Aku pun terus berjalan menuju ke Gulid Reistes. Di sepanjang jalan banyak dari penduduk yang tersenyum ranah kepada ku dan beberapa dari mereka menyapa ku, perlakuan mereka yang berubah ini membuat ku risih namun aku mengerti alasan dari mereka berbuat seperti itu. Bahkan Roku menjadi semakin menyebalkan daripada sebelumnya.
“Mungkin aku akan memberinya 1 atau 2 pukulan sebagai hadiah perpisahan,” pikir ku sambil terus berjalan.
Aku akhirnya sampai di depan pintu bangunan guild Reistes dan tanpa ragu aku langsung membuka pintu itu dan memasuki bangunan ini. Terlihat suasana yang lumayan ramai daripada sebelum-sebelumnya, mungkin ini adalah dampak dari musnahnya organisasi penyembah Dewa Camazot. Orang-orang yang tadinya cenderung takut menjadi petualang dan lebih memilih untuk tak menampakkan diri, sekarang mereka mulai memberanikan diri keluar ke khalayak umum bahkan memutuskan menjadi petualang.
Terlihat Systine dan beberapa staff guild lainnya sedang sibuk-sibuknya melayani para petualang baru, kertas-kertas yang menumpuk, batu altar yang tak berhenti bercahaya menandakan para petualang yang terus melakukan scanning secara satu persatu. Keringat mulai menetes dari dahi mereka dengan muka mereka yang mulai memerah dan nafas yang terlihat memburu, sepertinya mereka belum beristirahat dari tadi.
“Uwaah sepertinya Systine tak bisa di ganggu saat ini,” ucap ku ketika masuk. Aku pun berjalan menuju bar di guild ini dengan santai. Namun, belum memperoleh beberapa langkah aku berjalan. Aku di kejutkan dengan sebuah sensasi tertahannya gerakan ku yang di sebabkan oleh tangan dari orang di belakang ku yang sedang memegang bahu ku dengan kasar.
Aku sedikit terkejut akan kemunculan orang ini karena sebelumnya aku melihat orang di belakang ku ataupun merasakan kehadirannya saat dia berada di belakang ku. Sontak aku membalikkan tubuh ku dan menghempaskan tangannya yang ada di pundak ku dan tanpa perlawan orang itu hanya membiarkan aku yang memukul tangannya agar menyingkir dari pundak ku.
“Siapa kau? Apa mau mu dari ku?” ucap ku sambil menatap tajam ke arahnya. Orang yang saat ini berada di hadapan ku bertubuh tinggi dan cukup kekar, otot dan tinggi tubuhnya melambangkan keseimbangan yang berarti tak terlalu besar ataupun tak terlalu kecil. Dia memakai pakaian ala seorang butler dari eropa yang menurutku sangat tak cocok dengan wajahnya yang mungkin bisa membuat seorang anak kecil menangis ketakutan.
“Tenanglah tuan, saya hanya melaksanakan tugas saat ini,” jawabnya sambil menurunkan tangannya yang di hempaskan oleh aku.
“Tak usah bertele-tele! Katakan apa yang kau mau!” ucap ku dengan sedikit meninggikan suara karena kesal dengan perbuatannya. Aku mendekatkan tubuh ku kepadanya dan menatap tajam ke arahnya untuk mengintimidasinya dan sepertinya perbuatan ku berhasil dan membuat dia sedikit ketakutan.
“Maafkan saya telah berbuat tak sopan pada tuan, namun saya hanya menjalankan tugas saja, jadi saya minta tolong pada tuan agar tak marah karena perlakuan saya yang tak sopan tadi,” ucapnya sambil membungkukkan badannya kepada ku.
Karena sedikit terbawa emosi, aku jadi tak menyadari suasana di guild menjadi sedikit terfokus kepada ku. Sepertinya mereka terkejut dengan perbuatan ku yaitu dimana seorang bocah berumur tiga belas tahun berani menggertak orang dewasa yang cukup menyeramkan. Orang yang berada di hadapan ku saat ini tetap tak menegakkan kepalanya dan menunggu perkataan yang keluar dari mulut ku.
“Haah... angkat kepala mu,” ucap ku. Semua tatapan dan atmosfer yang berat ini membuat ku risih sehingga aku menyuruhnya untuk mengangkat kepala.
“Terima kasih atas kebaikan mu Tuan, ” jawabnya sambil mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi di tundukkan kepada ku.
“Katakan apa mau mu,” tanya ku kembali.
“Saya di perintahkan untuk membawa Tuan menemui Ketua guild Reistess ini,” jawabnya.
Aku tersentak saat mendengar perkataan orang ini mengenai Ketua guild yang ingin menemui ku. Sebelumnya aku sudah menduga bahwa hal ini akan segera terjadi namun sepertinya Ketua guild bukanlah orang yang bisa di remehkan. Bahkan dia tau aku akan datang ke guild Reistess meskipun aku tak mengatakan pada siapapun tentang kedatangan ku ke sini ini. Ku pikir orang yang menyandang gelar Ketua guild ini menugaskan mata-mata untuk mengikuti ku karena mengingat salah satu suruhannya yang saat ini berdiri di hadapan ku memiliki kemampuan untuk menghilangkan hawa kehadiran yang membuat ku tak tau ada orang di sekitar ku meskipun sihir deteksi ku aktif.
“Baiklah tunjukkan dimana ruangannya,” ucap ku pada pria itu.
“Biarkan saya mengantar anda Tuan,” jawabnya sambil menaruh tangan kanannya di tangan kirinya serta di ikuti dengan membungkukkan badan.
“Tak usah, tunjukkan saja dimana dan aku akan pergi sendiri,” tegas ku pada pria yang memaksa untuk mengantarkan ku.
Dengan sedikit mengeluarkan keringat di dahi, pria itu akhirnya menyerah dan mengatakan ruangan dimana Ketua guild menunggu ku. “ Silahkan naik ke lantai kedua dan masuk ke ruangan pojok kanan nomor 2 Tuan.”
Aku pun berjalan ke ruangan yang dia sebutkan. Namun, sesaat akan melewatinya, aku kembali menegaskan suatu hal yang tak harua dia lakukan kembali pada ku di masa depan nanti.
“Ohh iya, kau camkan ini! jika perlakuan mu masih sama dengan saat ini di masa depan nanti, maka jangan salahkan aku jika kepala mu melayang saat kau memegang pundak ku dengan kasar lagi,” ucap ku sambil menatap tajam ke arahnya. Jujur saja aku sangat kesal dengan perbuatannya yang sok untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat tanpa mengetahui kekuatan asli dari lawan bicaranya.
“S-siap Tuan!” jawabnya dengan gemetaran dan terbata-bata.
Aku pun lanjut berjalan ke ruangan yang dia tunjukkan, sedangkan oran itu sedang berdiri mematung di tempat yang sama setelah kepergian ku darinya. Aku melewati meja Resepsionis guild dengan di perhatikan oleh beberapa orang.
“Hey bukankah dia masih tingkat D?” bisik seseorang yang ada di samping ku berjarak delapan meter dari ku.
“Kau benar, tapi kenapa orang yang berbadan besar tadi sepertinya takut padanya?” tanya orang yang berada di samping orang yang berbisik pertama kali.
Aku menghiraukan semua perkataan dari orang-orang mengenai aku. Aku hanya terus berjalan melewati mereka dan terus mengabaikan mereka juga menganggap mereka seperti orang-orangan sawah yang bisa berbicara.
“Oyy Clay! Bisakah kau kesini dulu?” teriak Systine ketika melihat aku saat melewati meja Resepsionis guild.
Aku hanya merespon dengan mengangkat kedua tangan ku sambil menyatukannya seperti posisi menyembah dan sedikit tersenyum ke arahnya sambil terus melangkah menjauh dan menuju tangga ke lantai dua. Aku sedikit mempercepat langkah ku saat di tangga agar Systine tak memanggil ku lagi.
Sesampainya di lantai dua, aku berbelok ke arah kanan dan berjalan menuju ruangan ujung kanan nomor dua dimana Ketua guild sedang menunggu ku. Aku segera membuka pintu ruangan ini begitu sampai di depannya. Terlihat seseorang dengan perawakan layaknya bangsawan sedang duduk di belakang meja yang berisi beberapa dokumen dan cangkir teh beserta tekonya. Kumis dan janggut orang ini seperti mengatakan bahwa dia adalah orang yang sangat berpengetahuan dan sangat bijaksana. Pria itu terlihat sedang membaca atau sedang melihat sesuatu yang di paparkan layaknya surat kabar saat aku di bumi. Sepertinya dia tak sadar dengan kedatangan ku dari saking berkonsentrasinya dia terhadap apa yang dia lihat.
“Permisi,” ucap ku sambil sedikit memasukkan kepala dari pintu. Orang itu mulai berhenti dari kegiatannya dan menatap ku dengan seksama. Dia langsung meletakkan bacaannya dan berdiri saat melihat wajah ku yang terlihat di pintu yang sedikit terbuka. Dia mulai berjalan ke depan mejanya menuju dua kursi panjang yang ada di depannya sambil membawa teko dan dua cangkir gelas.
“Silahkan masuk!” sambutnya sambil berdiri dan berjalan ke arah ku.
Aku mengiyakan perkataannya dan mulai masuk ke dalam ruangan itu sambil menutup pintunya. Aku melihat cara orang ini berdiri dan berjalan dengan seksama, semua gerakannya menunjukkan kebijaksanaan yang tinggi dari seseorang hingga membuat ku waspada akan setiap gerakannya.
“Silahkan duduk Tuan,” ucapnya mempersilahkan ku duduk di sebuah kursi panjang yang ada di ruangan ini sedangkan dia juga mulai duduk di depan ku saat setelah meletakkan teko dan dua buah gelas di atas meja di antara kedua kursi panjang ini.
Aku mengikuti semua perkataannya dan mulai berjalan ke arah kursi panjang yang ada di hadapan orang itu. Saat aku sudah duduk di kursi panjang, orang itu mulai menuangkan minuman yang berupa teh ke dua buah cangkir yang dia bawa dengan salah satunya di suguhkan kepada ku.
Aku pun mengambil pegangan dari cangkir itu dan mulai mengangkatnya dan memasukkan minuman hangat itu ke dalam mulut ku secara perlahan. Setelah ku rasa cukup meminumnya aku kembali meletakkan cangkir itu ke atas meja.
“Terima kasih!” ucap ku ketika selesai meminum teh.
Orang itu hanya merespon dengan senyum kecil yang dia tunjukkan ke arah ku. Tanpa berkata-kata apa dan terus meminum teh yang dia tuangkan ke gelasnya sendiri.
“Jadi apa yang kau mau dari ku Tuan Ketua guild?”