Melawan Camazot

2561 Kata
Aku menemukan celah dari sihir beruntun milik Dewa Camazot yang dia lancar kan pada ku saat ini, aku bersiap menunggu saat-saat ketika celah itu muncul kembali setelah beberapa saat. Di saat waktu yang tepat aku keluar dari dinding perlindungan ku dan melemparkan tombak tanah yang aku buat dengan sekuat tenaga ku ke arah Dewa Camazot atau tepatnya di pangkal sayap bagian kiri miliknya. Swossshh.... Tombak tanah ku melesat dengan sangat cepat dan menghancurkan sihir Dewa camazot yang menghalangi lintasan dari tombak ku. Dewa Camazot sama sekali tak menyadari akan tombak ku yang aku lemparkan sekuat tenaga tadi, dia berfokus untuk memberhentikan pendarahan di lengannya yang aku potong sembari mengeluarkan sihir secara terus menerus. Crassshhh..... Tombak yang aku lempar mengenai pangkal sayapnya tepat seperti yang aku bidik hingga menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah seperti burung yang tertembak di udara. “ Ahhhhhh” Teriak Dewa Camazot saat tombak ku mengenai sayapnya. Dewa Camazot terjatuh ke tanah dengan cukup keras hingga meninggalkan bekas yang cukup besar di tanah. Dia merintih kesakitan sambil berusaha berdiri dari keadaan jatuhnya. Aku mengamati dia dari sebelah dinding perlindungan yang aku buat, terlihat sayap yang terkena tombak ku patah dan terpotong seperti terkena tebas oleh pedang. Dewa Camazot saat ini berdiri menghadap ke arah ku dan mulai membuat pedang tanah di tangan kirinya. “ Akhirnya kau turun juga, leher ku sampai kaku karena terus menengadah ke atas tau” ucap ku sambil mengacungkan pedang ke arah nya. Pedang yang Dewa Camazot telah selesai di buat dan dia mengambil ancang-ancang untuk menyerang ku. Aku juga bersiap untuk menyerangnya namun seharusnya dengan keadaan seperti ini dia tak akan memberikan banyak perbedaan dengan sebelumnya. Setidaknya itu pikiran ku saat akan beradu pedang dengannya. Kami berdua melesat dengan cepat untuk memendekkan jarak masing-masing, sembari bergerak aku menyiapkan gerakan pedang pembuka untuk menyerang dia namun sama halnya dengan ku dia melakukan hal yang sama sehingga menyebabkan pedang kami berbenturan di saat sudah bertemu. Pedang ku dan Dewa Camazot mengeluarkan percikan api di saat bertemu, mata kami bertemu satu sama lain dengan memancarkan kebencian yang mendalam antar sesama. Karena perbedaan massa tubuh, Dewa Camazot menghempaskan pedangnya sehingga membuat ku sedikit terlempar dengan mengangkat pedang, namun aku berusaha menjaga keseimbangan dengan memutar tubuh ku ke belakang dan menyerang baliknya dengan memanfaatkan keseimbangan ku yang mulai kembali normal. Namun serangan itu bisa di tangkis nya dengan mudah dengan membuat tangan buatan dari tanah untuk menggantikan lengannya yang aku potong. Aku tak menyangka akan menjadi seperti ini dimana aku tadinya berpikir bahwa aku memiliki keunggulan namun sekarang malah jadi berbalik seperti ini. “ Ha ha ha matilah sekarang bocah !!” ucap nya sambil menahan pedang ku dengan tangan buatannya. Dia memegang pedang ku dengan tangan buatannya dan menariknya sehingga tubuh ku juga ikut tertarik ke arah nya. Dengan kuat dia menendang ku di bagian dagu sehingga membuat ku terlempar jauh ke udara. Aku berhasil menjaga kesadaran ku saat di udara dengan menggigit bibir bagian bawah ku hingga mengeluarkan darah. Aku mendarat dengan sempurna di tanah karena berhasil mempertahankan kesadaran diri ku namun tak memberi kesempatan untuk ku beristirahat walau hanya sekedar menghirup nafas, Dewa Camazot meluncurkan sihir tanah seperti tadi saat dia masih memiliki dua buah sayap dan terbang di atas sana. “ Astaga setidaknya beri aku kesempatan untuk berdiri dengan benar dong !” ucap ku sambil menyerang dan menghindari sihirnya se bisa ku. Hanya ada beberapa luka gores di bagian tubuh ku yang di sebabkan oleh sihir tadi karena belum terlalu siap untuk menghadapinya. Aku menyadari bahwa sihir tadi hanyalah sebagai pengecoh, Dewa Camazot bergerak bersamaan dengan sihirnya yang mengarah kepada ku. Dia mencoba menebaskan pedangnya ke arah kepala ku namun masih bisa ku hindari dengan menggulingkan diri ke arah depan melewati s**********n nya yang terbuka lebar, aku langsung berdiri di belakangnya dan menebaskan pedang ku di bagian punggungnya. Namun dia bisa menahan serangan mendadak ku dengan tangan baru nya. Dia menendang ku lagi dengan kuat namun masih bisa ku tahan dengan punggung pedang ku, aku hanya terhempas sedikit ke arah belakang. Dewa Camazot membalikkan badannya ke arah ku dan menunjukkan muka yang di penuhi ekspresi murka. Dia menjatuhkan pedang tanahnya ke bawah dan menatap ku tajam, Camazot merentangkan kedua tangannya dan seperti merapalkan sesuatu yang tak bisa ku dengar. Sesaat dia telah merapalkan mantra yang tak bisa aku dengar, tubuhnya mulai berubah bentuk dari manusia berubah menjadi seperti campuran manusia dan kelelawar. Tubuhnya yang tadinya persis manusia, mulai mengeluarkan bulu seperti layaknya kelelawar dan giginya mulai berubah menjadi taring yang cukup panjang ukurannya. Mata Camazot yang sedari tadi adalah mata yang sama dengan manusia mulai berubah warna menjadi merah menyala saat menatap ku. Di tubuhnya mulai tumbuh tangan-tangan baru yang jumlah keseluruhannya adalah 4 buah tangan dengan bahan utama adalah tanah. Kaki yang tadinya mirip dengan manusia mulai berubah menjadi seperti kelelawar dengan cakarnya yang cukup besar dan terlihat tajam. Aku sangat terkejut ketika melihat perubahannya ini karena sosok nya yang sekarang lebih cocok untuk di sebut Monster dari pada Dewa. Namun dengan berubah nya sosok Camazot maka aku menyimpulkan bahwa dia telah serius dalam melawan ku. Dia berhenti bertransformasi dan menatap ku tajam kembali, dengan senyum jahat dan rasa percaya dirinya yang terpancar jelas dari sosok barunya saat ini. “ Haaaaa akhirnya rasa nyaman ini, bocah kuanggap kau beruntung bisa melihat sosok ku yang seperti ini” ucapnya. “ Kau boleh membanggakan diri mu karena bisa memaksa ku untuk menggunakan sosok ku yang sekarang” tambahnya dengan sambil tersenyum jahat ke arah ku. Melihat dia yang sangat percaya diri seperti itu maka ku simpulkan bahwa saat ini dia ada di kondisi terkuatnya. Aku berpikir untuk mengejek nya kembali karena sosok yang sekarang sama sekali tidaklah pantas untuk seorang Dewa yang di sembah-sembah oleh ribuan orang. “ Hooo akhirnya kau berubah sepenuhnya menjadi seekor Monster !” ucap ku sambil menatapnya dengan tatapan yang mengejek. Terlihat dia mengkerutkan dahinya dan senyum yang tadi terlihat sudah tak dia tunjukkan ketika aku mengatakan hal itu kepadanya. “ Dari seluruh makhluk hidup yang pernah bertarung dengan ku, hanya kau lah yang membuat ku se murka ini bocah” jawabnya. Dengan senyum cengengesan aku menjawab kembali pernyataannya “ Terima kasih kalau begitu”. Camazot mulai merentangkan keempat tangannya dan tanah yang ada di sekitarnya terlihat tumbuh ke atas tepatnya ke bagian satu persatu tangannya. Perlahan namun pasti sebuah pedang mulai terbentuk di setiap tangan Camazot. Berbeda dengan bentuk dan tekstur pedang yang dia gunakan awalnya, pedang yang sekarang seperti layaknya pedang yang di tempa oleh blacksmith yang sangat berpengalaman, ukuran pedang dan keseimbangan nya terlihat sempurna dengan tubuh Camazot yang sekarang. Bulu kuduk ku bergidik saat semua pedangnya selesai, seluruh indra ku berteriak untuk menghindar dengan cepat dari tempat ini. Dan benar saja, dengan kecepatan yang sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya, Camazot menyerang ku dengan pedang di tangan kirinya namun meleset hingga meninggalkan bekas yang cukup besar di tanah. Setelah berhasil menghindari serangan tadi, aku bergerak sedikit menjauh darinya untuk mempersiapkan diri dari serangan kejutan lainnya, namun tak sempat aku bergerak selangkah lagi, Camazot sudah di samping ku dengan pedang yang berhasil melukai ku di bagian punggung di ikuti dengan serangan ke arah leher ku namun bisa ku hindari dengan memiringkan tubuh. Aku melompat ke arah belakang untuk mengambil momentum kembali sembari memegangi punggung ku yang terkena tebasan pedangnya tadi. “ Oh akhirnya kau serius ya” ucap ku sambil melihat tangan ku yang di penuhi darah setelah memegang punggung ku yang terluka tadi. Aku baru menyadari bahwa tubuh ku terasa semakin berat untuk di gerakkan dari pada biasanya dan kemampuan memulihkan luka ku semakin melambat dan melemah, luka-luka kecil yang di akibatkan oleh sihir yang menghujani ku tadi tak kunjung sembung dan masih mengeluarkan darah sehingga mengganggu konsentrasi ku dan aku semakin tak fokus pada Camazot. Serangan demi serangannya hanya bisa ku tahan dan ku hindari tanpa bisa menyerang balik kepadanya dan jelas saja ini kerugian yang parah untukku. “ Ohh apa kau menyadarinya bocah ?” ucap Camazot saat dia menyadari aku sedang memegang luka yang di berikan nya. “ Apa maksud mu ?” tanya ku padanya. “ Sihir tanah ku yang memberikan luka-luka kecil padamu itu telah ku masukkan sihir kutukan, yah pada akhirnya tak ada manusia yang kebal terhadap sihir kutukan !” jawabnya sambil menatap tajam ke arah ku. Hal itu menjelaskan tentang luka ku yang tak kunjung sembuh, sihir kutukan nya bisa masuk ke dalam tubuh ku melalui luka yang di buatnya. Di saat berdiri menatap tajam ke arah Camazot, aku teringat akan ucapan dari Varen pada ku saat kami bertemu. “ Fokus Arvin, Fokus lah ke keseluruhan dari lawan mu bukan hanya dari sebagian besar saja tapi semua hal” itulah hal yang aku ingat dengan pasti saat bertemu dengannya. Aku mengendurkan bahu ku yang tegang sedari tadi dan mulai mengatur nafas dengan sempurna, aku membuka mata ku dan menatap ke seluruh tubuh Camazot. Cara dia berdiri, cara dia memegang pedang, jarak serangan antara satu tangan dan tangan lainnya. Semua aku perhatikan dengan seksama agar kejadian yang sama tak terulang kembali. Setelah aku yakin akan semua gerakan yang akan aku lakukan saat menyerangnya, aku mulai mengkonsentrasikan diri untuk mengaktifkan api hitam milik Varen yang di wariskan kepada ku. Aku membayangkan sebuah jubah pelindung yang menutupi seluruh tubuh ku. Blarrr.... Api hitam mulai keluar dengan sangat membara seperti membakar diri ku di dalamnya, namun yang terjadi sebenarnya adalah api hitam itu keluar dengan sangat kuat di saat kekuatan ku naik drastis ketika membunuh ribuan orang disini. Api hitam ku semakin menguat dari sebelumnya sehingga perlu mengeluarkan beban lebih agar tak membahayakan tubuh ku sebagai penggunanya. Camazot yang melihat kejadian ini terdiam mematung sambil menatap api hitam membara dengan diri ku sebagai pusatnya. “ Api macam apa itu? Warnanya dan panas yang di keluarkan sama sekali tak wajar !” ucapnya saat melihat aku mengeluarkan api hitam itu. Api hitam yang sedari berkobar dengan besarnya sampai ke langit-langit ruangan ini perlahan-lahan semakin mengecil hingga membentuk jubah yang menutupi diri ku. Zirah hitam kelam dengan kobaran api hitam di setiap bagiannya di tambah pedang ku yang juga di selimuti oleh api hitam ini. Aku merasa tubuh ku semakin ringan secara perlahan-lahan setelah api hitam ini keluar dari tubuh ku. Namun luka-luka yang ku dapatkan belum juga pulih, mungkin aku harus mengalahkan Camazot terlebih dahulu agar kemampuan memulihkan diri ku bisa kembali lagi seperti semula. Aku berdiri mengacungkan pedang ku yang di selimuti api hitam ke arah Camazot yang berdiri penuh keringat saat ini. “ Ayo kita mulai Monster jadi-jadian !” ucap ku pada Camazot. Mendengar hal itu Camazot bergerak dengan kecepatan tinggi sambil menebaskan pedangnya ke arah ku dengan tangan kanannya tepatnya tangan kanan yang baru dia tumbuhkan. Aku juga bergerak ke arah nya sambil menghindari serangannya dan memotong lengan kanannya yang berusaha menyerang mu. “ Gaaaaahhhh” teriaknya saat aku memotong tangannya. Kurasa meskipun tangannya terbuat dari tanah tapi dia masih bisa merasakan sakit seperti halnya bagian tubuh aslinya yang di potong. Api hitam masih membakar tangan yang sudah tergeletak di tanah dan bagian yang masih tersisa di tubuhnya. “ Ahhh ahhh api apa ini... ini sangat panas dan menyakitkan... aaaahhhhh !!” teriaknya sambil berusaha mematikan kobaran api hitam di bagian lengan yang masih tersisa. Aku berinisiatif untuk mematikan api hitam ku yang masih berkobar di tubuhnya itu. Sungguh pemandangan yang menyenangkan yang di buatnya saat dia merintih kesakitan saat apinya padam. “ Hey berdirilah, mana rasa percaya diri mu tadi haaa?” ucap ku sambil mengacungkan pedang ku ke arah kepalanya. Muka Camazot semakin memerah dan dia berusaha berdiri dengan menahan sakit yang aku berikan, dia mengambil pedangnya kembali dan mulai menyerang ku. Sebuah serangan memutar dengan tiga pedang yang di pegang nya saat ini di arah kan ke leher, kepala dan pinggang ku. Aku mencoba tak bergerak dan membiarkan semua serangan Camazot mengenai ku, Camazot semakin marah ketika aku hanya terdiam saat dia melihat ku hanya diam ketika dia menyerang. “ Jangan meremehkan ku bocah !!” teriak nya sambil memperkuat serangannya. Ketiga pedang Camazot mengenai jubah yang aku kenakan dan berakhir dengan hancur nya pedang yang di gunakan begitu mengenai diri ku. Aku hanya merasakan pukulan dari tiga tongkat yang di pukul kan ke pada ku, hal itu hanya membuat ku sedikit bergeser dari tempat ku berdiri. Aku menatap tajam dia balik saat ketiga pedang nya hancur begitu mengenai ku. Camazot terlihat ketakutan saat aku memandangnya sehingga secara refleks dia melompat ke arah belakang menjauhi ku. “ Apa kau sudah selesai? “ ucap ku pada Camazot. Camazot terlihat akan melarikan diri dari sini karena dia berlari menuju tangga keluar dari sini yang ada jauh di belakangnya. Aku memikirkan bahwa jika dia berhasil keluar dari tempat ini orang-orang yang ada di luar sana pasti akan dalam bahaya bahkan akan ada korban jiwa yang mungkin tidak sedikit. Dan benar saja dia mulai berlari dengan cepat ke arah tangga itu, aku dengan sigap bergerak ke arah nya dengan kecepatan tinggi kemudian memotong kedua kakinya dalam saat yang bersamaan. “ Gahhhh..... apa yang kau lakukan bocah br3ngsek !” teriaknya saat kedua paha miliknya aku potong secara bersamaan. “ Haaah? Binatang bodoh aku lah yang seharusnya bertanya itu, apa yang akan kau lakukan ha?” ucap ku sambil menghampirinya. Aku tak membuat bagian tubuhnya yang aku potong terbakar kali ini karena aku takut dia mati karena merasakan sakit yang berlebihan. Terlihat kedua pahanya langsung matang dengan sedikit darah yang mengalir keluar akibat aku potong menggunakan pedang yang di selimuti oleh api hitam. Namun dia masih meronta-ronta kesakitan dengan apa yang aku buat. Namun hal itu sama sekali tal membuat ku luluh atau pun merasa kasihan terhadapnya. Ccrashhhh... Aku memotong sayapnya yang masih tersisa satu setelah yang sebelah nya telah terpotong oleh tombak ku. “ Gaaahhhh Itu sangat sakit” teriaknya meronta-ronta kesakitan. “ Sekarang dengarkan aku dan jawab pertanyaan ku, jika kau beruntung maka kau akan ku biarkan hidup” ucap ku sembari menginjak tubuhnya menandakan bahwa dia sekarang bukanlah apa-apa lagi bagi ku saat ini. Camazot berhenti meronta-ronta namun di ganti dengan tangisan tersedu-sedu yang dia keluarkan untuk meminta ampunan dari ku. “ Hiks.. hikss tolong ampuni aku tuan, tolong biarkan aku hidup” pintanya secara putus asa. “ Hei berhenti menangis dan jawablah pertanyaan ku, jika kau masih menangis maka akan ku akhiri hidup mu sekarang juga !!” ucap ku pada Camazot. Setelah mendengar perkataan ku pun dia langsung memberhentikan tangisan nya. “ Kau bilang kau mengatur kehidupan dari manusia, apa itu termasuk takdir atau kau yang mengatur takdir bagi manusia ?” tanya ku pada Camazot. “ Aku memang mengatur kehidupan manusia namun itu terjadi saat aku menanamkan kutukan padanya, saat aku menanamkan kutukan maka hidup dan mati dari manusia itu ada di tangan ku” jawab Camazot. “ Aku tak tahu menahu tentang takdir manusia” tambahnya. Aku mengangguk-angguk saat dia pertanyaan ku, namun hal lain masih mengganjal di pikiran ku karena sebagai seorang Dewa Camazot terlalu lemah bahkan mungkin hanya sedikit lebih kuat dari petualang tingkat A. “ Apa kau benar-benar seorang Dewa ?” tanya ku kembali pada Camazot. Dia terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan ini namun saat dia menoleh ke arah ku dengan pedang ku yang siap menebas kepalanya, dia pun akhirnya menjawab. “ Aku memang seorang Dewa Tuan namun peringkat ku ada di bagian paling terbawah sehingga tak terkenal bagi para Dewa lainnya atau pun sebagian manusia” jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN