“Aku ingin semua informasi yang kau ketahui tentang kota Liutas dan Dungeon peninggalan Dewa Huros,” tanya ku pada Dave.
Bftttt....
Uhuk uhuk uhuk
Dave menyemburkan teh yang tengah dia minum di ikuti dengan batuk yang di akibatkan tersedaknya tenggorokannya oleh teh yang saat ini coba dia minum.
“uhuk, kenapa kau menanyakan tentang itu?” ucapnya sambil membersihkan teh yang mengenai kursi dan pakaiannya.
“Kau tak perlu tau itu, katakan saja semua yang kau ketahui tentang kedua tempat itu!” jawab ku sambil menatap tajam ke arah Dave.
Melihat keseriusan ku tentang pertanyaan ini, Dave mulai keseriusannya juga dengan menatap balik ke arah ku.
“Baiklah dari yang pertama, kita mulai dari Kota Liutas yang merupakan ibukota dari kerajaan Shelion,” jawabnya.
“Kota Liutas awalnya bukanlah sebuah kota besar seperti saat ini, melainkan pada awalnya kota Liutas adalah sebuah daerah reruntuhan yang hancur karena di akibatkan oleh peperangan besar antara Dewa dan ras iblis,” tambahnya.
Aku tersentak kaget saat dia mengatakan tentang peperangan antara Dewa dan ras Iblis. Aku tak pernah menemukan informasi mengenai kejadian itu dari buku ataupun dari orang-orang di sekitar ku.
“Tunggu sebentar, kau bilang peperangan Dewa dan iblis? Apa itu memang benar-benar terjadi?” tanya ku pada Dave.
“Aku tak pernah mendengar tentang hal itu dimana pun,” tambah ku.
Dave menundukkan kepalanya sedikit sambil menjawab pertanyaan ku,” Itu benar-benar ada.”
“Lalu kenapa kejadian ini tak pernah di tuliskan di buku?” tanya ku kembali dengan bersemangat.
“Aku mendengar hal ini dari mendiang Kakek ku dulu, bahwasannya para Dewa menyihir semua orang di benua ini dengan sihir pikiran yang membuat hampir semua makhluk hidup yang berakal. Dibuat untuk melupakan peperangan besar ini,” jawab Dave dengan lesu.
“Lalu bagaimana Kakek mu bisa tau mengenai hal ini?” ucap ku pada Dave.
“Karena dia termasuk kedalam orang-orang yang memiliki imunitas terhadap sihir pikiran,” jawab Dave.
Aku kemudian teringat akan sihir kutukan yang dimiliki oleh Camazot. Dia mencoba menyerang ku dengan sihir kutukannya namun tak mempan karena aku memiliki imunitas terhadap sihir kutukan. Meskipun begitu, aku masih bisa merasakan efek dari sihir kutukannya ketika dia berhasil menyerang ku.
“Menurut Kakek, peperangan berakhir dengan kekalahan di sisi Dewa di karenakan salah satu dari pemimpin para Dewa pada saat itu jatuh hati pada Iblis wanita yang merupakan salah satu Jendral besar dari pihak ras Iblis,” ucap Dave.
“Pimpinan Dewa itu bernama Azazel, dia memiliki kekuatan yang luar biasa, dimana dia bisa melakukan semua hal yang dia mau. Sedangkan Jendral besar yang memimpin ras Iblis bernama Lilith, kekuatan Lilith adalah mengendalikan objek sehingga bisa membuatnya bergerak, melayang atau bahkan memanipulasinya. Dia memimpin ras Iblis bersama Jendral lainnya,” tambah Dave.
Aku mendengarkan cerita dari Dave dengan seksama supaya tak melewati satu kata pun yang keluar dari mulut Dave. Dave melanjutkan ceritanya sambil sesekali meminum tehnya yang ada di atas meja.
Dave mengatakan bahwa Dewa Azazel berkhianat dan berbalik melawan para Dewa hanya untuk membuktikan kecintaannya terhadap Lilith. Perang mulai berkecamuk dengan di ikuti oleh matinya tanah dan lautan sehingga menyebabkan kehidupan di dunia hampir mencapai titik akhirnya, ras-ras lain yang tak ikut berkontribusi terhadap perang itu karena perbedaan kekuatan yang sama sekali tak bisa di bandingkan, hanya bisa menyembunyikan diri agar mereka bisa melindungi nyawa dan berharap agar semua ini segera berakhir. Di Dengan kekuatan yang di miliki oleh Azazel beserta gabungan kekuatan dari semua ras Iblis yang ikut berperang, para Dewa dan para Malaikat tak memiliki kesempatan untuk melawan. Bahkan saat ada salah satu dari ras Iblis yang gugur akibat terkena serangan Dewa dan Malaikat saat berperang, Dewa Azazel menghidupkan kembali mereka yang gugur dan membuat mereka bisa melawan kembali terhadap Dewa dan para Malaikat itu. Sedangkan di sisi para Dewa, korban jiwa selalu bertambah yang membuat mereka merasakan kerugian yang signifikan maupun dari jumlah atau kekuatan. Semua Dewa dan Malaikat tak bisa berbuat apa-apa dan memilih tunduk menyerah kepada ras Iblis yang di pimpin oleh Azazel.
Dave mulai berhenti bicara dan meminum tehnya yang diisi sampai penuh dengan satu tegukan saja. Aku pun mengikutinya karena tenggorokan ku terasa kering akibat ceritanya itu.
“Setelah itu apa yang terjadi?” tanya ku setelah melihat Dave meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.
Dave menghela nafasnya kemudian melanjutkan ceritanya mengenai peperangan itu.Azazel mendeklarasikan kemenangannya dengan mengumumkan untuk memotong sayap dari pemimpin Malaikat sebagai hadiah pernikahan untuk Lilith. Semua ras Iblis bersorak-sorak dengan pengumumannya sehingga membuat mereka semakin menggila-gila. Namun saat pedang Azazel akan memotong sayap Malaikat itu, tiba-tiba langit terbelah di ikuti dengan kegelapan yang dengan sekejap mata menutupi seluruh dunia saat itu. Sebuah cahaya yang tak cukup terang berbentuk seperti seseorang mulai keluar dan turun dari langit kemudian berdiri melayang di hadapan Azazel yang sedang kebingungan. Tanpa mengatakan apa-apa, makhluk mengangkat tangannya dan membuat semua ras Iblis bersujud ke arahnya bahkan Azazel juga melakukannya seperti tanpa paksaan. Di ketahui nama dari makhluk ini adalah Nyx, tak ada yang tau dari mana dia berasal dan seperti apa kekuatannya karena baru saat itu dia menunjukkan diri. Nyx memenjarakan semua ras Iblis ke dalam Tartaros dengan hanya jentikan jari saja sedangkan Azazel di segel dalam Tartaros menggunakan Sigil of Saturn agar dia tak bisa keluar dari Tartaros meskipun menggunakan seluruh kekuatannya.
Setelah memenjarakan semua ras Iblis dan juga Azazel, Nyx mengembalikan kembali keadaan dunia seperti halnya pada saat sebelum perang dan sesaat setelah dunia kembali normal, Nyx pergi meninggalkan para Dewa dan Malaikat yang bersujud kepadanya. Semua ras yang tadinya bersembunyi, mulai berhamburan keluar untuk menghirup udara segar kembali setelah sekian lama menyembunyikan dirinya. Salah satu Pemimpin Dewa berpikir bahwa akan menjadi penghinaan bagi para Dewa jika ras yang tinggal di dunia ini masih mengingat tentang kekalahan mereka atas ras iblis, sehingga Dewa yang bernama Uranus mulai mengeluarkan sihir pikiran yang membuat seluruh ras di dunia ini melupakan kejadian ini.
“Jadi itulah yang terjadi pada dahulu kala,” ucap ku sambil duduk bersandar di kursi ini.
“Dewa Uranus tak menyadari bahwa ada beberapa orang yang memiliki imunitas terhadap sihir pikiran sehingga ada beberapa orang yang masih mengingat peperangan itu dan mereka menurunkan kisahnya dari generasi ke generasi saja” lanjut Dave.
Aku hanya mengangguk-anggukan kepala saat Dave menceritakan itu. Aku berpikir bahwa eksistensi bernama Nyx inilah yang menjadi tujuan utama ku. Jika mengingat cerita dari Dave tadi maka Nyx bisa di katakan sebagai eksistensi yang disebut sebagai Tuhan. Namun, sepertinya para Dewa masih memiliki pimpinan sendiri yang masih belum aku ketahui karena saat aku menginterogasi Camazot, dia hanya mengatakan bahwa pemimpinnya memang ada namun dia tak bisa mengungkapkan namanya.
“ Bagaimana dengan Dungeonnya? Apa kau tau mengenai itu?” tanya ku kembali pada Dave setelah kami berdua diam selama beberapa saat.
“Ahh itu, aku juga pernah di ceritakan oleh mendiang Kakek ku bahwa ada beberapa dari Dewa memilih untuk menetap di dunia ini sejenak dan membangun Dungeon untuk hiburan mereka,” jawab Dave.
“Hmm? Hiburan? Apa maksudnya itu?” tanya ku kembali.
“Dewa-dewa yang memilih menetap di dunia ini merasa bosan karena mereka memiliki kekuatan dan karena peperangan telah berakhir, jadi mereka tak tau untuk apa lagi kekuatan mereka di gunakan.” jawab Dave sambil mengangkat kakinya dan menaruhnya di atas kaki lainnya.
“Mereka membangun Dungeon untuk menghibur diri melalui manusia yang memasuki Dungeon itu dan membuat mereka bertarung mati-matian dengan makhluk-makhluk ciptaan mereka di setiap lantainya,” tambahnya.
Setelah mendengar perkataan dari Dave, aku merasa sedikit marah karena hal itu. Para Dewa menggunakan manusia sebagai hiburan mereka hanya untuk menghilangkan rasa bosan mereka. Namun aku teringat pada hukum mutlak dari seluruh dunia yaitu yang kuat yang bertahan, jadi aku tak bisa menyalahkan para Dewa itu.
“ mApa kau sudah pernah masuk ke dalam Dungeon itu?” tanya ku pada Dave.
“Haa? Apa kau bercanda? Aku ini sudah mencapai tingkat A jadi mana mungkin aku tak pernah masuk ke dalam tempat seterkenal itu,” jawabnya dengan membanggakan diri.
“Hoo sampai lantai berapa kau masuk?” tanya ku kembali.
“Lantai 9,” jawabnya singkat.
“Dan berapa total lantainya keseluruhan?” ucap ku beruntun.
“100 lantai!” jawab Dave sambil tersenyum kecut.
Saat ini aku sedang menahan tawa ku akibat ucapan Dave mengenai pencapaiannya di Dungeon. Dia terlihat kesal saat melihat aku menutup mulut untuk menahan suara tertawa ku agar tak keluar. Meskipun begiru aku berpikir tak layak untuk aku menertawaknnya, karena aku belum pernah masul ke dalam Dungeon itu.
“Maaf saja ya, aku dan tim ku saat itu sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kami tak tau akan sekuat itu Monster yang ada di lantai ke sembilan,” ucap Dave.
“Haaah maafkan sikap ku,” ucap ku sambil menghela nafas panjang karena lelah menahan tawa.
“ Jadi Monster apa saja yang ada di setiap lantai?” tanya ku pada Dave.
“Kau akan tahu saat kau memasuki Dungeon itu!” jawabnya ketus.
“Hmm kau benar juga,” ucap ku setuju dengan jawaban Dari Dave. Karena tak akan menyenangkan jika aku sudah tau Monster apa yang menunggu ku di sana dan aku sudah tau cara menghadapinya.
“Kalau begitu aku berterima kasih atas semua informasi yang kau berikan hari ini,” tambah ku.
Aku pun bangkit dari duduk dan mulai berjalan keluar dari ruangan ini. Namun, belum sempat aku menggerakkan kaki ku untuk berjalan, Dave menghentikan ku untuk berjalan keluar dari ruangan ini.
“Tunggu dulu!” ucapnya sambil berdiri secara tiba-tiba.
“Apa apa lagi?” ucap ku dengan bingung.
“Kau sungguh seenaknya, dengarkanlah aku terlebih dahulu.” ucapnya menahan kepergian ku.
“Katakan,” jawab ku sambil duduk kembali.
“Jika di perhatikan dari gelagat mu saat ini, biar ku pastikan bahwa kau akan pergi ke kota Liutas bukan?” ucapnya sambil menaikkan alis.
Aku mungkin melakukannya dengan terlalu jelas sehingga orang ini mengetahui tujuan ku sebenarnya. Tapi karena tak merasakan niat jahat darinya, maka aku memutuskan untuk bisa mempercayainya.
“Ya, memang itu yang akan aku lakukan!” jawab ku.
“Kalau begitu biarkan aku membantu mu Kawan ku,” ucapnya sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya.
“Apa maksudmu?” tanya ku pada Dave.
“Kau tak bisa masuk ke kota Liutas dengan seenak jidat, kau perlu surat izin dari pejabat desa asal mu jika kau bukan seorang petualang. Namun, jika kau seorang petualang, maka kau butuh izin dari ku, si Ketua guild!” jawabnya sambil melebarkan kedua tangannya saat menekankan bagian kata Ketua Guild.
“Ohh baguslah kalau begitu, jadi apa yang kau tunggu? Cepat berikan aku surat izin!” pinta ku dengan tegas.