Siuman

1528 Kata
“Salam kenal Clay, nama ku Gram seperti yang kakak ku katakan tadi,” sapa dia dengan ramah dan sopan. “Ah iya salam kenal juga, maaf aku tak bisa berjabat dengan dengan mu saat ini karena keadaan ku yang seperti sekarang,” jawab ku pada Gram. Gram berdiri dari duduknya secara perlahan dan menatap ke arah ku, tatapan yang menunjukkan rasa hormat dan terima kasih yang begitu mendalam yang dia keluarkan pada ku. “Tidak tidak, aku seharusnya yang berterima kasih karena telah menyelamatkan ku dari organisasi penyembah Dewa Camazot, aku yang seharusnya minta maaf karena telah membuat mu menjadi terluka seperti ini,” ucapnya sambil membungkuk kan badan memberi hormat pada ku. “Sudahlah aku juga ada beberapa urusan dengan mereka selain itu kakak mu lah yang memohon pada ku untuk menyelamatkan mu,” ucap ku sambil tersenyum. “Hey aku tidak memohon tapi hanya meminta bantuan sebagai sesama teman!” sanggah Roku sambil menyendekap kedua tangannya dan menatap tajam pada ku. “ Ohh begitukah sikap mu setelah aku membantu mu Roku ?” ucap ku meledeknya. Roku gelagapan dan menjadi panik sendiri saat aku mengatakan hal itu, aku dan Gram di buat tertawa dengan kelakuannya. Setelah suasana di ruangan ini mencair aku mulai bertanya-tanya pada Gram sembari mencari informasi yang ku butuhkan. “ Jadi Gram bagaimana kau bisa tertangkap ?” tanya ku padanya. “Haaahh saat itu aku sedang menjalankan misi untuk mengintai markas organisasi penyembah Dewa Camazot, aku berhasil masuk hingga ke ruang bawah tanah yang merupakan tempat mereka beroperasi, namun beberapa saat setelah aku berhasil menyembunyikan diri ku dengan sempurna. Mereka menyadari ada seseorang selain aku yang menerobos masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu, mereka menyadarinya saat melihat para penjaga di lorong sudah dalam keadaan tak sadarkan diri dengan sebab yang tak di ketahui,” jawab Gram. Aku sedikit tersentak saat Gram mengatakan saat-saat dia tertangkap oleh organisasi penyembah Dewa Camazot karena aku merasa seseorang yang menyebabkan dia tertangkap adalah aku yang saat itu juga menyusup ke sana. Namun aku tak mengatakannya pada Gram karena dia masih belum menyelesaikan penjelasannya. “Setelah itu apa yang terjadi?” tanya ku kembali. “Setelah itu Pemimpin organisasi mereka memerintahkan untuk mencari penyusup itu, banyak dari mereka berhamburan pergi keluar bangunan untuk mencari penyusup itu. Aku memanfaatkan momen itu untuk melarikan diri dengan cara menangkap dan membunuh salah satu dari mereka dan memakai jubah yang di kenakan oleh mereka kemudian ikut berlari ke luar bangunan,” jawabnya. “Aku masih bisa melarikan diri dan kembali ke desa, aku menemui kakakku terlebih dahulu untuk menceritakan apa yang aku lihat dan dengar di ruangan bawah tanah itu. Aku menceritakan semuanya pada kakak ku sebelum aku melaporkan hal ini kepada pemimpin guild,” tambahnya. “Tunggu jadi kapan kau tertangkap?” tanya ku. “Itu terjadi di malam hari setelah aku melaporkan kepada ketua guild, ketua guild menugaskan ku untuk mencari informasi lagi ke sana dan aku pun menyanggupinya. Sebelum aku berangkat di keesokan harinya, aku menyempatkan diri untuk sekedar minum-minum bersama kakak di bar yang ada di samping air mancur,” jawab Gram. “Ketika sudah larut malam, kami memutuskan untuk pulang dan saat di perjalanan pulang kami di cegat oleh sekelompok orang yang di pimpin oleh seseorang berbadan cukup besar. Sepertinya kau mengenalnya, dia adalah Adam. Aku dan kakak berusaha melawan namun karena kalah jumlah kakak ku di buat tak sadarkan diri dan saat aku akan menolongnya mereka menangkap ku dan membawa ku ke markas mereka. Sejak saat itulah aku di tahan oleh mereka bersama orang-orang yang senasib dengan ku. Ada beberapa dari tahanan yang menderita sakit bahkan mati karena memperoleh perlakuan yang kejam dari mereka,” tambah Gram dengan menundukkan kepala. “Jadi begitu,” balas ku sambil menatap ke langit-langit ruangan ini. Aku memikirkan jika saja aku tak di ketahui saat menyusup saat itu mungkin saja Gram tak akan di tangkap dan di tahan di sana, tapi jika aku tak datang menyelamatkan Gram maka akan lebih banyak korban jiwa dari penduduk yang sama sekali tak tahu menahu masalah organisasi mereka. Di saat-saat aku berbincang-bincang dengan Gram, aku merasakan kekuatan pemulihan diri ku mulai berangsur-angsur kembali. Aku berspekulasi bahwa sihir kutukan dari Camazot telah menghilang secara penuh seiring semakin lama durasi dari dia mati. Aku merasakan kekuatan ku sedikit demi sedikit kembali pulih, luka di punggung ku yang di balut oleh perban terasa menutup dengan perlahan-lahan dengan memberikan sensasi kehangatan yang membuat ku merasa kantuk. “Kalau begitu aku ingin beristirahat terlebih dahulu,” ucap ku pada kedua kakak beradik yang berada di kursi samping tempat tidur yang aku gunakan. “Baiklah kami akan pergi agar tak mengganggu mu,” jawab Gram sembari berdiri dan berjalan menjauhi ku. “Ehh tapi kan kau baru sadar teman kecil, ayolah ceritakan dulu apa yang kau lakukan di ruangan bawah tanah itu,” rengek Roku pada ku sambil memegang tangan kiri ku yang juga di perban. “Ayolah kak biarkan Clay beristirahat, dia terluka dengan parah,” ucap Gram sembari berjalan kembali ke ruangan. “Ayo pergi jangan ganggu Clay dasar babi,” tambahnya. Gram menarik tangan Roku yang tidak mau keluar dari ruangan ini, dia sampai harus menyeretnya karena Roku masih memaksa untuk tetap di sini sampai aku menceritakan semua kejadian di ruangan bawah tanah itu. “Tidaaak aku mau di sini bersama teman kecil ku, aku ingin mendengar ceritanya,” ucap Roku masih merengek meminta aku menceritakan kejadian itu. “Menyerahlah babi b******k, hal seperti itu tanyakan saat Clay sudah sembuh!” ucap Gram sambil menyeret Roku keluar dari ruangan ini. Saat keduanya telah keluar, aku mulai memejamkan mata ku karena rasa kantuk yang mulai menguasai diri ku saat ini. Aku membiarkan pemulihan diri ku untuk menyembuhkan luka yang aku dapat dari serangan Camazot tanpa menggunakan energi mana, sebenarnya saat menggunakan energi mana kemampuan ini dapat bekerja dengan lebih baik sehingga sangat membantu dalam pertempuran. Namun dengan keadaan ku yang seperti ini maka aku mengurungkan niat ku untuk menggunakan energi dari inti mana yang mungkin bisa saja memperparah keadaan ku sekarang, aku harus mengandalkan kemampuan pemulihan diri ku tanpa menggunakan mana sedikit pun. ** ** ** Aku tak tau sampai sejauh mana kemampuan pemulihan diri ku ini, apa di saat aku kehilangan bagian tubuh seperti tangan atau kaki, kemampuan ini bisa menumbuhkannya kembali atau tidak itu hal yang masih menjadi pertanyaan bagi ku. Jika di pikirkan kembali sebelumnya aku tak memiliki kemampuan seperti ini, jika aku memang memiliki kemampuan seperti ini sebelumnya maka aku tak akan hampir mati seperti saat aku menerobos masuk ke markas organisasi penyembah Dewa Camazot. Mungkin saja ini adalah efek dari skill Growth ku yang ku peroleh saat akan di lahirkan kembali. Aku bangun dari tidur ku dan seluruh tubuh ku sudah mulai terasa lebih baik dari pada sebelumnya, aku sudah bisa bangun dari tempat tidur bahkan juga bisa berjalan sekarang meskipun masih ada beberapa bagian tubuh yang sedikit nyeri namun bisa ku tahan. Aku berjalan menuju jendela untuk menghirup udara segar dan melihat keadaan di desa, di pagi hari menjelang siang sudah banyak orang-orang yang beraktifitas berlalu-lalang kesana-kemari dengan kesibukan mereka sendiri. “Pemandangan yang memenangkan,” ucap ku sambil menutup kembali pintu jendela. Aku berjalan menuju pintu keluar dari ruangan ini dan berhenti sejenak ketika melihat sebuah cermin yang lumayan besar, aku melihat hampir seluruh tubuh ku di balut dengan perban dan ada beberapa bagian tubuh yang di perban meninggalkan noda merah. Aku membalikkan tubuh dan berusaha melihat punggung ku yang kemarin terluka parah, aku berusaha menoleh ke belakang untuk melihat punggung ku melalui cermin. Aku sangat terkejut ketika melihat noda merah yang hampir menyeluruh di punggung ku. Sepertinya saat aku tak sadarkan diri, luka ini terus dalam keadaan terbuka dan terus mengeluarkan darah. “Dua bersaudara bodoh, setidaknya jahit dulu lah luka ku untungnya aku tak mati karena kehabisan darah!” ucap ku saat melihat punggung ku. Karena tak menemukan baju di ruangan ini, aku berinisiatif berjalan keluar dari ini untuk menemui Gram dan Roku untuk meminta pakaian yang bisa ku kenakan. Dari bunyi-bunyi yang berasal dari lantai bawah maka ku simpulkan kakak beradik ini masih berada di dalam rumah. Aku menuruni tangga dan berjalan menuju tempat dari suara mereka berasal. Aku mendapati mereka sedang memasak berdua di dapur yang lumayan besar untuk dua orang, mereka tak menyadari kehadiran ku karena sedang fokus dengan apa yang mereka lakukan. “Hei kalian! Apa ada pakaian yang bisa ku pakai? Aku mau melepas perban-perban ini” ucap ku pada mereka. Secara bersamaan mereka menoleh ke arah ku dan menatap ku dengan tatapan terkejut dan tanpa mengeluarkan kata-kata. “Hei kalian mendengar ku? Perban-perban ini sangat tak nyaman untuk di pakai jadi berikan aku pakaian” ucap ku dengan sedikit berteriak untuk menyadarkan mereka dari lamunan. Roku dan Gram berhenti dari pekerjaannya saat ini dan berjalan dengan cepat ke arah ku, mereka sama-sama tergesa-gesa untuk mencapai kepada ku dan saling bertabrakan satu sama lain tak hanya sekali. “T-teman kecil bagaimana kau bisa berjalan ke sini dari lantai dua?” tanya Roku dengan terbata-bata. “Hah? Apa maksud mu? Bukankah kau bisa melihat sendiri kedua kaki ku masih ada, aku berjalan dari sana ke sini bodoh!” jawab ku sedikit kesal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN