Akhir dari organisasi sesat

1500 Kata
Saat ini Camazot terkapar di tanah tapa bisa melakukan apapun terhadap ku, orang-orang dari anggota penyembah Dewa Camazot melihat ke arah Dewa mereka yang sedang aku injak dengan salah satu kaki ku tanpa menunjukkan rasa kasihan sedikit pun. Aku sebelumnya telah bertanya beberapa pertanyaan yang mengganjal di pikiran ku namun masih ada satu pertanyaan utama yang belum aku tanyakan pada Camazot. “Sekarang yang terakhir, apa Tuhan itu ada?” tanya ku pada Camazot. Camazot terlihat kebingungan dengan hal yang aku tanyakan, dia tak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungannya terhadap apa yang aku tanya kan. “Maafkan aku, aku tak tau apa itu tuhan,” jawab Camazot. “Kalau begitu siapa pemimpin dari para Dewa?” tanya ku balik. Camazot memperlihatkan ekpresi ketakutan yang sangat mendalam ketika aku menanyakan hal ini. Telinga yang tadinya tegap berdiri layaknya sebagaimana kelelawar biasa, sekarang mulai layu di ikuti dengan tubuh yang gemetaran. “A-aku t-tak tau siapa pemimpin para Dewa!” jawabnya gelagapan dengan tubuh yang menggigil. Karena tak memperoleh jawaban yang aku inginkan, maka aku menggunakan metode kekerasan untuk membuat dia bicara dan menjawab pertanyaan ku. “Bukan begitu cara mainnya,” ucap ku sambil meletakkan pedang ku di ketika tangan kiri bawahnya. “Bukankah aku sudah bilang kau akan ku biarkan hidup jika kau beruntung, tapi kau malah membuang keberuntungan mu,” tambah ku sambil menarik dan menebaskan pedang di tangan kiri dari Camazot. Camazot meronta-ronta kesakitan sesaat setelah aku memotong tangan kiri yang baru dia tumbuhkan, namun dia masih saja tak menjawab pertanyaan ku tentang pemimpin para Dewa. “Jadi siapa pemimpin para Dewa?” tanya ku kembali. Camazot berusaha menutup mulutnya dengan air mata yang mengalir deras di karena kan merasakan sakit yang luar biasa. Aku memotong kembali tangannya yang masih tersisa sehingga membuat dia kembali meronta-ronta karena kesakitan. “Masih belum mau menjawab? Baiklah kalau begitu, toh tangan mu masih ada satu,” ucap ku meloncat ke samping tubuhnya yang masih tersisa tangan terakhirnya. Aku memotong kembali tangan terakhir yang tersisa dengan presisi, darah muncrat keluar dari kedua bagian yang baru saja terpisah. Namun hal itu belum membuat Camazot membuka mulutnya bahkan dia terlihat putus asa saat ini. Aku berinisiatif menggunakan api hitam ku pada pedang yang ku gunakan kemudian menusukkannya secara perlahan ke punggung Camazot yang terbuka lebar saat ini. Camazot terlihat sangat ketakutan saat melihat api hitam yang berkobar sangat besar di pedang ku saat ini, di saat-saat beberapa senti meter lagi pedang ku akan bertemu dengan punggungnya, dia langsung memberhentikan aku dan memohon pada ku. “Tidak tolong jangan api itu, itu bahkan lebih sakit dari di potong menggunakan pedang,” pintanya dengan memelas. “Ohh jadi akhirnya kau mau bicara? Tau begini aku menggunakan api ini dari tadi!” ucap ku sambil menarik kembali pedang ku. “Sekarang jawab aku siapa pemimpin para Dewa?” tambah ku. Camazot masih saja terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan ku, namun saat melihat aku memperbesar kobaran apinya dia terlihat pucat pasi dan menyerah hingga akhirnya menjawab pertanyaan ku. “Aku tak bisa menyebutkan nama tapi pemimpin dari para Dewa adalah Dewa yang paling kuat, paling kejam dan paling baik hati. Aku tak pernah bertemu dengannya karena kasta ku yang sangat rendah bahkan aku tak bisa menemui Dewa kelas menengah dengan kasta ku!” jawab nya. Aku yang tak puas dengan jawaban itu memerintahkan Camazot untuk menyebutkan nama dari pemimpin para Dewa. “Katakan namanya maka kau akan ku biarkan hidup,” perintah ku kembali. “Apa kau tak mendengarkan ku bocah? Aku tak bisa menyebutkan namanya, jika aku melanggar itu dan menyebutkan nama dari pemimpin para Dewa maka keberadaan ku akan di hapuskan dan aku bahkan tak bisa di bangkitkan kembali!” jawab Camazot dengan berteriak kasar. “Aku tak peduli dengan apa yang akan terjadi pada mu, jawab saja atau kau akan merasakan api hitam yang sangat kau sukai ini!” ucap ku sambil mengobarkan api hitam di samping kepala miliknya. Camazot masih teguh terhadap pendiriannya dan tak mau mengatakan nama dari pemimpin para Dewa. Aku sangat kesal dengan sikapnya yang sekarang sehingga aku menusukkan pedang ku dengan kedalaman yang tak membahayakan karena hanya untuk menaruh api hitam ku di punggungnya. Sekitar 4 tusukan ku sebarkan di punggung bagian atas dan punggung bagian bawahnya, api hitam yang barusan kecil mulai membesar sedikit demi sedikit seiring waktu. Camazot berteriak meronta-ronta kesakitan sambil berusaha mengguling-gulingkan tubuhnya yang hanya memiliki kepala. “Gahhh tolong aku ini sangat panas ahhhhh!” teriaknya meronta-ronta. Aku menghiraukan teriakan nya dan berdiri di sampingnya untuk memastikan bahwa api hitam ku menyebar dengan sepenuhnya. Camazot mulai tak menggerakkan tubuhnya dan juga tak mengeluarkan suara yang membuat ruangan di sini terasa sangat sunyi. Aku berjalan meninggalkannya di saat seluruh api ku sudah menyebar ke seluruh tubuhnya yang masih tersisa, aku berjalan menuju ke kerumunan orang-orang yang merupakan sisa-sisa anggota penyembah Dewa Camazot yang ku biarkan kan hidup setelah aku membantai sebagian besar dari seluruh anggota organisasi ini. Mereka terlihat bersujud hormat pada ku saat aku sampai di hadapan mereka. “Jadi bagaimana kalian ingin mati, dengan api hitam ku atau ku potong leher kalian satu persatu,” ucap ku sambil mengayunkan pedang di samping ku untuk menggertak mereka. Mereka semua gemetaran saat aku mengatakan hal ini dan seseorang yang mungkin adalah salah satu petinggi dari organisasi ini mulai angkat bicara. “Tunggu sebentar tuan, kami memberikan penawaran yang sama sekali tak merugikan bagi tuan!” ucapnya dalam keadaan berlutut. “Ohh apa itu?” tanya ku karena tertarik. “Dari pada membunuh kami semua, tolong jadikanlah kami bawahan dari tuan sehingga kami dapat berguna untuk tuan!” jawabnya. Usulan darinya sangat membuat ku tertarik dimana aku bisa memiliki bawahan yang bisa ku sebar di seluruh kerajaan dan membuat mereka mencari informasi sebanyak-banyaknya. Namun aku masih meragukan apa mereka bisa di percaya atau tidak. “Hmm baiklah ku terima usulan mu dan membuat kalian semua menjadi bawahan ku,” ucap ku, saat mendengar hal ini mereka semua terlihat gembira dan sangat senang akan jawaban ku. “ Tapi ingat ini, jika kalian berkhianat maka akan ku siksa kalian terlebih dahulu sehingga kalian putus asa dan hanya ingin mati namun tak akan kuberikan kematian yang mudah bagi yang berkhianat, saat ku butuhkan kalian harus langsung ada di hadapan ku. Hidup dan mati kalian ada di tangan ku, saat ku suruh kau mati maka kau harus mati saat itu juga” tambah ku sambil menatap tajam ke arah mereka. Namun bukannya ketakutan terhadap kata-kata ku, mereka malah terlihat semakin patuh dan menunjukkan loyalitas yang melebihi ketika mereka masih anggota penyembah Dewa Camazot. “Apa kalian mengerti?” tanya ku pada mereka. “Iya Tuan!!” jawab mereka secara serentak. “Sekarang ku namakan kelompok bawahan ku sebagai Yami!” ucap ku pada mereka. Mereka terlihat sangat senang saat ku angkat menjadi bawahan ku namun aku menyadari tidak sedikit bahkan hampir sebagian besar dari mereka yang memasang ekspresi jahat dan mempunyai niat yang tak menyenangkan oleh karena itu aku menunjuk orang yang memakai jubah keemasan yang berjumlah empat orang untuk maju ke hadapan ku. “Kalian yang memakai jubah ke emasan maju ke sini!” perintah ku. Mereka pun bangkit dari sujud nya dan berjalan ke arah ku secara bersamaan, setelah sampai di hadapan ku mereka langsung sujud kembali memberikan hormat pada ku. “Bangunlah, aku ingin kalian melakukan sesuatu!” ucap ku. Mereka bangun dari sujudnya sesuai dengan apa yang aku perintah kan tanpa mengeluarkan kata-kata sedikit pun. “Aku ingin kalian membunuh mereka dari barisan ketiga sampai paling belakang secara keseluruhan, mereka tak sama seperti kalian dan mereka yang ada di dua barisan pertama dan kedua. Mereka ingin membelot dan membalas dendam jadi kalian harus membunuh mereka semua!” perintah ku pada keempat orang itu. “Siap tuan!” jawab mereka serentak. Dengan tenang mereka berjalan ke baris yang sudah ku tunjukkan dan membunuh anggota organisasi ini tanpa perlawanan dari mereka. Keempat orang tadi menggunakan tangan mereka seperti layaknya pedang yang sangat tajam untuk memotong leher dari anggota organisasi. Tak berselang lama semua orang yang berniat buruk sudah di basmi dan menyisakan sekitar 20 orang saja. Keempat orang tadi berjalan kembali ke arah ku dengan tangan yang penuh dengan darah, mereka kembali bersujud di hadapan ku dan menunggu perintah dari ku. “Baiklah kalian yang masih tersisa disini kuangkat menjadi bawahan ku,” ucap ku pada mereka. “Buanglah penampilan kalian yang seperti ini saat keluar nanti dan hiduplah secara berbaur tanpa harus menarik perhatian, dan ingatlah jika kalian berkhianat maka kalian tak akan ku ampuni!” tambah ku kembali. “Siap tuan!!” jawab mereka secara serentak. Karena masalah kali ini telah selesai, aku memutuskan untuk mengubur tempat ini dan keluar dari sini. Namun karena ruangan ini sangat-sangat luas maka aku mengurungkan niat ku untuk mengubur tempat ini, karena akan memakan waktu lama dan menggunakan kekuatan ku dalam jumlah besar. Aku berpikir untuk menyegel seluruh pintu masuk saat keluar nanti dan menghancurkan gereja tua ini. “Ayo kita keluar!” ucap ku pada anggota Yami untuk keluar dari sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN