organisasi ku?” jawabnya masih dalam posisi meringkukkan badannya. Aku menarik jubah yang di pakainya dan menyeret dia keluar dari sisa-sisa kurungan yang masih ada. Tak ada perlawanan darinya saat aku menyeret dia keluar, aku melemparkannya ke tengah altar agar dia bisa memulai ritual untuk membangkitkan Dewanya sendiri. “Kau pak tua sebaiknya mulai sekarang atau kalau tidak mereka yang masih tersisa akan ku bunuh juga sekarang!” ucap ku sambil menunjuk ke arah orang-orang yang masih hidup. Pemimpin organisasi bangun dari keadaan tengkurap karena aku lempar tadi, keadaannya yang sekarang sama sekali berbeda dengan saat pertama kali aku sampai di sini bahkan menurut ku saat ini dia tak layak menjadi seorang pemimpin. Dia mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menengadahkan nya. Sambil mengucap kan beberapa baris kalimat yang mungkin bahasa yang digunakan sama dengan Adam saat dia membuka segel nya tadi. “Mifohaza tompoko, mifohaza ry andriamanitry ny firenenao rehetra. ekeo ity fanolorana ity ary sazio ny ratsy fanahy ary diso lalana aminao. Mifohaza ry andriamanitra lehibe indrindra eo amin'izao rehetra izao,” ucapnya saat menengadahkan tangannya. Beberapa saat kemudian terasa seluruh ruangan bergetar, dari luar terdengar suara halilintar yang sangat keras hingga masuk ke ruangan ini. Perapian yang berada di depan altar mulai mengeluarkan api yang semakin besar ukurannya. Seluruh darah dan potongan tubuh dari orang-orang yang merupakan anggota dari organisasi ini mulai menyatu menjadi sebuah bulatan bola darah yang semakin lama semakin membesar ukurannya, ukuran dari bola darah itu semakin membesar sampai mencapai ukuran sebesar bangunan guild Reistes. Bola darah itu berhenti tumbuh dan terdiam melayang tepat di tengah-tengah ruangan ini, perapian yang sedari tadi apinya serasa menyambar-nyambar kemana-mana mulai bergerak ke arah bola darah itu dan membungkusnya. “Hei apakah ini sudah berhasil?”tanya ku pada pemimpin organisasi yang sedari tadi bersujud ke arah bola itu. “Iya tuan, ritual ini berjalan dengan sempurna!” jawabnya. “Lalu apakah itu wujud Dewa sialan mu itu? Sebuah bola?” tanya ku kembali. Pemimpin organisasi tak menjawab ku dan terus bersujud ke arah bola darah itu di ikuti dengan para anggota organisasi ini yang juga mengikuti pemimpin organisasi untuk bersujud ke bola darah itu, tak lama kemudian ruangan mulai bergetar kembali namun tak sekuat tadi dengan di ikuti suara yang berasal dari bola darah itu. “Dewa sialan? Ha ha ha Sungguh lucu saat seorang manusia memanggil ku begitu” sebuah suara menggelegar dan berat seperti bicara dengan sebuah monster yang bisa bicara. Bola darah yang di selimuti api itu mulai retak sedikit demi sedikit dan mengeluarkan cahaya dari dalamnya. Retakan demi retakan mulai muncul hingga menyebabkan bola darah itu bergetar dan pecah. Prang... Sesosok makhluk tak biasa muncul dari dalam bola darah tadi yang telah pecah. Sosok yang berwujud manusia namun dengan ukuran yang besar, tingginya mungkin sekitar tiga sampai empat meter dengan kepala yang memiliki telinga lancip keatas berbeda dengan ras elf yang lancip ke samping. Makhluk ini memiliki dua saya lebar yang bentuknya mirip dengan sayap kelelawar namun ukurannya yang sangat besar adalah perbedaan yang sangat signifikan antara keduanya. Makhluk ini sekarang tengah terbang dan menatap ke arah ku dengan pandangan yang merendahkan. “Bocah apa kau yang membangkitkan ku?” tanya dia dengan suara yang bagaikan petir menyambar ke sebuah pohon. Aku sedikit merasa merinding saat dia berbicara kepada ku, suara yang menggelegar dan hawa keberadaan yang sama sekali berbeda dengan mahluk lain yang pernah aku temui di dunia ini membuat ku merasa waspada akan apa yang tengah ada di depan ku saat ini. “Tidak bukan aku tapi orang ini,” jawab ku sambil menunjuk kepada pemimpin organisasi yang bersujud ke arah nya. Pemimpin organisasi mulai mengangkat kepalanya dan berbicara ke pada makhluk itu “Wahai Dewa kami yang paling agung, selamat atas kebangkitan anda setelah beberapa ratus tahun lamanya,” “Maafkan kami tak bisa memberikan penyambutan yang sempurna karena kami tengah di landa kesusahan yang di akibatkan oleh bocah yang ada di samping hamba ini,” tambahnya dengan masih bersujud namun menengadahkan kepalanya. Makhluk itu tersenyum jahat dan mulai mendekat ke arah altar. “Siapa yang menyuruh mu untuk membuka mulut!” ucapnya pada pemimpin organisasi. Pemimpin organisasi terlihat terkejut dan ketakutan saat dia mengatakan itu kemudian menundukkan kepalanya kembali ke tanah. “Tapi karena kau telah membangkitkan ku maka aku akan mengalahkan bocah kecil yang arogan ini sebagai imbalan nya,” tambahnya. Aku yang mendengar hal itu mulai mempersiapkan diri ku untuk menjaga-jaga agar dapat mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi. Makhluk itu terlihat mengalihkan tatapan nya dari pemimpin organisasi menuju ke arah ku sambil menunjukkan senyum jahat dan pandangan yang merendahkan ku. “Sebelum itu makhluk aneh!” ucap ku sambil mengangkat tangan ku ke arah nya. Pemimpin organisasi dan semua anggotanya mengangkat kepalanya dan menoleh kearah ku sambil menunjukkan ekspresi terkejut dengan apa yang aku katakan. Aku tak menghiraukan kelakuan mereka saat ini dan terus mengatakan hal yang ingin ku katakan. “Kau siapa makhluk aneh, bukankah ritual ini untuk membangkitkan Dewa sialan yang mereka sembah dan mereka kagumi?” tanya ku pada makhluk itu. “Tapi kenapa malah makhluk aneh seperti kau yang muncul?” tambah ku. Aura hitam yang terlihat jelas keluar dari tubuh makhluk itu, aura yang berbentuk seperti asap tebal yang berwarna hitam melebihi dari kegelapan malam. Makhluk itu terlihat sangat marah ketika aku mengatakan hal tadi dengan jelas kepadanya, terlihat dari seluruh urat di leher dan kepalanya membesar dan di ikuti dengan bunyi gertakan dari gigi yang berbenturan. Aku sebenarnya sudah mengetahui bahwa makhluk yang saat ini melayang di depan ku dengan tatapan kebencian yang mendalam kepada ku adalah Dewa dari organisasi ini. Aku bisa mengetahuinya karena penampilan dari makhluk ini sama dengan patung besar yang ada di altar ini namun ukuran sebenarnya sedikit lebih kecil dari pada patung itu. Aku mengatakan hal yang mengejek nya dengan tujuan membuat makhluk ini marah dan kehilangan kesabaran. Semakin tinggi derajat suatu makhluk maka akan semakin mudah membuatnya marah dan semakin dikuasai oleh kemarahan maka untuk mengalahkannya adalah hal yang sangat mudah untuk di lakukan. “Ha ha ha kau sangat pandai dalam berkata bocah b******n,” ucap nya sambil tertawa dengan keras yang mengakibatkan serpihan tanah mulai berjatuhan dari atas ruangan seiring kerasnya dia tertawa. “Baiklah sebelum kau aku cincang-cincang untuk ku jadikan makanan binatang magis, aku akan memperkenalkan diri ku terlebih dahulu,” lanjut dia dengan telunjuk yang dihiasi dengan kuku tajam yang di arahkan kepada ku. Makhluk itu terbang sedikit meninggi dari dan melipatkan kedua tangannya di atas dadanya. “Aku adalah Camazot seorang Dewa yang mengatur seluruh kehidupan dari manusia, takutlah akan nama ku dan kau akan mati tanpa kesakitan,” ucapnya dengan mengangkat tangannya ke atas dan menunjukkan ekspresi jahat yang sama sekali tak menyenangkan. Saat mendengar bahwa dia adalah Dewa yang mengatur kehidupan dari manusia, kemarahan ku memuncak dan rasa untuk mencengkeram lehernya saat ini hampir tak bisa ku tahan. Namun aku berusaha untuk tenang agar tak terbawa emosi, tapi tetap saja ada kemungkinan bawah Dewa ini yang mengatur takdir dari seluruh manusia di dunia atau bahkan dia berbohong saat mengatakan itu semua. Tapi hal itu akan terbongkar saat aku telah mengalahkannya, untuk saat ini aku cukup berpikir cara untuk bertahan dari serangannya dan menyerang balik untuk mengalahkannya. “Apa kau sudah selesai? Leher ku sakit menatap kau dari sini, lebih baik kau turun dan hadapi aku sekarang juga! l” ucap ku pada makhluk itu. Dia turun dari terbang nya secara perlahan dan menunjukkan ekspresi yang di penuhi kemarahan mendalam kepada ku. Sepertinya usaha ku untuk membuatnya marah berhasil kulakukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN