“Tapi bukankah kemarin siang kau masih tak dapat bergerak?” tanya Roku kembali.
“Ah sudahlah itu tak penting, aku ingin mengganti perban ini dengan pakaian biasa,” jawab ku sambil duduk di kursi yang ada di samping ku.
“Baiklah akan aku ambilkan tapi sebelum itu kau harus mandi terlebih dahulu!” ucap Gram.
“Kau benar itu adalah ide yang sangat bagus Gram!” jawab ku sambil berdiri dari duduk.
Gram menunjukkan tempat ku untuk mandi yang letaknya ada di samping dapur mereka, aku memasuki kamar mandi itu dengan suka hati. Di kamar mandi itu hanya tersedia bak besar untuk berendam dan satu penampungan air yang di buat untuk tempat membilas diri setelah berendam, dan sebuah benda berbentuk layaknya emas batangan dengan sedikit gelembung di atasnya, benda ini mungkin adalah sabun di dunia ini. Aku memang pernah membaca tentang sabun di dunia ini namun aku tak pernah memakai salah satunya, ini adalah pengalaman pertama ku mandi dengan sabun di dunia ini.
Aku pun membuka celana dan mulai membuka perban yang menyelimuti tubuh ku secara perlahan-lahan. Aku sampai lelah untuk terkejut dengan kemampuan pemulihan diri ku ini karena dari luka kecil yang di akibatkan terserempet oleh sihir Camazot bahkan luka besar di punggung ku juga sudah menutup dan tak meninggalkan bekas meskipun goresan sedikit pun. Aku pun mulai mandi dan berendam di kamar mandi ini dengan sangat menikmatinya, rasanya semua beban, rasa lelah dan pikiran berat di kepala ku melayang sejenak dan meninggalkan rasa nyaman yang tiada tara.
Dor...dor...dorr
Imajinasi ku terbuyar saat mendengar suara orang sedang menggedor pintu masuk dari kamar mandi ini
“Clay aku taruh pakaian ganti mu di kursi depan pintu kamar mandi, cobalah untuk tak membasahi luka mu untuk mempercepat kesembuhannya,” teriak Gram dari luar kamar mandi.
“Oke!” jawab ku singkat sembari bangun dari bak tempat berendam dan membilas tubuh ku. Aku kemudian mengambil pakaian ganti yang Gram tempatkan di kursi tepat di depan pintu kamar mandi agar memudahkan ku mengambil pakaian itu. Aku memasang celana terlebih dahulu dan keluar sambil menenteng baju tanpa memakainya karena rambut ku masih belum kering.
Kedua bersaudara menunggu ku di meja makan dengan makanan yang sudah tersebar di atas meja, sepertinya mereka memasak semua makanan ini sendiri jika di lihat dari peralatan memasak di dapur yang cukup berantakan.
“Ayo kita sarapan teman kecil,” ucap Roku sambil mengambil makanan.
Aku berjalan dengan perlahan sambil mencoba mengeringkan rambut ku dengan sihir angin, kedua kakak beradik itu menatap ku dengan tatapan takjub saat aku melewati mereka.
“Clay kraauuughh ehmm manusiamamm kan?” ucap Roku dengan mulut yang penuh makanan dan terlihat remah-remah makanan yang mulai berjatuhan dari mulutnya
"Kakak bodoh makanlah dengan benar!" sanggah Gram sembari melempar sapu tangan ke arah Roku.
aku tak mendengarkan dengan jelas apa yang Roku coba katakan pada ku tadi sehingga aku hanya terus berjalan menuju kursi kosong yang ada di samping meja makan.
"Clay kau itu manusia kan?" tanya Roku kembali.
“Haa? Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan?” jawab ku sembari duduk di kursi kosong.
“T-tapi luka mu di punggung itu sudah hilang!” ucap Gram sembari berdiri menunjuk ke arah ku dengan sendoknya.
“Ahh ini, lupakan saja ini bukanlah hal besar,” jawab ku sambil mengambil makanan yang ada di atas meja.
Keduanya saling bertatapan dalam beberapa saat sambil menunjukkan ekspresi kebingungan dan sedikit kecewa, mungkin itu karena aku tak mengatakan perihal luka ku yang sembuh dengan sangat cepat. Tapi bukannya aku tak mau mengatakan tentang kemampuan ini pada mereka berdua, hanya saja mereka berdua tak ada hubungannya dengan ini.
** ** **
Selepas sarapan aku berencana akan pergi ke penginapan untuk mengambil barang-barang ku yang aku tinggalkan di sana. Aku berencana akan pergi dari desa ini mengingat sepertinya semua urusan ku sudah selesai. Aku berjalan meninggalkan ruang tamu dan menuju pintu depan rumah ini, saat akan membuka pintu aku di cegat oleh panggilan Roku yang berasal dari belakang tubuh ku saat ini.
“Hei Teman Kecil mau kemana kau buru-buru begitu?” ucapnya sambil membawa pedang yang tak lain adalah pedang ku.
Aku menoleh ke arahnya dan berinisiatif untuk mengambil pedang yang di bawanya itu namun dia menolak untuk memberikannya pada ku dengan melangkah mundur sedikit.
“Apa yang kau lakukan Roku?” ucap ku.
“Kau belum menjawab ku Teman Kecil, mau kemana kau buru-buru begitu?” tanya dia kembali.
Menyerah dengan pertanyaannya, aku pun menjawab dengan berbohong padanya agar dia tak mengikuti ku.
“Aku ada sedikit urusan!”
“Mana sini pedang ku,” tambah ku meminta pedang ku yang masih dia pegang.
“Tidak tidak coba lihat keadaan pedang mu ini. Ini sudah rusak parah!” ucap Roku sambil menarik pedang ku dari sarung pedangnya.
“Lantas kenapa? Aku bisa memperbaikinya jadi mana sini!” pinta ku kembali.
“Ha ha ha dasar bodoh, kau pikir aku bisa mempercayai itu?” jawab Roku sambil tertawa terbahak-bahak.
“Biarkan aku membawanya ke Blacksmith kenalan ku untuk memperbaikinya,” tambahnya.
“Apa kau pikir itu bisa di perbaiki dengan mudah? Lihatlah kerusakannya bodoh!” ucap ku.
“Astaga bersifatlah sedikit lebih manis layaknya bocah yang seumuran mu Teman Kecil ku,” ucap nya sambil memasukkan kembali pedang ku ke sarung pedangnya.
“Saat hal itu terjadi biarkan aku mentraktir mu sebuah pedang untuk menggantikan pedang ini, anggap saja sebagai bentuk kecil dari rasa terima kasih ku,” tambahnya.
“Yah terserah kau saja!” ucap ku sambil berjalan keluar dari rumah ini.
Aku tak peduli dengan apa yang akan di lakukan Roku terhadap pedang itu karena aku masih memiliki cadangan pedang lain yang di berikan kepada ku oleh Paman Hoobs. Lagipula sebenarnya aku masih bisa memperbaiki pedang itu dengan skill ku dan semua ajaran dari Paman Hoobs saat masih di desa. Namun karena aku terlalu malas untuk meladeni manusia seperti Roku jadi aku membiarkan dia untuk berbuat sesukanya.
“Lagipula dia berniat baik jadi ya biarkan sajalah,” pikir ku sambil berjalan menjauh dari rumah ini.
Seperti yang ku harapkan, Roku tak mengikuti ku saat keluar dari rumah meski pada awalnya dia mengikuti aku keluar dari rumah namun sepertinya memang dia akan memperbaiki pedang ku yang rusak. Aku pun berjalan menuju penginapan dengan santai sambil menikmati tubuh ku yang baru pulih.
Sesampainya di penginapan aku langsung memasuki penginapan dan berjalan menuju meja Resepsionis, terlihat pria tua yang biasa berjaga di meja Resepsionis melihat ku dan langsung mengambilkan kunci ruangan ku sebelum aku sampai di meja Resepsionis. Tanpa berkata apa-apa dan hanya memperlihatkan sedikit senyuman sebagai sambutan hangat kepada ku, pria itu memberikan kunci ruangan ku dan aku mengambilnya sambil membalas senyumnya.
“Terima kasih!” ucap ku sambil berjalan menjauh dari meja Resepsionis dan berjalan menaiki tangga menuju ke ruangan ku.
Setelah membuka ruangan ku, aku mengambil pakaian dari dalam ransel dan mengganti pakaian yang aku pakai saat ini dengan milik ku sendiri. Setelah itu aku mengemasi seluruh barang-barang ku dan keluar dari ruangan ku sambil mengunci ruangan ini. Aku berjalan menuruni tangga menuju ke meja Resepsionis untuk mengembalikan kunci ruangan ini.
“Terima kasih sudah membiarkan aku tinggal di sini,” ucap ku kepada Resepsionis pria tua itu.
“Sebuah kebanggaan bagi penginapan ini untuk menerima seorang pahlawan bagi desa ini,” jawab pria tua itu sambil membungkukkan tubuh bagian atasnya untuk memberi hormat kepada ku.
Aku sama sekali tak terkejut dengan perkataannya karena bisa ku katakan bahwa penginapan beserta bar ini adalah salah satu tempat bagi informasi tersebar secara halus. Semua staff di sini pun sepertinya bukan orang-orang biasa jika di lihat dari gerak-gerik dan kepribadian mereka masing-masing.
“Ini untuk mu dan semua pekerja di sini,” ucap ku sambil menyerahkan sepuluh koin emas sebagai bonus untuk mereka karena mereka layak untuk mendapatkan semua itu.
“Terima kasih atas kebaikan Tuan,” jawabnya sambil mengambil semua koin emas itu.
“Kalau begitu aku akan pergi. Selamat tinggal!” ucap ku berjalan menjauh dari Resepsionis itu.
Resepsionis itu membungkukkan tubuhnya saat aku berjalan keluar dari penginapan ini. Aku pun menoleh ke arahnya dan memberikan senyum ramah ke arahnya lalu kembali melanjutkan berjalan ke arah guild Reistes.
Aku berencana untuk pergi secepatnya yaitu hari ini karena sepertinya aku telah terlalu banyak menarik perhatian di sini terlihat dari penduduk yang mulai bersikap tak seperti biasanya pada ku. Sebelumnya mereka hanya fokus terhadap pekerjaan yang sedang di lakukan tanpa peduli dengan apa yang melewati mereka namun sekarang ada beberapa yang berhenti sejenak dari pekerjaannya hanya untuk menyapa ku yang berjalan melewati mereka. Perubahan sikap mereka ini membuat ku sedikit terganggu meskipun niat mereka baik, aku hanya ingin mereka seperti biasanya tanpa harus menghiraukan tentang aku yang menyelamatkan mereka, namun sepertinya terlalu susah bagi mereka untuk melakukan hal sesederhana itu. Oleh karena itu aku ingin secepatnya pergi dari desa ini dan pergi ke ibukota kerajaan ini yaitu Liutas. Kota yang menjadi pusat kerajaan Shelion dan kota ini memiliki populasi Petualang yang paling besar di antara 3 kerajaan. Para petualang di sana melakukan misi tak hanya di hutan namun juga di dungeon peninggalan Dewa besar Huros. Hal itu lah yang membuat ku ingin pergi ke sana namun sebelumnya aku akan berpamitan terlebih dahulu kepada orang-orang yang ku kenal di sini.