Ketua Guild

1567 Kata
“Jadi apa yang kau mau dari ku Tuan Ketua guild?” ucap ku pada pria yang sedang duduk di hadapan ku. “Tak usah terlalu buru-buru Tuan,” jawab pria itu sambil terus menyeruput teh di gelasnya. Aku pun memutuskan untuk menunggunya selesai meminum teh itu. Namun, setelah menunggu hampir lima belas menit lamanya dan dia tak menunjukkan tanda-tanda akan meletakkan gelasnya sebagai tanda selesai. Rasa di permainkan dan kesal mulai menumpuk di kepala ku hingga terasa akan meledak karena saking penuhnya. Braakk... Aku memukul meja dengan keras hingga beberapa benda yang ada di atasnya berjatuhan ke lantai. Pria itu tersentak dari kegiatannya dan mulai menatap ku ke dengan tatapan terkejut. “Hey Tuan, aku tak peduli meskipun kau Ketua guild atau bukan tapi jika kau memang ingin membuang-buang waktu ku maka jangan salahkan aku kalau ruangan ini akan di penuhi dengan darah mu!” ucap ku sambil menatap pria itu. Aku kembali duduk tegap di kursi panjang ini dan mulai menyilangkan tangan ku dan meletakkannya di atas d**a ku. Pria yang ada di depan ku pun meletakkan gelas tehnya di atas meja dengan keringat yang mulai terlihat di dahinya. “Maafkan sikap ku,” ucapnya sambil meletakkan gelasnya di atas meja. “Seperti kabarnya, anda memang memiliki sikap pemarah,” tambahnya. “Hey sepertinya kau memang ingin melihat akhir dari kehidupan mu sendiri ya?” ucap ku sambil tetap menatapnya dengan tajam. “Tidak tolong jangan lakukan itu! Saya benar-benar minta maaf telah membuat anda marah” serunya sambil menundukkan kepalanya. Pria ini sangat berbeda dengan penampilannya yang menunjukkan kepribadian yang sangat bijaksana. Dia hanya seorang pria yang tak tau akan keadaan dan selalu mempermainkan orang-orang di sekitarnya. Aku tak tau apa yang membuat orang ini menjadi seorang Ketua guild disini. Tapi aku tak bisa bertindak seenaknya meskipun orang ini telah membuat ku marah dengan sikapnya, setidaknya jika aku membunuh orang ini maka situasi di guild Reistes akan menjadi runyam dan merepotkan buat ku. “Haaah lupakan itu, bukankah kau menyuruh bawahan mu untuk membawa ku supaya menemui mu?” ucap ku sambil mengeluarkan nafas panjang. “Jadi apa yang kau mau?” tambah ku. Orang ini mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk ke arah ku dan mulai berdiri dengan tegap. “Aku mengucapkan terima kasih yang paling dalam sebagai seorang Ketua guild!” ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya dan membungkukkan badannya ke arah ku. “Ha? Terima kasih? Untuk apa?” tanya ku dengan kebingungan. Pria ini mulai bangkit dari posisi membungkuk tadi sambil berkata, “ Itu karena kau telah menyelamatkan para petualang dan penduduk desa yang tertangkap oleh organisasi penyembah Dewa Camazot.” “Ah itu, yah aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai sesama manusia,” ucap ku sambil melepas kedua tangan ku dan mulai duduk dengan santai. “Bukankah sesama manusia harus saling tolong-menolong? Jadi itu hanya kewajiban kecil buat ku!” tambah ku. Pria itu menatap ku sambil menunjukkan senyum kecilnya pada ku dan mulai duduk kembali di kursi yang sebelumnya. “Nama ku adalah Dave Gil, seorang mantan petualang tingkat A yang sekarang menjadi Ketua di gulid Reistess ini,” ucapnya memperkenalkan diri. Dia menatap ku dengan tatapan bingung ketika aku tak merespon perkataannya tentang nama dan pekerjaannya. Aku baru sadar bahwa dia mengajak ku berkenalan ketika dia mulai menyodorkan tangannya menuju aku. “Ohh kau bisa memanggil ku Clay, aku petualang masih di tingkat D,” jawab ku sambil menyambut tangannya hingga kami akhirnya bersalaman. “ Seharusnya kau sudah mengetahui tentang ku bukan?” ucap Dave dengan sedikit mengangkat kepalanya tanda bahwa dia sedang meninggikan statusnya. “Tidak! Aku sama sekali tak tau tentang kau dan aku tak peduli dengan itu!” jawab ku singkat. “Hey ayolah, kau pasti bercanda tentang itu bukan?” tanya dia kembali. “Tidak sama sekali, aku bahkan baru pertama kali mendengar nama mu di sini,” jawab ku sambil menyandarkan punggung ku ke kursi. Dia terlihat sedikit kecewa mendengar jawabanku mengenai dirinya. Namun, aku sama sekali tak mengatakan kebohongan di semua perkataan ku. Bahkan Gram dan Roku tak mengatakan apa-apa mengenai Ketua guild yang menjadi atasan mereka, keduanya hanya mengatakan bahwa mereka menerima tugas langsung dari Ketua guild tanpa mengatakan siapa nama dari Ketua guild Reistes kepada ku. “Kalau begitu sebaliknya, seharusnya kau sudah mengetahui tentang aku,” ucap ku pada Dave yang tertunduk lesu. “Bukankah orang yang kau kirim untuk mengawasi ku sudah melaporkan segala hal mengenai tentang aku?” tambah ku. Dave mulai tersentak kagum saat aku mengatakan tentang seseorang yang mengawasi ku. “Bagaimana kau bisa tau? Bahkan seorang peringkat A takkan tau bahwa aku mengirim seseorang untuk mengawasi mereka!” jawabnya dengan sedikit terkejut. “Sederhana saja, aku hari ini tak mengatakan tujuan ku pada Gram maupun Roku, Resepsionis di penginapan pun tak ku beritahu tentang kemana tujuan ku. Dan kesalahan fatal mu adalah mengutus orang yang mungkin memiliki kemampuan sama atau bahkan orang yang sama untuk menemui ku di aula guild,” jawab ku panjang lebar. Dave kebingungan ketika aku mengatakan semua hal yang membuat aku tau bahwa dia mengirimkan seseorang untuk mengawasi ku. Dia terlihat gelisah dan merasa bersalah karena telah menyuruh seseorang untuk mengawasi ku. “Baiklah, mari sudahi basa-basi ini dan masuk kepada inti pembicaraan kita,” tambah ku sambil sedikit tersenyum. Dave menganggukkan kepalanya dan berkata,”Baiklah.” Dia mulai berdiri dari duduknya dan berjalan menuju meja yang dia duduki sebelumnya. Dia membuka laci dan mengambil sebuah kantong yang cukup besar dan sebuah cincin dengan batu permata yang memiliki warna biru berkilauan. Dia membawa kedua barang ini kemudian meletakkannya di atas meja tepat di hadapan ku. “Tolong terima sejumlah koin emas ini sebagai rasa terima kasih ku atas pertolongan mu! Totalnya berjumlah 300 keping koin emas!” ucap Dave sambil menyodorkan kantung besar yang berisi koin emas pada ku. “Aku tak bisa menerima koin emas itu,” jawab ku sambil mengangkat tangan kanan ku sebagai tanda menolak. “Eh? Aku tau jumlahnya terlalu sedikit tapi setidaknya tolong terima ini terlebih dahulu,” ucapnya memohon kepada ku. “Bodoh! Justru jumlah itu terlalu banyak untuk seorang bocah seperti ku!” ucap ku sambil kembali menyilangkan tangan di atas d**a. “Kalau begitu setidaknya ambillah separuh dari koin emas ini,” pintanya kembali. “Aku hanya akan mengambil 10 keping saja! Sisanya terserah kau!” jawab ku singkat. “Baiklah kalau begitu,” ucapnya sambil mengambil kembali kantung besar yang ada di hadapan ku. Mata ku tertuju kepada cincin yang berkilauan di atas meja ini. Cincin itu sepertinya tak sesederhana yang aku lihat karena aku merasakan sebuah kekuatan aneh yang muncul dan merembes keluar dari cincin itu sehingga aku bisa menyadari cincin itu bukanlah cincin biasa. “Daripada koin emas itu, aku malah lebih tertarik pada cincin itu, apa kegunaan cincin itu?” ucap ku sambil terus memperhatikan cincin itu. “Ini adalah cincin hrudzi atau para petualang biasanya menyebut dengan cincin penyimpanan,” jawab Dave sambil mengangkat dan memutar-mutar cincin itu di hadapan ku. “Bagaimana cara menggunakannya?” tanya ku kembali. “Kau cukup menyalurkan mana mu ke dalam cincin ini dan dia akan melakukan tugasnya dengan sendirinya,” jawabnya. “Contohnya seperti ini!” tambah Dave. Dave mulai mengeluarkan koin emas dari kantung tadi sebanyak sepuluh keping dan mulai menatanya di atas meja. Dia mulai memejamkan matanya untuk berkonsentrasi supaya energi mananya dapat di salurkan ke cincin penyimpanan. Beberapa saat kemudian cincin itu mulai sedikit bersinar di ikuti dengan lenyapnya kesepuluh keping koin emas tadi. “Semua koin emas tadi telah masuk ke dalam cincin ini, dan jika kau ingin mengeluarkan barang-barang mu dari sini, maka kau tinggal memakai cara yang sama dengan memasukkan koin tadi namun kau berpikir sebaliknya!” ucap Dave. “Ohh, dan cincin penyimpanan ini tak bisa memasukkan makhluk hidup ke dalamnya,” tambah Dave. Setelah itu Dave menyerahkan cincin ini kepada ku dan aku menerimanya dengan senang hati, karena dengan adanya cincin ini maka aku tak perlu repot-repot membawa tas di punggung ku. Aku langsung mencoba seperti apa yang di katakan oleh Dave tentang cara mengeluarkan benda yang telah di simpan di cincin ini. Aku menyalurkan energi mana ku dan membayangkan koin emas sebanyak tiga keping keluar dari cincin ini. Criing...criing...criing... Tiga buah koin emas mulai jatuh ke atas meja tepat seperti apa yang aku bayangkan. Dave melihat ku dengan tatapan terkejut atas apa yang aku lakukan. “Tunggu Clay! Bukankah inti mana mu masih di tahap Encourage? Tapi mengapa kau bisa menyalurkan energi mana secepat itu?” tanya Dave pada ku. “Oh kau menerima laporan lama, aku sudah naik ke tingkat Talisman sekarang,” jawab ku sambil kembali memasukkan koin emas tadi ke dalam cincin penyimpanan. “T-t-talisman!?” tanya dia kembali dengan sangat terkejut. “ ya! Apa itu hal yang aneh?” jawab ku singkat. Dave terlihat tak dapat menerima kenyataan bahwa aku sudah mencapai tingkat Talisman di umur yang cukup belia ini. Aku tak perduli tentang ekspresi apa yang dia tunjukkan kepada ku saat ini, aku hanya senang dengan cincin penyimpanan ini yang dia berikan pada ku. “Jika tak ada lagi yang kau ingin berikan, maka aku akan menanyakan beberapa hal buka?” tanya ku pada Dave. Perkataan ku membuyarkan semua pikiran yang bergejolak di kepala Dave saat ini. “Tentu saja!” jawabnya dengan singkat. “Aku ingin semua informasi yang kau ketahui tentang kota Liutas dan Dungeon peninggalan Dewa Huros,” tanya ku pada Dave.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN