Aku memimpin jalan keluar dari sini dengan para bawahan ku sekalian yang ku panggil sebagai Yami, kami menyusuri setiap anak tangga yang ada dengan perlahan karena tubuh ku sudah sangat kelelahan bahkan pandangan ku terasa berkunang-kunang namun aku masih berusaha keras untuk menjaga kesadaran diri ku. Sesampainya di luar aku di sambut dengan tahanan yang berhasil di selamatkan dengan Roku yang berdiri tepat di hadapan ku, mereka bersorak atas kedatangan ku seakan telah menunggu ku dalam jangka waktu yang sangat lama.
“Clay kau berhasil keluar teman kecil,” ucap Roku sambil berjalan menghampiri ku.
“Bagaimana dengan Organisasi itu?” tambahnya.
Aku menghela nafas panjang dan menjawab pertanyaan Roku.“ Organisasi itu sudah musnah dan penduduk desa harusnya bisa tenang akan hal ini.”
Mendengar perkataan ku, para tahanan mulai berteriak gembira melompat-lompat bagaikan kera yang memperoleh makanan, bahkan ada juga yang menangis haru ketika mendengar perkataan ku. Aku sedikit paham penderitaan yang di alami oleh mereka selama di tahan oleh organisasi ini bahkan ada dari beberapa penduduk desa yang menjadi korban perbuatan semena-mena dari organisasi ini. Keputusan untuk melenyapkan organisasi sesat ini adalah keputusan yang paling tepat menurut ku setelah apa yang mereka lakukan.
“Terus siapa mereka, bukankah mereka adalah anggota dari organisasi ini?” tanya Roku sembari menunjuk orang-orang yang berada di belakang ku.
“Tenang saja mereka adalah bawahan ku sekarang,” jawab ku singkat.
Roku menatap mereka dengan sesama karena tak percaya dengan orang-orang ini.
“Apa kau yakin mereka dapat di percaya?” tanya dia kembali.
“Tenanglah jika mereka berkhianat maka hukuman yang ku berikan akan lebih buruk dari pada kematian,” ucap ku sambil berbalik arah menatap mereka untuk memberikan perintah.
“Yami sekalian, hancurkan bangunan ini dan segel secara permanen pintu masuk menuju ke ruangan bawah tanah!” perintah ku pada mereka.
“Siap tuan!!” jawab mereka dengan serentak.
Semua anggota Yami mulai mengelilingi dan menghancurkan bangunan ini dengan sihir atau pun kekuatan fisik mereka. Bangunan gereja yang tadinya berdiri dengan megahnya, mulai hancur sedikit demi sedikit layaknya sebuah kue yang di gerogoti oleh kumpulan semut. Tak sampai lima belas menit seluruh bangunan mulai rata dengan tanah dan setiap bekas bangunan yang tertinggal juga ku suruh untuk menimbunnya dengan tanah agar jejal dari bangunan ini tertutupi. Setelah selesai para anggota Yami mulai berbaris kembali menghadap ku dengan posisi berlutut.
“Kerja bagus, sekarang kalian pergilah terlebih dahulu dari sini dan tunggu perintah ku selanjutnya!” ucap ku pada mereka.
Semua anggota Yami mulai berpencar dengan cepat mematuhi apa yang aku perintahkan pada mereka, ku rasa aku bisa sedikit mempercayai mereka untuk sekarang.
Aku berjalan menemui para tahanan yang menunggu ku sedari tadi, dari tatapan yang mereka berikan pada ku bukan lah sebuah tatapan yang di tujukan untuk seorang bocah berumur tiga belas tahun, tatapan penuh kekaguman dengan rasa hormat yang sangat tinggi seperti bertemu seorang pahlawan yang telah lama menghilang dari peradaban.
“Semuanya tolong dengarkan aku!!” ucap ku sambil menepuk kan tangan.
“Aku ingin kalian semua merahasiakan tentang aku sebagai penyelamat kalian, aku mohon dengan sangat agar tak membocorkan hal ini pada siapapun bahkan termasuk keluarga kalian sendiri nanti,” tambah ku.
Mereka semua memasang ekspresi heran penuh tanda tanya terkait dengan apa yang aku katakan, alasan ku berkata seperti itu karena aku tak ingin menarik perhatian jadi mereka ku minta untuk tak mengatakan apa-apa tentang hal ini.
Salah satu orang dari mereka memberanikan diri untuk bertanya alasan ku untuk itu.
“Kenapa seperti itu? Bukankah jika kau membiarkan hal ini di ketahui oleh guild atau bahkan kerajaan sendiri, kau pasti akan memperoleh hadiah yang banyak dan bahkan memperoleh gelar bangsawan yang di berikan oleh raja,” ucap dia.
“Aku tau hal itu tapi bagaimana dengan pemikiran orang-orang lain di luar sana ketika ada seorang bocah berumur tiga belas tahun yang berhasil melenyapkan organisasi sesat hanya dalam waktu semalam saja,
” jawab ku mencari-cari alasan yang dapat mereka terima.
“Mereka mungkin tak mempercayainya dan bahkan akan ada banyak orang yang menantang ku untuk membuktikan kekuatan ku dan aku tak mau hal merepotkan seperti itu terjadi, aku hanya ingin hidup tenang tanpa menarik perhatian khalayak umum dan berpetualang ke seluruh dunia dengan santai,” tambah ku.
Dari ekspresi yang mereka pasang sepertinya mereka telah menerima keinginan ku dan merahasiakan tentang dalang dari kejadian ini.
“Kalau begitu ayo kita pulang!!” teriak ku pada semua orang.
Aku memimpin jalan untuk keluar dari hutan Grool ini supaya aku bisa mendeteksi binatang magis yang mendekat atau bahkan monster yang ada di sekitar ku, semua orang dengan jumlah yang cukup besar mengikuti ku menyusuri gelapnya hutan karena bulan yang sebelumnya bersinar terang sudah menghilang, ku perkirakan saat ini telah sampai di waktu pagi hari dengan menghitung dari lama durasi ku bertarung di sana. Semua monster dan binatang magis sepertinya berlari menjauh dari kami karena jumlah kami yang cukup banyak, hal ini membuat ku tenang karena tak perlu menghadapi monster ataupun binatang magis dengan keadaan ku saat ini. Jujur saja saat ini aku merasa bisa pingsan kapan pun karena kelelahan dan luka di punggung ku yang masih saja mengeluarkan darah. Aku yakin orang-orang yang ada di belakang ku menyadari punggung ku yang terus saja mengeluarkan darah namun sepertinya mereka tak ingin mengatakannya supaya tak mengganggu konsentrasi ku. Kemampuan pemulihan ku pun sepertinya tak bisa aktif dengan keadaan ku yang seperti ini karena sepertinya kemampuan itu membutuhkan energi mana yang tersalurkan ke seluruh tubuh dengan sempurna.
Sekian lama kami berjalan, aku mulai bisa melihat cahaya-cahaya yang menandakan kawasan akhir dari hutan Grool, aku mengangkat jari dan menunjuk ke arah keluar dari hutan ini kepada orang-orang.
“Di sana jalan keluarnya,” ucap ku.
Tak perlu komando lagi semua orang mulai berlarian melewati ku menuju ke arah dari telunjuk yang ku arahkan, senyum bahagia terpancar dari raut wajah mereka saat berlarian melewati ku. Roku dan seseorang di sampingnya tak mengikuti orang-orang tadi yang berlarian keluar, dia hanya berdiri di dekat ku dan menahan diri ku dengan kedua tangannya seperti tau akan hal yang akan terjadi selanjutnya.
“Yoo Roku selanjutnya aku minta tolong pada mu,” ucap ku pada Roku.
“Iya teman kec...” tak sampai selesai aku mendengar jawabannya, tubuh ku tak mampu lagi bertahan dan mulai kehilangan kesadaran. Pandangan ku mulai kabur dan kepala ku terasa sangat berat, kedua kaki ku tak mampu menopang tubuh ku untuk berdiri dan akhirnya aku pingsan saat itu juga.
Aku memimpikan saat-saat aku membunuh para anggota dari organisasi penyembah Dewa camazot, menggorok leher mereka, membelah tubuh mereka menjadi dua bagian bahkan sampai ketika aku menebas perut mereka hingga organ dalam dari mereka berhamburan keluar, aku bermimpi dengan sangat jelas. Aku juga memimpikan saat-saat aku membuat Camazot tak berdaya layaknya seekor rusa yang di terkam oleh singa, saat-saat dia memohon ampun dan bahkan menangis karena tak kuasa menahan rasa sakit.
Setelah beberapa lama bermimpi, aku memaksakan diri untuk bangun dengan membuka paksa mata ku dengan sekuat tenaga. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat langit-langit yang tak pernah aku lihat sebelumnya, langit-langit ini tak sama dengan di penginapan, ruangan ku beristirahat di guild atau pun di rumah ku. Karena di kuasai rasa bingung yang mendalam, aku berusaha membuat diri ku bangun dari keadaan terkapar di sebuah kasur untuk memastikan bahwa aku sedang ada dimana.
“Hgghhhh guuuaaaahh,” rintih ku saat mencoba bangun namun tak bisa melakukannya.
“Astaga seluruh tubuh ku terasa sangat sakit sekarang,” tambah ku sambil terus mencoba bangun.
Aku mencoba berkali-kali untuk bangun namun hasilnya sama seperti tadi yakni gagal, namun sepertinya aku masih bisa berbicara. Setelah putus asa akan keadaan ku saat ini, aku mendengar suara langkah kaki menuju ke ruangan ini. Langkah kaki yang cukup cepat yang sepertinya lebih dari satu orang yang menuju kemari.
Drap... drapp...drapp...draap
Krieeeeeet....
Suara langkah kaki itu berhenti dan dilanjutkan dengan suara dari pintu yang terbuka, aku berusaha menolehkan leher ku ke arah pintu itu. Aku cukup terkejut saat melihat Roku dan seseorang yang tak ku kenal sedang berdiri mematung menatap ku yang saat ini terbaring tak berdaya. Saat melihat aku sudah membuka mata ku, Roku segera berjalan mendekati ku.
“Yoo selamat pagi teman kecil,” sapa Roku sembari berjalan ke arah lu dan dudul di kursi yang tersedia di samping tempat tidur ini.
“Kau Roku, dimana ini?” tanya ku pada Roku.
Roku tersenyum ke arah ku dan menjawab pertanyaan ku dengan penuh semangat “ Selamat datang di rumah ku kawan kecil dan kasur yang kau tempati sekarang adalah milik ku”
Sepertinya Roku membawa ku ke rumahnya dari pada ke rumah Sistine karena dia takut bahwa Sistine akan bertanya mengenai luka yang aku alami, dari cara dia menganggap ku sebagai adiknya maka tidak mungkin dia tak khawatir pada ku.
“Terima kasih Roku dan siapa yang berdiri di antara pintu itu?” tanya ku pada Roku.
“Ohh perkenalkan dia adalah adik ku yang aku ceritakan pada mu dulu, namanya Gram,” ucap Roku sambil melambaikan tangannya pada Gram supaya dia ikut bergabung di percakapan kami. Gram pun mengerti akan isyarat yang Roku lakukan dan berjalan masuk sambil duduk di kursi yang tersedia.