Makhluk ini sekarang berdiri di hadapan ku dengan tatapan merendahkan dan emosi yang meluap-luap dimana itu terasa seakan menusuk-nusuk tubuh ku dengan ribuan jarum. Aku tak bergeming sedikit pun meskipun makhluk ini mengeluarkan kepercayaan diri yang begitu besar saat berhadapan dengan ku.
“Dengarlah bocah, aku tak butuh pukulan untuk membunuh mu bahkan sebuah kata-kata mutlak dari ku akan membunuh mu saat itu juga,” ucap nya sambil menatap ku tajam.
“Intinya saat ku bilang mati maka kau akan mati, jadi pahamilah akan kasta mu bocah dari makhluk rendahan,” tambahnya.
Aku tersenyum kecil saat dia mengutarakan perkataannya kepada ku, dengan berani aku menatap kembali mata darinya yang sedari tadi menatap ku seperti seekor singa yang melihat rusa kecil yang sedang memakan rumput. Dia menunjukkan ekspresi yang siap menerkam ku kapan saja, namun aku sudah bersiap akan semua hal yang akan terjadi.
“Hoo kau begitu percaya diri ya!” ucap ku sambil menatap balik dirinya.
“Kenapa tak kau coba kekuatan pengendali kehidupan mu pada ku makhluk aneh yang tak paham tempat,” tambah ku.
“Kau sungguh hebat dalam membuat diri ku marah nak, tadinya aku ingin menjadikan mu sebagai b***k ku, tapi aku akan membunuh mu sekarang juga!” jawabnya sambil mengepalkan tangannya.
“Matilah bocah!” ucapnya sambil mengarahkan tangannya kepadaku.
Aku hanya mengamati apa yang dia lakukan sekarang kepada ku. Dia seperti merapalkan suatu sihir agar bisa membuat ku mati hanya dengan mengangkat tangannya saja. Namun sepertinya hal yang di lakukan nya sia-sia karena sama sekali berefek pada ku.
“Hoi apa yang sebenarnya kau lakukan?” ucap ku menyadarkan dia kembali.
Makhluk itu membuka matanya dan terkejut saat melihat ku, kedua matanya menatap tajam ke arah ku seolah tak percaya akan kenyataan yang terjadi di depan matanya.
“B-bagaimana bisa? Kenapa kau masih hidup?” ucapnya dengan ekspresi penuh kebingungan.
Semua orang yang masih hidup sangat terkejut saat dia mengatakan hal itu, pemimpin organisasi sepertinya tau akan apa yang dia lakukan tadi kepada ku namun sepertinya itu tak berefek kepada ku. Makhluk itu berjalan ke arah pemimpin organisasi dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada ku tadi. Dia mengangkat tangannya dan mengarahkannya kepada pemimpin organisasi sambil merapalkan beberapa kata yang tak bisa kudengar.
Sesaat setelah dia melakukan hal itu, pemimpin organisasi mulai berteriak keasakitan dan menggeliat kesana kemari seperti halnya ulat yang di bakar menggunakan api. Pemimpin organisasi menengadahkan kepalanya ke arah atas sambil mencekik lehernya sendiri, terlihat tubuh dari pemimpin organisasi meleleh seperti halnya plastik yang di bakar dengan api. Perlahan namun pasti tubuh dari pemimpin organisasi meleleh dan dia masih berteriak kesakitan akan hal itu. Aku tidak pernah mendengar atau pun pernah membaca tentang adanya sihir semacam ini di dunia ini. Memang ada sihir yang menyembuhkan luka dengan memanfaatkan elemen dari sihir namun jika sihir yang seperti di keluarkan oleh makhluk yang bernama Camazot ini aku tak pernah tau akan sihir itu. Namun aku berusaha tenang dalam keadaan ini dan hanya memperhatikan apa yang dia lakukan.
“Harusnya ini yang terjadi saat aku menggunakan sihir ini namun kenapa malah tak berfungsi pada mu bocah?” ucapnya sambil menoleh ke arah ku.
“Aku tak percaya bahwa ada manusia yang kebal dari sihir kutukan ku,” tambahnya semakin marah.
Aku tak pernah tau tentang adanya sihir kutukan seperti itu, jika sihir seperti ini memang ada maka tidak memungkinkan untuk mengetahui dan mempelajari sihir sihir lain yang belum pernah ku dengar namanya. Makhluk itu menatap kedua tangannya seakan tak percaya bahwa aku memang kebal terhadap sihirnya. Aku tak tau apa yang menyebabkan aku kebal terhadap sihir kutukannya namun hal ini membuat ku memiliki keuntungan.
“Apa hanya seperti ini kekuatan dari Dewa Camazot?” ucap ku padanya.
“Aku tak percaya bahwa kau di sebut sebagai Dewa dengan kekuatan lemah ini?” tambah ku.
Mendengar perkataan ku ini Dewa Camazot terlihat semakin murka dan hawa membunuh darinya terasa semakin pekat pada ku, bahkan di karena kan hal itu beberapa dari anggota organisasi roboh dan pingsan di tempat karena tak kuat menahan hawa membunuh yang sangat kuat ini. Aku telah mengeluarkan pedang ku untuk berjaga-jaga mengantisipasi serangan yang akan dia lakukan terhadap ku.
Dia bergerak dengan kecepatan yang sama sekali tak bisa ku ikuti pergerakannya kemudian mencengkeram tubuh ku dengan tangannya yang besar. Dia mencengkeram dengan sangat kuat hingga aku tak dapat melakukan apapun terhadapnya.
“Memang nya kenapa kalau kau kebal dengan sihir kutukan?” ucapnya sambil menunjukkan ekspresi yang dipenuhi oleh kemurkaan yang mendalam terhadap ku.
“Aku akan membunuh mu dengan perlahan melalui metode ku sendiri,” tambahnya.
Dia mengambil ancang-ancang dan dengan sekuat tenaga melemparkan ku ke dinding ruangan yang berada jauh dari altar ini. Aku yang terlempar berusaha untuk mengurangi benturan dengan cara menstabilkan tubuh saat di udara dan mencoba menggunakan kedua kaki ku untuk mendarat di dinding, hasilnya aku mendarat di dinding dengan benturan yang tak terlalu kuat dan hanya menyebabkan sedikit rasa sakit di kaki ku.
Aku melihat ke arah Dewa Camazot yang sedang merintih kesakitan dengan luka robek di tangannya yang menyebabkan antara jari tengah dan jari manisnya tidak menyatu di karena kan serangan ku pada saat dia akan melempar ku. Aku menyerang tangannya di saat dia melempar ku hingga tangannya robek dan meneteskan banyak darah.
“K-kau b-bocah!” ucapnya sambil memegangi tangan kanannya yang terluka parah.
Dia terbang ke arah ku dengan kecepatan tinggi namun tak secepat sebelumnya dan dia meraih leher ku kemudian membenturkan ku ke langit-langit ruangan yang menyebabkan langit-langitnya retak.
Brakk...
Braakk...
Dia membenturkan ku beberapa kali ke langit-langit yang sama namun semua luka yang di berikan olehnya segera sembuh dengan sepenuhnya tanpa membuat aku kelelahan atau pun merasakan efek samping yang lain. Dewa Camazot semakin murka melihat tak ada serangannya yang menyebabkan aku terluka atau pun membuat aku mati sekaligus.
“Ahhhhhhh siapa sebenarnya kau bocah!?” ucapnya sambil teriak kesal.
Teriakan nya terdengar seperti angin segar terhadap ku karena meskipun luka ku langsung sembuh setelah beberapa saat menerima serangan tapi rasa sakit yang di akibatkan oleh serangan itu masih sangat terasa oleh tubuh ku hingga menyebabkan beberapa kali aku hampir kehilangan kesadaran.
“Cukup sudah kita bermain!” ucap ku sambil memotong tangan kanannya yang terluka.
Dewa Camazot tak bisa menghindar dari serangan ku dan akhirnya berakhir pada terpotongnya lengan kanan miliknya oleh pedang ku.
“Ahhh b******n!” teriaknya saat berhasil memotong tangan kanannya.
Dia tak terlihat menyerah dan terus menghujani ku dengan sihir tanah miliknya, sihir darinya memiliki kesamaan seperti yang Adam keluarkan pada ku namun bentuk dan kecepatannya sangat berbeda jauh antar keduanya. Sihir itu bukanlah hal yang merepotkan untuk di hadapi namun dirinya yang tengah dalam keadaan terbang lah yang membuat ku kesal karena sangat sulit untuk di capai oleh lompatan ku. Sebelumnya saat aku memotong lengan kanannya itu, sebenarnya aku menargetkan salah satu sayapnya agar dia tak bisa terbang lagi namun dia bisa menyadarinya dan mengorbankan lengan kanannya agar sayap yang di miliki nya tak terpotong. Akibatnya kombinasi antara sihir dan tubuhnya yang tebang sangatlah membuat ku kerepotan. Namun hal yang membuat ku bingung adalah apakah hanya seperti ini kekuatan dari seorang yang di puja dan sembah sebagai dewa bagi orang-orang ini.
“Hei kelelawar tua, sini turun dan hadapi aku!” teriak ku sambil berlindung di dinding tanah berlapis untuk melindungi diri agar tak terkena sihir dari Dewa Camazot.
Dewa Camazot saat ini terlihat semakin marah di tandai dengan mukanya yang semakin merah dan urat-urat di leher dan pelipis nya semakin membesar. Tapi bukannya turun ke bawah dan menghadapi ku dia malah semakin memperbesar dan memperbanyak jumlah frekuensi sihirnya yang mengharuskan aku untuk semakin mempertebal dinding pertahanan ku agar dapat melindungi diri.
“Kau manusia sadarilah tempat mu!” teriaknya sambil melihat ku dengan tatapan marah.
Sambil berlindung dari sihir yang di keluarkan oleh Dewa Camazot saat ini, aku membuat tombak dari tanah seperti halnya tombak yang di keluarkan Adam dan berhasil mengenai tangan ku, namun aku membuatnya sedikit lebih panjang dan lebih melancip lagi agar saat ku lemparkan pada Dewa Camazot lintasan serangannya tak terganggu meskipun telah mengenai sihir tanah dari nya.
Di saat-saat dihujani oleh sihir Dewa Camazot, aku memprediksi tempat yang tepat untuk meluncurkan tombak ku ke arah nya. Aku menggunakan sihir elemen tanah dan angin untuk memeriksa semua lintasan dari sihir Dewa Camazot.